
Tio tidak membelokan motornya ke arah kontrakannya. Tapi malah mengarah ke rumah Rani.
Gerimis masih saja turun. Jalanan nampak becek dan licin, terlebih lagi dinginnya bagai cuaca puncak tengah malam.
Dingin ini cukup membuat gigi nya bergemeretak menggigil.
Rani terburu-buru menyambutnya. Mengangkut baju-baju basahnya, dan menggantungnya di jemuran aluminium.
Pulang ke kontrakan tidak mungkin dalam keadaan tanpa baju.
Akhirnya Tio memakai baju calon kakak iparnya Rio.
Untung saja sizenya seukuran, jadi kaos dan celana milik Rio nampak pas di badannya.
"Kenapa gak neduh dulu sih kak?" Tegur Rani. Ketika melihat Tio mulai melepas bersin.
"Gak apa-apa kan deket ini." jawab Tio. Dengan masih tetap menggigil. Untungnya Rani sudah menghidangkan minuman hangat, dan kolak panas buatan bi minah.
"Hujan kan,,, nanti kalau sakit gimana?"
"Ya jangan sampai neng!" jawab Tio. Sayangnya setelah selesai bicara, si bersin keluar lagi. Membuat Rani tambah panjang menceramahinya.
"Tuh kan! Tuh kan!" ucap Rani. Ketika melihat Tio bersin sampai berulang-ulang.
Rani menyelimutinya dengan selimut tebal miliknya.
"Selimut kakak kok wanginya gini ya?"
"Gini gimana?"
"Kayak aroma wewangian cewek! hehehee!" Jelas Tio.
"Yaaa,,, itukan selimut akuu!" Terang Rani.
"Oh yaaa?? Hmmm... jadi berasa di peluk kamu deh! hahaa!"
"Kakakkk!!! jangan ngadi-ngadi deh! udah makan dulu tuh kolaknya, biar yang melukinnya nambah!" gertak Rani.
"Aduhh watak asli bidadariku keluar! hehehehee!" Ledek Tio. Belum sempat dirinya menambah kalimat, Rani sudah menyuapkan kolak pisang ke dalam mulut Tio.
"Ngomong mulu, bukannya buru-buru di makan, keburu dingin nanti menggigilnya lama hilang!"
"Aduhh! masih panas neng! dikit-dikit lah, gak muat di mulutt!" ujar Tio. Rani menyuapinya sampai penuh, hingga Tio kesulitan bicara karna terus mengunyah dan mengunyah makanan yang di suapkan. Sedangkan kedua tangan Tio memegang ujung kiri dan ujung kanan selimut. Agar tidak jatuh ke soffa. Tio masih merasakan tubuhnya masih saja menggigil, meski selimut tebal sudah menutup rapat badannya.
"Neng tolong colokin hape kakak dong, dari siang hapenya mati."
Rani mengikuti perintah Tio membawa hape Tio ke dalam kamarnya untuk di charge menggunakan chargeran hape miliknya. Memang hapenya di bikin couple, satu brand dengan type yang sama.
Jadi chargeran mereka sama juga.
"Ya ampun kak! emang di kantor gak bisa isi batrey apa? sampai mati gini! jangan keseringan ah, nanti cepet rusak lho."
"Tadi ketiduran,, terus lupa deh!" jelas Tio.
"Oh iya,, kalau sudah ngisi kabarin ya!,, Kakak mau tepon ibu!" sambung Tio.
__ADS_1
"Oke siap boss!" jawab rani.
Rani mencharge hape milik Tio di dalam kamarnya.
Sementara itu mereka berdua duduk bersama di soffa.
Tahu gak sih,, sebenarnya manusiawi ketika seorang laki-laki ingin mencurahkan kasih sayangnya di saat-saat tertentu, seperti memegang tangan, merangkul, mengelus rambut dan semacamnya.
Namun karna belum muhrim, tentu saja Tio tidak melakukan semua itu.
Tio melakukan pantangan itu juga sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan.
Apalagi kepada calon istrinya.
Perempuan yang sangat di istimewakannya.
Rani mencoba menyalakan hape Tio untuk mengecek seberapa banyak batrey yang sudah terisi. Tio ingin segera menelpon ibunya ketika itu.
Layar menyala terang, batrey terisi sekitar enam puluh persen. Lumayanlah kalau buat telpon bisa lama juga.
Iseng-iseng Rani memperhatikan tampilan layar. Ada photo mereka berdua di sana. Photo itu di ambil ketika pertama kali mereka ngedate. Rani memandangnya dengan sumringah. Ada notif pesan di atasnya,, Rani pun mencoba membukanya. Nama seorang perempuan tertulis di kontak itu.
Rasa ingin tahunya begitu besar.
