"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 18 "KEDATANGAN SI NONA CENGENG"


__ADS_3

 Pagi menjelang siang, hari ini hari minggu, minggu ini sengaja di liburkan oleh pak Dani. Mengingat kemarin-kemarin pekerjaan begitu banyak. Pak Dani tidak ingin kalau karyawannya sampai jatuh sakit akibat terlalu lelah bekerja. Waktu yang benar-benar di manfaatkan untuk beristirahat.


Hari ini para pekerja mendapatkan jatah makan liwetan. Pak Dani sudah menyerahkan semua kepada pak dadang untuk mengatur semua kebutuhan.


Segarnya badan Tio, bangun di hari ini bisa menikmati sinar matahari pagi dari teras rumah. Sedikit pemanasan di awal olahraga mungkin di perlukan. Beberapa gerakan senam di peragakannya, sampai-sampai Tio tidak sadar ketika seseorang tengah manyun menatapnya dari kejauhan.


  Tio menghentikan gerakan badannya, sejenak memperhatikan gelagat orang yang diam-diam mencuri pandang terhadapnya.


  Oh Rani! si nona manis itu, nampak kesal dan emosi melihat dirinya. Bukan mencuri pandang karena kagum. Terlalu merasa kepedean rupanya Tio ini.


   Semula Tio ingin pergi menghindari pertemuan ini, tapi sayang juga jika  harus melewatkannya. Gak pergi bingung mau bilang apa, mau nyapa gimana.


Nyalinya ciut seketika di depan nona ini.


Tio berusaha menghimpun kekuatan untuk memberanikan diri menyapa Rani.


Perlahan kakinya melangkah mendekati rani. Berat banget rasanya. Namun akhirnya sampai juga di depan Rani. Sekilas Tio melihat wajah cantik rani seperti akan menangis. Namun Tio tidak berani memandangnya terlalu lama. Tidak sopan rasanya.


  Kali ini Tio memberanikan diri menegurnya. Memang itu yang di harapkan Rani. Rani tidak mau membuka suara lebih dulu. Sedikit percakapan cukup memperjelas titik masalahnya.


Rupanya Rani merasa kesal pada Tio karna tidak bisa di hubungi, untuk bertanya perihal tas yang di pesannya itu. Teman-temannya sangat menginginkannya, mereka menganggap barangnya terlalu lama di jalan dan ada yang menganggapnya sudah berbohong! Rani ingin kabar pastinya, agar teman-temannya mendapat informasi yang akurat sehingga dirinya tidak di anggap mengada-ngada. Namun Tio seketika menjadi sulit di hubungi. Dan itu lah yang membuat Rani bertambah jengkel!


Lebih sedihnya lagi ketika salah satu temannya ada yang sudah menganggap Rani berbohong. Ya ampuunn...


Walaupun mungkin itu tidak serius di ucapkan. Tapi harga diri Rani merasa turun drastis! Gadis ini terlalu serius menanggapi hidup.


 Ya gadis ini si pemegang janji. Jangan pernah mempermainkannya, kalau A ya harus A, kalau B ya harus B. Rani memang orang yang selalu tepat waktu, tepat bicara, dan tepat akan janji.


 Jika tidak bisa menepati kata-katamu jangan pernah ucapkan apapun di depannya.


  Tidak ada suara tangis darinya, tapi air mata itu terlihat menetes dari matanya.


Gadis cengeng! Ledek Tio, hanya saja itu terucap di dalam hatinya, mana berani dia mengatakan itu dari mulutnya.


Rani membelakangi Tio. Dia tidak ingin terlihat menumpahkan air mata. Kali ini Tio yang benar-benar telah mencuri pandang ke arah Rani.


  Tio merasa bersalah sudah bertingkah merepotkan. Tidak di sangkanya si nona cantik dan cengeng ini begitu rapuh dan kolokan. Ya Tio menganggapnya seperti itu. Ia teringat akan Adiknya Anita ketika manjanya kumat. Persis seperti ini.


  Memang rencana hari ini Tio akan mengambil tas pesanan itu. Tapi sore nanti, karna pagi ini Wahid pasti masih di kampung. Terlalu siang khawatir pula mengganggu istirahatnya. Pasti Wahid akan lelah setelah melalui perjalanan panjang dengan skuter andalannya. Jadi sore di rasa waktu yang tepat, Tio menganggap biar sama-sama enak.


