
...Kejutan di atas ranjang...
...**************...
Sesuai perintah Tania, Agus akhirnya memutuskan untuk bergerak sendiri. Karena dia sudah dikeluarkan dalam satuan tugas, terasa lebih leluasa untuk bergerak tanpa ada pengawasan Alex.
Kini Agus sudah mempercayai Tania sepenuhnya, karena hanya dia saja yang selalu mengerti semua pemikirannya. Bahkan dia mendukung sekali untuk segera menjebloskan Nana masuk penjara. Sampai mati sekalipun, dia akan terus mengejar p3mbunuh ibunya.
Siang ini berencana untuk mengunjungi pool taxi berlogo burung tersebut. Dia harus menemukan supir taxi, yang menjadi alasan terkuat kenapa Nana bisa bebas dari tuduhan. Didampingi Tania, Agus akhirnya bisa menemukan supir Taxi yang bernama Sugeng.
Sugeng ternyata sedang beristirahat di dalam taxi sambil memutar sebuah lagu koplo Jawa. Wajahnya sengaja ditutupi oleh selembar handuk kecil. Tentu dia sedang menghindari sinar matahari yang tembus dari kaca depan.
Dengan gusar Agus melempar handuk kecil dari atas wajah Sugeng. Dia ingin melihat secara langsung bagaimana wajah supir taxi tersebut. Sugeng membuka matanya dan wajahnya kaget tak kala melihat dua orang sedang memandangnya dengan sinis.
Tangan Agus mulai menyeret keluar supir taxi dengan kasar dan paksa. Dia bahkan membanting tubuh Sugeng di depan kap mesin mobil. Leher Sugeng kesakitan karena Agus mulai m3ncekiknya dengan erat.
"Katakan apa yang terjadi saat itu?" tanya Agus murka.
"Siapa kalian? tolong lepaskan," rengek Sugeng.
"Jangan pura-pura bodoh kamu!!"
Tania lalu menyuruh Agus untuk melepaskan cengkraman erat pada leher pak supir. Dia merasa jika Agus sudah terlalu diluar batas dan malah menyulitkan Sugeng untuk berbicara. Setelah cengkraman leher itu lepas, Sugeng langsung terbatuk-batuk.
Wajahnya bercampur marah, takut dan bingung. Apalagi setelah melihat wajah Agus yang menyeramkan seperti preman. Perasaan Sugeng terus mengatakan jika harus lebih berhati-hati dengan mereka berdua.
"Ada apa kalian kemari?" tanya Sugeng lemas.
Tania langsung menunjukan sebuah foto Nana dari galeri HP. Dia ingin menunjukan secara langsung wajah Nana di depan mata Sugeng. Ekspresi Sugeng berubah lagi, dia seperti merasa terancam.
"Jelaskan pada kami, saat di titik macet parah apa yang di lakukan wanita itu?" tanya Tania penuh selidik.
"Ya ampun... lagi- lagi wanita ini terus saja mengganggu. Bapak sudah bilang sama polisi berulang kali kan, kalau dia cuman duduk di belakang jok sampai rumah sakit!" jelas Sugeng marah.
"Jangan bohong pak, saya tahu kalau bapak selama ini memilih tutup mulut karena telah menerima suap dari wanita ini kan?" tanya Agus kesal.
"Suap apanya!! Kalau mau cari penjahat suap, tangkap saja pejabat DPR di luar sana. Ko ngincar rakyat miskin kaya bapak!"
Agus dan Tania tidak menyerah untuk menyerang atau menyudutkan Sugeng. Mereka tentu yakin jika Sugeng sedang berbohong dan memilih untuk melindungi Nana. Semua orang kini nampaknya sedang berbondong-bondong memihak wanita itu.
Tania kembali mengeluarkan sebuah gambar di galeri HP-nya. Foto itu menunjukan seorang anak remaja perempuan sedang berbaring di kamar rumah sakit. Wajah Sugeng kembali menegang, dia malah terlihat tambah panik.
"Aku tahu pasti berat membiayai anak perempuan satu-satunya. Anak bapak sedang dalam pengobatan jantung stadium akhir," ucap Tania.
"Beraninya kalian mengusik keluarga ku!!"
