
...Aku mencintai istriku, menerima semua masa lalunya...
...************...
31 April adalah waktu yang sempurna melihat bunga Sakura bermekaran di kota Hakodate, provinsi Hokkaido, pulau paling utara Jepang. Apalagi saat berkunjung ke taman Goryakaku, perpaduan aroma bunga Sakura dan panggangan khas daging domba menarik perhatian Nana dan Farel.
Tempat ini belum terlalu ramai pengunjung karena mereka datang pada pukul 10.00 pagi. Biasanya malam hari akan lebih ramai, karena pepohonan diterangi banyak lampu dan ratusan lentera merah putih disepanjang jalan, membuat pemandangan taman Goryakaku semakin menawan.
Nana dan Farel memilih duduk santai di bawah pohon besar Sakura, sambil melihat menara Goryakaku dari jauh. Jika kita bisa naik ke atas menara itu, akan melihat benteng berbentuk bintang berujung sempurna. Yah, karena taman Goryakaku di kelilingi benteng berbentuk bintang, yang pernah dijadikan pertahanan Jepang bagian utara.
Nana sengaja memilih tempat ini karena dulu ibunya sering mengajak berwisata ke Hokkaido saat musim semi tiba. Ibunya sangat menyukai bunga Sakura dan warna pink merona yang sangat mengagumkan. Ibunya bahkan bercita-cita ingin menanam pohon Sakura di pekarangan rumahnya.
Farel tidak banyak bicara kali ini, dia tahu jika Nana sangat senang melihat pohon Sakura bermekaran. Dia lebih senang menikmati setiap garis wajah Nana yang selalu tersenyum. Bahkan rona pipinya kini menjadi pink merona seperti Sakura.
Selain menikmati udara hangat dan musim semi yang indah, mereka sedang menikmati irisan daging domba yang begitu khas. Farel bahkan memanjakan Nana dengan penuh suka cita, dia sampai menyuapi istrinya itu sampai habis.
Setelah menyelesaikan hidangan, Nana dan Farel memutuskan untuk naik ke atas tower/menara Goryokaku. Mirip seperti Monas di Jakarta, menara ini mempunya sejarah panjang di masa Jepang dahulu. Selain berfungsi sebagai menara observasi, tempat ini menyediakan kafe dan restoran untuk beristirahat.
Farel tak pernah berhenti menggenggam tangan istrinya kemanapun. Siapapun mata memandang akan terlihat seperti sepasang kekasih yang penuh keromantisan. Tidak ada yang bisa mengira, jika besok mereka akan resmi bercerai dan berpisah. Kisah hidup mereka sedikit tragis dan tak biasa.
Di puncak menara tersebut, mereka bisa melihat benteng Goryokaku dan pemandangan kota sekitar. kaca yang besar dan jernih membuat mereka ingin melakukan foto bersama dibalik pemandangan kota Hakodate.
Nana dan Farel tertawa melihat pose mereka yang terlihat lebay. Seperti pasangan bayi yang baru saja lahir, baru menemukan apa arti sebuah kebahagiaan. Setelah jalan-jalan melelahkan di sekitar kota Hakodate, mereka memutuskan untuk menginap di salah satu vila dan resort bintang lima.
Pukul 04.00 sore mereka baru selesai booking salah satu kamar khusus. Kamar yang sengaja menghadap sebuah danau buatan yang terdapat pohon Sakura besar menjulang tinggi. Kamar itu sengaja dipesan Nana, karena pemandangannya yang strategis melihat danau yang jernih.
Ini pun pertama kalinya mereka sudah tak sungkan untuk berbagi kamar. Farel berharap ada kesempatan terkahir yang bisa diberikan oleh istrinya, karena dia tidak mau kamar ini malah menjadi pertemuan terakhir.
*********
Setelah semua pelayat pergi, Agus masih setia berada di depan gundukan kuburan Tania. Dia tak henti menangisi wanita yang sangat ia cintai. Dia kira setelah kehilangan sang ibu, Tania akan menjadi teman sejati dalam hidupnya. Ternyata, tuhan membawanya pergi sangat cepat.
