"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 25 "motornya mogok!"


__ADS_3

 Rani memarkirkan motornya di pinggir jalan.


Sudah beberapa kali Rani mencoba menstartermya namun motornya tidak mau menyala. Dalam keadaan kebingungan Rani mencoba menghubungi teman-temannya.


Namun semua tidak aktif, perjalanan ke rumah masih cukup jauh. Masa iya dia harus meninggalkan motornya di jalan?.


"Kak! Bisa gak jemput aku di depan kantor pegadaian? Motor aku tiba-tiba mati kak!" Rupanya rani berusaha menghubungi Rian kakaknya.


"Apa?? Aduhhh,,, Kakak lagi jauuuh, gak bisa bantu kamu,  kamu coba deh minta tolong siapa kek gitu yang kamu kenal! Telpon mama dulu gih, biar di carikan orang buat jemput kamu!".


"Oh ya udah kak, Rani telpon mama dulu!" Rani menutup telpon dengan perasaan kecewa.


 Berulangkali Rani menghubungi mama, namun tidak di angkat-angkat juga telponnya.


Matahari mulai meninggi jam sebelas lebih ketika itu. Keringat menetes dari dahi kening dan lehernya. Rani kemudian mengirim pesan whatsapp kepada mamanya. Memberitahukan tentang keadaan dirinya, penuh harap mamanya akan cepat membaca pesannya. Rencana bersenang-senang kali ini kurang begitu sempurna. Banyak hal yang mengganjal pikirannya. Banyak hal yang tak terduga terjadi di hari ini.


 Sedang bengong-bengongnya tiba-tiba Tio datang menghampiri. Ya Tio memang pulang berjalan kaki. Itu semua kebetulan, di saat Rani sudah pulang duluan.


 "Kakak cek dulu ya" Tio mencoba menawarkan bantuan. Tidak ada pilihan untuk Rani selain berkata iya.


Saat ini sedang tidak ada orang yang bisa di mintai pertolongan. Bahkan kakak kandungnya sendiripun gak bisa.


"Kamu tunggu di sana, jangan kemana-mana ya!" Tio memberi arahan, sedangkan sepeda motornya di kayuh dengan kaki, mencari penjual bensin terdekat. Motor Rani memang cukup baru, gak ada alasan untuk rusak, satu-satunya yang Tio curigai adalah kehabisan bahan bakar saja. Dan ternyata memang benar, hanya kehabisan bahan bakar.


Cukup lama Rani di buat menunggu. Akhirnya Tiopun datang dengan motor yang menyala. Segera Rani menghampiri dan segera naik ke atasnya. Merekapun pulang dengan mengendarainya. Sepi selama dalam perjalanan. Rani masih tetap mendiamkan, begitupun Tio tidak berani lagi untuk berbicara. Tio mengantar Rani sampai ke parkiran rumah. Memastikan kalau motor terparkir dalam posisi aman.


  "Makasih kak!" Rani memberikan kembali boneka pemberian tio yang tadi di beli di acara Car Free Day.


  Tio mengambil boneka itu, dan mengira jika 1qq tidak mungkin akan menyukai pemberiannya.


  Beda dengannya, yang selalu senang menerima pemberian dari Rani.


  "Ya sama-sama". Tio berlalu meninggalkan rumah Rani menuju tempat beristirahatnya.


  Ada yang beda kali ini dari Tio. Pantas saja teman-temannya begitu heboh saat bertemu dengannya, Kak Tio memang pantas di kagumi. Apalagi dengan potongan rambut barunya. Membuatnya semakin menonjolkan ketampanannya.


  Namun Rani tak berniat ikut-ikutan dengan ulah temannya. Mama pasti bakal marah kalau tahu anaknya ikut-ikutan ganjen.


  Mama membukakan pintu untuk Rani. Baru saja dia akan menyuruh mang jaja untuk menjemput Rani. Namun Rani ternyata sudah mendahului pulang ke rumah.


  "Katanya motornya mati? Kok bisa pulang?"


  Tanya mama.


  "Iya mam, tadi kak Tio yang bantu Rani, soalnya kak Rian lagi jauh, gak bisa bantu Rani! Kesselll!"


  "Ya allah, alhamdulillah, syukurlahh ada Tio"


  "Iya, Rani panas-panasan mam, liat mukaku, kucel ke jemur begitu lama'nyaa,,, mama lagi kenapa hapenya gak aktif?" Rengek Rani.

__ADS_1


  "Maafin mama ya sayaang, tadi hapenya memang lagi di charger, terus mama tinggal kedepan sebentar,, tapi udah dong kamu jangan sediiihh, kan sekarang sudah di rumah!" Bujuk mama.


