
Tio memandang ponsel baru miliknya. ingin sekali rasanya menelpon Rani malam ini. tapi... apa alasannya nanti kalau Rani bertanya mengapa dia menelponnya?.
sejuta cara di pikirkannya hanya untuk mencari alasan yang tepat. satu-satunya cara adalah dengan urusan bisnis.
tapi sudah lama Tio tidak lagi mensuplay produk rajutnya. dan itulah alasannya kenapa akhir-akhir ini mereka jarang berinteraksi.
namun perasaan itu sulit di bendungnya. perlahan Tio mulai meraih ponselnya dan mencari nama Rani di salah satu kontaknya.
"assalamualaikuumm Ran." Tio mulai memberanikan diri menelponnya, meskipun dirinya belum tahu harus berbicara dengan tema apa.
"wa'alaikkum salam kak,, ada apa ya?" jawab Rani sedetik kemudian balik bertanya.
Tio sejenak terdiam, memikirkan apa yang harus di bicarakan di telpon ini.
"gak ada apa-apa sih! kakak cuma kangen saja! Ehh! maksud kakak! kakak mau tanya apa masih ada yang membutuhkan tas rajutnya lagi?" ucap Tio keceplosan dan berusaha mengalihkan pembicaraannya ke arah lain.
"hmmm... a adda sihh kak! kalau sudah ready kabari aja nanti!" jawab Rani dengan nada suara sedikit terputus, terkesan ragu-ragu. karna Rani memang sedikit berakting seolah-olah masih membutuhkan barang itu.
"kamu kenapa?"
"gak apa-apa kakk." jawab Rani, sambil sedikit menggigit bibir bawahnya. gugup juga sih, untung percakapan ini hanya via telpon. dan
seketika suasana menjadi hening. tidak ada suara lagi yang di ucapkan Tio, begitu juga dengan Rani.
"apa ada yang lain kak?"
"ehmm... tidak ada sih! kakak cuma mau tanya masalah itu saja." jelas Tio.
"oh ya udah, kalau gitu, aku tutup aja telponnya ya!" jelas Rani berusaha mengakhiri obrolan.
"eh sebentar! sekarang kamu lagi di mana?" tanya Tio.
"di mana lagi jam segini, di balkonlaah ngerjain PE-ER!" jawab Rani dengan nada bete. bete dengan pekerjaan rumahnya yang masih menumpuk.
Tiba-Tiba dengan cepat Tio beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju gerbang kontrakan. Tio terus dan terus berusaha menyambung percakapan dengan Rani. sambil terus berjalan menyusuri gang kemudian menyebrang jalan raya dengan tetap dalam keadaan menelpon.
__ADS_1
hingga dirinya berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah milik Rani.
"bener kamu lagi di balkon?" tanya Tio.
"bener kak! sumpah! aku lagi bikin PE-ER nih!"
"mana? kakak kok gak bisa melihat kamu ya?"
Tio sedikit memainkan teka-teki. padahal dirinya sedang memperhatikan Rani yang memang sedang berada di balkon.
nampak Rani mulai mencari-cari Tio dari atas sana. pandangan matanya begitu teliti menyusuri titik-titik gelap di tiap sudut pagar rumahnya.
ada setitik cahaya di sana. tio sengaja menyalakan lampu senter ponselnya.
"kakak di sini hahahaa!" Rani memandang ke arah Tio dan melempar senyuman, meskipun tidak terlalu nampak jelas karna gelapnya malam. sedangkan Tio dapat melihat jelas ke arah Rani, karna lampu balkon begitu terang menyala.
tidak ada pijar kembang api di malam itu, namun rasanya hati dan jantung Tio yang sedang merasa berpijar-pijar.
melihat Rani berdiri di ujung pagar balkonnya sedang memandang ke arah Tio.
bertemu Rani di malam itu seakan-akan membuat Tio memancarkan semangat baru. ibarat batrey yang habis di charger, semangatnya kembali memuncak.
"ya udah, mangga!" jawab Tio.
mereka sama-sama mematikan ponselnya.
Namun Tio tetap dengan tatapan matanya yang tidak bisa berpaling memandang Rani dari kejauhan, sampai kemudian Rani menghilang di balik pintu.
puas rasanya keinginan itu tercapai.
