"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 35 "saran bagus dari Eca untuk mengikuti sekolah paket"


__ADS_3

Hari-hari di mana Eca sering menginap di rumah Rani. Itulah hari-hari tio bertemu Rani dengan lebih intens.


Alasan bertemu Eca menjadikannya lebih leluasa untuk bertemu Rani juga.


Mereka lebih sering bertemu menjadikannya lebih akrab, namun tidak ada tanda-tanda kalau Rani menyukainya.


Semua seperti biasa saja bagi Tio, padahal dia sendiri sudah lama menyimpan rasa kagum pada Rani.


"Ah tidak penting Rani menyukaiku atau tidak! setidaknya aku sudah bahagia menikmati rasa ini"


Ketika Tio terhanyut dalam lamunannya, khayalan indah tentang masa depan yang akan di genggamnya.


Ada dirinya di dalam gelembung lamunan itu tengah menikmati kebersamaan bersama istri dan anak-anaknya yang lucu.


Mereka bercanda mesra penuh kasih sayang,  dan sesekali anak-anaknya datang untuk menggodanya yang sedang bersama istrinya.


Ada bangku panjang di sebuah taman, ada dirinya bersama seorang wanita cantik, dan dua anak lucu yang sedang asyik berlarian di tanah berumput.


Sungguh khayalan yang indah.


"Aku berjanji ridak akan menyakiti anak istriku kelak! aku akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab kepada keluargaku, istriku anak-anakku! aku tidak ingin menjadi seperti bapakku dan bapak tiriku! Yang sudah menyusahkan ibuku dengan meninggalkan anak tanpa memberinya nafkah! bahkan sedikitpun tidak merindukan buah hatinya" sesak rasanya jika mengingat itu.


"Kak! ada apa?" Seseorang yang datang tiba-tiba cukup mengagetkan dirinya, berharap itu Rani.


Eca yang berada tepat di hadapannya sedikit berusaha mengorek keterangan.


Tio: "Gak apa-apaa"


Eca: "Sumpah?"


Tio: "Kenapa harus sumpah?"


Eca: "Ya biar meyakinkan! Hahahaha!"


Entah sejak kapan anak itu menjadi sedikit kepo, dan kenapa?.


Tio hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Eca. Rani menemani Tio duduk di bangku taman.

__ADS_1


"Rani mana?" Eca menoleh ke arah Tio.


"Kenapa menanyakan Rani terus sihh, kan tadi sudah bilang Rani gak datang, masih aja di tanyaiiinnn!" Jawab Eca tegas.


Sedikit ada perasaan kecewa mendengar penjelasan Eca.


Karna sudah dua hari ini dirinya belum bertemu Rani.


Tio makin merasa sering kehilangan Rani.


Keberadaan Eca di dekatnya, membuat hubungan mereka kian akrab.


Seperti adik dan kakak, namun sesungguhnya pada hati Eca tertanam rasa sayang untuk Tio.


Awalnya sih ketika masih sama-sama di desa, Eca hanya merasa kasihan dan iba dengan kehidupan keluarga Tio dan Eca juga dari dulu memang sudah biasa berbagi kepada keluarga Tio.


Namun kini sudah lain cerita. Mereka sudah sama-sama tumbuh ke arah dewasa. Perasaan Eca pun kini sudah berubah, bukan lagi rasa iba dengan keadaan keluarga Tio, akan tetapi ada perasaan lain yang berkembang di hatinya.


Apalagi, selain tampan, Tio juga punya sikap yang baik dan bertanggung jawab, Tio bukan anak yang suka keluyuran hanya untuk sekedar bermain-main. Poin yang belum tentu di miliki oleh pemuda-pemuda seusianya di era milenial.


Mencari pemuda baik seperti tio di jaman sekarang ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Konon begitulah kata pepatah orangtua jaman dulu.


Lagipula mereka berasal dari desa yang sama, tentu akan membuat semua proses kedekatannya lancar jika Tio bersedia menjadi pacarnya atau mungkin menjadi suaminya kelak. Karna di desanya usia SMP itu sudah bisa memiliki pasangan. Tapi bukan berarti Eca berniat menikah muda.