Ranipun mencoba membukanya.
"Ohhh... "
Rani membacanya dengan seksama! Tidak ada satu baris kalimat pun yang ia lewatkan.
"Mencintai dan memilikimu bukan keinginanku, aku pun tidak mengerti kenapa tuhan menganugerahkan perasaan yang mencoba aku perjuangkan ini kepadaku!.
aku perempuan biasa, yang bisa sakit dan menangis jika aku tak mampu menanggungnya!
aku bukan karang di laut, yang tetap kokoh berdiri meski kerap di terpa ombak.
Sayangnya aku belum beruntung memilikimu...
Jika suatu saat kau tidak bahagia dengan rumah tanggamu,, ku harap temuilah aku,,
Aku mencoba bersabar untukmu....
Selamat menempuh hidup baru...
"hmmm... Kata-katanya sangat dalam,,, apa dia mantannya?" Sejuta tanya memenuhi lubuk hati Rani.
Rasa penasaran Rani semakin besar tentang perempuan ini.
Rani menscroll chat itu semakin ke atas.
Rani mulai membacanya detil.
"Tolong jangan ingat aku lagi, maaf sebelumnya, kita hanya teman biasa Lin!"
Di baris yang lain; "sebaiknya kamu mencari pria lain, karna aku sudah bertunangan dan akan menikah!"
__ADS_1
"Aku mohon jangan berharap lagi padaku, sudah aku katakan sebelumnya bukan?"
Dan beberapa pesan penting lainnya yang Rani anggap sebagai bentuk penolakan Tio terhadap seorang gadis yang sedang menyukainya.
Rani berpikir sejenak, bagaimana caranya agar pesan itu tidak sampai di ketahui Tio apalagi di bacanya, karna dia telah lebih dulu membacanya.
Apa anggapan Tio terhadapnya yang sudah lancang membaca pesan pribadinya.
Pilihan terakhir adalah menghapus pesan terakhirnya yang baru saja masuk.
Dengan begitu Rani berpikir Tio tak akan mengetahuinya.
Sebelum menghapus pesan itu, Rani mengcopas'nya. Dan mengirimkannya ke nomor whatsappnya. Serta menyalin nomor kontak Lina pula di ponselnya.
Dengan agak gugup Rani memberikan ponsel kepada Tio.
"Kenapa?" tanya Tio.
"Ehhmm... gak apa-apa kok! udah cepetan telpon ibu, mumpung batreynya masih banyak!. ucap Rani. berusaha mengalihkan perhatian.
Pikiran Rani malah kemana-mana di saat Tio bercakap dengan ibunya di hape.
Rani tidak fokus menyimak pembicaraan antara Tio dan ibunya di kampung.
Mereka melakukan Video call, dan bicara secara bergantian. Zaka-zaki sudah remaja,, bukan tidak mungkin mereka akan mengejar Tio juga ke pelaminan dalam waktu beberapa tahun ke depan.
Sementara itu, setelah pernikahannya dengan Rani selesai, Anita akan menyusulnya menikah dengan teman sekolah Tio sendiri, yaitu Rahmat!. Bersyukur Rahmat mau mempersunting Anita. Karna kini hidup Rahmat sudah sukses!
Di tambah lagi, sebelum usahanya di rintis dia sudah punya modal sendiri, karna lahannya di desa cukup luas.
Tidak di sangka setelah beralih bisnis, Rahmat menjadi naik daun, dan memiliki banyak tambahan aset.
Tio pun punya simpanan aset. Walaupun tidak banyak-banyak amat, walau tidak banyak, tapi aset di kota harganya jauh lebih mahal daripada di desa.
Mungkin nanti setelah menikah, Tio akan menunjukannya kepada Rani, semua hasil usahanya selama ini.
"Ran ini, ibu mau ngomong." Panggil Tio.
Rani tetap bengong,, ketika Tio memanggilnya.
Tio mencolek hidung Rani yang tajam.
"Tuan putriii! ini ibu mau ngomong!"
Rani terperanjat dan meraih ponsel Tio. Menghadapkan wajahnya ke kamera.
Ibu menyapa dari sana di ikuti adik-adiknya Tio.
Ibu menanyakan kabar Rani, begitupun Rani menanyakan kabar mereka.
Ada senyum-senyum bahagia di dalam obrolan itu.
Ibu berpesan agar Tio dan Rani menjaga kesehatan menjelang hari pernikahan, dan menyarankan Tio dan Rani agar banyak-banyak istirahat demi kesehatannya.
Rani dengan santun berbicara kepada keluarga Tio di kampung. Meskipun mereka orang sederhana, tapi bagi Rani status mereka sama saja dengan statusnya.
__ADS_1
Dan tentang pesan itu Rani tetap berusaha merahasiakannya.