31 Hari

31 Hari
Istriku Terlalu Aneh


__ADS_3

...Nana memang aneh dan misterius....


...Bayangkan saja, sekeras apapun aku bersikap kasar padanya, dia selalu tersenyum manis....


...Seolah dia tidak memiliki emosi dan kepekaan....


...************...


Hari ini adalah anniversary pertama pasangan suami istri hasil perjodohan. Nana dan Farel berasal dari keluarga kelas atas. Untuk memperluas tahta dan kerajaan bisnis, mereka harus bersama dalam ikatan pernikahan.


Pagi menjelang Farel berangkat kerja, Nana menghidangkan masakan tradisional. Nasi tumpeng kerucut dengan berbagai hiasan yang cukup cantik.


"Kamu capek capek bangun subuh buat bikin makanan gak jelas kaya gini?" tanya Farel dengan ketus.


Nana tersenyum lebar, dia tidak menampakan wajah sedih ataupun kesal. Yang ada dia terlihat semakin sabar menghadapi suaminya yang rewel.


"Coba dulu Rel, pasti nasi tumpeng ini enak banget. Aku minta resep ini dari ibu Surti," balas Nana sambil sibuk mengurus meja makan.


"Ibu Surti? wanita yang suka jualan gado gado itu?" tanya Farel makin kesal.


"Iya Rel, Tumben inget sama tetangga rumah kita," sindir Nana dengan santai.


"Aku tuh gak suka kamu berbaur sama orang orang gak jelas kaya mereka. Kamu orang kaya dan berpendidikan. Jauhi mereka, ingat itu!" ancam Farel.


Nana hanya bisa tersenyum tipis, dia sama sekali menghiraukan semua omelan Farel. Dia terus bersikap lembut dan tidak melawan kemarahan suami.


"Sudah siap, ayo kita makan. Happy Anniversary yang pertama Farel," gumam Nana sambil memasukan sendok kedalam mulutnya.


Farel masih diam, dia tidak menyentuh sama sekali nasi tumpeng itu. Pikirannya terlalu sibuk untuk menilai sikap istrinya.


Selain aneh, Farel menilai jika istrinya selalu bertindak sesat sebagai orang kaya. Salah satunya dia lebih memilih tinggal di lingkungan padat penduduk, ketimbang harus tinggal di sebuah perumahan elit.


Nana terlalu ramah dan senang bergaul dengan orang sekitar. Dia akrab dengan siapa saja, dari tukang gado gado, tukang ojeg pangkalan, ibu ibu yang hobi ngerumpi, sampai tukang nagih hutang pun dia dekat.


Sejujurnya, Farel sangat muak dengan istrinya. Dia hanya ingin istrinya bersikap seperti orang kaya pada umumnya. Nana harus elegan dan berwibawa, bukan bersikap murah seperti itu.


Nana jauh sekali dengan teman wanita yang ia kenal. Dia tidak suka ikut arisan dengan sosialita, dia tidak suka jalan jalan keluar negri bahkan dia tidak punya baju baju branded.


Dia hanya suka diam di rumah, dia hanya suka berperan sebagai istri yang lugu dan lemah. Paling membuat Farel aneh, dia sama sekali tidak pernah marah ataupun membalas perilakunya yang jahat.


"Rel, ko ngelamun sih, ayo dong makan," ucap Nana dengan lembut. Sontak menyadarkan lamunan Farel yang terus termenung.


"Aku gak selera, makanan ini sangat menjijikan. Lebih baik aku langsung berangkat kerja saja," celoteh Farel sambil bergegas bangkit dari kursi dan berjalan keluar rumah.


Dengan tatapan kaget, Nana lalu segera menyusul suaminya. Dia pun berlarian menuju garasi mobil.


****


Di dalam mobil ada Nana yang ikut duduk di samping jok pengemudi. Saat Farel kabur dari meja makan, Nana memaksa ingin pergi bersama menuju kantor.


Tujuan Nana tak lain ingin membagikan nasi tumpeng kepada seluruh rekan di kantor. Sekalian dia ingin melihat bagaimana selama ini suaminya bekerja.


Di dalam mobil, Nana dengan ceria asik nyanyi musik dangdut dari saluran radio. Tanganya lincah bergoyang dan suaranya melekuk bak biduan Pantura.


Suara berisik dan melengking sontak membuat mood Farel tambah ancur. Tingkah laku Nana memang tidak pernah membuatnya tenang sedikit pun. Dia sangat bar bar dan tak bisa diatur.


Dengan kesal, Farel langsung ini mematikan saluran radio itu. Dia melirik Nana tajam karena sudah menganggu konsentrasinya dalam berkendara.


"Kita harus bicara Na," ucap Farel dengan gelisah.


"Apa sih Rel, udah enak dangdutan malah berhenti," gerutu Nana manja.


"Sebaiknya kita bercerai," gumam Farel dengan wajah datar.


"Cerai?" tanya Nana dengan bingung.


"Aku ingin menyudahi pernikahan kita."

