
Hari ke tiga ijin tidak masuk sekolah.
Berhari-hari terkurung dalam kamar cukup membuat jenuh. Rani berusaha mencari udara segar di luar. Balkon selalu menjadi pilihan utamanya. Terlebih lagi mama tidak akan memberi ijin keluar rumah jika kondisi badannya masih belum pulih betul.
Lagi pula dalam pemukiman padat penduduk lebih enak menikmati santai di balkon rumah. Pemandangan bisa lebih luas dan jauh, walaupun hanya atap-atap bersusun yang terlihat. Tapi masih ada burung yang selalu hinggap bertengger di atasnya, selain kucing-kucing yang bebas berkeliaran, dan beberapa serangga seperti capung dan kupu-kupu. Saat langit cerah, Rani juga dapat melihat sinar matahari terbit dan terbenam, karna posisi rumahnya yang menghadap ke arah utara.
Dari atas balkon Rani bisa melihat tokonya dan aktifitas karyawan ayahnya ketika sedang di luar gudang. Tapi ketika di toko agak sulit untuk bisa melihat ke arah rumah Rani.
Hatinya lumayan terhibur melihat suasana di sekelilingnya.
Notif WA yang baru sempat di bukanya bertebaran tak berhenti bergetar.
Selain ramai di group juga ada beberapa sahabat terdekatnya yang telah mencoba menghubunginya lewat pesan pribadi.
"Hai Rani apa kabarmu? Apa kamu sudah sehat?" Dari Dessy.
"Ran, aku ajak main dong ke rumahmu! Gak apa-apa aku nemenin kamuuu,, asal aku bisa bertemu saudara kamu si Tio itu lo!" Hmmhh Dwi yang ganjen.
"Ran, aku mau tas Rajutnya lagi buat sepupu! Sisain ya dua biji aja! Nanti kalau ready kabari!" Dari Nindi.
"Cepat sembuh ya bebz!" Oke makasih Cici.
Whatsapp selanjutnya.
"Bebz kenalin lebih deket dong aku sama Tio hahahaa!"
"Raanniiii,,, ajak-ajak dong saudaramu ke sekolahhh,, biar kita lebih menenalnya lebih jauh,, terutama akuu!" Ihhh jijay! Rani bergidikk.
__ADS_1
Wa lebih penuh dengan pertanyaan seputar Tio. Malah ada yang cuma nanya kabar si Tio daripada dirinya yang sedang sakittt!
"Udahlah! Males buka wa isinya hampiir samaa!"
Ada yang kirim salam, ada yang request minta ketemu Tiolah. "Memang aku asistennya apa!"
Rani menggigit crakers dengan gemass, mencerminkan dirinya yang juga sedang kesal.
Kenapa malah dirinya yang seolah menjadi mak comlang mereka.
Membalas satu persatu pesan gak mungkin banget, jarinya bisa keriting nantinya. Belum lagi jika ada yang menambah komentar baru. Pasti percakapan di wa pun gak bakal kelar buru-buru.
Setelah memperbaharui story wa, Rani segera mematikan ponselnya. Memberi kabar bahwa dia sudah baik-baik saja. Dan sedikit memberi informasi tentang Tio bahwa Tio bukanlah saudaranya. Namun Rani juga tidak menyebutkan kalau Tio adalah karyawan bapaknya.
Sebentar lagi hari raya idul fitri tiba. Semua bersiap menyambut ramadhan. Tio sendiri perlu mempersiapkan fisik agar pekerjaannya tidak sampai membuatnya membatalkan puasa.
Rencana pulang kampung kali ini akan lebih cepat dan lama. Dua bulan ini Tio tidak mengirim uang ke kampung. Karna kebetulan belum ada temannya yang mudik. Merasa sering kesulitan dalam mengirim uang, Tio pun berencana ingin membukakan rekening bank agar Anita bisa menerima uang kiriman dengan lebih mudah, sekaligus membuatkan kandang baru untuk kambing-kambingnya saat pulang lebaran nanti.
Rencana baru sudah akan di mulai. Tio harus segera mendapatkan lokasi untuk berjualan nanti. Rencana ini tidak ada yang mengetahui selain dirinya dan Rahmat. Target habis lebaran nanti harus sudah punya lapak baru. Namun Tio agak sulit mendapatkan lokasi yang murah dan strategis. Mungkin Tio butuh bantuan bang Nana nanti. Karna bang Nana lebih tahu seluk beluk lokasi-lokasi yang biasa di sewakan untuk lapak berdagang.
"Aku harus sukses di kota B!" Setiap memikirkan itu semangatnya seakan terpompa, laksana batery yang habis di charge. Perasaan tidak sabar kadang muncul begitu saja. Apalah daya tidak ada modal, dan kemampuanpun terbatas, dirinya belum memiliki talenta sama sekali, hanya pekerja sebagai kuli saja yang bisa di lakukannya sampai saat ini. Ya kuli, kuli di toko pak Dani. Mungkin suatu saat dirinya harus memiliki keterampilan. Agar bisa hidup mandiri, dan membangun usaha sendiri sampai benar-benar sukses!.
Beberapa waktu ini, Tio cukup merasa puas, meski masih sebagai kuli, tapi keuangan keluarga di kampung cukup terbantu. Namun ini hanya sementara. Tidak mungkin akan selamanya dia menjadi pekerja. Tio tidak ingin membuang waktu terlalu lama untuk menjadi pekerja orang. Dia harus berani keluar dari lingkaran ini, untuk hidup yang lebih layak lagi. Tidak cuma sekedar untuk memenuhi kebutuhan perut di hari ini saja.
Kelak dia akan menikah, mungkin mempunyai keturunan, akan butuh bekal biaya untuk hidup bersama mereka. saatnya menyusun masa depan. Dan mulai rajin menabung dari sekarang sedikit demi sedikit.
Gaess psbb lagiii...
__ADS_1
jangan lupa masker yaa,,
Sering-sering cuci tangan.
Makan yang banyak biar strong!
Paksain makan ya! Jangan malas makan ok!
"Udah gitu aja"
salam sehat selalu pokoknya.
__ADS_1