"Mendadak kemarin bapak mendaftarkan anak bapak dalam operasi transplatasi jantung. Tentu itu bukan biaya sedikit kan?" gertak Agus.
__ADS_1
Kini wajah Sugeng mulai sedikit tenang, walau dia banyak menundukkan kepala. Rasa marah dalam dada sebenarnya sudah begitu memuncak kepada dua orang asing ini. Dia memilih untuk menghela nafas panjang daripada harus menjawab semua pertanyaan.
"Jangan usik masalah keluarga bapak lagi. Tentu berhenti menggangguku. Aku harus kembali bekerja."
Sugeng memilih untuk tidak meladeni mereka berdua. Dia akhirnya pergi meninggalkan percakapan ini dan segera masuk ke dalam taxi. Agus berusaha untuk menahan supir itu, kini mereka saling bertatapan dengan serius.
"Asal bapak tahu, uang yang bapak dapatkan itu berasal dari seorang p3mbunuh. Bukan p3mbunuh biasa, wanita itu sudah banyak m3nghabisi banyak nyawa manusia."
"Itu bukan urusanku. Aku tidak tahu apapun!" balas Sugeng begitu ketus, dia lalu masuk kedalam taxi dan menutupnya rapat.
Dengan laju yang cepat, taxi tersebut langsung pergi menjauh dari mereka. Tentu pertemuan ini tidak membuahkan hasil, tapi setidaknya Agus tahu jika Sugeng sedang merasa terancam. Artinya ada kemungkinan besar supir itu memang melakukan kerja sama dengan Nana.
Tania mendesak Agus agar terus menghadapi Sugeng tanpa henti. Wanita itu yakin, kunci terbesar dalam mengungkapkan kasus ini adalah kesaksian supir taxi tersebut. Pasti ada kejadian yang dia sembunyikan, bahkan supir itu tahu apa yang telah Nana lakukan.
********
Jumat, 20 April 2022
Dear diary...
Tinggal 11 hari lagi, kita akan segera berpisah. Entah bagaimana aku menghadapi hari ke 31, namun perasaanku sulit untuk mengungkapkannya. Aku senang, kita tetap pada pendirian untuk berpisah, walau aku yakin fokus kita sekarang adalah mengungkap siapa p3mbunuh ibu Surti.
Ibu Surti terus mengingatkan pada sosok ibuku sendiri. Aku hanya membayangkan, disaat k3matian mereka berdua telah dekat, yang ada dalam pikiran mereka hanya sang buah hati. Mereka pasti lebih memilih m@ti untuk melindungi anak apapun yang terjadi.
Adakah hati manusia yang selembut itu selain sosok seorang ibu? Mereka seharusnya memikirkan nyawa sendiri, mereka seharusnya yakin jika anak-anak mereka kuat. Tapi sayangnya mereka adalah perempuan lemah, kasih sayang mereka berubah menjadi ketakutan yang terbawa sampai alam kubur.
Setelah membaca diary milik istrinya, kini Farel mencoba untuk tidak over thinking. Dia harus bersikap positif dan masa bodo. Apapun yang terjadi, tulisan Nana hanya sebuah ungkapan hati wanita biasa. Tidak perlu untuk dilebih-lebihkan, yang ada hanya membuat hatinya semakin sesat.
Farel berjalan menuju kamar istrinya, dia melihat jika Nana sedang selonjoran di atas ranjang sambil membaca sebuah buku. Dia tanpa ragu untuk masuk ke kamar dan menaruh buku diary nenek sihir di atas meja.
Nana tentu menyadari kehadiran suami, dia menutup buku itu dan tersenyum tepat di depan Farel. Senyuman itu selalu mengembang seperti adonan kue donat. Begitu manis dan menarik hati Farel.
"Kita harus bicara," ucap Nana.
"Tentu, aku tunggu di ruang tamu."
"Aku mau kita ngobrol di atas ranjang."
"Mmmmmm....." balas Farel grogi.
"Ayolah, ini cuman ngobrol. Kita masih dalam batasan yang tak pernah dilanggar." Nana mencoba meyakinkan Farel.
Langsung saja Farel duduk di atas ranjang istrinya. Dia melipatkan kedua kaki dengan punggung yang tegak, layaknya seorang prajurit tentara yang sedang bersiaga perang. Nana tersenyum geli melihat tingkah suaminya, dia sangat kaku seperti kanebo kering.