__ADS_1


"Yah Farel bisa saja bercanda nya," balas Nana sambil tertawa cekikikan.


"Ini serius Na! aku muak sama kamu. Aku sudah gak tahan dengan sikap kamu yang selalu aneh dan memalukan, bisa gak sih sehari saja gak bikin aku pusing!" Farel menjelaskan semua alasan itu dengan penuh amarah.


Mendadak Nana mulai diam, tidak ada lagi gerakan ataupun celotehan Nana yang khas. Mereka kini saling termenung dan sibuk sendiri.


Sampai mobil itu pun melaju dengan tak fokus


Seorang kakek tua yang membawa gerobak rongsokan hampir ditabrak oleh mereka.


"Rel.. awas.. " teriak Nana dengan keras. Seketika Farel menginjak rem dengan paksa.


Untung saja, kakek tua itu tidak tertabrak. Dia masih dalam keadaan baik baik saja. Melihat kakek tua itu masih berdiri ketakutan, lantas Nana langsung keluar dari mobil.


Dia segera menghampiri kakek yang berprofesi sebagai pemulung barang bekas. Nana mulai memungut satu persatu barang bekas yang sedikit berjatuhan. Dia bahkan membantu si kakek untuk berdiri lebih tegak.


"Kakek gak papa kan?" tanya Nana sangat khawatir.


"Duh.. kakek baik baik saja nak, terimakasih sudah bantu kakek," balas kakek itu dengan senyum tipis dan mata menyempit.


Tanpa diduga si kakek pun menyentuh pundak Nana dengan lembut. Dia kembali mengembangkan senyum itu.


"Sekali lagi makasih ya nak cantik," kata si kakek dengan sangat ramah.


Nana masih mematung, matanya mulai melirik tangan kanan si kakek yang masih menempel pada pundaknya itu.


Kali ini dia tidak merespon apapun, Nana terlalu fokus pada tangan keriput si kakek. Dia diam cukup lama, sampai akhirnya tersenyum tipis.


****


"Selamat naik jabatan pak Farel...." teriak rekan kerja kantor dengan kompak. Mereka sedang memberikan sebuah kejutan kecil untuk bosnya yang sudah mendapatkan promosi dari perusahaan.


Ditiup lilin lilin kecil itu di atas kue, Farel seketika merubah raut wajahnya menjadi senang. Rasa kesal sejak pagi tadi mendadak hilang.


Kini ruang Presdir sudah menjadi miliknya, ruang megah dan besar itu disulap menjadi tempat party dadakan. Catering dari restoran Perancis, pelayanan chef profesional dan minuman anggur yang super langka.


Farel mematung, dia sangat geram melihat Nana datang merusak suasana. Dia selalu bersikap sembrono dan tak tahu malu.


"Wah, banyak orang disini! Ternyata benar kata pak satpam kamu lagi di ruang Presdir," ucap Nana menggetarkan seisi ruangan.


Dengan langkah yang tergesa-gesa, Nana menghampiri Farel. Dia lalu menaruh dua plastik hitam berisi nasi tumpeng itu di atas meja kerja.


"Rel, ko kayanya ada kejutan disini, emang siapa yang ulang tahun?" tanya Nana dengan polos.


"Emang ibu gak dikasih tau sama pak Farel, kalau beliau sudah di promosikan naik jabatan?" celetuk Dominic, sekertaris seksi Farel.


"Wah, selamat Farel! Kereeen banget," balas Nana dengan riang dan tambah semangat.


Mendengar reaksi Nana yang polos dan terlihat sangat bodoh. Lantas dia akhirnya ditertawakan diam diam oleh seisi kantor.


Para rekan kerja kantor itu sangat tidak menyukai istri Presdir. Ada banyak kecemburuan tertuju pada Nana. Selain dilahirkan dari keluarga kaya, mereka merasa Nana tidak pantas mempunyai suami seperti Farel.


"Oh iya, kebetulan banget nih, aku kesini mau mampir buat kasih nasi tumpeng," ucap Nana dengan penuh semangat.


Semua mendadak hening dan tak berkutik, ketika Nana mengeluarkan banyak rice box kecil. Seketika bau khas nasi tumpeng mulai menyengat keseluruhan penjuru ruangan.


Bau tempe orek, telor dadar, sambal terasi bercampur aduk jadi satu. Lantas para pekerja elite itu malah menutup hidung mereka dengan sombong.


"Maaf bu, makanan itu berbau tak sedap, kami tidak berselera. Apa ibu tidak lihat? Kami sudah memesan banyak makanan Prancis," ujar Dominic dengan berani.


"Ahh.. maaf, maaf," balas Nana dengan wajah malu. Dia langsung merapihkan kembali rice box tersebut dan memasukan kedalam kresek lagi.


Melihat Nana sudah mempermalukan harga dirinya, Farel sudah tidak tahan. Bahkan dia tidak peduli jika istrinya dipermalukan begitu saja.


"Sebaiknya kamu pergi," ucap Farel ketus.


"Tapi ini nasi tumpengnya masih banyak," balas Nana sedikit ngotot.

