"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
"Pertama Kali Bicara Serius Sama Camer"


__ADS_3

"Jadii,, sejak kapan kalian mulai dekat?"


Pak Dani mulai mengintrogasi Tio.


"Mmhh... belum lama kok pak! tapi mohon maaf,, sebelumnya, sebetulnya saya sudah menyukai dia dari dulu!" aku Tio.


"Ohh begitu rupanya," pak Dani mangut-manggut, seolah mencoba berusaha untuk memahami.


"Iya pak!" jawab Tio singkat.


"Bapak sih tidak keberatan kalian saling mengenal satu sama lain, cumaa, apa kamu punya niat serius atau hanya sekedar ingin mengenalnya saja?"


"Ya kalau bapak izinkan, saya sih untuk serius pak! sangat serius malah!"


"Menurut kamu saya akan merestui tidak kamu dengan anak saya?" pak Dani menatap tajam ke arah Tio.


Tatapan yang seperti itu yang dulu selalu berusaha di hindarinya. Tio menunduk sedih.


Sesungguhnya Tio merasa sangat tidak percaya diri dengan keadaannya. Tio sadar dirinya bukan siapa-siapa. Apalagi jika harus di samakan statusnya dengan keluarga Rani. Dia merasa tidak ada apa-apanya.


"Mohon maaf sekaliii saya sudah lancang pak! sulit bagi saya untuk bisa menyembunyikan perasaan saya lagi terhadap putri bapak! sudah sejak lama saya diam-diam menaruh hati padanya, tapi saya sadar saya bukan siapa-siapa! jadi saya tetap diam dan menyimpannya dalam-dalam!" Jelas Tio.


Pak Dani maklum, dia pun pernah muda dan merasakan perasaan yang sama saat itu kepada istrinya di waktu mereka masih sama-sama lajang. Pak Dani hanya orang biasa, sedangkan istrinya cukup berada. Namun dengan ketulusan yang pak Dani curahkan kepada istrinya dulu, akhirnya merekapun berhasil menjadi suami istri yang sah dan di restui keluarga besar istrinya. Pak Dani berhasil meyakinkan keluarga istrinya hingga mereka benar-benar tidak pernah mendapatkan kekecewaan dari pak Dani sampai hari ini. Dan kini kisah itu terulang kembali kepada putrinya. seakan-akan masa itu kembali lagi hadir di hari ini.


Pak Dani cukup merasa bangga dengan keputusan Tio. Itu artinya pemikiran dia dewasa dan bertanggung jawab, karna sudah mau berhadapan dengan orang tua dari pacarnya, dan terus terang mengatakan tentang kesungguhannya mencintai putrinya.


Namun pak Dani betul-betul ingin mengujinya lagi. Memastikan apakah tekad Tio akan sama bulatnya seperti dirinya di saat muda dulu demi mendapatkan restu orang tuanya?.

__ADS_1


"Kalau saya tidak memberi restu bagaimana?" Pak Dani berpura-pura mengucapkan itu, dan menunggu reaksi Tio. pak Dani ingin tahu kalimat apa yang akan Tio ucapkan untuk meyakinkan dirinya.


Tiba-tiba saja Tio melakukan hal yang di luar dugaan, Tio bersimpuh di depan pak Dani memohon-mohon agar mereka di restui, bahkan Tio berjanji bersedia menunggu sampai akhir pendidikan Rani.


Tio nampak menitikan air matanya, pak Dani tahu itu dan menyadarinya. Betapa sangat di luar dugaannya kalau Tio akan melakukan kegilaan seperti ini, lebih gila dari pada dirinya dahulu. Kelakuan Tio mampu membuat calon mertuanya menjadi salah tingkah, pak Dani menjadi gugup seketika, dan kebingungan harus berbuat apa melihat situasi ini. Dengan kejadian ini pak Dani lebih yakin akan kesungguhan Tio mencintai Rani putrinya.


"Sudah! Sudah! Kamu gak usah nangis gini, tangisan bukan bukti kesungguhan, bukti kesungguhan adalah sikap yang di tunjukan dalam kehidupan nyata!" jelas pak Dani. Padahal di dalam lubuk hatinya, pak Dani sudah mengakui jika Tio sudah memenangkan hatinya sebagai calon mertua. Pak Dani menepuk pundak Tio agar cepat-cepat kembali ke tempat duduknya.


