31 Hari

31 Hari
Mr.X


__ADS_3

...Bagaimanapun caranya, hari ke 31 itu harus gagal terlaksana....


...Aku berani bertaruh apapun...... Na....


...****************...


Nana sedang duduk di depan ranjang rumah sakit, dimana ayahnya masih dalam keadaan kritis dan sering tidak sadarkan diri. Mungkin saja, ruangan ICU ini akan menjadi tempat terkahir tuan Ivan berisitirahat.


Namun dokter selalu mengatakan jika harapan hidup selalu ada, asalkan ayahnya tidak pernah lepas dari semua selang yang ada di tubuhnya. Maka dari itu, semua bantuan alat medis adalah senjata terakhir tuan Ivan bertahan hidup.


Nana memandang ayahnya tanpa ekspresi, di hatinya tidak sedikit pun menaruh rasa simpati ataupun kesedihan. Baginya, tuan Ivan hanya manusia bersisa kan tulang dan daging tipis. Hanya pria tua berbalut baju rumah sakit khusus kamar VVIP.


"Ayah, ayo bangun. Tindakan mu di masa lalu tak sepadan dengan usia pendek yang sedang kau dapatkan. Aku kecewa, seharusnya ayah m@ti dengan cara yang paling mengenaskan!" omel Nana.


Tuan Ivan tentu tentu tidak merespon apalagi bisa mendengar perkataan anaknya sendiri. Itu membuat Nana marah tidak karuan dan tersulut emosi. Baginya ini sangat tidak adil, setelah berhasil membuatnya menderita di masa lalu, ayahnya malah terbaring nyaman menunggu k3matian.


Dia sangat berharap ayahnya akan mendapatkan pembalasan yang begitu kejam. Dia sangat berharap ayahnya bisa m@ti pelan-pelan dalam penderitaan. Nana ingin sekali membalas semua perbuatan jahatnya terhadap sang ibu.


Nana bangkit dari kursi, dia berjalan mendekat ke arah ayahnya. Tangannya perlahan menuju selang oksigen, tiba-tiba saja hatinya mulai menunjukan sisi paling tergelap. Dia ingin membuka selang itu dan mempercepat k3matian tuan Ivan.


Tapi dia merapatkan kembali semua jari-jari itu. Perasaan ragu dan bimbang malah membuat tekadnya lemah. Dia menarik nafas dan menenangkan pikirannya yang terlalu stres. Dia akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan ruang perawatan.


Setelah menutup pintu, HP berdering dengan kencang dan sebuah panggilan telepon masuk. Nomor yang tertera di layar HP itu bertuliskan Mr.X. Raut wajah Nana berubah dengan sangat cepat, dia mulai tenang.


"Aku segera kesana," ucap Nana sambil menutup panggilan telepon itu.


Setelah percakapan singkat itu usai, Nana langsung berjalan menuju lift. Dia segera menekan tombol nomor 5. Artinya wanita itu sedang menuju lantai bawah dekat dengan ruang VVIP tuan Ivan.


Setelah pintu lift terbuka, dia berjalan berbelok ke arah kiri dan mencari ruangan perawatan lainnya. Setelah mendapatkan ruang paling ujung, dia membuka pintu itu dan melihat jika ada seorang bapak tua sedang merawat anaknya.


Pria tua itu adalah Sugeng, supir taxi yang mengantar Nana ke rumah sakit. Tentu supir taxi yang memperkuat alibi Nana saat itu. Nana berjalan menghampiri mereka berdua, ayah dan seorang anak remaja yang cantik.


Anak Sugeng bernama Mawar, usianya kini beranjak 18 tahun. Namun sayangnya, anak itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit sejak lahir. Dia menderita penyakit jantung bawaan yang serius.


Anak cantik itu sedang tidur dengan pulas, seperti tuan Ivan, banyak sekali selang medis masuk ke semua kulitnya. Namun kali ini perasaan Nana menjadi simpati, sedih dan selalu berduka untuk nasib Mawar.


"Bagaimana keadaanya?" tanya Nana sambil berdiri di samping kursi Sugeng.


"Semakin lemah dan memburuk, tapi kabar baiknya dokter sudah menemukan pendonor yang cocok untuk Mawar. Tanggal operasi akan segera dijadwalkan secepat mungkin," jawab Sugeng sedih.


