"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 5 "suasana tempat tinggal yang baru"


__ADS_3

Kembali ke pagi. Berkat bantuan bang Nana kemarin, akhirnya Tio berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah toko peralatan bangunan. Orang-orang menyebutnya toko matrial kita sebut saja nama tokonya berkharisma. Apapun nama tokonya bagi Tio tidak ada bedanya, pekerjaan apapun gak masalah. Pekerjaan di matrial ini memang sesuai dengan postur tubuhnya. Mungkin karna itu pulalah pemilik toko tidak berlama-lama dan banyak-banyak memberikan pertanyaan.


"Di toko ini ijazah apapun tidak masalah, asalkan kamu sehat, kuat, berperilaku baik, dan sanggup bekerja dengan apa yang sudah saya beritahukan! itu saja sudah cukup! gaji belum bisa saya sebutkan di sini, saya ingin lihat dulu kinerja kamu!" Ucap pak Dani. Pemilik toko tempat Tio akan bekerja.


  Tio: "baik pak! Saya akan berusaha semampu saya" lega rasanya kini setelah dirinya di pastikan bisa menjadi bagian dari toko matrial berkharisma.


  Pak Dani juga menganjurkan supaya Tio tinggal di tempat khusus anak buah pak Tio tinggal. Supaya tidak lelah di jalan, karna pekerjaan di toko pak Dani sangat membutuhkan tenaga yang besar.


  Bukan menyepelekan bentuk tubuh, tapi rata-rata yang bekerja pada pak dani orangnya kekar-kekar seperti olahragawan.


 Menimbang saran dari pak dani, ada bagusnya juga Tio mengikutinya. Tak apalah, toh kontrakan wahid tidak terlalu jauh dari tempat Tio bekerja. Jadi mereka masih bisa saling mengunjungi nantinya. Hanya tiga puluh menit perjalanan saja jarak tempuh kontrakan wahid ke tempat tinggal Tio yang baru.


Wahid: "Selamat ya Tio! Semoga kamu betah! Ingat keluarga di desaaa, jangan malas-malasan bekerja. Supaya nanti boss kamu seneng! Hahahaa!" Kira-kira begitulah arti dari kalimat sunda itu yang selalu terucap dari kedua orang ini manakala sedang mengobrol empat mata.


Tio: "makasih ya Hid! Kamu udah nampung aku di siniii, kamu udah baik sama aku, padahal kamu udah jadi karyawan di perusahaan besar! Gaji kamupun gede! Tapi masih mau deket sama aku!" Tio menepuk-nepuk pundak wahid. Menyanjung kebaikan sobatnya itu yang tak pernah menyombongkan diri meskipun bagi Tio, Wahid sudah naik level.

__ADS_1


Wahid: "ya udahlah Tio, jangan berlebihan kayak gituuuu, kamu juga nanti kalau sudah sukses jangan berubah yaaa! Tetap jadi sobat baikkuu! Jangan sombong juga! Nanti gak kenal aku lagi bahaya! Hahahahaa!"


Tio: "Ah kamu bisa saja! Mana mungkin aku seperti itu! Kita kan teman dari kecil! Walaupun umurmu lebih tua dari aku, tapi aku merasa gak jauh beda! Kayak gak ada jarak lho!"


Wahid; "yahh tapi cuma beda dua tahun lho hahahahaa!


Tio: "iya iyaaa... Aku gak bilang kamu tua juga kan? Hahaha!"


  Begitulah mereka. Selalu rame kalau sudah bertemu. Entahlah keadaan di desa akan seperti apa, kalau para pemuda rata-rata ingin kerja di kota. Apa suasana akan sepi?


"Kelak kalau aku sukses! Aku tak akan melupakan mereka! Orang-orang yang sudah mengasihi kami dengan ikhlas! Ibuuu doakan anakmu ya buuu!" Tiba-tiba rasa kangen muncul begitu saja. Baru hari ketiga di kota B Tio merasa sudah kangen banget sama mereka. Orang-orang yang selalu menemani hari-harinya. Menghilangkan penatnya setelah bekerja, manakala melihat keceriaan di wajah-wajah lugu itu, lenyap seketika rasa capeknya saat itu juga. Senyum itulah yang membuat mereka selalu kuat melewati hari-hari yang berat.


Hari ke tiga, setelah mengikuti saran pak dani akhirnya Tio tinggal bersama para pekerja yang lain, satu atap tanpa kamar, yang tertutup hanyalah kamar mandi saja. Walau begitu, tivi di sediakan oleh pak Dani untuk sekedar hiburan dan wawasan seputar kejadian hari itu, maklum seharian kerja tidak tahu ada kabar apapun, karna hanya fokus pada pekerjaan saja. setelah pulang kerja para pekerja bisa sedikit santai sambil bercengkrama. Ada juga dispenser air untuk sekedar ngopi-ngopi dan  kompor gas satu tungku untuk membuat mie rebus atau masakan lainnya, serta kipas dinding yang lumayan menyejukan buat mereka.


Suasana di sini begitu hidup, walaupun mereka rata-rata orang kecil, tapi mereka terlihat nyaman dan bahagia. Entahlah itu asli atau tidak, atau hanya sekedar untuk menghibur diri dengan pura-pura bahagia? Tidak! Mereka nampak bahagia sungguhan!

__ADS_1


Mereka kompak, peduli satu dengan yang lain. Seperti saudara saja di Mata Tio.


Sungguh Tio baru merasakan kebersamaan yang seperti ini.


Kalau di rumah hanya bertemankan adik-adik dan ibunya saja.


Itupun hanya selepas magrib saja. Setelah jam delapan ke atas, akan sangat sepi.


Orang-orang sengaja tidur lebih awal agar esok harinya bisa bangun lebih pagi, menyiapkan bekal terlebih dahulu buat pergi ke ladang.


Kadang-kadang di rumah sepi tapi di ladang ramai pada saat musim tanam atau panen.


Mereka bisa seharian di ladang. Malaah ada yang punya saung segala. (sebentuk rumah beratapkan jerami atau rumput ilalang yang di susun rapi) namun bentuknya kecil, mungkin hanya seukuran kamar tidur saja. Meskipun kecil tetap bisa untuk mereka si pemilik gubuk atau saung menginap. Dengan di lengkapi tungku api dari bebatuan atau coral untuk sekedar membuat liwet dan kopi panas.


 

__ADS_1


 


__ADS_2