  Toh dia tidak memberi Wahid upah ongkos kirim barangnya. Semua di lakukan karna toleransi semata. Sekedar menghargai teman saja.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu sore langsung ambil ya kak! Pakai sepeda motorku saja! Biar cepet!" Ucap Rani.


Meski sempat kesal, tapi Rani tetap berbicara sopan kepada Tio. Sebetulnya Tio merasa sungkan menerima tawaran Rani. Tapi kasihan jugalah kalau harus membuatnya kecewa dua kali. Toh itu adalah tawaran yang baik dan menguntungkan untuknya.


  Di ujung pertemuan Tio mengucapkan kata permohonan maafnya pada Rani, karna telah mengabaikan telponnya berkali-kali.


  Fix jam empat sore nanti mereka akan pergi ke kost'an Wahid, mengambil barang pesanan Rani.


Rani mengucapkan kata terimakasih sebelum akhirnya pergi dari hadapan Tio.


Tio kembali ke kamar segera. Badannya mulai terasa gerah. Dia bermaksud membasuh badannya dulu sebelum melakukan aktifitas lain di siang ini.


  Libur juga rasanya kurang nyaman, gak ada kegiatan apapun lagi. Selain makan dan nonton tivi. Ini bukan kebiasaan Tio, bersantai-santai di rumah tanpa melakukan aktifitas yang berarti.


 Riuh sekali suasana di ruang itu. Seperti biasa kalau tampah makanan sudah di gelar, pasti mamang-mamang ini berkerumun untuk mengeksekusi makanan itu beramai-ramai.


Enak gak enak rasanya, yang pasti kekompakan merekalah yang membuat suasana menjadi hidup.


Dua ekor bekakak ayam lenyap sudah hanya menyisakan tulang belulangnya, dan sedikit remah nasi.


Harap maklum ya readers, cara makan mamang-mamang di sini di ceritakan cukup bar-bar, tidak memakai sendok, garpu atau pun menggunakan serbet serta ritual lainnya seperti di meja makan para bangsawan.


Cukup berdoa sebelum makan dan melahap semua dengan sentuhan jari jemari langsung. Yang pasti tidak lupa cuci tangan sebelum makan juga tentunya.


   Yang pasti mereka di sini juga sama. Selepas makan bersama, mereka melakukan kegiatan lain sendiri-sendiri. Demikian juga dengan Tio.


 Ketika sedang duduk santai tiba-tiba di kejutkan lagi dengan suara ponsel jadulnya.


"Nomor tidak di kenal lagi!" Kali ini dia bermaksud akan tetap mengangkat telpon itu. Khawatir Rani lagi yang kembali menghubunginya.


Ketika telpon mulai di angkat...


Tio tidak mengeluarkan suara ataupun berusaha menyapa si penelpon lebih dahulu. Ini semata-mata hanya untuk mengetahui apakah si penelpon seorang perempuan atau laki-laki!.


Terdengar suara hallo dari seseorang yang jauh di sana.


 "Hallo! Hallooo! Test! Test! Test!"


 "Hahahaaa! Suara itu Tio sangat mengenalnya! Tapi kenapa cara bicaranya seperti orang yang sedang menguji sound system?"


 "Maneh Rahmat? Kunaon meni make test! Test! Sagala? Hahahahaaaa!" Tembak tio. Yang langsung mengenali karakter suara Rahmat.

__ADS_1


 "Biasalah hape anyar euy! Supaya bisa lancar komunikasi! Aku terima saranmu! Beli hape euyyy!"


 "Alhamdulillah mat! Maneh mah seu'eur artosna, jangan pelit-pelitlah menikmati hidup! Heheheheee..."


 Percakapan yang cukup panjangpun terjadi. Bersyukur Rahmat akhirnya menerima saran dari Tio. Dengan memiliki ponsel, mereka bisa lebih lancar berkomunikasi, untuk membicarakan rencana usaha yang baru akan mulai di rintis beberapa bulan ke depannya.


 


 


 


Hai semuaa...


Mohon maaf ya all,, buat kalian yang udah baca tulisan ini,


kalau ada tulisan yang gak rapi.


Tulisanku kayak semut, fontnya kebetulan kecil-kecil sekali.


Jadi mungkin suatu saat masih harus di koreksi ulang.


Semoga aja sih gak parah yaaa,,


btw aku nulisnya juga hanya dari ponsel yes!


Biar jari jemari gak terlalu jauh melenggang hehehee!


Oh iyaa,, tetap usahakan patuhi peraturan menerapkan protokol kesehatan ya all...


Salam sehat gaess!


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2