"Itu sebuah mukjizat untuk Mawar, dia memang layak untuk mendapatkan semua itu. Setelah bertahun-tahun kalian bersabar."


"Apa kita bisa bicara, mungkin dengan segelas kopi hangat?" ajak Sugeng dengan senyum akrab.


"Tentu, aku suka kopi susu hangat."


*************

__ADS_1


Mereka duduk di bangku taman rumah sakit. Malam ini sangat dingin, segelas kopi hangat sangat cocok untuk mencairkan suasana yang tenang. Mereka duduk dengan santai, tidak ada kecanggungan diantara mereka berdua.


"Kemarin, Agus dan Tania datang ke tempat kerja. Mereka sangat yakin jika bapak telah mendapatkan suap dan memilih untuk tutup mulut," ucap Sugeng.


Nana sontak tertawa geli mendengar itu, sampai hampir tersedak air kopi. Sugeng pun merespon hal yang sama, sama-sama tertawa menyinggung masalah Tania dan Agus.


"Mereka sangat berlebihan, suap? ya ampun otak mereka isinya udang semua."


"Bapak tidak peduli dengan semua ancaman dan gertakan pria bodoh itu. Dia seorang polisi tapi tidak tahu apa-apa."


"Sudahlah, biarkan saja mereka. Kita hanya perlu menonton dengan tenang, sejauh mana Tania sanggup menerobos dinding pertahanan kita."


Namun Sugeng menjelaskan lebih lanjut, jika sebentar lagi Tania dan Agus akan segera mengetahui latar informasi dirinya. Bahkan dia sangat yakin, jika mereka akan berhasil mengulik masa lalu Mawar.


Jika itu semua terbongkar, maka permainan sesungguhnya akan segera dimulai. Akan ada masa dimana dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Masyarakat yang selama ini memilih untuk menutup mata, akan berbondong-bondong membela sebuah kebenaran yang selama ini tertutupi.


"Apa waktu kita tinggal 10 hari lagi?" tanya Sugeng.


"Hari itu akan semakin dekat, aku sudah tidak sabar. Belasan tahun aku merencanakan ini semua dengan susah payah. Akhirnya, semua ini akan terbalaskan dengan sempurna," balas Nana dengan wajah puas.


"Apa kamu yakin harus melibatkan suami mu sendiri Na? Dia pria yang baik, seharusnya bapak yang menanggung semua tanggung jawab ini."


"Aku menikahinya karena dia mempunyai tangga yang begitu sangat besar. Aku bisa menaiki tangga itu dengan mudah. Farel adalah urusanku, bapak tidak usah khawatir."


Nana menjelaskan kembali jika ada satu tugas terkahir yang harus Sugeng kerjakan. Dimana tugas itu akan menjadi perpisahan antara mereka berdua. Bahkan Nana menyuruh Sugeng untuk pergi sejauh mungkin, hidup bersama putrinya dengan sebuah jantung baru.


"Mana mungkin, bapak bisa melupakan semua kebaikan Nana. Kalau buka karena-mu, bapak sudah mati delapan tahun yang lalu.


Kalau bukan karena-mu, bapak tidak akan kuat menjaga Mawar yang hampir sekarat karena perilaku bejat mereka," jelas Sugeng dengan derai air mata.


Nana menunduk sedih, wajahnya sekuat mungkin menahan air mata. Dia ingin terlihat kuat dan tegar di depan pria tua itu. Nana lalu menggenggam erat tangan keriput Sugeng, dia menatap supir taxi itu dengan senyuman tipis.


"Demi mawar, demi ibu... kita harus akhiri semua ini dengan sempurna. Kita harus tunjukan siapa Tania dan para pengikutnya," ucap Nana gundah gulana.


"Terimakasih nak. Janji sama bapak, kalau Nana harus hidup bahagia dan membuka lembaran baru. Lupakan Farel dengan tegar," balas Sugeng begitu dalam.


********


"Nana pulaaang...." teriaknya dengan begitu lantang. Namun tidak ada jawaban sama sekali, rumah itu mendadak gelap gulita. Dia belum menemukan batang hidung Farel sekalipun.


Setelah berhasil menyalakan lampu ruang tengah, mendadak dari arah dapur, Farel berjalan sambil membawa sebuah kue ulang tahun. Kue itu berbentuk bulat, diatasnya tertancap banyak lilin kecil warna-warni.


