
Rani iseng membuka- buka isi lemari lama.
Lemari yang berisikan barang yang sudah tidak lagi di pakai olehnya.
Ada beberapa barang yang sengaja masih dia simpan dengan rapi.
Anak perempuan satu-satunya itu, sudah pasti sangat di sayangi oleh seluruh anggota keluarga di rumah. Tapi mereka tidak memperlakukan Rani terlalu special, sehingga Rani tumbuh mandiri, tidak kolokan seperti anak bungsu lainnya.
Sejenak berdiri sambil berkacak pinggang, memperhatikan setiap pojok lemari. Sebentar- bentar mengerutkan dahi, lalu kembali membuka box-box berisi berbagai barang. Dari mulai mainan bekas, baju bekas bahkan laci-laci lemaripun tak luput dari sentuhannya. selektif sekali matanya melakukan pencarian.
Rani memang tengah mencari sesuatu.
Mencari ponsel bekas pakainya dulu tepatnya. Melihat kemarin Tio memakai hape butut dirinya sedikit merasa kasihan. Tidak ada salahnya rasanya memberikan hape lamanya untuk orang lain yang membutuhkan, terlebih lagi kepada Tio yang memang pekerja bapaknya.
Teringat sesuatu ketika Rani sedang merenung berfikir, tempat terakhir dia meletakan ponsel-ponsel lamanya.
Di ambilnya sebuah bangku, kemudian Rani memanjatnya. Tangannya mulai menempelkan tangannya di atas lemari, meraba-raba dan kemudian berhasil meraih sebuah kotak sepatu. Rani menariknya dan membawanya turun.
Senyum gembira tampak dari raut wajahnya, ketika kotak sepatu berhasil di buka. Ada beberapa hape bekas di dalamnya dengan berbagai merk. Rani memilihkan salah satunya yang dia anggap masih pantas untuk di berikan kepada Tio. Memang hape bekas! Tapi hape-hape itu bukan barang rusak. Hanya saja Rani pernah berkali-kali mengganti hapenya sesuai dengan model yang lagi trend. Itupun bukan hape yang terlalu mahal. Tapi setidaknya, sudah menggunakan fitur-fitur baru yang lebih banyak aplikasi kekiniannya. Pastinya jauh lebih canggih di mana-mana dari hape butut milik Tio.
Rani mencoba kembali mengisi bateraynya. Memastikan agar kondisi hape dalam keadaan baik-baik saja dan masih berfungsi.
Rani berencana akan memberikan hape ini ketika bertemu nanti. Menurut Rani, sangat tidak serasi saja, melihat tampang Tio yang segemoy itu, harus menggunakan ponsel sebutut kemarin. Yang begitu ringkih, ketika di pegang saja casingnya rontok! Oh no!.
"Gak sesuai sama tampang!" Ups! Untung hanya hatinya yang bicara hahaa!
Hmmm... Sejak kapan Rani menjadi pemerhati orang lain?? Bukannya selama ini dia tidak pernah mau ambil pusing terhadap masalah orang?.
__ADS_1
Kenapa kali ini Rani begitu tertarik untuk melibatkan diri dalam kesusahan Tio?.
To readers jangan neting ya! Heheheee.
Ingat tokoh Rani masih anak SMP. So kita seting sesuai usia ya...
Rani remaja SMP memang, belia iya, normal iya, baligh iya, menuju ke arah dewasa sih, wajar dong jika di saat ini dia sudah mulai memperhatikan lawan jenis. Mempunyai pandangan sendiri tentang karakter wajah dan sifat laki-laki yang di sukainya, termasuk dari segi fisik dan ahlak!.
Begitupun terhadap Tio. Namun Rani bukanlah tipe remaja-remaja genit, yang suka menjahili abang-abang. Rani anak santun, ceria, ramah tapi setujulah kalau kita bilang agak manja. Agak manja ya,, kalau di manjakan.
