"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 11 "KEJUTAN DI JALAN MENUJU RUMAH"


__ADS_3

 Bis X melaju dengan cepat. Perjalanan sangat lancar dan tidak terhambat oleh kemacetan. Namun seketika Tio terbangun dari tidurnya karna bis  tiba-tiba mendadak berhenti. Suara orang berteriak membuatnya terheran-heran karna tak menyadari apa yang baru saja terjadi. Tio mengedip-ngedipkan mata, agar pandangannya tidak lagi kabur. Karna baru saja terbangun dari tidurnya yang lumayan lama, meskipun hanya di kursi penumpang saja. Tio merasa tidurnya cukup berkwalitas.


Rupanya pak sopir hampir menabrak hewan yang sedang menyebrang jalan. Maklum kali ini bis mulai menapaki arah ke desa-desa.


 Entah ini desa keberapa. Tio pun tak menghitungnya. Yang dia ingat dulu, setelah ini akan ada tempat peristirahatan atau rest area, namun ini bukan lagi jalur toll, rest area ini hanya untuk bis-bis dengan perjalanan jarak jauh. Untuk sekedar mengistirahatkan mesin, dan para penumpangnya. Di sini terdapat fasilitas yang cukup komplit. Ada restoran, tempat mengisi bahan bakar, atm, toilet, rumah ibadah, dan beberapa kios jajanan oleh-oleh khas warga setempat. Bahkan ada beberapa kios yang juga menyediakan berbagai macam souvenir.


Tidak ada hal yang membuat Tio tertarik kecuali ingin cepat-cepat sampai ke rumahnya. Tio ingat ingin membelikan adiknya kembang api, namun dia berniat membelikannya di pasar tradisional saja nanti.


 Jalanan beraspal ke desa malah tampak lebih bagus dan mulus. Ya karna ke jalur ini jarang yang melewatinya kecuali transportasi umum. Dan kendaraan para penduduk saja. Hingga jalan aspalnya terbilang cukup awet meskipun selalu di pakai para pengguna jalan di tiap harinya.


Ya para petani hanya sesekali membawa hasil bumi dengan angkutan. Sisanya hanya dengan motor dan sepeda saja, tidak seperti di kota, jalanan selalu penuh dan macet. Udaranya pun kadang sangat berpolusi, kalau di desa, selalu sejuk dan segar sekalipun menghadapi musim panas tapi tetap kaya dengan udaranya yang bersih.


Di desa memang selalu asri, mungkin itulah salah satu alasan kenapa udara di desa masih murni, karna di desa tidak ada industri seperti pabrik-pabrik atau sejenisnya, selain pabrik penggilingan padi. Itupun tidak menghasilkan limbah yang berbahaya, selain dari kepulan asap dari bahan bakarnya saja.


Karna limbah padi bukan barang mubajir.


Banyak yang memanfaatkannya untuk mengolahnya kembali menjadi pupuk tanaman, apabila di bakar menjadi debu bisa juga debunya di jual sebagai pencampur bahan mencuci piring selain detergent. Ampas padi juga bisa di campur tanah liat untuk membuat tungku api tradisional sebagai alat memasak.


Banyak lagi kratifitas dan haskar lainnya. Bahkan ampas padi bisa juga di pakai sebagai pengganti kayu bakar. Semua yang ada di desa sangat alami, natural.


 Setelah berhasil mengantongi beberapa kotak kembang api, Tio pun kembali bergegas ke dalam bis bersama rombongan yang searah dengannya.


Tersenyum puas dapat membelinya. Setidaknya ini akan sedikit menghibur adik-adiknya nanti. Kebetulan ada bonus dari pak Dani sebelum pulang kampung. Jadi gak apa-apa sedikit membelanjakannya.


Kapan lagi dia bisa belikan, pikirnya, toh selama ini adik-adiknya cuma bisa menjadi penonton atas kebahagiaan teman-teman lainnya. Karna jangankan untuk membeli hal-hal seperti itu, untuk kebutuhan pokok saja senin kamis, jauh dari kata cukup.