   Rani terbangun jam setengah empat sore. Badannya merasa tidak nyaman, panas dan sedikit menggigil.


  Tidak mungkin kalau penyebab demamnya adalah karna kepanasan tadi siang.


  Mama segera memberinya obat ringan penurun panas.


  Rian baru kembali pulang, ketika itu mama sedang memeriksa pesan-pesan masuk dalam ponselnya.


  Rian: "Rani ke mana mah?"


  Mama: "ada di kamar... Lagi gak enak badan!"


  Rian: "dasar anak manja, palingan kecapekan dorong motor tadi siang deh!"


  Mama: "udaaah jangan suka ledekin adikmu terusss! Jangan bikin mama pusing deh!"


  Rian meletakan jaket di sofa, sebelum masuk ke kamarnya Rian menyempatkan diri masuk ke kamar adiknya Rani.


  Dari jauh ledekannya sudah berkumandang.


  "Anak manja atiitt yaa!!! Coba sini abang periksa" Rian menempelkan tangan belakangnya di kening Rani. Cukup hangat ternyata, Rian pun akhirnya menyudahi ledekannya setelah yakin kalau Rani benar-benar sedang tidak sehat.


  Rani tetap tidak bergeming, ucapan kakaknya tidak perlu ia timpali. Rani hanya sedang menikmati sakitnya. Kali ini panasnya tidak setinggi tadi ketika baru bangun tidur. Obat yang mama berikan lumayan mengurangi panas dan rasa menggigilnya.


  Rian pun bergegas meninggalkan Rani, dia tidak ingin lebih lama mengganggu adiknya.  Walaupun biasanya Rani adalah sasaran utama keisengannya di rumah.


 Mama: "jangan suka tanyaaa, lebih baik cek saja sendiri apa yang ada di meja makan!"


 Rian segera menuju dapur. Rasa laparnya di tuntaskan di meja makan saat itu juga. Urusan mandi belakangan, yang penting perutnya gak rewel.


 Bu Minah pembantunya datang mengganggunya.


 "Lah mas! Mana oleh-olehnya? Habis jalan-jalan makannya kok di rumah?"


 Rian: "iya bi, makanan di luar gak enak! Aku gak bisa lahap makannya, lebih enakan masakan mama sama bibi!"


 Bi Minah: "pantesannn jalan-jalannya gak pernah lama heheheee,,, pasti gak bisa move on dari masakan rumah yaaaa!" Ledek bi Minah.


 Rian meng'iyakan kata-kata bi Minah. Bi Minah tentu saja menjadi lebih senang, karna masakannya di sukai anak majikan.


Rian berpapasan dengan Tio di pojok halaman, ketika Tio memang tengah memperhatikan suasana rumah Rani.


 Rian: "hai bro! Makasih ya kemarin sudah membantu adik gue!"


 Tio malah merasa nervous mendapat sapaan dari Rian. Tio merasa bingung harus memanggilnya apa.


Tapi Rian lebih agresif dalam berbicara. Ketika Tio agak gelagapan, Rian mampu memecah keheningan.

__ADS_1


Rian memberi informasi kalau Rani sedang sakit.


Tak lama setelah percakapan itu terjadi, Rianpun pergi dari tempat itu. Begitu pula dengan Tio.


 Sebuah bungkusan terlihat tergeletak di tempat tidur rani begitu saja, ketika dirinya mulai membuka mata.


Lidahnya terasa pahit kini. Minum air putihpun rasanya tidak enak. Biasanya rani akan menghabiskan beberapa tegukan sekali minum. Tapi kali ini, rasa tidak nyamannya datang ketika lidahnya bersenruhan dengan makanan dan minuman. Membuat kepalanya menjadi tiba-tiba merasa pusing.


  Dalam terbaringnya Rani mulai menarik dan membuka isi bungkusan itu. Dia tahu dan mengenal barang itu.


 Itu adalah milik Tio. Tapi seingatnya dia sudah mengembalikan kantong itu, lalu kenapa bisa ada di kamarnya lagi?.


 Sebuah kartu ucapan kecil tiba-tiba terlempar dari dalamnya.


 Ada sedikit tulisan di sana, dan Ranipun mulai membacanya.


  "Semoga cepat sembuh ya!" Hanya itu di sertai emote smile.


  Tanpa nama tapiii... Rani sudah menduga kalau itu dari Tio.


  Tak ada ekspresi di wajah Rani. Rani menganggapnya biasa saja.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2