Fix delapan puluh persen bateray ponsel telah terisi. Rani sudah tak sabar lagi menunggunya sampai harus penuh.
Otak usilnya mulai berkibar, ya sedikit prank bolehlah di tambahkan di dalam kotak kado itu. Biar sesuai dengan hadiah yang akan di dapat Tio.
Untuk hape bekas semahal yang pernah Rani miliki, apalah artinya prank dari Rani. Melihat Rani aja Tio udah bahagia, apalagi dapat bonus kado, makin ambyar dong hatinya nanti.
Rani membungkusnya di antara gulungan koran yang berlapis seribu.
Full kotak sepatupun penuh dengan kertas berisikan satu buah hape. Yang terakhir adalah menambahkan balutan lakban bening yang bertumpuk, biar semakin seru pikirnya.
Rencananya Rani akan memberikan kado itu setelah jam kerja Tio berakhir.
Rani bergegas membereskan isi kamarnya yang berantakan. Khawatir ada yang kepoin, takutnya nanti malah di marahi. Walaupun ngasihnya barang bekas, tapi masih cukup berharga tentunya. Mungkin kalau mamanya tahu, pasti akan menyarankan untuk di berikan kepada saudaranya sendiri. Seperti pakaian-pakaian bekasnya dulu. Semua di pakai turun temurun ke sepupu sepupunya. Sepupu mama memang banyak yang masih hidup sederhana. Dan belum mapan seperti keluarganya. Makanya tidak ada yang mubajir di sini. Hanya saja mereka berbeda kota. Jadi hanya sekali-sekali mereka bertemu dan saling mengunjungi, seperti di hari-hari besar atau acara keluarga.
Kali ini pun papanya yaitu pak Dani sedang tidak di rumah, kakaknya sudah dewasa, sudah mulai sering pergi-pergi sendiri. Mungkin saat ini dia sudah punya pacar, hanya saja Rani belum mengetahuinya.
Kapan-kapan Rani akan sedikit menyelidikinya. Mama sudah tidak mau memberikannya adik lagi, kalau kakak-kakaknya pergi, ya Rani sendiri. Mamapun menganggap Rani sudah gede, jadi sudah tidak bermanja-manja lagi seperti dulu, meskipun kadang-kadang Rani masih ingin di manja.
__ADS_1
Ibunya memanjakan dalam hal yang lain, bukan lagi memanjakan dengan membacakan dongeng sebelum tidur, menyuapinya makan atau mengantarnya buang air kecil di malam hari. Itu bukan lagi untuk anak seusianya. Setelah remaja, ibu seakan-akan menjadi seorang teman untuknya. Tempat bercerita, berbagi kabar tentang sekolah, kegiatan baru, sedikit kepoin teman-temannya, bahkan kadang-kadang meledeknya tentang cerita pacar baru! Seolah Rani di berikan lampu hijau untuk memiliki kekasih. Padahal itu gak mungkin banget! Pasti jika itu benar-benar terjadi, dirinya akan di marahi habis-habisan.
Karna kedua orang tuanya sangat ingin anak-anaknya berpendidikan tinggi, dan sukses. Impian semua orang tua rata-rata seperti itu. Ada sedikit cerita tentang ayahnya, di mana dahulu ayahnya sempat putus sekolah, dan terpaksa harus melanjutkan pendidikan jalur paket c dengan usaha yang keras.
Namun kesuksesannya sekarang adalah buah dari kegagalan-kegagalan yang pernah di alaminya dulu. Di usia muda pak Danipun sudah menjadi tulang punggung untuk keluarganya juga, ketika itu kesempatan yang datang bukan menjadikannya seorang pekerja di perusahaan-perusahaan. Namun nasib tetap membuatnya berkecimpung di dalam dunia perdagangan, hingga saat ini. Memiliki beberapa cabang toko seperti toko berkharisma ini. Mungkin itu sebabnya pak Dani suka bepergian untuk mengurusi cabang-cabang usahanya di berbagai kota.
__ADS_1