Hidupnya kini seperti jalan tol baru yang tak pernah terpakai. Lengang dan kosong, tidak ada jejak apapun melintas di jalan itu. Dia kehilangan harapan untuk hidup, sekeras apapun mencoba bangkit malah jatuh sedalam jurang neraka.
Kedua orang tua angkat Tania datang menghampiri Agus dari belakang. Mereka seraya memeluk Agus dengan erat, pecahlah tangisan dari orang-orang terkasih. Ayah dan ibu angkat Tania sangat terpukul atas ironi kepergian anaknya.
Setelah melepas Tania untuk selamanya, meninggalkannya sendiri di bawah tanah dan menyatu dengan alam. Agus dan kedua orang tua angkat Tania sengaja untuk berbincang di tempat istirahat. Orang tua angkat Tania ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Agus dengan penuh kejujuran, menceritakan semua kejadian ini dengan apa adanya. Bagaimana awal mula Tania bisa masuk panti asuhan dan bertemu dengan kakak kandung aslinya. Semua fakta itu sangat tersimpan rapih, bahkan orang tua angkat mereka saja tidak tahu apapun.
Mereka selalu mengganggap Tania sebagai anak mandiri, cerdas dan berani. Dia terkenal sebagai pengacara garis keras dan ekstrim membantu rakyat kecil. Tidak ada tersirat satu celah cacat dari dalam hatinya. Bagi mereka Tania adalah anak yang penuh anugerah.
Walau Tania sudah banyak melakukan kesalahan di masa lalu, mereka sebagai orang tua selalu memaafkan anak kesayangan mereka. Bahkan dengan lapang dada, mereka akan terus mencintai Tania layaknya anak kandung sendiri.
Agus sangat bersyukur jika Tania selama ini mendapatkan sosok orang tua angkat yang luar biasa. Kebijaksanaan mereka seperti menampar semua ego dan kebencian terhadap semua orang yang berkaitan dengan kasus ini. Dia ingin seperti mereka, mencoba berdamai dengan kekecewaan.
"Tolong, tangkap pelaku p3mbunuhan yang sesungguhnya. Dia harus menerima hukuman seberat-beratnya," pinta ibu angkat dengan derai air mata.
"Sekarang tim kejahatan serius sedang menuju Jepang dan akan bekerja sama dengan INTERPOL Jepang. Kita doakan saja, jika pemburuan tersangka ini membuahkan hasil," balas Agus penuh keyakinan.
Setelah pulang dari pemakan Tania, Agus ternyata punya kunjungan lain. Dia harus menemui Mawar yang sedang mendapatkan perawatan intensif. Setelah penangkapan ayahnya, ternyata kesehatan Tania semakin menurun.
Karena dianggap belum siap melakukan penerbangan jauh, maka rencana operasi tranplantasi Jantung, ditunda selama satu bulan. Agus berjanji kepada Sugeng, bahwa dia akan merawat dan menemani Mawar sampai operasi transplantasi jantung itu sukses.
Agus merasa punya tanggung jawab moral yang sangat besar terhadap Mawar. Dia bahkan berhutang budi pada anak itu, karena keberaniannya dia ingin memenjarakan ayahnya sendiri. Karena anak inilah Tania bebas dari segala tuduhan, karena kejujurannya dia bisa menyeret Nana sejauh mungkin.
Kini Agus sudah sebatang kara, maka tak sulit untuk menghabiskan waktu dengan Mawar. Apalagi masa hukuman skors selama satu tahun, membuatnya menjadi pengangguran total. Namun baginya ini adalah waktu terbaik yang diberikan tuhan, untuk melakukan intropeksi diri dan penyembuhan luka batin.
***********
Kembali ke Jepang, Nana dan Farel sedang duduk berdua di depan teras depan kamar. Sambil menikmati secangkir madu dan lemon hangat, suasana malam ini terasa lebih syahdu. Mereka banyak berbincang, terkadang saling melempar tawa.
