
...Aku tidak percaya, jangan paksa aku...
...************...
Menurut keterangan dari berbagai banyak sumber, (Siska) korban terkahir yang bekerja sebagai P S K sering nongkrong di tempat karoke ++.
Tempat karoke ++ berada di tempat jajaran hiburan malam Jakarta Timur. Di sanalah Siska sering menghabiskan waktu untuk melayani pria hidung belang. Maka dari itu Alex, Agus, Radit dan Karina bertugas untuk mendatangi tempat itu.
Karena tempat ini di jaga ketat, maka keempat detektif itu masuk sebagai tamu yang akan berlangganan. Namun setelah berhasil menerobos masuk, Alex pun menyuruh salah satu wanita penghibur untuk memanggil pemilik tempat karoke.
Awalnya mereka menolak, karena si pemilik yang bernama madam Sarah sangat tidak bisa ditemui sembarang orang. Tapi setelah menunjukan lencana kepolisian dan terus mendesak, akhirnya pihak kemanan mengizinkan para polisi untuk bertemu dengan madam Sarah.
Mereka berempat dialihkan kesebuah ruangan khusus. Ruangan itu dijaga ketat oleh banyak preman bertato. Saat pintu itu terbuka, disana ada seorang wanita kurus memakai dress merah sedang duduk santai.
Dia melayangkan sebuah senyuman ketir tak kala keempat polisi itu duduk dihadapannya. Sekilas wanita itu merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka.
"Jujur saja, ini bukan tempat yang baik bagi polisi untuk membuka kemitraan dengan orang seperti kami," ucap madam Sarah sambil tertawa sinis.
"Jaga ucapan anda! kami disini tidak tertarik dengan uang suapan seperti itu," balas Alex.
"Ok, jadi mau apa kalian?"
Radit mengeluarkan sebuah kertas foto, dimana foto itu adalah Siska sebelum dia meninggal. Madam Sarah mengambil foto itu dan melihatnya dengan satu kali kilatan saja.
"Kenapa kalian terus tertarik dengan orang mati?"
"Apa wanita ini sering bekerja di tempat ini?"
"Tentu, jika job di hotel sepi dia akan menjadi wanita penghibur di tempat ini."
"Berapa lama korban bekerja disini?" tanya Agus.
"Cukup lama, sekitar 5 tahunan. Siska adalah gadis desa polos yang datang ketempat ini untuk mencari sesuap nasi. Karena dia cantik, lama kelamaan dia sering menerima panggilan di hotel."
Radit kembali mengeluarkan sebuah kertas foto, dimana foto itu adalah Siska dan Firman yang sedang merangkul satu sama lain. Madam Sarah meraih kertas foto dan melihat cukup seksama.
"Apa anda tahu siapa pria di samping korban?" tanya Alex.
"Maaf untuk ini saya tidak tahu, tapi sepertinya dia bukanlah pelanggan di tempat ini. Mungkin teman dekat atau saudara," jawab Madam Sarah sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
"Apa anda yakin tidak mengenal pria ini?"
"Untuk apa saya bohong, coba tanya saja kesemua staf disini. Saya yakin tidak ada yang mengenalnya sama sekali!"
Keempat detektif itu memasang wajah paham dan sedikit kecewa. Sebenarnya mereka berharap mendapat sebuah informasi berguna tentang siapa pria ini.
"Tapi sepertinya saya tahu baju yang di pakai pria itu."
__ADS_1
"Maksud anda?" tanya Alex bingung.
Madam Sarah lalu menunjuk baju yang dikenakan pria itu. Sebuah pakaian kaos hitam, logo pohon kelapa dengan matahari diatasnya. Ternyata selama ini mereka tidak terlalu menyadari keberadaan gambar itu.
"Pria ini sepertinya bekerja di salah satu cabang restoran di Jakarta. Dilihat dari seragam yang dia pakai, tentu saya ingat dimana dia bekerja."
"Dimana itu?"
"Restoran Bali Tropical. Sebuah restoran Indonesian Causine yang sangat terkenal dikalangan para turis," jawab Madam Sarah penuh keyakinan.
"Apa anda yakin?"
"Saya sangat yakin, karena dulu sering diajak makan sama pacar bule di restoran ini."
Mendengar sebuah penuturan yang tak terduga, membuat mereka mendadak senang. Ternyata tidak sia-sia bertanya pada si pemilik karoke. Ini adalah langkah yang tepat untuk menilik lebih jauh hubungan antara korban.
********
Tidak harus membuang banyak waktu lagi, Alex dan Agus sedang berada di kantor manajemen restoran tersebut. Sebuah restoran mahal yang tentu mereka jarang ketahui. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk dan menikmati makanan mahal.
Di depan mereka kini ada seorang manager umum yang akan menghandle keperluan polisi. Dengan ramah tamah, pak manager itu sangat menyambut kedatangan mereka berdua.
Alex langsung saja pada intinya, dia ingin menanyakan dan mengkonfirmasi apakah Firman memang pernah bekerja di Restoran ini. Ternyata setelah dicek pada pembukuan karyawan, Firman tercatat pernah bekerja 8 tahun yang lalu sebagai staf kebersihan.
Artinya Firman masih sempat bekerja setahun sebelum pembunuhan terjadi. Karena setahu Alex, korban pertama pembunuhan berantai ini adalah seorang pengangguran berat.
