"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
"Prank Dari Papa"


__ADS_3

Di suatu sore,,


Hari ini keadaan rumah sedang ramai, karna semua anggota keluarga lengkap berada di rumah.


Pak Dani sedang membaca berita online di ponselnya, bi minah sedang menonton tivi, sedangkan mama duduk santai di sofa tengah. Ada Rio juga di luar yang sedang membersihkan debu kotor di motornya. Sudah berbulan-bulan motor itu menganggur di rumah, karna pemiliknya yaitu Rio sendiri sudah mulai aktif kerja membantu mengurus usaha bapaknya.


Mungkin hari ini Rio akan mengajak motor kesayangannya sedikit jalan-jalan. Karna terlampau lama motor itu mengurung diri dalam garasi. Rio khawatir dia akan mogok dan onderdilnya berkarat.


"Rani,,, papa lihat kamu selalu di rumah, apa gak jenuh di rumah terus?" pak Dani mulai membuka percakapan.


"Pertanyaan yang aneh!" Gumam Rani. Tumben bapaknya bicara seperti itu?.


"Papa itu kenapa sih? aku kan memang biasa begini, kenapa di tanya gitu? apa papa mau anaknya jadi anak yang suka ngayap? hayoooo! heee." Canda Rani. meski nada bicara bapaknya terlihat serius, namun dia menanggapinya dengan santai.


"Apa kamu tidak punya pacar?" tanya pak Dani kembali.


"Pertanyaan apa lagi ini?" gumam Rani. Makin mengkerutkan keningnya.


"Papa itu kenapa sih? kenapa pertanyaan papa jadi aneh?"


"Loh, aneh gimana? papa tanya biasa aja loh, yaa kalau Rani belum punya pacar ya tinggal jawab aja belum!" ucap pak Dani.


"Ih,, ngapain sih papa ngurusin masalah pacar Rani segala!" nada bicara Rani agak meninggi. Rani merasa tidak enak hati dan tidak nyaman dengan pertanyaan pribadi meskipun di tanyakan oleh bapaknya sendiri.


"Papa kepo ah! Rani gak suka di tanya-tanya masalah itu!" Rani membanting diri duduk di ujung sofa dengan mimik muka cemberut.


"Sini duduknya deket papa!"


"Gak mau ah! males!" Rani menjawab ketus.


"Eh sama orang tua gak boleh gitu,, harus sopan! sini duduknya deketan papa!"


Rani menggeser duduknya agak mendekat ke arah bapaknya.


Namun ekspresi juteknya tetap melekat dari wajahnya.


Pak Dani tersenyum tipis. Dia paham betul sifat anaknya ini. Rani memang moody dan manja. Namun pada hari ini pak Dani bermaksud bicara serius dengannya.


"Papa cuma mau tanya doang, kamu udah punya pacar apa belum?" untuk kesekian kalinya pak Dani mengulang pertanyaan yang sama.


"Papa kok nanya ke situ terus? males deh!" jawab Rani.


"Jawab papa dulu!" kali ini pak Dani bicara lebih ngegas!. Rani di buat berkedip dan kaget dengan nada bicara bapaknya kali ini. Kalau sudah begini, nyali Rani yang biasa membantahpun menjadi ciut seketika!.


"Memangnya kalau udah kenapa? dan kalau belum juga kenapa?" tanya Rani, dengan mimik muka datar dan mata yang mulai sedikit berkaca-kaca. Dia memang tidak bisa di kasari sedikit saja. Urat cengengnya langsung naik ke level sepuluh jika itu terjadi.


Pak dani mentertawakan ekspresi anaknya kali ini. Kasihan namun juga dia perlu memainkan sedikit drama kepada Rani demi hal ini.


"Yaa kamu jawab dulu yang bener, udah atau belum?" Desak pak Dani.


Pertanyaan yang sulit untuk Rani jawab! karenan Rani sendiri tidak pernah bicara masalah-masalah seperti ini dengan bapaknya. Dirinya merasa terlalu malu jika harus bercerita masalah wanita kepada seorang bapak!.


"Hmmm... Udah!" jawaban Rani kali ini di barengi dengan deru suara motor Rio yang sangat bising, hingga pak Dani tidak bisa mendengar jelas apa yang Rani katakan.


"Apa,, apa?" pak Dani kembali menanyakan hal yang sama.


"Udah papa!" jawab Rani kembali. Namun kali ini juga berbarengan dengan suara motor Rio yang di hentak-hentakan dengan lebih kencang, hingga dirinya tidak bisa mendengar jawaban Rani untuk kedua kalinya.


Akhirnya pak Dani berteriak dari dalam rumah agar Tio mematikan mesin motornya.


Bukannya mematikan motornya, Rio malah ngacir meninggalkan rumah dengan motor yang baru saja di elusnya, meninggalkan asap knalpot yang mulai menjalar ke mana-mana.


"Heran kakakmu ini! udah motor bagus-bagus malah di bikin kayak begitu suaranya! mengganggu kenyamanan orang saja!" pak Dani menggerutu, meski Rio sudah tidak lagi di tempat itu.


