31 Hari

31 Hari
Suga BTS


__ADS_3

...Selera Nana ternyata tidak terlalu buruk....


...*******...


Farel duduk dengan sangat gugup dan gemetar. Dia tidak menyangka jika Nana telah menyeretnya masuk ke dalam sebuah salon cukup cringe.


Salon ini kecil, terletak di ujung paling ujung sebuah gang kumuh. Interior dan gaya salon ini sangat ramai dengan pernak pernik gothic. Paling terpenting, disini adalah salon tempat berkumpulnya para w*ria.


"Mau gaya rambut kaya apa ayang," ucap Tasya genit, sang penata rambut handal di salon ini.


Dari belakang Nana sedang menahan tawanya. Kali ini jelas tergambar jika Nana sangat senang Farel di goda oleh Tasya.


Sedangkan wajah Farel sudah merah padam. Perasaan di dalam hatinya begitu campur aduk. Ada kesal, marah, malu dan tidak berdaya.


"Terserah, penting jangan norak," balas Farel jutek.


"Duh.. galak banget sih, Tasya makin suka deh," goda Tasya makin lengket seperti permen karet.


Nana lalu berdiri dan menghampiri mereka berdua. Dia menatap Farel dengan sangat lembut, seperti mengisyaratkan jika Farel harus lebih rilex.


"Madam Tasya, kan paling jago bikin orang tambah ganteng. Kira kira suami ku bagusnya pakai gaya rambut apa ya?" tanya Nana yang sangat ingin membantu Farel.


"Olalalaa.. kamu tahu julukan salon madam? Salon Wonder Land, semua bisa madam lakukan.


Mau jadi pangeran Arab? Bisaa..


Mau jadi sultan India? Bisa bangeet..


Mau jadi oppa Korea? Beres pokoknya.." jelas Tasya dengan sangat riang gembira.


Mendengar jawaban dari pemilik salon yang begitu unik, Nana tambah semangat untuk merubah penampilan Farel. Sedangkan Farel sudah terlalu pasrah dengan tingkah mahluk astral ini.


Perpaduan madam Tasya dan Nana begitu sangat cocok. Sangat pas membuat kepala Farel pusing tujuh keliling.


"Kayanya suami ku cocok deh pakai trend korea," ujar Nana.


"Ihhh... Jeng Nana tau aja. Suami kamu itu memang oriental dan mulus aduhay," jawab Tasya sambil berjalan ke arah rak. Di sana dia membawa sebuah katalog berisikan contoh gambar rambut pria korea.


Farel dengan terpaksa mengambil katalog itu dan melihatnya dengan seksama. Di depan matanya kini berjejer banyak pria kulit putih sebening kristal yang sangat cantik.


Ini bukan selera dia, Farel tidak suka gaya imut dan terlalu muda. Namun jika dia menolak tawaran Tasya, akan menjadi lebih rumit urusannya.


Tanpa harus banyak berpikir panjang. Farel dengan sangat sembarang menunjuk salah satu lembar katalog. Dia menunjuk tujuh barisan pria yang sangat kekinian.


"Ya Tuhan... Pilihan kamu memang cucok! Madam gak nyangka kamu ternyata memilih BTS!" teriak Tasya dengan histeris.


"Ya Rel, kamu cocok tuh sama mereka. BTS lagi hits banget loh," ujar Nana sambil tertawa tipis.


"Ya sudahlah, mana saja," balas Farel semakin jutek.

__ADS_1


"Ayo dong, kamu pilih dari ke tujuh pria ini mana yang kamu inginkan?" tanya Tasya sangat antusias.


Farel tidak mau berdebat dengan pemilik salon ini. Dia kemudian memilih mana saja yang menurutnya lumayan ok. Saat itu jari telunjuk Farel mengarah pada satu foto pria paling ujung.


"Gak boleh dong sayang, Jungkook itu pacar Madam, nanti beb Jungkook marah lagi sama Madam," balas Tasya dengan wajah lebay.


Farel menarik nafas dengan perlahan. Dia berusaha untuk sabar menghadapi semua gertakan dan kehaluan pemilik salon. Lalu dengan cepat Farel menunjuk pria lain yang berada di depan barisan.


"Iiih.... Jangan dong ayang. Itu kan Kim Nam Joon, dia tuh imam aku. Leader madam dalam berumah tangga nanti. Masa diembat juga," protes Tasya semakin rewel.


"Ya sudah nih, nih, nih!" ujar Farel dengan sangat kesal. Saat itu juga dia memilih pria di barisan paling tengah.


Sontak mata Tasya menjadi gembira. Pilihan Farel kali ini tidak salah. Baginya sosok ini sangat cocok untuk tipe pria jutek dan galak seperti Farel.


"Nah gini dong, baru ini cucok banget buat kamu," balas Tasya.


"Emang siapa dia?" tanya Farel diam diam mulai penasaran.


"SUGA, bad boy gitu loh. Kaya kamu nyeremin tapi ganteng!" goda Tasya.


"Mau Suga, biji saga, terserah dah.. penting nih madam cepetan rubah rambut jamur sialan ini!" perintah Farel dengan tegas dan ketus


*****


Siang hari, di tengah teriknya matahari. Agus sedang berdiri di bawah jembatan layang. Dia dan ke tiga anak punk itu sedang mencari keberadaan Jony.


Agus pun berusaha untuk menggali informasi akurat dari mereka. Karena mereka bertiga adalah saksi kunci sementara dari laporan hilangnya ketua geng punk ini.


Agus terus bertanya pada orang orang sekitar jembatan. Dia terus menanyakan jika ada orang yang melihat Jony pada kemarin malam. Namun sayang, tidak ada satupun saksi mata yang melihat sosok itu.