"Apa kau tahu apa yang aku suka dari danau itu?" tanya Nana.
"Entahlah, cuman danau biasa."
"Dulu aku sering menghabiskan waktu dengan ibu berdua disana. Di bawah pohon Sakura, ibu selalu membacakan ku dongeng sambil melihat air danau yang tenang. Suaranya yang lembut, membuat aku sering tertidur," kenang Nana dengan haru.
"Apa kau sedang merindukan ibumu?
"Setiap hari aku selalu merindukan ibuku. Sebenarnya dia wanita bodoh, demi masa depan ku, dia rela mempertahankan harta warisannya dari ayah.
Sampai kebodohannya mengantarkan pada kematian.Padahal, aku lebih baik hidup miskin dan melarat asal ibu bisa selalu bersamaku."
__ADS_1
"Sekarang Nana jangan pernah merasa sendiri, kamu bisa andalkan aku. Percayalah, aku gak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi.
Aku memang pria brengsek dan jahat, tapi apa kamu tidak bisa berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya?" Farel meminta dengan sedikit ngotot.
"Kita akan bercerai besok, surat perceraian itu akan ada saat kamu bangun tidur. Kamu bisa kan melepaskan aku?"
"Gak bisa Na!"
"Kamu harus bisa Farel, diluar sana kamu akan lebih hidup bahagia. Percayalah," bujuk Nana.
"Aku mencintai kamu, sungguh aku benar mencintai kamu. Apa aku harus melepas cinta ini karena diary bodoh itu?"
"Farel, ayo kita tidur. Aku sudah menulis diary itu untuk terkahir kalinya. Jika ada waktu, bacalah..."
Nana segera bangkit dari kursi menuju pintu kamar. Farel menyusul Nana dan menahan langkah istrinya. Dengan segala daya upaya, Farel akhirnya memeluk Nana dengan erat. Dia merapatkan seluruh emosinya dan meleburkan kesedihan atas perceraian ini. Dia sangat menyesal, dia bersalah karena selalu mempermainkan perasaan Nana.
"Tolong, tinggal lah bersamaku, mana mungkin aku bisa berpisah denganmu," ucap Farel dalam tangisan.
Nana tidak menjawab apapun lagi, dia hanya bisa menerima pelukan itu selebar mungkin. Tentu dia harus menenangkan perasaan suaminya yang sudah hilang arah. Nana tidak ingin membuat Farel merasa bersalah, karena semua perceraian ini adalah bagian dari rencananya.
***********
Farel terbangun dari tidur malam yang sangat pulas. Karena semalaman, Nana terus menjaganya agar tidak terus larut dalam kesedihan. Dia menguap dengan lebar, tanganya menggesek bulir air mata. Dia melihat jika Nana tidak ada di kamar.
Dia berpikir mungkin Nana sedang berolahraga di sekitar taman resort. Farel memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri secepat mungkin. Setelah selesai berganti pakaian, dia melihat ada hidangan Sup Miso dan nasi hangat di mejanya. Tak lupa jus Alpukat menjadi pelengkap sarapan pagi.
Farel duduk dan segera menyantap sarapan paginya. Dia melihat ada kertas note kecil tertempel di dekat sup Miso. Ternyata semua hidangan ini Nana yang siapkan, dia bahkan masih peduli padanya.
Namun dia mulai teringat dengan diary yang belum sempat dia baca. Farel lalu mengambil diary nenek sihir itu dan segera membacanya. Sambil menikmati hangatnya Sup Miso, dia membuka lembar terkahir dalam diary tersebut.
Selasa, 31 April 2022
Dear Diary.....
Suamiku, jangan pernah sedih atas perceraian kita. Percayalah, semua ini adalah yang terbaik untuk kita berdua. Perpisahan ini adalah awal yang sempurna untuk membuka hidup baru.
Jangan pernah merasa bersalah pada perceraian ini. Karena sejatinya dia pernah ada dalam hidupku, membuatnya lebih berwarna dan penuh rasa. Sebelumnya hidupku terlalu hancur hanya sekedar membangun perasaan. Namun, setelah bertemu dengan dirinya aku sadar cinta itu ada.
