"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 28 "di usilin kak Rian"


__ADS_3

 Rani tidak bermaksud lancang berbuat seperti itu.


Dia hanya melampiaskan rasa gemasnya akan tingkah Tio yang tidak mau berubah.


Smp itu harusnya udah cukup pintar kalau untuk sekedar mengutak ngatik isi hape! Bahkan anak usia lima tahun pun banyak yang mengerti dan pintar menggunakannya!.


Padahal mereka membaca huruf pun masih belajar!.


Rani meminta hape butut milik Tio dengan berpura-pura akan membuang ponselnya. Ya setidaknya anggap saja itu penukar hape android darinya. Walaupun dari segi nilai itu sangat jauh tidak seimbang. Hanya saja, sedikit berbohong mungkin akan berguna. Toh bohong itu bukan untuk merugikan Tio. Justru Rani ingin Tio itu berkembang. Dan gak lagi menjadi terlalu polos. Terlalu polos pasti akan terlalu baik! Bakal gampang di manfaatin orang. Sedangkan kehidupan di kota itu gak sesederhana di desa. Banyak hal kecil yang jika di langgar akan berujung fatal tanpa mereka sadari. Menurut pendapat Rani, kata dodol hampir sama dengan bodoh. Hanya saja kata dodol itu itu lebih halus lagi. Jadi dia masih lebih sopan mengucapkan kata dodol daripada mengucap kata bodoh secara frontal!.


 Rani malah penasaran ketika itu. Kenapa kok Tio betah banget memiliki hape yang sudah usang itu. Bahkan itu seperti barang rongsok! Rani meletakannya di atas meja.


Tiba-tiba tersenyum sendiri melihat bentuk ponsel legend milik Tio itu.


 "Haduhhh,,, orang ganteng, pakai ponsel jaman purba masih betah aja. Liat bentuknya aja itu harusnya udah masuk museum!" Konyol juga kak Tio.


 "Mungkin aku harus menyimpannya sementara, biar dia bisa beradaptasi dulu dengan hape barunya"


Rani membawa ponsel jadul tio, dan menyimpannya di dalam kotak sepatu tempat Rani meletakan beberapa ponsel bekas miliknya. Tidak mungkin dia membuang hape milik orang lain meskipun baginya itu bukan barang berharga. Karna sudah terlampau usang untuk di miliki di masa sekarang. Lagipun mana ada pemuda jaman sekarang masih memakai ponsel jaman batu selain Tio, dengan kondisi casing rontok jika tidak di ikat karet gelang hahahaaaa!.


Fix! baru kali ini Rani menemukan manusia unik!.


 "Aku otw kerumahmu yaaa..." (Otw/otewe/on the way) begitu para penganut istilah menyebutnya dengan singkatan.


Dwi mengirimkan pesan.


Rani sedikit memutar akal, dia sedang tidak ingin di buat gaduh oleh temannya. Pasti tujuannya ke sini hanya buat kepoin kak Tio!


 "Nanti aja deh wi, jangan hari ini, guenya mau pergi!" Rani sedikit beralasan.


 "Pergi kemana? Aku kebetulan lagi gak ada kegiatan hari ini! Apa kita bisa pergi bareng?"


Dwi tidak kalah cerdik!. Rani lagi-lagi bingung harus menjawab apa, dan beralasan bagaimana, intinya dia sedang tidak ingin bertemu Dwi ataupun teman yang lain untuk saat ini.

__ADS_1


 "Gak bisa, aku ada acara keluarga sama mama! Emang kamu mau di rumah sama bang Rian? Yang ada nanti mama marah-marah ada perempuan di rumah berdua ama anaknya! Hahahaaa!" Kelit Rani


 "Hmmm jadi kapan dong gue boleh ke rumahnya? heheheee".


Pertanyaan Dwi bikin Rani mulai bete. Karna memang Rani tidak akan pergi kemana-mana, agak susah juga ya untuk berbohong kali ini.