Pemikiran Eca yang jauh kedepan dan cukup dewasa mungkin tercipta dari keluarganya yang selalu bersikap bijaksana dalam segala hal. Eca juga masih memikirkan pendidikannya berlanjut untuk bekal masa depannya. Eca hanya berpikir, kelak ada yang akan membantunya di kota ketika suatu saat dia mendapat kesulitan, dan ada yang bersedia menjaganya selain daripada orangtuanya ketika berada jauh dari rumah. Eca pun masih terlalu takut berkenalan dengan cowok kota. Selain daripada itu Eca tidak terlalu suka dengan cowok-cowok yang terlalu agresif atau pecicilan.


Jauh percakapan mereka di hari itu.


Ada sedikit saran dari Eca agar Tio melanjutkan sekolahnya, meskipun sudah tidak mungkin melanjutkan menjadi murid SMP biasa, tapi Eca memberikan saran agar Tio mengikuti sarannya melanjutkan sekolahnya yang sempat terputus dulu.


Sekolah Paket B merupakan salah satu ide yang cukup di pertimbangkan oleh Tio.


Mungkin ketika dirinya benar-benar berminat menerima saran dari Eca, maka Tio pun harus bersiap diri mengatur waktu antara jam kerja, jam belajar, dan jam istirahat.


Namun rencana ini tentu harus di pikirkan masak-masak, di karenakan saat ini dirinya masih bekerja di bawah peraturan orang lain, yang tentunya tidak bisa di langgar seenaknya.


Meskipun Tio tahu pak Dani boss yang baik, tapi tidak mungkin baginya untuk meminta lebih kelonggaran dari yang selama ini sudah di berikan olehnya dan keluarga bosnya.

__ADS_1


Namun menurut Tio saran dari Eca patut untuk di pertimbangkan. Dengan melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda, akan membuka peluang lebih besar baginya untuk bisa bekerja di perusahaan besar nantinya, seperti Wahyu teman sekampungnya.


Seperti mendapat angin segar, seketika Tio mulai melayangkan halunya seperti biasa melewati mesin waktu.


Terbayang dirinya duduk di sebuah bangku kantoran, di mejanya ada laptop dan di sediakan pula cangkir kopi hangat menemani pekerjaannya.


Hmmm... Sejuk rasanya kerja di ruang ber'AC. kemeja putih, celana hitam, cukuran rambut rapi, pasti kulitnya ketika itu benar-benar terjadi akan berubah putih bersih.


Entah apa yang Tio khayalkan selanjutnya.


Sampai-sampai Eca mengguncang-guncangkan pundak Tio yang senyum-senyum sendirian dengan pandangan kosong.


Dengan rasa terkejut level sepuluh Tio pun berhasil terbangun dari khayalannya.


Eca tertawa terbahak melihat ekspresi Tio yang nampak agak sedikit linglung sekaligus nampak terlihat gugup menahan malu.


Dengan Ge-Er nya Eca berani berpikir jika saat itu Tio sedang memikirkan Eca di dalam lamunannya.


Eca tersipu-sipu, padahal apa yang terjadi bukan seperti yang dia pikirkan.


Tio sedikit mendapat gambaran, sedikit harapan cerah, jika semua yang dia khayalkan benar-benar menjadi kenyataan.


Hari semakin sore, pertemuan itu segera di akhiri.


Eca cukup merasa puas sudah lebih jauh berusaha mengenal Tio.


Dirinya menjadi lebih dekat sekarang.


Harapan baru semaking menggebu, namun dirinya tidak mungkin menyatakan rasa sukanya terhadap Tio begitu saja.


Karna Eca perempuan, tidak mungkin seagresif itu. Mungkin pendekatan yang kini terjadi bisa mengubah perasaan Tio yang menganggapnya sebagai adik temannya bisa menjadi pacar misalnya.


Kalimat Eca yang blak-blakan terhadap Rani dulu yang mengatakan kalau dirinya akan menembak Tio bukanlah ucapan serius.


Itu terjadi karena Eca melihat Tio dan Rani memiliki perasaan saling suka, tapi salah satu di antaranya tidak pernah ada yang terbuka. Ketika itulah Eca mencandai Rani, bahwa Eca akan mendekati Tio jika Rani benar-benar tidak menyukai Tio dan tidak memiliki hubungan apapun kecuali hubungan pekerjaan.


Waktu berbuka telah tiba, di awali dengan suara kumandang adzan di mesjid dan mushola sekitar, hilang seketika rasa haus Tio saat meneguk air es timun suri bercampur sirup rasa strawberry yang selama ini menjadi rasa favorite Rani.

__ADS_1


__ADS_2