Rani masih di tempat duduknya.


Bi minah sudah pergi ke belakang. Dia ingat tadi sedang masak kolak dan belum mematikan kompornya.


Sedangkan mama, pura-pura tidur pulas di soffa.

__ADS_1


Rani menghadapi ayahnya seorang diri.


Tangannya terus-terusan memainkan bantal soffa dengan mimik muka yang masih bete.


"Papa tadi belum denger jawaban kamu, coba ulang lagi!"


"Salah papa, kenapa papa gak denger, pokoknya gak mau ngulang!" gerutu Rani.


Perlahan Rani membalikan badannya membelakangi bapaknya.


"Ya udah kalau kamu belum punya pacar, papa mau kenalin kamu sama anaknya temen papa! Dia orangnya ganteng, udah kerja dan punya penghasilan sendiri, udah gitu anaknya baiikk banget,, papa kira kamu bakal menyukainya,,," ucap pak Dani.


Meskipun sebenarnya dia cuma berbohong saja. Di belakang Rani pak Dani tertawa-tawa sendiri.


Namun prank ini harus tetap berlanjut sampai pak Dani yakin kalau Rani tidak menginginkan laki-laki lain selain Tio sebagai calon suaminya.


"Papa apa sih! emang sekarang masih jaman jodoh-jodohan ya?" elak Rani. Padahal Rani hanya ingin jika ayahnya jangan sampai bersungguh-sungguh melakukan perjodohan ini. Namun untuk mengakui kepada bapaknya jika dirinya sudah jadian sama Tio pun dia terlampau malu. Rani pikir jika bapaknya belum tahu tentang hubungan mereka.


"Emang kenapa? Papa dulu sama mama mu juga gak pacaran dulu! tapi lihat, sampai sekarang kita masih bersama, malah bertambah kamu dan kakakmu, dan kami masih bersama sampai hari ini."


"Ya itu sih papa ya,, aku gak mau kayak papa!" jawab Rani singkat.


Tiba-tiba mama bangun dari tidurnya.


"Duh kalian ini berisik banget! mama ke dalam dululah, pala mama pusing kalau lagi nyenyak keganggu tidurnya!" mama meninggalkan mereka berdua.


Rani dan papa sama-sama tidak bergeming, dan tetap di posisi duduknya.


Tiba-tiba ponsel milik pak dani berbunyi, sebuah pesan via wa di terimanya. Pak dani membuka pesan yang baru saja di dapatnya, kemudian membalas pesan itu.


"Oh ini anak temen papa mau datang! kamu dandan sana yang cantik! bersihin dulu mukanya sanaa, jangan cemberut gitu, jangan pasang muka sedih juga! nanti hilang cantiknya!" perintah pak Dani.


Bukannya pergi merapikan diri, Rani malah lesahan duduk di lantai, meraung-raung menangis dan menutupi mukanya dengan bantal.


Pak Dani tahu anaknya ini tidak mudah menerima kehadiran orang baru di dalam hidupnya. Apalagi tiba-tiba akan di jodohkan dengan orang yang sama sekali belum pernah di kenalnya.


Rani memukul-mukulkan kepalan tangannya ke atas soffa. Pertanda jika dirinya benar-benar menolak tawaran dari bapaknya.


Rani tidak akan mau memperlihatkan wajahnya pada pemuda pilihan ayahnya.


Bagaimana mungkin secepat itu dirinya melupakan Tio yang selama ini dia harapkan?.


"Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan sama anak temen papa!" ancam Rani, meski hanya di dalam hatinya.


Tidak lama kemudian terdengar ada suara kendaraan yang berhenti di depan rumahnya. Rani tidak dapat memastikan suara kendaraan itu apakah motor atau mobil. Mana dia perduli!.


Pak Dani mengeraskan volume suaranya dan berkata; "Nah tuh dia anak temen papa sudah datang! kamu sambut dia dengan baik ya! papa ada urusan sebentar! papa pergi dulu! awas jangan di galakin ya! kamu harus baik-baikin dia biar dia gak ngadu ke bapaknya kalau dia sudah kamu jahilin!" ucap papa sedikit menempelkan mulutnya di dekat kuping Rani. Kemarahan Rani semakin memuncak! Rani tak lagi mau menjawab ucapan bapaknya.


Terdengar dari dalam, ada sayup-sayup percakapan, antara pak Dani dan tamunya itu.


Rani menutup kuping rapat-rapat! namun dirinya memutuskan untuk tidak beranjak dari tempat itu, tamu itu harus mendapat pelajaran darinya.


Seseorang mulai memasuki pintu rumahnya.


Sesaat kemudian menutup pintu itu rapat-rapat.


"Lancang sekali dia! baru pertama bertamu sudah berani menutup pintu rumahku? sementara ada aku di sini pemilik rumah! songong!" gerutu Rani.


Terdengar suara langkah kaki itu mulai mendekati Rani. Rani sadar itu, meski dia menutup diri rapat-rapat.


