"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
"Rencana Mencetak Kartu Undangan"


__ADS_3

Lina mencoba berdamai dengan keadaan. Tak mungkin selamanya dia akan bermain kucing-kucingan dengan Tio.


Di sinilah saatnya Lina membuktikan bahwa memang cinta tidak harus memiliki.


Karna rasa itu hanya di miliki olehnya.


Sedangkan Tio sama sekali tidak mempunyai rasa sedikitpun terhadapnya.


Jikapun hari ini mereka sering bersama, itu hanya sekedar sebagai teman biasa. Tio tidak bisa memberikannya lebih. Mereka hanya sebatas teman ngantor.


Lina; "Maaf ya waktu itu aku menghilang! aku tidak bermaksud untuk membencimu, aku hanya berusaha menghindar darimu agar aku bisa melupakanmu selamanya."


"Tidak apa-apa kok! biasa ajalah, jangan terlalu merasa bersalah gitu." jawab Tio santai.


"Yaa,, aku tahu bagimu itu gampang, namun bagiku, itu terasa sangat sulit!"


"Lin,,, udah jangan bahas masalah itu lagi, sumpah aku tambah gak nyaman dengan situasi ini! lebih baik kita berteman seperti dulu saja! jangan pernah menganggap kita pernah ada apa-apa, karna memang buatku tidak pernah merasa kalau kita ada apa-apanya." jelas Tio.


"Kamu memang tidak pernah bisa mengerti! buatku, kamu tidak bisa begitu saja hilang!"


"Terserah kamu saja, tapi perlu kamu tahu, aku sudah punya calon istri, aku harap kamu lupakan aku secepatmya, saranku cuma satu! carilah pria lain yang lebih baik dariku, yang bisa membahagiakanmu sepenuhnya."


"Tioo! kamu pikir gampang berpaling kepada orang lain dengan begitu saja?"


"Lin! kalau kamu berpikir seperti itu! Pikirkan bagaimana posisiku! aku juga samaa, tidak mudah bagiku juga berpaling dari orang yang sangat aku cintai begitu saja, gampangkan!"


"Okee! kalau begitu caranya, aku akan mundur dari pekerjaanku! agar aku tidak lagi melihatmu! mengingatmu! bahkan bertemu denganmu lagi! aku bisa pulang kampung, dan mencari jodohku di sana!"


"Terserah kamu saja, tapi ku harap jangan kamu tinggalkan pekerjaan ini hanya karna untuk menghindar dariku!"


"Kenapa? itu hak aku!"


"Jangan Lin! pikirkanlah keluargamu di kampung! ku harap kamu tidak egois hanya karna perasaan!"


Sunyi senyap seketika, Suasana semakin sepi karna orang-orang sudah lebih dulu pulang.


Lina melangkahkan kakinya meninggalkan Tio di parkiran. Kali ini dia tidak terlalu berharap banyak untuk bergantung padanya.


Karna Tio sangat menghormati perempuan, Tio tetap berbesar hati menawarkan tumpangan. Namun Lina tetap menolaknya.


Ya sudahlah, Tio menyerah. Semoga saja Lina cepat move on dan mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya.


Kali ini Tio terlambat pulang! Sedikit keributan yang terjadi tadi cukup mengusik hatinya. Haruskan dia menyalahkan dirinya sendiri karna telah membuat kecewa orang lain?.


Sementara persiapan pernikahan sudah berjalan. Seharusnya Tio tak lagi memikirkan orang lain, apalagi orang itu bukan orang yang dia harapkan hadir dalam hidupnya.


Rani; "Kaakk! Kapan ke rumah?"


Tio; "Ya nanti ya habis jam tujuh malam aja."


Rani; "Ya udah,, jangan lupa yaa!"


Tio; "Iyaaa,, neeengg,,"

__ADS_1


Rani; "Oke, aku tunggu yaa," chatpun terputus.


Percakapan yang singkat, Tio sedang tidak ingin berbasa-basi kali ini. hilang selera humornya kini.


Masih tetap kepikiran saja soal tadi sore.


Tio membasuh badannya di kamar mandi. Segar rasanya setelah membersihkan diri dan menyambung dengan mengambil air wudhu.


Setelah itu segera Tio melaksanakan shalat maghrib, yang hampir terlewatkannya.


Berhubung sebentar lagi waktunya shalat isya. Tio sengaja tidak membatalkan wudhunya dan bermaksud melanjutkan sholat isya kemudian.


Mungkin Rani akan mengerti jika dia telat datangpun.


"Kok telat," tanya Rani.


"Ya,, tanggung shalat isya dulu." jawab Tio.


"Waktunya sempitt,, gak leluasaa, tunggu kakak libur aja kali?" terang Rani.


