31 Hari

31 Hari
Bencana Rumah Tangga


__ADS_3

...Semua karena ulah mereka...


...( keluarga Teletubbies)...


...************...


"Aaaaaaaaaaaargggghhhhhhh......." jerit Nana dengan kencang dari dalam kamar. Sontak saja Farel langsung menyerbu keluar dan menghampiri sumber suara itu.


Di sana dia mendapati istrinya sedang berbaring di atas kasur sambil melihat layar HP. Langsung saja Farel mendekati Nana dengan wajah penuh cemas.


"Ada apa Nana??? kenapa kamu teriak, apa ada maling?" tanya Farel dengan mata terus melirik seluruh sudut.


Nana lalu bangkit dari posisi rebahan, dia duduk sambil menunjukan layar HP ke arah Farel. Kedua matanya sedikit mengeluarkan bulir bulir air mata, Nana menangis!


"Gawat... gawat..." ucap Nana semakin galau.


Farel lalu meraih HP Nana dengan gesit, dia seraya memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Setelah membaca deretan group pesan keluarga Whastap, tatapan Farel malah semakin cemas tidak karuan.


"Beneran nih Na?" tanya Farel terus melirik Nana yang sedang menangis tersedu sedu.


"Kamu tahu kan Rel, itu acara keluarga paling horor sejagat umat manusia. Gimana nasib kita dong!! duh... mampus deh!" komentar Nana dengan penuh rasa kecewa.


Tangan Farel lemas, kakinya bergetar hebat. Dia lalu memandang lurus dengan penuh kekosongan. Dia masih mengingat dengan jelas betapa trauma dan malunya dia terkahir datang ke acara itu.


Mereka menyebutnya sebagai acara penyatuan dua keluarga Singa Terbang. Sebuah julukan terhebat untuk dua keluarga super rich dan berkuasa itu. Keluarga besar Widjaya dan Handono begitu kuat dan besar berkat tradisi pernikahan silang di antara mereka berdua.


Farel kira tradisi lama ini sudah hilang dan musnah secara masal. Namun ternyata ada dua keluarga mereka yang akan di perjodohan kan kembali. Padahal saat itu dia berharap garis keturunan Farel dan Nana lah yang akan menjadi korban terkahir. Nyatanya para tua bangka itu masih ngotot dengan segala ambisinya.


Farel dan Nana pertama kali datang ke acara itu sejak mereka sudah bertunangan. Dua tahun lalu semua keluarga benar benar memaksa mereka untuk akrab dan mesra. Kedua belah pihak terus mengontrol semua gerak gerik kedua pasangan itu.


Maka tak heran jika Farel dan Nana sangat trauma harus berpura pura terlihat saling mencintai. Itulah sebenarnya bencana terbesar dalam jalan hidup mereka. Hidup dalam bayangan orang lain, tentu itu sangat melelahkan mereka.


"Rel, nanti kita jangan pernah bahas masalah perceraian di depan keluarga besar," ucap Nana dengan penuh permohonan.


"Masalah itu sih gampang Na, ada yang lebih besar dari itu," sahut Farel.


"So?"

__ADS_1


"Kita belum punya anak juga. Kamu tahu kan bagaimana hebohnya nanti keluarga kita? Aku capek Na harus terus berpura pura dan mencari alasan lain," ucap Farel sambil mengacak ngacak rambutnya dengan kasar.


"Bilang saja kalau kita mau adopsi anak," gumam Nana dengan secercah harapan di wajahnya.


"Gilak kamu ya!! tau sendiri keluarga kita sangat tergila gila dengan garis keturunan murni. Kamu lupa apa tujuan mereka jodohkan kita??" protes Farel semakin kencang.


"Dasar keluarga kuno! keluarga patriarki!" decak Nana sambil melempar lempar semua bantal ke lantai dengan gusar.


Sedangkan Farel hanya bisa pasrah. Bagaimanapun juga dia dan Nana kali ini harus kembali melakukan akting di depan keluarga besar. Bagi orang yang saling tidak mencintai, tidak saling menyentuh bahkan akan bercerai, ini tidak akan mudah.


*****


Acara kumpul keluarga di mulai pukul 08.00 malam, bertempat di kediaman generasi kedua keluarga Handono. Itu berarti rumah ini adalah tempat tinggal kakek-nya Nana, karena wanita itu bagian dari keluarga Handono.


Nana dan Farel masih berdiam diri di dalam mobil, mereka masih belum siap harus masuk ke rumah itu. Perasaan begitu campur aduk menyeruduk hati mereka. Mereka merasa sedang bersiap untuk ikut perang dunia ketiga.


"Ingat ya Na, sebisa mungkin kita jangan narik perhatian semua orang. Kita harus banyak diam dan tidak banyak komentar. Sekali saja kita melawan, habislah hidup kita!" ucap Farel dengan wajah pucat pasi.


"Sumpah ini keluarga atau militer sih, apa apa harus siap dan hormat!" gerutu Nana dengan sebal.


"Kamu siapkan?" tanya Farel sambil menatap Nana dengan sangat tajam dan sedikit friendly.


Lantas tangan Farel langsung menggenggam samping lengan Nana, dia pun memperat genggamannya dengan penuh tekad. Farel ingin menunjukan jikalau pernikahan mereka begitu harmonis dan bahagia. Malam ini dia ingin menjadi suami yang baik, walau satu malam saja.