"Selamat ulang tahun, istriku Nana..." teriak Farel girang dan senang.


Nana terkejut bukan main, dia sama sekali tidak ingat bahwa hari ini adalah tanggal ulang tahunnya. Apalagi untuk pertama kalinya, Farel memberikan sebuah kejutan ulang tahun. Nana tersenyum bahagia saat meniup habis semua api lilin kecil tersebut.


"Yah, lupa make a wish!!" gumam Farel kecewa.

__ADS_1


"Ok, ok.. aku buat permintaan sekarang saja ya."


Nana lalu menutup kedua matanya dan sedang menghayati semua permintaan dalam hatinya. Dia tersenyum sambil berkata aamiin. Setelah make a wish selesai, Farel menarik tangan Nana menuju sofa.


Dia memberikan sebuah kado istimewa untuk sang istri. Sebuah kotak berukuran kecil dengan pita cantik di tengahnya. Nana membuka kado tersebut dan mendapati sebuah ikat rambut indah, bertabur butiran kristal yang menawan.


"Apa ini?" tanya Nana bingung.


"Aku suka banget, kalau rambut kamu yang panjang itu diikat kaya ekor kuda. Cantik banget pokoknya."


"Serius nih? Gak salah kamu bilang aku cantik?"


"Ayo, coba dong. Masa aku bohong sih."


Nana tersipu malu karena mendapat pujian dari Farel. Pria itu bahkan membantu Nana untuk mengikat rambutnya. Dia mengambil sebuah cermin kecil dan memandang penampilan barunya.


Farel tersenyum puas, dia memang tidak salah memberikan hadiah indah seperti itu. Nana terlihat sangat cantik dan memancarkan aura yang sempat tak terlihat oleh Farel.


"Tuh kan, beneran cantik banget."


"Makasih ya Rel."


Pria itu mulai diam, tiba-tiba dia menarik tubuh Nana hingga berputar tepat ke arah wajahnya. Mereka kini saling memandang dengan sangat dalam. Farel mendaratkan sebuah ciuman kilat dan cepat hanya dalam satu kecupan saja.


Nana tercengang dan terkejut, tubuhnya seakan telah tersengat aliran listrik. Dia mendadak mundur dan menjauh dari Farel. Namun suaminya itu malah semakin mendekat, bahkan menyentuh kedua telapak tangan Nana erat.


"Bisakah, kita berhenti menulis diary itu Na," bujuk Farel.


"Untuk apa?"


"Haruskah kita berpisah? apa kamu yakin perceraian ini akan membuat kita bahagia?"


"Gak bisa, diary itu harus selesai dalam waktu 10 hari lagi. Apapun yang terjadi, Perceraian itu pasti terlaksana."


"Aku janji bakal memperbaiki semua kesalahan dan perilaku buruk selama ini. Aku pasti akan berusaha membuat kamu bahagia, kita bisa belajar saling mencintai."


"Mencintai? telat Rel," balas Nana marah sambil melempar ikat rambut ke depan suaminya.


Nana memilih untuk segera pergi dan menjauh dari Farel. Dia kemudian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu itu. Dia tidak mengizinkan suaminya masuk ataupun berbicara lagi.


Pria itu tidak menyerah, dia menggedor pintu kamar dengan keras. Dia berubah menjadi pengemis yang sangat memalukan. Sifat Farel yang dingin dan galak telah sirna, kini dia malah menawarkan sebuah cinta. Namun sayang, Nana malah menolak itu. Dia tetap berdiri teguh pada pendiriannya selama ini.


"Nana, please kasih aku kesempatan," teriak Farel dari depan pintu.


"Waktu kita tinggal 10 hari lagi, setelah itu aku bakal pergi jauh dari kehidupanmu Rel. Jadi tolong berhenti bersikap kenak-kanakan seperti itu!" balas Nana dari balik pintu.


"Ada apa dengan hari ke 31? kenapa diary itu harus selesai pada hari tersebut. Bagiku semua hari sama saja."

__ADS_1


Nana tidak menjawab kali ini, wanita itu tentu memilih untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia ingin menutup rapat semua bayangan yang akan terjadi saat hari ke 31 itu datang.


__ADS_2