Tangan kiri dan kanannya menyilang di belakang kepalanya. Rani tak ingin sedikitpun memperlihatkan wajah cantiknya itu.


Semakin rapat dia menyembunyikan mukanya. Helai rambutnya cukup membantu dirinya menutupi pipinya.


Kekesalannya kian bertambah mana kala sang tamu malah tambah berani duduk di soffa tepat di samping kepalanya.


"Sungguh bukan lelaki yang sopan! baru saja bertamu, sudah berani masuk dan menutup pintu! berani-beraninya lagi deketin aku! dasar songong!" gerutu Rani.


Cukup lama, pemuda itu mendiamkan dirinya. Pegal rasanya punggung Rani. Belum lagi menahan simpul perisai tangan yang di pasangnya. Rani seakan di buat dalam kondisi mati kutu.

__ADS_1


"Tega banget sih papa! gini'in anaknya, hiks!"


Rani masih saja menggerutu.


"Hey!" Tiba-tiba saja suara itu terdengar di telinganya. ada sebuah tangan yang coba menyentuh pergelangan tangannya, dan mencoba melepas simpul perisai kedua tangannya. Rani menyatakan penolakannya dengan sikutnya. Ada suara mengaduh di dengarnya. meski pelan namun Rani mendengarnya dengan jelas.


"Rasain! liat saja aku akan bikin kamu kapok sudah datang ke sini!" ancam Rani dari dalam hatinya.


Namun rupanya tangan itu tidak kapok!


Untuk kedua kalinya dia mencoba memegang kedua tangan Rani agar tidak menutupi kepalanya lagi.


"Ih apa sih! diam gak?!!" teriak Rani bernada mengancam. Kali ini ancamannya tidak main-main lagi.


dan Rani masih tetap tidak mau memperlihatkan mukanya.


Untuk yang ke tiga kalinya, tangan itu kembali mencengkeram dengan lebih kencang. Rani lebih kuat melakukan perlawanan.


Rani memukul-mukulkan bantal yang di pegangnya dengan bar-bar! bagai orang yang sedang kerasukan.


Hingga pemuda itu mengaduh berulang kali.


"Aduh! aduuh!!,, sudah! sudah hentikan!" ucapnya sambil berusaha menangkis serangan-serangan yang di lancarkan Rani.


"dasar kamu songong! rasain! rasain!"


Rani berhenti memukuli pemuda itu setelah merasa korbannya tidak berkutik lagi.


Rani berdiri tegak seolah menantang lawannya dengan senjata bantal soffa di tangan yang di pegangnya kuat-kuat!.


Kali ini nampak seorang pemuda yang sudah di sudutkannya terlihat meringkuk di atas soffanya.


Dengan posisi kedua tangan menyilang di dada dan kepala, berusaha melindungi diri dari serangan Rani.


Perlahan-lahan wajah itu mulai terlihat jelas sedikit demi sedikit.


"Kakak!!! bagaimana bisa??" Rani ternyata mengenali sosok dan wajah itu. Yaa itu lah Tio,, yang sedari tadi dia perlakukan seperti musuh besarnya.


Rani tersungkur meminta maaf di pangkuan Tio.


Sungguh malu sekali rasanya bertemu Tio dengan muka yang masih semrawut!


Bekas air mata di mana-mana, rambut kusut tidak karuan, dan dengan sambutan yang tidak semestinya.


Tio mengambilkan tissue dari atas meja tamu, dan berusaha mengembalikan ketenangan emosi Rani.


Rani membersihkan wajahnya dengan tissue pemberian Tio.


"Apa maksud papa melakukan semua ini? kenapa dia harus membuat permainan yang membuat emosiku meledak?"


Tiba-tiba saja ada pesan whatsapp masuk dari papa.


"Gimana? anak temen papa gantengkan? kamu jangan jahilin dia ya! perlakukan dia dengan sopan, atau nanti kamu di coret dari daftar nama calon menantunya!"


"Hmm konyol! apa-apaan ini?" Rani melempar ponsel miliknya tanpa berniat membalas pesannya terlebih dulu.


"Hmmm... Anak sultan! sekali kesel bisa-bisanya buang ponsel mahal!" gumam Tio. Saat melihat aksi Rani melemparkan hape miliknya tanpa tahu apa penyebabnya.


"Maaf ya kak, aku lagi kacau! lagian kenapa kakak diam saja?"


"Ya gak apa-apaa, pukulan kamu rasanya mantap! kamunya juga gak ngasih kesempatan kakak buat ngomong! langsung aja main serang! hahahaa!"


"Habis aku kesel! aku udah di bohongi papa!"


"Kamu ternyata bahaya juga ya! untung bukan besi yang kamu pegang!" ledek Tio.


Sambil mengusap-usap bagian yang tadi sempat terkena pukulan Rani.


Rani berusaha tersenyum walau air mata masih sesekali menetes di pipinya. Kekesalannya masih belum hilang di saat itu.

__ADS_1


Tio berusaha menghibur dengan candanya. agar kekesalan Rani bisa segera hilang. meskipun Tio belum paham apa penyebab dari semua ini.


__ADS_2