__ADS_1


"Apa kamu gak denger tadi? Nasi itu bau, mereka gak makan kaya gituan Na, ngerti ga sih!" sentak Farel dengan marah.


Nana akhirnya terdiam, dia menunduk paham. Tidak ada tangis, namun hanya wajah kecewa. Tapi inilah Nana, dia selalu mengalah dan tak melawan.


"Aku pulang dulu ya, aku tunggu di rumah," ucap Nana dengan senyum tulus.


Dia akhirnya pergi dari ruang kerja Presdir. Dia meninggalkan kerumunan dan pesta penyambutan Presdir baru.


Nana menerima pengusiran suaminya sendiri dengan tegar. Walau sebenarnya perusahaan itu adalah milik ayahnya.


Dengan menunduk malu dan lemas, Nana terus membawa dua plastik besar. Pandanganya kosong dan hampa, Nana sadar jika kehadirannya memang tak diharapkan siapapun.


****


Larut malam Farel baru bisa pulang dari kantor. Kepalanya sedikit pusing karena pengaruh alkohol. Sebelum itu dia habis berkumpul dengan teman temanya di sebuah bar.


Dia mengendarai mobil dengan sedikit lelah dan kantuk. Setelah mobil masuk daerah lingkunganya, dia melihat banyak kerumunan warga sedang memadati tempat pembuangan sampah.


Awalnya Farel tidak tertarik, namun ketika banyak mobil polisi mengepung tempat itu. Dia mulai menepikan mobil. Dengan sangat penasaran dia pun ikut nimbrung di tengah kerumunan warga.


Banyak orang mulai berbisik dan bergosip. Farel bisa mendengar obrolan mereka jika ada kakek tua yang meninggal secara aneh.


Tak ayal mata Farel makin ingin dekat melihat objek gosipan warga. Farel melihat jika disana ada sebuah gerobak tua yang terciprat banyak d*rah merah segar.


Di dalam gerobak rongsokan itu ada m*yat kakek yang sedang terbujur kaku. Matanya tertutup rapat, warna kulitnya pucat pasi dan telapak tangan kanan hancur.


Farel tambah mendekat, dia ingin tahu wajah kakek itu lebih jelas. Betapa kagetnya Farel, jika wajah kakek itu mirip dengan kakek yang hampir tertabrak oleh mobilnya.


Melihat kejadian yang sangat mengerikan di depan matanya. Farel lekas meninggalkan kerumunan tempat kejadian p*mbunuhan.


Insting Farel sangat yakin jika kakek itu adalah korban dari kejahatan. Jelas terlihat dari banyaknya cipratan d*rah yang keluar. Tidak terlihat ada tanpa perlawanan, ini seperti serangan brutal yang sangat mendadak.


Dia bahkan masih merinding, ketika terus mengingat tangan kanan m*yat yang hancur. Lapisan daging manusia yang terkoyak koyak.


****


Sesampainya di rumah, Farel langsung bergegas masuk kedalam ruang tamu. Dia mendapati sang istri tengah sibuk dengan banyak barang aneh dan cukup bau.


Melihat suaminya telah pulang, Nana tersenyum lebar pada Farel. Dia lalu berdiri dan lekas membantu melepaskan jaket suaminya.


"Ko baru pulang sih?" tanya Nana sumringah.


"Apa itu penting buat kamu?" balas Farel dengan cuek.


Farel lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa, dia meregangkan semua kelelahan yang terasa menyiksa. Kemudian dia kembali melihat Nana, wanita itu kembali asik dengan aktifitas yang selalu membuatnya kesal.


Istrinya sedang mengumpulkan botol plastik bekas, tumpukan kardus dan banyak sedotan warna warni berserakan.


"Kali ini apa lagi sih Na? Kenapa banyak sekali barang bekas di rumah kita?" tanya Farel dengan gusar.


Nana lalu membalikan badanya, dia sedang memotong botol plastik itu dengan gunting besar.


"Ini namanya kerajinan barang bekas, berguna juga loh buat bikin wadah unik," ucap Nana sambil terus fokus pada botol plastik itu.


Mendengar kata barang bekas, Farel jadi ingat dengan kejadian tadi. Pikirannya kembali membuka memori tentang mayat si kakek pemulung barang bekas.


"Sebaiknya kita harus hati hati, lingkungan rumah kita sudah tidak aman," ucap Farel serius.


"Apa yang tidak aman?" tanya Nana penasaran.


Farel memilih untuk tidak mengatakan yang sesungguhnya. Dia tidak ingin menakuti Nana jika di sekitar lingkungan ini telah terjadi pembunuhan.


Hanya saja dia cukup penasaran, dari mana dia mendapatkan semua barang bekas ini. Karena setahu Farel, istrinya tidak mengumpulkan barang bekas.


"Kamu dapat dari mana semua barang bekas ini?" tanya Farel sedikit acuh tak acuh.


"Menurut kamu dari mana?" tanya Nana balik dengan senyuman tipis merekah.

__ADS_1


__ADS_2