Terimakasih suamiku, aku bahagia dengan pernikahan ini. Aku mencintaimu...
Tak sadar air mata Farel mulai membasahi lembar terakhir diary tersebut. Dia begitu sangat terpukul atas perpisahan ini. Apalagi setelah melihat ada lembar persetujuan perceraian dari Kementrian Agama, yang sudah dia tandatangani. Kini perceraian itu tinggal menunggu sidang pengadilan saja.
Tiba-tiba HP-nya berdering, Farel baru sadar jika selama di Jepang dia tidak melirik HP sama sekali. Setelah menyeka tangisan di sudut matanya, dia segera menjawab panggilan telepon tersebut.
"Halo," ucap Farel dengan suara serak.
"Farel, apa kamu baik-baik saja. Kami akan segera menuju lokasi keberadaan kalian sekarang," ucap Alex tegang.
"Kalian siapa?"
"Kami kepolisian Bareskrim sedang mengincar isteri anda. Seharusnya pak Farel sedang berada di samping Nana?"
"Nana... apa yang terjadi dengan istriku. Dia, sedang tidak ada disini. Sudah lama aku tidak melihatnya dari bangun tidur," balas Farel gelisah.
"Segera cari istrimu sekarang juga!! jangan sampai kamu kehilangan jejak dia!!" Alex berteriak.
Farel langsung menutup panggilan telepon tersebut. Dia dengan panik dan bingung, segera mencari kemana istrinya pergi selama ini. Dia keluar kamar dan menuju tangga bawah. Namun tak sengaja dia melihat ada sesuatu hal aneh di dekat danau.
Farel naik lagi ke atas tangga dan berdiri di depan teras kamar yang langsung menghadap danau. Setelah dilihat lebih dalam lagi, ternyata ada wanita t3rgantung oleh tali yang diikatkan di dahan pohon. Jantung Farel sekian detik berhenti, dia seperti terlempar ke dimensi lain.
Dengan sisa kekuatan yang ada, kakinya yang sudah lemah dan terasa mati rasa. Farel berlarian menuju danau tersebut, ternyata diluar sana semua orang sudah menyadari jika ada yang bvnuh diri di dekat danau tersebut.
Setelah sampai menuju titik danau, betapa terkejutnya Farel melihat dengan sangat jelas, istrinya sendiri terikat tali besar di leher. Tubuh Nana gelantungan dengan wajah yang membiru dan mata tertutup. Dia sudah menjelma menjadi manusia tak bernyawa lagi.
Farel dengan cepat naik ke atas pohon dan melepas tali ikatan di sekitar dahan. Setelah tali itu putus, maka tubuh Nana yang tergantung langsung jatuh dan ambruk ke bawah tanah. Farel langsung turun dari atas pohon dan membuka tali yang melilit disekitar leher Nana.
Dia berusaha menyadarkan istrinya sebisa mungkin, bahkan dia membuat pertolongan pertama dengan melakukan nafas buatan dan menekan bagian dadanya. Farel berharap jika nafas Nana bisa kembali naik. Namun sudah beberapa kali dia mencoba, istrinya sudah tidak bisa diselamatkan.
Farel memeluk tubuh istrinya yang masih hangat, namun nafasnya sudah tidak bisa kembali pada ruh. Farel menangis dan menjerit-jerit, dia terus memanggil nama istirnya dan menyuruhnya untuk bangun.
"Nana... tolong bangun. Tolong jangan tinggalkan aku seperti ini...."
"Na, kenapa kamu pergi seperti ini!! Na.. Na.. ayo bangun! Semua ini salah Farel, maafkan aku. Tolong bangun...." rengek Farel.
__ADS_1
Ditengah isak tangis Farel, memeluk istrinya begitu sangat erat. Tim kejahatan serius dan polisi Jepang sudah berada di sekitar danau. Mereka datang terlambat, semua sudah sia-sia. Pelaku p3mbunuhan yang mereka incar kini memilih untuk pergi dengan cara bvnuh diri.