Dari penjelasan mereka, jika wanita ini sering datang ke restoran saat malam hari. Hanya saja untuk masalah hubungan mereka tidak tahu menahu. Selagi Alex sibuk menanyakan banyak hal pada pak Manager, dia tidak sengaja melihat banyak bingkai foto di dinding.
Setelah menilik cukup lama, Agus akhirnya tertuju pada satu foto yang menurutnya sangat tidak asing sama sekali. Satu foto itu memperlihatkan ada seorang wanita cantik dan muda sedang memotong sebuah tali pita.
Agus tiba-tiba saja berdiri, dia dengan gerakan refleks menghampiri lebih dekat satu foto itu. Betapa terkejutnya Agus, tak kala dia melihat dengan jelas bahwa wanita itu adalah tetangganya sendiri.
"Mohon maaf, apa bapak kenal dengan wanita ini?" tanya Agus memecah suasana.
"Oh tentu saja kami kenal, pendiri restoran ini adalah beliau. Dia adalah putri dari pemilik perusahaan yang menaungi restoran Bali Tropical," jawab pak manager dengan senyum.
"Apa kamu mengenalnya?"
"Tentu saja bos, namanya Nana, dia tetangga rumah ibu saya di Bekasi."
***********
Nana sedang bermain table foosball ( papan sepak bola) di salah satu bar dekat pantai. Walaupun kakinya sedang sakit, tidak mengurungkan niatnya untuk mencari kesenangan dengan para bule. Sedangkan Farel sedang sibuk menerima panggilan telepon di luar sana.
Setalah dia selesai dengan panggilan telepon, Farel berjalan masuk dan mendekati sang istri. Dia melihat Nana tertawa riang dengan teman teman bulenya itu.
"Apa kaki mu sudah membaik?" tanya Farel.
__ADS_1
"Aku masih muda, tingkat kalsium ku masih tinggi."
"Baguslah, itu artinya kita harus siap siap pulang ke Jakarta."
"Barusan kamu habis teleponan sama siapa?"
"Agus, tumben banget dia nanyain kapan kita pulang. Katanya sih ada hal penting yang harus dibicarakan secara langsung."
"Oh iya, wah bakal ada kejutan lagi dong," balas Nana dengan wajah terkejut.
Farel memutuskan untuk memisahkan diri dari papan permainan itu. Dia tidak berminat, dia hanya ingin duduk tenang sambil menikmati segelas koktail dengan iringan lagu jazz.
Dia duduk di meja bar dan memesan segelas coktail ocean blue favoritnya. Seorang bartender dengan wajah kalem mulai meracik dan menyajikan minuman itu.
Farel segera meminumnya dan sesekali melihat wajah pria bartender yang selalu melihat ke arah meja permainan. Awalnya Farel tidak peduli, namun setelah ditinjau lebih jauh pria itu malah senyum senyum sendiri.
"Apa ada yang salah?" tanya Farel geli.
"Sepertinya aku sedang melihat seseorang dari masa lalu."
"Siapa?"
Pria itu lalu menunjuk Nana dengan jelas, dia semakin tersenyum dibuatnya. Farel tentu terkejut bukan main, dia tidak menyangka jika Nana telah menjadi pusat perhatian pria lain.
"Apa kamu mengenalnya secara dekat?"
"Dia anak orang kaya, mana mungkin aku bisa dekat dengannya. Dulu aku adalah anak dari petani teh yang bekerja untuk keluarganya. Jadi sesekali pernah datang ke rumah besarnya itu."
Kini Farel semakin diam dan terjebak dalam banyak asumsi. Mungkinkah pria ini dulu pernah tinggal di Majalengka? Mungkinkah pria ini pernah melihat bagaimana Nana di masa lalu?
Farel harus bisa menenangkan segala kecemasan. Dia tidak boleh gegabah kali ini.
"Aku gak nyangka, dia bisa tumbuh sangat cantik dan menjalani hidup normal," gumam pria itu sambil tertawa kecil.
"Maksud kamu?"
"Ini adalah rahasia diantara kita berdua. Wanita itu dulunya dikenal sebagai anak majikan yang sangat ditakuti semua orang."
"Kenapa harus ditakuti?"
"Dia sangat pendiam, tidak banyak bicara dan sering mengamuk tidak jelas. Banyak rumor yang beredar, kalau anak sekecil itu sering m3nyiksa para pelayan di rumah besar.
Bukan hanya itu, dia sering sekali m3mbunuh hewan ternak para warga, bahkan anak sekecil itu berani untuk m3mbakar gudang penyimpanan teh.
Paling gila nih, para pelayan itu m@ti secara mendadak karena keracunan makanan. Tapi saat itu para warga tidak percaya, tentu saja anak majikan itu yang m3mbunuhnya!!" ucap pria bartender itu dengan wajah penuh kepuasan.
Mendengarnya seakan kepala Farel sedang di sambar petir halilintar. Bahkan Farel tidak sengaja menyenggol gelas hingga jatuh ke atas lantai.
__ADS_1
Farel panik dan mendadak tidak bisa bernapas. Dia tidak ingin mempercayai semua itu. Baginya itu hanya mitos murahan dari kalangan rakyat jelata.