Dia terus berusaha menggali banyak informasi dari berbagai pihak. Berharap ada secuil informasi yang berguna untuk menemukan anak punk itu.


Lantas dia mulai melihat segerembolan anak punk lain yang sedang berjalan lurus mengikuti arah rel kereta api. Dia pun bertanya kepada mereka apa mungkin Jony sering melintasi alur rel kereta api.


Dengan sangat kompak mereka pun menjawab iya. Mereka menjelaskan bahwa hampir setiap hari mereka sering nongkrong di dekat plang pembatas kereta api.


Maka setelah mendengar penjelasan dari mereka, Agus pun mulai berjalan kaki mengitari arah rel kereta api.


Dari arah kolong jembatan sampai ke plang pintu kereta api hanya membutuhkan waktu 20 menit lamanya. Di sanalah Agus mulai merasakan instingnya sebagai detektif.


Dia mulai berjalan dengan langkah kecil, kepalanya menunduk ke arah bawah tanah. Dia terus mencari kemungkinan ada petunjuk di tempat ini.


Tak lama setelah itu, kedua matanya mulai menangkap sesuatu warna yang aneh. Dia melihat dengan jelas ada bercak darah kering yang menempel di atas batu kerikil.


Dia segera memakai sarung tangan dan mengambil batu krikil itu. Sangat cermat dia mulai melihat batu yang sudah berwarna merah.


Kemudian dengan cepat dia mulai melirik kanan dan kiri, berharap menemukan banyak lagi tanda bercak darah yang tertinggal.


Ternyata tidak sulit menemukan jejak darah yang mengering. Disekitar banyak sekali tanah dan batu krikil yang berserakan dengan warna merah. Lantas Agus mengikuti pola darah mengarahkannya pada sebuah semak belukar.

__ADS_1


Agus berdiri di depan semak semak besar itu. Dia bisa melihat dengan jelas jika warna hijau daun itu telah tercampur dengan warna darah. Segera Agus memeriksa kedalam semak semak itu.


Kedua matanya terperanjat, jantung berdetak dengan sangat kencang. Tak kala dia melihat sosok m*yat pria menggunakan baju punk bersembunyi di dalam sana.


Kepalanya h*ncur dan hampir membelah t*ngkorak itu. Kedua matanya tertutup rapat dan kulit tubuhnya mulai m*mbusuk.


Namun setelah di lihat lebih dalam, Agus menemukan hal aneh lain. Dia melihat jika di bawah hidung mayat itu terdapat serat bulu kumis yang terlihat habis di cukur.


Pembunuhan macam apa ini? Kenapa dia malah meninggalkan jejak pembunuhan yang tidak biasa. Apa tujuan semua ini?


Agus sejenak tidak bisa menyadarkan seluruh kewarasannya. Dia masih sangat takut melihat m*yat. Karena ini pertama kalinya dia berurusan dengan m*yat.


*****


Malam hari sebelum pergi menulis buku diary yang ke tiga. Farel sedang asik menyibukan diri di dalam kamar mandi.


Dia dengan wajah glowing sedang melakukan serangkaian skin care yang cukup banyak. Dia terus menatap cermin dengan perasaan antusias.


Dia terus saja mengingat kejadian tadi di kantor. Dia masih terus merasakan kegembiraan yang tiada tara. Bahwa semua orang di kantor banyak memuji gaya rambut terbarunya.


Bahkan dia tidak menyangka jika ada celoteh sana sini yang menyebutkan dia mirip seperti bintang Korea. Di saat itu juga tingkat kepercayaan dirinya naik 1000 kali lipat.


Farel terus menatap wajahnya di cermin. Sambil senyum senyum sendiri dia merasa jika Suga BTS membawa keberuntungan besar.


Dia kemudian membuka layar HP dan mencari sumber informasi di dalam pencarian internet. Dia mulai kepo dengan sosok Suga. Dia ingin tahu lebih banyak tentang idol satu ini.


Setelah dia melihat banyak sekali gambar Suga bertebaran di dunia maya. Dia merasa jika kulit Suga begitu mulus sekali. Dia mulai meraba raba daerah dagu di wajahnya. Saat itu juga dia mulai merasa jika bulu janggutnya akan mulai tumbuh.


Karena ingin mulus seperti Suga BTS, tangan Farel kemudian mencari alat pencukur bulu. Namun anehnya, dia tidak menemukan alat kecil itu.


Farel kemudian membuka pintu kamar mandi, dia beteriak ke arah Nana.


"Nana... Kamu lihat pencukur rambut aku gak?" tanya Farel dengan suara kencang.


Saat itu juga Nana berjalan menghampiri Farel yang hanya menggunakan handuk. Dia pun menatap Farel dengan khawatir.


"Apa sih Rel teriak teriak kaya gitu."


"Kamu lihat alat pencukur bulu di kamar mandi sini gak?"


"Lah, mana Nana tahu. Kan cuman kamu saja yang pakai alat begituan disini," balas Nana dengan serius.


"Tapi ko bisa hilang sih, biasanya juga ada. Tumben banget," gumam Farel dengan kesal.


"Aku kan mulus rel, mana ada bulu di wajah aku. Emang kalau aku nyuri mau cukur bulu apa sih Rel?"


"Yah.. bisa jadi kamu iseng nyukurin kumis orang lain gitu?" tanya Farel balik dengan wajah cemberut.


"Ko sekarang kamu jadi ngawur sih bicaranya," sanggah Nana.

__ADS_1


"Aku gak ngawur Na, kamu tuh yang suka nulis si kumis di buku diary. Apa apa si kumis, pantas saja alat pencukur bulu ku hilang!" sentak Farel sambil menutup pintu kamar mandi dengan kasar.


__ADS_2