31 Hari

31 Hari
Jarak Kematian


__ADS_3

Agus dan tim kejahatan serius sudah berdiskusi dan mengumpulkan beberapa bukti baru pembunuhan berantai. Ternyata perintah Alex untuk menyelidiki restoran Bali Tropical, cukup membantu kemajuan investigasi.


Pertama Bima berhasil menyusun dan mengumpulkan catatan sipil dan informasi pribadi tentang Nana. Satu hal yang membuat mereka terkejut adalah wanita itu pernah menjalani pengobatan kejiwaan di Amerika.


Banyak sekali laporan yang menyatakan Nana kerap kali menunjukan perilaku agresif dan membahayakan orang sekitar. Namun anehnya, setelah pulang ke Indonesia dia malah dipercaya mendirikan restoran di Jakarta.


Radit menjelaskan temuan terbarunya, dia berhasil mewawancarai tiga staf restoran yang pernah bekerja sama dengan Firman. Menurut mereka, jika pemilik restoran terlihat sangat perhatian dengan Firman, yang notabennya hanya seorang cleaning service.


Bahkan anehnya, Nana menunjuk Firman sebagai orang yang bertanggung jawab mengerjakan kegiatan amal. Menurut mereka kegiatan seperti itu tidak pantas diberikan oleh seorang yang hanya tamatan SMP.


Karina menambahkan lebih lanjut, jika kegiatan amal itu dilakukan setiap 3 bulan sekali. Dimana kegiatan itu berfokus kepada perbaikan gizi orang-orang kelas bawah di sekitaran Jakarta.


Kegiatan amal itu mengundang atensi orang banyak. Maka setiap kali acara amal digelar, maka tak heran banyak sekali tunawisma, pengamen, pengangguran, para perantauan yang berburu sembako gratis.


Hanya sayangnya, kegiatan amal itu bisa berjalan selama satu tahun saja. Menyusul Firman resign kerja dari restoran dan menghabiskan waktu sebagai pengangguran kelas berat. Itulah titik dimana pembunuhan pertama terjadi, setelah Firman mengalami banyak perubahan hidup.


Disini sangat jelas bahwa ada sebuah teka teki baru yang menjadi fokus Alex. Apa yang terjadi dengan Firman? kenapa dia harus berhenti bekerja di restoran Bali Tropical?


Tentu Alex sangat penasaran, apa tujuan sebenarnya Nana mengadakan kegiatan amal tersebut. Sebuah restoran baru yang masih seumur jagung, berani membuat kegiatan amal dengan cost yang tidak sedikit.


Tapi kenapa setelah restoran itu tumbuh besar dan mempunyai banyak cabang, malah menutup kegiatan amal tersebut. Semua itu terlalu janggal dan tidak umum dalam dunia bisnis.


Terakhir, Agus akhirnya memberanikan dan berterus terang kepada semua rekan di tim. Dia menjelaskan bagaimana kronologi kalung kupu-kupu itu bisa dibuat. Tentu dia menyinggung lukisan kupu-kupu yang dilukis sendiri oleh Nana, si pendiri restoran tersebut.


Walau mereka sudah mendapatkan beberapa petunjuk, namun sayangnya itu semua belum bisa menjadikan bukti kuat. Mereka masih menganggap itu hanya sebuah kebetulan, tidak berkaitan dengan pembunuhan secara langsung.


Tidak ada bukti yang menguatkan Nana telah membunuh Firman. Jadi polisi tentu belum bisa menyeret Nana lebih jauh. Namun Alex tidak merasa kecewa, dia sangat yakin akan menemukan lebih banyak petunjuk tentang wanita itu.


"Kerja bagus semuanya, ini sangat membantu kita untuk mempersempit dugaan pelaku. Tapi perjalanan kita masih jauh, semua informasi yang telah kita kumpulkan masih mentah," ucap Alex dengan wajah optimis.


"Aku akan menyelidiki apakah kedelapan korban lainnya pernah menghadiri acara amal tersebut," sahut Radit.


"Bagus! Itu sangat masuk akal. Radit, kamu harus mendapatkan data penerima bantuan dari acara amal tersebut. Kamu harus pastikan apakah kedelapan korban lainnya ada di list penerima bantuan."


"Itu belum cukup, kamu harus mendapatkan foto dokumentasi kegiatan tersebut," komentar Agus.


"Baiklah."


"Ahhh.. sepertinya aku harus datang ke kontrakan Firman saat dia menganggur. Aku harus menanyakan banyak hal kepada warga sekitar yang tinggal di daerah kumuh itu," ucap Karina.


"Go Karina, selesaikan secepat mungkin!"


"Aku pergi dulu bos. Aku akan tetap fokus mencari informasi pemilik restoran, rasanya masih belum puas," celoteh Bima dengan tawa.


