
Terdengar suara orang berteriak dari dalam gudang. Semua pekerja langsung berlari menuju ke arah suara itu.
Benda cair merah mulai menetes dari telapak kakinya. Ya Tio meraung menahan sakit. Ternyata ada paku yang menembus sandal usangnya. Darah lumayan bercucuran. Rupanya ada balok-balok bekas yang belum sempat di rapikan. Balok bekas yang salah satunya masih terdapat paku usang yang lumayan besar menancap kokoh di batangnya. Namun teman-temannya begitu sigap melaporkan dan segera membawa ke klinik yang ada di sebrang toko berkharisma. Hmmm sedap sekali rasanya ketika dokter mulai mencuci luka, memberi obat dan membungkusnya. Walaupun tio seorang lelaki. Tetap saja melihat cucuran darah membuat hatinya agak gentar dan ketakutan.
Dokter menganjurkan agar Tio tidak bekerja dulu selama masa pengobatan dan pemulihan. Beruntung pak Dani sangat baik dan peduli kepada pekerja. Termasuk pada dirinya yang terbilang masih karyawan baru. Pak Dani mengikuti anjuran dokter, memberikan Tio kesempatan memulihkan lukanya tanpa harus masuk kerja dulu.
Pak Dani: "kamu hati-hati kerjanya! Jangan sampai kayak gini lagi ya! Pekerjaan kita banyak, saya butuh orang-orang seperti kamu buat membantu saya di toko!"
Tio: "ya maaf ya pak! Kalau bisa memilih saya juga gak mau seperti ini" Tio sedikit turut menyesal akan kejadian ini. Hanya agak kurang teliti dan berhati-hati saja intinya. Mungkin menjadi perhatian untuknya supaya lebih berhati-hati lagi dalam bekerja.
Pak Dani: "ya sudah tidak apa-apa, istirahat saja dulu, pulihkan luka di laki kamu, baru nanti mulai kerja lagi, cepat sembuh ya!" Puk! Puk! Puk! Tangan pak Dani menepuk-nepuk punggung Tio.
Tio: "iya terimakasih pak doa'nya".
Hari kedua.
"duh kok rasanya badan meriang, kenapa ya? Kemarin biasa saja tidak seperti ini" gumam Tio. Rupanya efek dari luka di kakinya agak membuat sedikit tidak enak badannya. Demam dan otot serasa kurang rileks. Teringat Tio lupa meminum obatnya tadi siang. mungkin gara-gara itu yang membuatnya kini malah meriang.
Tio meraih obatnya dengan tertatih. Dia sendiri di rumah. Rumah kontrakan tepatnya. Semua orang masih bekerja. Masih ada dua jam lagi untuk tiba mereka pulang.
Tio merebahkan kembali tubuhnya, menutup rapat anggota badannya itu dengan selimut. Berharap jika keluar keringat nanti, panasnya bisa turun.
__ADS_1
Ya seperti inilah jika jauh dari keluarga. Tiada tempat bermanja. Sakit sampai sembuh sendirian. Kalau di desa ada ibu dan adik-adik yang bisa memijitnya, dan ibu yang menyiapkan makan dan obat-obatan. Walaupun menu makannya cuma sekedar umbi-umbian, dan nasi dengan lauk seadanya. Tapi tidak sesedih ini, tidak ada yang menghibur, benar-benar merasa sendiri. hingga rasa kangen kembali hadir menyusup. Ingin rasanya Tio menangis. Andai dia bukan seorang lelaki, mungkin tangisan ini akan meledak seperti gunung memuntahkan abu vulkanik. Tapi dia laki-laki, yang di tuntut harus tegar dan kuat, tidak mudah cengeng.
Namun ini masalah hati, walau muka garang hati tetap lembut, air mata itu akhirnya tercurah juga di dalam selimut tidurnya.
Bang Nana tiba-tiba datang dengan teriakannya. Entah dari mana dia tahu kalau Tio sedang kena musibah.
Bang Nana: "jagoan kok K'O! heheheehee" sedikit ledekannya membuat Tio merasa sedikit malu.
Tio terbangun duduk di susul bang Nana yang turut menemani duduk di sebelahnya.
Tio: "abang darimana? kok tahu saya sakit?"
Bang Nana: "abang gak tahu kamu sakit, tadi abang lagi beliin paku buat tetangga abang, terus teman-teman kamu cerita kalau kamu habis kena musibah! Ya abang mampir saja sebentar!"
Bang Nana: "amiin, kamu ini abang gak bawa apa-apa ke sini juga, tapi kamu doanya panjang banget! Tapi gak apa-apa deh! Abang juga ucapin terimakasih! Kali-kali aja doa mu di ijabah gusti alloh!"
Tio: "aamiinn bang!"
Tio: iya bang, mau saya bikinkan kopi?"
Bang Nana: "gak usaaahh, abang sudah ngopi tadi di warung bu tina! Kamu kalau ada waktu mampir-mampirlah ke sana, kami masih tetap mangkal di situ kok! Hehe... "
__ADS_1
Tio: "iya bang terimakasih banyak, saya usahakan nanti ya bang!".
Bang Nana: "Tio kamu jangan sungkan, anggap saja abang ini seperti saudara kamu sendiri di kota ini! Kalau ada apa-apa dan kenapa-kenapa kamu cerita atau kabari abang aja! Mungkin abang bisa bantu, begitupun abang, mungkin di lain waktu kamu bisa membantu abang".
Tio: "iya bang terimakasih perhatiannya" Tio merasa senang saja bang Nana bicara seperti itu. Ketika di desa, orang kelihatannya malu menganggapnya sebagai saudara. Mungkin karena kemiskinannya ini, orang-orang terasa terlihat menjauh. Hanya beberapa teman yang masih bertahan menjadi teman dekatnya saat ini, termasuk Wahid.
Bersyukur sekali rasanya ketika di kota yang jauh dari rumah, tidak mengenal siapa-siapa, mendapatkan teman-teman yang baik dan ramah.
__ADS_1