Mereka keluar dari mobil secara bersama dan kompak. Berjalan lurus mengikuti jalan dengan bebatuan alam kecil. Di pintu utama sudah terlihat banyak penjaga dan pelayan sedang menyambut kedatangan mereka.


Setelah melewati penjagaan pintu depan, segera mereka berjalan menuju taman belakang rumah. Sebuah taman dengan rumput jepang yang sangat terawat dengan baik.


Farel mulai melihat jika taman luas itu sudah berubah menjadi acara dinner yang megah. Di sana dia bisa melihat banyak orang berkerumun dan saling beradu kekayaan masing masing.


"Sebaiknya kita harus bertemu dengan orang tua kita masing - masing terlebih dahulu, bagian tersulit malam ini," bisik Farel kepada Nana.


"Ok, awas ya jangan sampai lepas atau kabur, kita hadapi berdua," ancam Nana dengan senyum ketar ketir.


Farel dengan wajah sombong dan percaya diri mulai menaikan tanganya keatas. Dia ingin menunjukan pada Nana betapa dia sangat bertanggung jawab dan profesional.


"Lihat kan? tanganmu dan tanganku kini sudah lengket seperti lem? aku tahan Nana sekuat mungkin!" ucap Farel sambil menarik paksa Nana untuk berjalan lurus.

__ADS_1


Mereka banyak berjalan begitu saja melewati saudara masing masing. Mereka tidak peduli dan tidak ingin menyapa dengan ramah. Tujuan mereka kali ini adalah orang tua masing masing. Sumber dari kesengsaraan Nana dan Farel selama satu tahun ini.


Melihat Nana dan Farel datang dengan sangat tiba tiba, membuat kedua orang tua Farel begitu histeris. Seolah olah mereka sedang melihat putri dan pangeran keluar dari kereta kuda.


Ayah Farel ( Dodi ) segera memeluk anak emasnya itu dengan sangat gembira. Sedangkan ibu Farel ( Sania) tak kalah heboh memeluk Nana seperti sekumpulan Teletubbies.


"Aduh sayang kamu makin cantik saja, tapi ko perutnya masih rata gitu sih ya Pah," ucap Sania dengan julid dan tanpa perasaan.


"Apaan sih mah, kita kan masih pengantin baru, masa dikit dikit harus langsung hamil," bela Farel dengan wajah lembut dan menggemaskan.


"Tapi kan lebih cepat lebih baik Farel, gak baik menunda punya anak. Mamah udah gak sabar pingin gendong cucu," balas Sania makin sengit.


"Betul apa yang dikatakan ibu kalian ini, keluarga kaya seperti kita harus punya penerus secepat mungkin. Ingat satu hal, Nana akan melahirkan anak luar biasa, anak dengan sendok emas dan privillege yang tidak mudah di dapatkan oleh sembarang orang," sahut Dodi tambah sombong persis seperti anaknya.


Nana tidak bisa berkomentar apa apa lagi, dia sudah terlalu muak dengan bacotan para orang tua ini. Dia tidak tertarik dengan pemikiran lawas seperti mereka.


Setelah berbagai percakapan antara menantu dan mertua yang sangat rumit dan bikin kepala meledak. Akhirnya Nana dengan berani undur diri dari mereka berdua. Dia beralasan jika harus segera mencari ayahnya, karena dia sangat merindukan ayahnya itu.


Kemudian Nana dan Farel berkeliling mencari sosok ayahnya yang sudah lama tidak ditemui. Tak berapa lama dia melihat punggung sang ayah dekat dengan pancuran kecil, dari jauh dia sedang mengobrol dengan banyak kolega bisnis dan satu orang wanita asing di sampingnya.


Nana dan Farel menghampiri sang ayah dengan kompak. Mereka berencana akan segera pulang dari acara ini setelah bertemu dengan ayahnya Nana. Namun setelah Nana menyapa ayahnya dari belakang, betapa terkejutnya Nana tak kala melihat Tania ada di samping sang ayah.


"Ayah, siapa dia?" tanya Nana dengan wajah terkejut bukan main.


"Oh.. anaku sayang, you are back!" balas ayah Nana ( Ivan ) dengan penuh semangat, dia bergegas memeluk Nana dan Farel secara bersamaan.


Hanya saja Nana tidak berkutik sama sekali, dia bahkan tidak merasakan pelukan dari ayahnya itu. Dia hanya sibuk dengan ketegangan pikirannya sendiri.


"Ayah, who is she?" tanya Nana kembali, namun kali ini lebih tajam dan sebuah amarah yang sangat ia tahan.


"she? dia Tania, teman dekat ayah," balas Ivan dengan begitu santai.


Tatapan Nana kini mulai tertuju pada Tania. Dia melihat wanita itu tersenyum dengan lebar. Wanita itu bahkan melambaikan tangan dengan sangat lentur.


Tiba tiba dada Nana menjadi sangat panas, dia langsung melepas genggaman tangan Farel begitu saja. Nana kemudian berjalan menghindari semua orang, dia terus berjalan keluar dari taman itu.


Dia berlarian kecil menuju toilet, dia membasuh wajahnya dengan air mengalir. Dia menggosokan wajahnya berulang kali dengan kasar. Seolah olah dia ingin segera tersadar dari sebuah mimpi buruk.

__ADS_1


Nana menatap cermin dengan wajah frustasi. Dia bahkan tertawa cekikikan seperti orang gila. Setelah itu dia bisa berhenti tertawa dan memasang wajah sedih.


"Ayah, kali ini kamu ingin bermain main denganku?" tanya Nana pada dirinya sendiri.


__ADS_2