Setelah ketiga orang itu bubar dan keluar dari dalam ruang rapat. Alex kemudian menyuruh Agus untuk berbicara dengannya lagi secara empat mata. Entahlah, ini menjadi kebiasaan baru bagi Alex untuk memberikan misi khusus pada anak baru itu.


Mereka duduk kembali di kursi rapat. Saling berhadapan dan menukar pandang penuh serius. Terutama Alex, dia terus memikirkan bagaimana perasaan Agus tak kala tetangganya itu terus menjadi sorotan.


"Sebaiknya kamu tidak tidur di kantor lagi. Pulanglah, temani ibumu yang sudah tua," ucap Alex.

__ADS_1


"Apa karena dia tetangga dekat, aku harus terus mengawasinya?"


"Bukan hanya itu. Kalau saja kamu lengah, ibumu bisa dalam bahaya Gus. Kita tidak tahu siapa dia dan apa rencana selanjutnya."


"Apa bos yakin jika Nana adalah wanita yang berbahaya?"


"Entahlah, hanya saja firasat ini selalu buruk. Kali ini kamu harus dengarkan aku. Jangan keras kepala!!" perintah Alex tidak main-main.


Agus tentu tidak bisa membantah lagi, dia ingin sekali menjauhkan prasangka buruk terhadap Nana. Tapi sekeras apapun dia melawan, terlalu banyak kaitan tak sengaja dari wanita itu.


Dia pun tentu tidak ingin membahayakan ibunya sendiri. Namun menjauhkan ibu Surti dengan Nana sangat sulit, mereka terlanjur sudah saling dekat. Memberitahukan bahwa Nana adalah target polisi sekalipun, ibu Surti tidak akan mempercayainya.


Ternyata dia sadar, tak hanya Farel yang berhasil dikendalikan oleh wanita polos seperti Nana. Ibunya sendiripun menjadi target yang sangat mudah Nana taklukan. Dua orang ini malah berpihak pada wanita yang salah.


"Kasus kematian Siska sudah satu minggu berlalu, aku malah takut akan terjadi pembunuhan selanjutnya."


"Apa akan ada korban dengan nomor 10 lagi?" tanya Agus cemas.


"Aku tidak mau melihat deretan angka itu lagi, kita harus mencegah pembunuhan itu terjadi. Sulit untuk menentukan kapan rencana pembunuhan akan dilakukan, karena jarak kematian setiap korban tidak sama."


"Tapi melihat dia semakin berani dalam melancarkan aksinya, aku sangat yakin hasrat untuk membunuh itu semakin liar. Pembunuh gila seperti itu tidak bisa menahannya, seperti pecandu n*rkoba yang terus merasa sakau," jelas Agus.


"Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kamu pulang. Jaga ibumu dan terus awasi setiap pergerakan Nana. Laporkan apapun yang terjadi padaku jika kamu melihat sesuatu yang mencurigakan, paham?"


"Paham!! aku bahkan tidak bisa tidur dengan baik akhir-akhir ini karena terus memikirkan kasus ini."


Agus memutuskan untuk pulang ke rumah. Baginya keputusan itu memang sangat diperlukan, mengingat jika tetangga dekatnya bukan orang sembarangan.


Seorang pria paruh baya muncul dan menerobos rumah Ibu Surti. Tanpa sebab yang pasti, dia tiba- tiba mengobrak abrik semua isi rumah. Pria dengan raut wajah menyeramkan itu adalah Jono, adik kandung Ibu Surti.


Dia sedang berbuat anarkis dan keributan di rumah itu, tentu saja mengundang perhatian Nana dari samping rumah. Dia dengan cekatan langsung menerobos masuk dan melihat isi rumah sudah berantakan.


Sedangkan Ibu Surti hanya bisa menangis pasrah, dia duduk tersungkur di sudut dapur. Tidak ada perlawanan apapun dari wanita tua itu. Segera Nana menghampiri Ibu Surti dan memeluknya sangat erat.


"Surti, dimana kamu menyimpan semua uang tabungan itu!!!" teriak Jono dengan kasar.


"Tabungan apa, mba sudah gak punya apa-apa."


"Alaaaah... bohong kamu!! Anakmu itu polisi, masa gak punya uang sepeserpun!!"


"Sudahlah Jono, jangan kamu ganggu keponakanmu lagi. Biarkan dia bekerja dengan tenang!!"


Mendengar penurutan kakaknya sendiri, malah membuat amarah Jono semakin tak terkendali. Kini dia mendobrak pintu kamar Agus dan mengobrak abrik semuanya. Dia terus mencari sesuatu yang berharga di dalam rumah ini.


Nana tidak tahan melihat kelakuan Jono yang tak terpuji. Dia melepas pelukan itu dan berjalan menuju arah kamar Agus. Dia melihat jika pria itu sudah berhasil mengambil beberapa barang berharga milik Agus, seperti uang tunai dan perhiasan.


