"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 12 "Laksana pesta kembang api"


__ADS_3

 Malam pun menjelang, terasa begitu cepat sekali untuk Tio.


Ada beberapa teman si kembar yang sengaja bermain di rumah mereka. Mengetahui kedatangan Tio dari kota mereka pun menyambut hangat kakak dari temannya itu. Bermain di halaman bukan di waktu malam bukan lagi soalan. Memandang langit malam di desa itu sangat menarik. Kalian para readers bisa mencobanya ketika kalian sedang di desa ya hahahaa! Di jamin pasti bakalan nagih. Apalagi di temani kesayangan. (Orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita).


 Ada bulan yang begitu terang di langit, bertemankan bintang gemintang yang beradu sinar. Rasi bintang tampak jelas terlihat di desa ketika langit cerah. Seonggok api unggun berbahan bakar jerami dan beberapa batang kayu cukup menghangatkan badan di cuaca dingin dan sunyi ini. Sesekali suara hingar bingar hewan sawah dan jangkrik pohon bersahutan menyanyikan lagu andalan mereka dengan merdu. Dan itulah suara asli alam.


  Bukan dengungan alat musik yang saat ini sedang marak, dengan gemerlap lampu kota.  Ketika di kota, seringkali kita tidak menatap langit. Karna teralihkan oleh keasyikan ciptaan kita para kreator kehidupan. Hingga malam demi malam pun luput dari tatapan kita. Kita terbangun di pagi hari, menikmati sarapan, melanjutkan pekerjaan sampai sore hari, kemudian pulang beristirahat dan tidur di malamnya. Jika melekpun mungkin ketika itu kita sedang di pasar malam atau mall-mall, bukan menikmati ke ajaiban alam, melainkan menikmati waktu yang lain, yang berbeda pemahamannya. kenikmatan-kenikmatan yang di hidangkan kota.


 Justru di desalah tempat yang tenang itu berada. Satu-satunya yang di takutkan orang desa hanyalah penjahat dan hantu heheheee!


 Kesunyian malam membuat kita fokus memperhatikan alam, serta menikmati kemegahan ciptaannya dari bumi yang kita pijak!.


 Pernahkah kita berpikir bagai mana keadaan langit itu, dan semua benda yang ada di dalamnya, siapa nama-nama mereka, dan keadaannya seperti apa?.


 Tio memperbaiki letak sarungnya yang menggantung di leher. Pergantian musim kadang membuat cuaca lebih dingin pada malam harinya. Entah apa sebabnya.


Ketika tangannya sedang mengorek api unggun, tiba-tiba teringatlah kalau siang tadi Tio sengaja membawakan adiknya kembang api sebagai oleh-oleh.

__ADS_1


 Tio: "Zaka, zaki, tolong ambilkan kantong putih yang tadi siang aa bawa nya!"


Si kembarpun datang menghampiri dengan membawa kantong putih itu, di ikuti oleh beberapa temannya.


Tio mulai membuka dan membagikan kembang api itu kepada kedua adiknya.


Zaka dan zaki pun membaginya dengan teman-teman mereka. Kemudian mereka menyalakannya bersama-sama.


Masih tersisa kembang dua batang kembang api yang besar. Namun kedua adik Tio belum mengerti kalau itu adalah petasan juga.


Mereka bermain dengan gembira. Menari-nari di tengah pijar kembang api lidi yang di berikan Tio. Tio tersenyum memperhatikan tingkah mereka. Betapa menyenangkannya menjadi mereka menjadi anak kecil.


 Ibu menghidangkan singkong dan beberapa ubi rebus sebagai pelengkap jajan malam ini.  Anak-anak menyambut hangat dan melahapnya dengan semangat, ada teh hangat di gelas-gelas itu. Kebetulan Tio juga membawa sedikit gula pasir dan minyak goreng untuk ibu pakai memasak. Serta beberapa makanan instant.


Tio ingat ketika di desa, mereka agak sulit mendapatkan itu semua. Ibu sendiri bergantung kepada para pedagang keliling yang memakai roda dua saja untuk membeli semua kebutuhan. Karna warung pun masih jarang dan jauh dari rumahnya. Makanya Tio bersedia bersusah payah membawa tentengan-tentengan kantong berisi semua kebutuhan itu.


 Setelah selesai menikmati semuanya Tio pun mulai melanjutkan kejutan kedua. Dua batang kembang api yang cukup besar tadi di keluarkannya dari kantong putih. Tio mengikatkan satu batang kembang api di pagar bambu, satu batangnya lagi di pohon pisang.

__ADS_1


Kali ini si kembar dan teman-temannya hanya bisa menyaksikan aksi kakaknya. Tio sengaja melarang mereka menyentuh barang itu sedari tadi. Karna khawatir akan bahayanya. Dan memang suara ledakan kembang api batang besar cukup keras. Bisa sampai kampung tetangga gemanya. Apalagi di desa sangat sepi. Suara yang semenggelegar itu pasti terdengar sangat nyaring dan akan terdengar sampai di kejauhan.


Semua mata terkesima melihat ledakan kembang api berpijar di gelapnya malam.


Kembar dan teman-temannya bersorak kegirangan menyaksikan semua itu. Pijaran yang begitu indah menghias di kegelapan malam. Sengaja Tio menyalakannya di kebun dan pagar supaya jauh dari rumah.


Karna Tio tahu jika ada sisa percikan kembang api yang menyentuh rumah, bisa menimbulkan kebakaran. Pijar demi pijar melambung tinggi di udara, dengan bias cahaya berwarna warni. Di iringi tepuk tangan setiap kembang api itu melambung tinggi.


Di susul kembang api kedua yang terikat di pagar bambu.


Sayang hanya delapan kali letusan untuk satu batangnya. Hingga tidak sampai lama akhirnya isi petasan itupun habis.


Anak-anak kembali duduk-duduk di balai bambu. Tio kembali merapikan perapian sebelum mereka benar-benar mengantuk dan tertidur pulas.


Lelah itu kini hilang sudah, terbayarkan oleh kebahagiaan yang di dapat malam ini.


Yang tersisa hanya suara hewan-hewan malam yang asyik melantumkan tembang- tembang tanda syukurnya kepada sang maha pencipta.

__ADS_1


 


 


__ADS_2