"Kan ada wa, suruh kirim aja contohnya via wa," saran Tio.


"Takut beda sama aslinya, kan sayang kalau gak sesuai, aku ingin lihat model yang realnya." jelas Rani.


"Ya sudah,, terserah kamu saja,," balas Tio.


"Kakak kok gitu?"


"Gitu kenapa neng?"


Tidak ada tanda-tanda demam, karna memang Tio tidak kenapa-kenapa.


"Kenapa kak? apa ada masalah?" Rani kembali mengorek keterangan dari Tio.


"Gak apa-apa, mungkin kakak kecapekan,,"


"Ya udah minum vitamin dulu deh! biar gak lesu,"


"Gak ah,, kakak cuma kekurangan,, kekurangan kasih sayang! hahahaa!" canda Tio. mendengar itu, Rani tak kalah pintar dan membalasnya.


"Ouhhh,, aku punya kasih sayang yang banyak dan luas lohh! mau aku kasih?"


"Mau banget dongg!" jawab Tio.


"Sini tangannya buka!" Tio mengikuti perintah Rani.


Kemudian Rani menempelkan telapak tangannya di atas telapak tangan Tio.


"Ini vitamin dariku! semangat ya kakak!" ucap Rani. Tio tersenyum kecil, hatinya cukup terhibur oleh sikap Rani yang telah berusaha mencairkan kekakuannya di malam itu.


Dear readers,, tolong jangan berpikir jauh,, terkadang hal-hal yang manis bukanlah dari sesuatu yang berlebihan.justru terkadang dari hal kecil lah kenangan manis itu tercipta.


Mengenal Rani bagaikan ingin menjamah bulan, jauh tinggi dan mustahil.

__ADS_1


Namun jika tuhan perkenankan, akhirnya Tio di pertemukan pula pada saatnya.


Rani tertidur di soffa setelah kelelahan memilih-milih design kartu undangan.


Sedangkan Tio masih sibuk memperhatikan detil-detil designnya. Sebetulnya sih semua sama, hanya saja mereka ingin design kartu yang sedikit special.


Memandang gambar ponsel berlama-lama memang cukup membuat mata Tio lelah.


Sejenak Tio meletakan ponselnya si atas meja.


Terlihat wajah Rani yang tertidur pulas menghadap ke arahnya.


Rasanya bagai mimpi, ketika akhirnya dirinya kini bisa berada di tengah-tengah keluarga itu.


Dan gadis itu yang dia mimpikan sejak dahulu, kini nyaris menjadi miliknya, hanya soal menunggu waktu.


"Kamu yang diam-diam mengincarku, dan aku yang diam-diam memimpikanmu. Kita terlalu lama membuang waktu, dengan saling diam dan berpura-pura tidak tahu menahu!"


Melihatnya dari kejauhan, merupakan anugrah besar untuk ku!


Ada rasa yang sulit di ceritakan, dan hanya mampu di rasakan. bila tidak melihatnya, hatiku merasa kehilangan. Namun ketika aku memandangnya, Dia mampu memberiku energi baru dalam semangatku.


Kamu yang merubah hidupku, menjadi penuh dengan jutaan warna dan makna!


"Kesayanganku Maharani"


Secarik kertas begitu puitis, menggambarkan kisah perjalanan Tio dan Rani, menjadi sarapan pertama Rani.


Rani membacanya penuh penghayatan.


Tidak di sangkanya lelaki yang dulu pernah di anggapnya norak, bisa seromantis itu.


Semalaman Rani tidur di soffa. Rani tidak ingat kapan persisnya Tio pulang, mungkin tadi malam, atau subuh atau tadi pagi?.


uhhh! terlalu lelap dirinya tidur, sampai-sampai tidak menyadari ketika Tio pulang tanpa pamit kepadanya.


Rani sedikit kecewa, namun Rani sadar, dirinya belum sah menjadi istrinya.


"benar sekali yang di tulis di kertas itu,


"Ada rasa yang sulit di ceritakan, dan hanya mampu di rasakan. bila tidak melihatnya, hatiku merasa kehilangan. Namun ketika aku memandangnya, Dia mampu memberiku energi baru dalam semangatku!"


Rani mengutipnya kembali dan membacanya dengan suara.


"hmmm... konyol!"


Ranj terbangun dari duduknya, dan berniat mandi pagi, di bawa sertanya kertas itu.


Rani sedikit menggeliatkan badan.


pegal rasanya semalaman tidur di soffa.


suasana rumah masih sepi, kemanakah orang-prang?

__ADS_1


Rani berjalan gontai, sesekali dirinya masih menguap, tidurnya belum puas, sisa kantuk itu masih sangat kuat. namun bangun siang bukanlah kebiasaannya.


__ADS_2