Air mata itu, mata yang sembab dan sedikit nampak memerah, membuat pak Dani cukup merasa iba.


Pak Dani merasakannya dulu, persis seperti ini.


"Baiklah, kalau memang kamu bersungguh-sungguh, bapak tantang kamu agar membawa keluarga mu datang ke sini untuk melamar putri saya!" Tegas pak Dani.


Tio yang nampak tertunduk dan terisakpun menjadi terkaget-kaget. Spontan dirinya memeluk tubuh pak dani yang sedang duduk!. Sambil tak henti-hentinya mengucapkan rasa terimakasih karna telah merestuinya.


"Sudah! sudah! cukup! Jangan seperti ini!" Seru pak Dani.


"Saya minta kamu rahasiakan kejadian ini dari Rani, karna saya juga perlu menguji seberapa besar perasaan cinta Rani sama kamu!"


"Baik pak, terimakasih, tolong ya pak jangan ekstrim-ekstrim kasih soalnya!" ucap Tio sambil mengusap air matanya.


"Kamu kira lagi ujian sekolah pakai soal? hehehee!" Canda pak Dani. Dalam keadaan seperti ini pun selera humor mereka tetap hadir.


Bukan karna status sosial alasan pak Dani memberikan restu untuk Tio dan Rani. Namun karna pak Dani tahu dan sangat mengenal karakter kepribadian Tio sejak dari awal Tio bekerja padanya. Dan memang Tio tidak pernah membuat masalah selama itu. Bahkan pak Dani sangat berterimakasih karna kerja keras Tio ketika Tio masih bekerja padanya. Tidak pernah menghitung-hitung jam kerja, kapanpun, jam berapapun selalu siap memberikan bantuan.


Sampai Tio pun sempat menjadi salah satu orang kepercayaan pak Dani.

__ADS_1


Namun keputusan Tio untuk berganti haluan cukup membuat pe-er yang besar untuk pak Dani. Karna untuk mencari pengganti sosok seperti Tio tidaklah mudah. Dan memang belum ada yang melebihi Tio dalam hal kinerjanya.


Dan dengan berat hati, pada saat itu, pak Dani mengijinkan Tio untuk mencari pengalaman lain di luar. Sedangkan untuk menahan Tio pak Dani tidak punya hak kuasa, karna dia bukan orangtuanya. Dan sejak saat itu Tio tidak lagi pernah datang untuk sekedar mengunjungi teman-temannya dulu. Dan memang Tio sendiri sangat sibuk, bekerja paruh waktu sampai full time sambil melanjutkan sekolah paket nya.


Jika saat itu Tio bercerita kepada pak Dani jika dirinya ingin tetap belajar, maka mungkin pak Dani akan bisa lebih membantunya agar Tio bisa belajar sambil tetap bekerja di tempat pak Dani.


Ya sudahlah, mungkin sudah jalannya harus seperti itu. Hasilnya adalah Tio yang sekarang, yang hari ini berhadapan dengannya untuk meminta restu darinya agar di terima sebagai menantunya.


Pak Dani bangga kepada Tio, meskipun Tio bukan anak kandungnya.


"Calon menantuku sama saja, pasti akan seperti anakku sendiri!" Gumam pak Dani di dalam hatinya.


pak Dani berharap Tio bisa menjadi calon menantu idaman yang sesuai harapannya.


Semoga jaman tidak membuatnya berubah.


Tetap menjadi pribadi yang baik, yang pernah di kenalnya dahulu.


mata pak Dani terus-terusan menatap wajah Tio.


masih terbayang ketika awal Tio datang ke tokonya.


dia hanya anak lugu dari desa yang sederhana, agak hitam dan tidak keren.


namun tekad baiknya ternyata mampu membuat perubahan yang cukup besar dalam kehidupannya.


Dia telah menjadi anak muda yang berprestasi, pekerja keras dan pantang menyerah, bahkan dengan perilaku yang baik, jauh berbeda dengan perilaku-perilaku pemuda jaman sekarang pada umumnya.

__ADS_1


Selama pak Dani mengenalnya. bahkan mungkin sampai hari ini, dia tetap orang yang sama!.


__ADS_2