Jono terlihat makin senang karena telah mendapatkan yang ia mau. Dia pun memasukan semua itu kedalam saku celana belakang. Saat dia akan keluar, Nana dengan berani menghadang Jono dari depan pintu.


"Kembalikan," perintah Nana.

__ADS_1


"Apa?" Jono mentertawakan keberanian wanita kurus itu.


"Itu bukan hak kamu untuk merampas semua milik Ibu Surti."


"Dan itu bukan urusan kamu!" balas Jono gusar.


"Sekali lagi aku peringatkan, kembalikan semua yang telah kamu curi. Dasar pria sampah!"


Jono malah menampar Nana dengan kasar, dia sudah tidak tahan dengan ocehan wanita asing itu. Sedangkan Nana tetap dalam wajah tenang dan tidak takut sekali. Dia malah tertawa sinis sambil memegang pipinya yang merah.


"Aahhh... kamu salah menyerang musuh. Pria yang malang," celoteh Nana senang.


Jono semakin aneh melihat respon wanita asing itu. Karena pertama kalinya dia menghadapi wanita rapuh yang tak gentar melawan pria besar seperti dirinya. Tidak ingin memperkeruh suasana, Jono lebih memilih menabrak Nana dan berlari kabur.


Dari belakang Ibu Surti berjalan mendekati Nana, dia menyuruh wanita itu untuk duduk dengan tenang. Setelah mereka duduk di atas sofa, barulah Ibu Surti memberikan Nana segelas air putih.


"Minumlah nak, maaf kamu jadi terseret dalam masalah keluarga ibu sendiri," ucap Ibu Surti sedih.


"Gapapa bu, Ibu baik-baik saja kan? sebenarnya siapa pria arogan tadi?"


"Dia adik kandung ibu. Sekarang hidupnya hancur karena sering main judi online. Apalagi setelah diceraikan istri dan dipisahkan dari ketiga anaknya, dia sering mabuk-mabukan dan pemarah seperti tadi."


Pecah sudah tangis Ibu Surti meratapi nasib adik kandungnya yang sangat mengenaskan. Dia bahkan tidak mengingat betapa kejamnya Jono merampas barang berharga. Dia dengan kebaikan hati malah menghawatirkan nasib adik durhaka itu.


Tak lama setelah itu, Agus datang dengan wajah penuh kejutan. Dia melongo menyaksikan isi rumahnya porak poranda seperti habis gempa bumi. Namun dia tambah terkejut tak kala melihat Nana sedang merangkul ibunya sendiri.


Dia langsung menghempaskan tangan Nana begitu saja. Perasaan tidak suka mulai merayapi hatinya, dia tidak ingin melihat Nana mendekati ibunya lagi. Nana hanya bisa pasrah, dia tahu apa yang dipikiran Agus selama ini.


"Jono nak, paman kamu datang lagi!"


"Apa!!" teriak Agus kaget bukan main.


Dia langsung bergegas menuju kamar sendiri dan mendapati bahwa uang dan perhiasan yang sengaja ia simpan hilang begitu saja. Dia yakin jika pamannya sendiri adalah dalang dari kekacauan ini. Tentu Agus marah dan kecewa, dia tidak menyangka jika Jono akan berbuat sejahat itu.


Agus langsung memapah ibunya masuk kamar, dia ingin mengajak ibunya beristirahat. Setelah Ibu Surti tidur di atas ranjang, dia kembali menangis. Dia merasa kasihan dengan nasib adiknya sendiri.


"Maaf ya nak, perhiasan peninggalan almarhum ayah kamu hilang. Padahal kamu sangat menjaga itu semua," ucap Ibu Surti lirih.


"Sudah bu, jangan banyak pikiran lagi. Sekarang ibu istirahat saja ya. Nanti ibu sakit lagi," balas Agus.


Setelah berhasil membuat ibunya tenang, Agus izin keluar dari kamar. Sebenarnya dia belum menyelesaikan urusanya dengan Nana. Melihat wanita itu masih duduk di tengah rumah, membuatnya kesal sekali.


Dia menarik tangan Nana dengan paksa dan menyeretnya keluar dari dalam rumah. Agus benar benar sudah kehilangan kesabaran sebagai tetangga yang baik. Kali ini dia harus berterus terang.


"Aku mohon, jangan dekati ibu terus. Jangan campuri semua urusan keluarga kami lagi."


"Aku tidak bisa, ibumu bisa dalam bahaya lagi. Pria jahat itu bisa masuk kapan saja," protes Nana keras.


"Aku adalah anaknya, aku yang akan menjaga ibuku sendiri!!"

__ADS_1


Agus langsung menutup pintu itu. Dia benar benar tidak memberikan celah sedikit pun pada Nana.


__ADS_2