Tiopun membalikan badannya, berjalan kembali menuju kontrakannya dengan wajah sumringah.
sementara itu yang terjadi kepada Rani di balik pintu utama balkon, Rani cepat-cepat berlari menuju lantai bawah dengan menuruni anak tangga dan kembali mengintip Tio dari balik jendela utama bawah. nampak punggung Tio yang perlahan mulai meninggalkan halaman rumah mewahnya.
"sayang pertemuannya sesingkat ini! sampai kapan seperti ini? menyukai seseorang yang seolah mempunyai rasa yang sama tapi tak pernah mengungkapkannya!" Rani menghela nafas panjang dan menghempaskan dengan hentakan. kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya di lantai atas.
__ADS_1
di waktu lain terkadang Rani tidur di lantai bawah, itu karna banyak kamar kosong di rumahnya. Rani secara Random mengisi kamar-kamar tersebut. kadang bergantian dengan Rio kakaknya. agar kamar itu tidak terkesan horor jika mereka tetap membuat aura hidup di sana.
Rani kembali menyelesai kan tugas sekolahnya. pengakuan kalau dia sudah selesai mengerjakan PE-ERnya itu hanya untuk memberi alasan semata, ketika Tio bertanya tadi.
Tio berjalan penuh semangat. sampai-sampai dia lupa kalau keluar tanpa memakai alas kaki, untuk sekedar mendapatkan moment ini.
bertemu Rani merupakan sebuah anugrah, Rani anak yang sulit di temui, bukan anak yang sembarangan bisa bergaul bebas. Rani seperti barang istimewa, unik dan mahal, yang tidak semua orang bisa menjamahnya untuk sekedar menyapa, meskipun dia gadis yang ramah.
sebelum memasuki kamarnya terlebih dahulu Tio membersihkan kakinya di air kran.
"belum tidur mas?" seseorang tiba-tiba menyapa dirinya, yang ternyata mas Bowo tetangga kamar kostnya.
"oh, belum mas! tadi baru habis dari depan, cari angin!" jawab Tio sedikit beralasan.
"oohh,, kirain habis ngapel! hehehee!" canda mas Bowo.
"oh,, belum malam minggu mas! kalau saya ngapel nanti saya ajak mas Bowo buat nemenin heheehee!" kali ini Tio yang balik membalas candaan Bowo.
"oh siap!" jawab Bowo. "nanti kabarin aja kalau mau ngapel! saya siap jadi pemandu! hahahaaa!" sambung mas Bowo.
"wah kebetulan, asyik nih ada teman!"
Tio dan Bowo kembali tertawa bersamaan. kali ini lebih keras dari suara tawa yang tadi.
Bowo orangnya lebih ramah dari Tio. meskipun mereka cuma sebatas kenal sebagai tetangga kontrakan, tapi mas Bowo tak pernah sungkan-sungkan menyapanya.
Tiopun sebaliknya, berusaha lebih bersikap ramah kepada Bowo, demi menghargainya.
"oke deh! sampai malam minggu nanti ya! hahahaaa!"
"asiiappp boss!" jawab Tio.
Bowo meninggalkan Tio yang juga hendak menuju kamarnya.
Tio membaringkan tubuhnya di kasur busanya. sedikit merasa gerah setelah jalan kaki tadi, dan dengan pertemuan tadi yang membuat badannya sedikit merasa kepanasan. Tio kembali bangkit dari terbaringnya. di nyalakannya kipas angin dinding, untuk segera menghilangkan keringatnya. hatinya teramat bahagia, ketika ternyata Rani tidak mengacuhkan dirinya. di tambah lagi rasa kangennya lumayan telah terobati.
__ADS_1
kali ini Tio berharap dapat tidur dengan lebih nyenyak di sertai senyuman. akan lebih bahagia lagi rasanya jika di temani kehadiran Rani di dalam mimpinya.
pukul sebelas malam, terlalu larut baginya untuk memulai tidur malamnya. biasanya jam sembilan atau jam sepuluh Tio sudah memilih tidur, demi menjaga kebugaran badannya supaya bisa bangun lebih pagi lagi. Tio mencoba dan mencoba lagi untuk memejamkan matanya yang entah mengapa enggan juga terpejam.