Sedih rasanya untuk Tio bila harus mengingat kembali semua itu. Namun beruntungnya dia masih memiliki mereka. Tio ingat, salah satu teman kerjanya bahkan ada yang hidup hanya sebatangkara. Beruntung temannya itu sekarang sudah menikah, punya keluarga baru, dan memiliki keturunan. Jadi kesepian itu sudah hilang dari temannya itu sekarang. Semua itu sedikit cermin untuk hidupnya, agar selalu bersyukur, yang walaupun dirinya miskin, tetapi masih ada beberapa teman dalam keluarganya yang masih di milikinya saat ini, yaitu ibu dan adik-adiknya.


 Turun dari bis Tio melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.


Tas beranak yang di bawanya cukup memperlambat gerak langkahnya. Selain yang di punggung, Tio juga menenteng beberapa lagi di tangan, tas dan kantong-kantong berisi oleh-oleh dari kota B yang di belinya secara mencicil. Sengaja dia memakai uang tips pemberian dari konsumen toko secukupnya saja. Agar pulangnya bisa membawa semua oleh-oleh ini.

__ADS_1


Dalam gerak langkahnya yang lumayan kelelahan. Tiba-tiba!


"A'aaaa!!..." (A'a artinya kakak) Tio pun spontanitas menoleh, mencari arah suara.


Dua orang anak lelaki berlarian dari arah belakangnya.


Rupanya zaka dan zaki adik kembarnya.


 Tio tersenyum sumringah menyambut kehadiran mereka, selain karna kangen juga Tio senang bakal ada yang membantunya membawakan kantong-kantong yang di tentengnya, yang sedikit membuatnya repot. begitupun kedua adiknya yang tertawa bahagia sambil menjulurkan tangannya sebagai ucapan salam dan mencium tangan kakaknya yaitu Tio.


 Tio "ujang ti marana? Geuning bijil ti tukang?" (Adik dari mana? Kok datang dari belakang?)


 Kembar: "tos ameng a!" (Habis main kak!) Menjawab hampir bersamaan.


Rona bahagia tak dapat di sembunyikan lagi dari wajah-wajah lugu itu, menyambut kedatangan sang kakak.


Mereka berebutan membawakan kantong-kantong yang di bawa Tio dari kota.


 Senyum manis yang enggan pergi dari wajah-wajahnya. Tanda mereka bahagia melihat kakak mereka yang telah lama tidak pulang. Sesederhana itu membuat mereka senang.


Mungkin anak-anak inipun pulang untuk menikmati makan siang buatan ibu tercintanya.


Pertemuan di waktu yang tepat, ketika Tio memang sangat membutuhkan bantuan.


 Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju rumah. Tentu saja ibu menyambut gembira kedatangan mereka. Dengan segera ibu menghidangkan air minum beserta kendinya. Ya rata-rata warga di desa memiliki poci, dan kendi.


Lebih enak menyimpan air di dalam kendi, karna airnya akan terasa sejuk dan segar. Karna kendi terbuat dari tanah liat yang di finishing dengan di bakar saja. Kendi juga tidak mengandung unsur kimia.


Selain bisa membuat air tetap kaya mineral juga, konon kabarnya bisa mengurangi panas dalam. Sejuk dan sehat, walaupun tidak sedingin air kulkas.


Ibu menghidangkan semua makanan yang di masaknya siang itu.

__ADS_1


Serepot itu menyambut kedatangan Tio, seolah-olah Tio adalah tamu kehormatan di matanya.


Tio sendiri malah merasa sungkan di perlakukan demikian.


Rasanya terlalu istimewa untuknya. Namun Tio harus sedikit memakluminya.


Jika ada seorang ibu yang telah lama tidak bertemu dengan anaknya, semua ibupun pasti akan berlaku sama seperti yang ibunya lakukan kini.


Dan Tio pun menikmati hidangan itu di temani ibu dan kedua adiknya.


Entah masih di mana Anita adik perempuannya saat itu.


Tio menebak-nebak kalau Anita mungkin masih di ladang.


Tio pun belum ingin menanyakan keberadaan Anita adiknya untuk saat ini.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2