 "Terserah deh lu mau kapan, asal jangan hari ini!" Jawab Rani asal-asalan. Ini masih hari sabtu. Masih hari kerja, jadi Tio masih berkecimpung dengan pekerjaannya. Jika dwi maksa datang! Rani yakin, pasti Tio bakal terganggu. Tahu sendiri si Dwi bocahnya pecicilan dan agresif. Setiap kirim peaan yang di tanyain kak Tio melulu! Yang temannya aku apa dia sih? Ekspresi cemberut menghiasi wajahnya.


 Bodo amatlah, mending gue tidurr! Sebelum kalian beramai-ramai ngechat gue! Hari ini lepas ekskul, jadi Rani lebih banyak waktu di rumah. Sama seperti halnya Dwi. Rani sengaja mematikan ponselnya. Dia ingin menikmati waktu santainya sepanjang hari ini. Pelajaran sekolah sudah cukup membuat dirinya berfikir keras. Dia ingin mendapat waktu istirahat yang berkwalitas.


 


 


 Rian pulang untuk menikmati makan siang! Ketika Rani tertidur pulas!


Sifat isengnya sering kali muncul mengetahui Rani masih tertidur pulas di siang itu. Rian sendiri mengira kalau Rani terlalu pemalas, tidur dari malam sampai sesiang ini belum bangun juga. Sedangkan dirinya sudah pulang untuk menikmati santap siang. Rian pikir Rani seperti putri tidur saja. Setiap di dekat bantal selalu mengantuk.


 Sedikit senyum sinis di pasangnya, sebelum akhirnya menjatuhkan celengan itu seambyar-ambyarnya di lantai samping tempat tidur Rani.


"Brang!" Setelah jatuh celengan di ambil kembali oelah Rian dan menggoyang-goyangkan koin di dalamnya di sebelah kuping Rani.


Rani terbangun seketika, wajah kesal seketika menyelimutinya. Ketika tahu itu perbuatan Rian. Ranipun sekuat tenaga balas melemparkan celengan itu. Di susul lemparan bantal ke arah Rian.


Rian yang merasa berhasil melampiaskan keisengannya mulai tertawa senang. Di pojok pintu kamar Rian mengolok-olok Rani.


 "Dasar putri tidur! Anak perempuan kok bangun siang! Itu suami sudah nungguin sarapan woiii!" Rani tidak berkata apa-apa pun membela diri, sedikit teriakan dan bertubi-tubi lemparan melesat ke arah Tio.


Bantal, guling, boneka, ketika tangan Rani mulai memegang pot keramik, Rianpun segera lari menghindar dengan tetap mentertawakan adiknya dengan puas.


Entah dari arah mana mama datang, menyaksikan semua benda telah berserakan di lantai. Stres rasanya jika melihat mereka bercanda berlebihan. Apalagi kalau sampai mengacak-acak perabot rumah.


 "Kamu ini sudah gede kelakuannya masih begini! Mama gak mau tahu ya! Kamu harus beresin ini semua tanpa bantuan bi Minah!"

__ADS_1


Tidak ada kesempatan membela diri. Mama langsung meninggalkan kamar yang berantakan.


Dari dalam kamar Rani mendengar kalau mama juga menceramahi Rian.


 "Syukurin! Marahin aja mah anak pungut itu!"


Sungut Rani. Rani biasa meledek kakaknya dengan sebutan anak pungut! Karena Rian sangat usil terhadap dirinya. Walaupun Rani tahu kalau keisengan Rian adalah bentuk perasaan sayang dan gemas kepada adiknya. Namun terkadang bercandanya suka kelewatan. Kadang Ranipun sampai nangis di buatnya.


Sungguh merepotkan, rencana santai malah harus beres-beres kamar. Tau gitu tadi beneran aja ikut keluar di ajak Dwi. Kan enak bisa nge mall. Sesal Rani.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2