Nana mendaratkan punggungnya di depan kasur, dia melebarkan kedua kakinya dengan santai. Sedangkan Farel masih tidak nyaman, hanya masalah duduk berdampingan di atas ranjang kecil.
"Apa kamu serius ingin membantuku keluar dari semua masalah ini?"
__ADS_1
"Tentu saja, jangan pernah berpikiran jika aku suami yang terlalu jahat."
"Baiklah. Farel masih ingatkan waktu itu aku pernah di interview oleh polisi sepulang dari Lombok?"
"Iya, terus kenapa?"
"Saat itu mereka menanyakan tengang Firman, salah satu pegawai di restoran Bali Tropical 8 tahun yang lalu. Setelah aku telusuri lebih lanjut, ternyata dia adalah korban pertama dari aksi p3mbunuhan berantai," jelas Nana.
"Ko bisa?" tanya Farel kaget.
"Itulah sebabnya, mereka mulai mencurigai Nana, karena dulu aku pemilik restoran tersebut.
Tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan Firman saat itu. Dia mendadak keluar pekerjaan karena beralasan ingin tinggal dengan saudara perempuannya."
"Jadi kamu pikir Tania adalah saudara perempuan yang Firman maksud?" Farel semakin terkejut.
"Aku sempat mengunjungi rumah kontrakan Firman, saat menunjukan foto Tania, para tetangga yang sudah lama tinggal disana mengenal wajah Tania dengan baik.
Bahkan ada yang mengatakan jika Tania sering mengunjungi kontrakan Firman. Entah apa hubungan mereka sebenarnya, yang jelas itu layak untuk diselidiki kembali."
Farel masih belum sepenuhnya menerima teori Nana yang sangat gila. Jika memang Tania selama ini mempunyai seorang kaka laki-laki, lalu kenapa mereka baru dipertemukan saat itu. Kenapa mereka harus berpisah dengan waktu yang begitu lama.
Apalagi jika benar mereka adalah saudara biologis. Kenapa Tania bisa m3mbunuh kakaknya sendiri, itu sangat tidak masuk akal. Apalagi banyak yang mengatakan jika Tania sangat rajin menjenguk Firman.
"Aku cukup kenal Tania, kamu tahu kenapa ibunya bisa ditinggal mati oleh suaminya?"
"Tentu saja, aku tidak tahu."
Nana menjelaskan, saat itu pelayan lainnya sering bergosip kehidupan sang janda. Banyak kabar yang menyatakan jika ternyata Tania mempunyai seorang kakak pria.
Namun kakak pria hidup menjadi beban keluarga. Tidak pernah mau sekolah dan sering mabuk-mabukan saat masih SMP. Suatu hari, dia memaksa ayahnya menyerahkan uang tabungan, untuk membeli rokok dan m!ras.
Karena ayahnya terus menahan tabungan dalam celengan ayam, tak sengaja Kakak pria itu mendorong sang ayah sampai kepalanya terbentur dinding. Karena melihat ayahnya meninggal seketika, kakak pria itu langsung kabur membawa semua uang. Tak pernah ada kabar lagi jika dia kembali.
"Jika aku jadi Tania, tentu aku sangat ingin m3mbunuh kakak seperti itu. Karena kebodohan dan kecanduannya, dia malah menghilangkan nyawa sang ayah yang sangat ia cintai," ungkap Nana.
"Jadi motif p3mbunuhan berantai ini hanya karena sebuah dendam masa lalu?"Farel semakin bingung.
"Sebuah dendam yang membangkitkan sisi iblis dari wanita seperti Tania."
"Tidak mungkin, ini gak masuk akal Na. Kamu terlalu jauh menilai Tania seperti itu," sanggah Farel cemas.
"Karena itu lah, kita harus segera membuktikan jika Tania adalah dalang dari semua ini. Kita harus cari tahu apa hubungan Firman dengan kesembilan korban lainnya."
"Tapi kenapa harus ada sembilan orang lainnya yang ikut menjadi korban, apa salah mereka sebenarnya?"
"Mungkin sesuatu hal yang besar yang masih terkubur dalam-dalam," balas Nana sambil tersenyum tipis.
__ADS_1