Alex tertegun dan merasakan kesedihan, bukan karena melihat ada yang bvnuh diri. Dia sedih karena Farel, pria itu masih saja setia berada di samping istrinya sampai nafas terakhir. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Farel, menyaksikan istrinya ma@ti di depan matanya sendiri.
Kini kasus itu selesai, polisi tentu tidak bisa menghukum seroang pelaku p3mbunuhan berantai yang sudah menjadi mayat. Namun Alex percaya akan adanya pembalasan dari tuhan yang lebih kejam. Dia hanya manusia biasa, polisi hanya sebuah organisasi penuh kekurangan.
Namun tidak dengan hukum tuhan, semua akan sesuai dengan rencana-nya. Alex sudah melepas kasus ini, dia harus segera membawa mayat itu pulang ke tanah air.
*************
...Tiga Tahun kemudian...
Mawar yang sudah tumbuh dewasa dan lebih sehat di usia yang mencapai 21 tahun. Setelah operasi tranplantasi jantung berhasil, dia kini mempunyai harapan hidup lebih panjang. Karena ayahnya sudah menerima hukuman di penjara, dia hidup mandiri dengan bekerja full time di sebuah cafe.
Dengan penuh semangat dan hati yang riang, dia melayani para pembeli. Dia bergerak begitu cekatan seperti anak kecil yang baru belajar jalan. Pintu cafe terbuka, dia melihat ada anggota polisi berjalan masuk menghampiri meja kasir.
Mawar tersenyum lebar melihat Agus datang tiap hari ke cafe-nya. Dia tak pernah absen untuk makan dan minum di tempat dia bekerja. Mawar keluar dari bench dan berjalan menghampiri pria itu.
"Kakak, apa kamu tidak dimarahi oleh bos mu yang galak itu? Masa setiap hari mampir kesini terus," omel Mawar dengan cemberut.
"Aduuh.. adik-ku yang cerewet, kamu gak usah banyak komplain sama pelanggan. Cukup bawakan aku segelas kopi Americano dan sandwich tuna. Aku sangat lapar," balas Agus sambil menyentuh dan mengelus kepala Mawar.
"Ok deh, siap pak polisi!!"
Agus memilih duduk di kursi dekat dengan jendela, tampaknya dia sedang menunggu seseorang datang. Dia terus memantau kondisi luar dari arah jendela, menanti mobil yang berhenti tepat di depan parkiran cafe.
Tak menunggu lama, akhirnya mobil ford muncul dari arah kanan dan berbelok menuju parkiran depan. Dia melihat Farel keluar dari mobil itu dengan gayanya yang selalu cool dan tampan. Tidak seperti dirinya yang selalu berpenampilan gembel dan kucel.
Farel membuka pintu cafe dan langsung menyadari kehadiran Agus di pojok sana. Dia melambaikan tangan ke arah polisi itu dengan senyum yang lebar. Setelah saling menyapa satu sama lain, dia ikut duduk di depan Agus.
"Sorry, jalanan macet," ucap Farel santai.
"Gimana besok lapangan futsal sudah siapkan?"
"Tenang saja, aku yang traktir kalian semua nanti. Aku pasti menang kali ini."
"Hahahahaha....mana mungkin pria yang cuman duduk di meja direktur bisa main futsal," ledek Agus girang.
"Tahu aja kamu," balas Farel sambil tertawa terbahak-bahak.
Ditengah percakapan mereka yang sudah terjalin akrab. Mawar datang sambil membawa pesanan Agus. Dia terkejut melihat kedatangan si pemilik cafe tempat dia bekerja.
"Bos, Farel.... Ya ampun kok datang gak bilang-bilang sih. Mau sidak para karyawan lagi kerja ya," gumam Mawar kaget.
"Gak Mawar, paman cuman mau ngobrol santai saja sama kakak-mu."
"Kerja yang rajin dek, jangan mengecewakan paman Farel," sambung Agus.
"Siap dong, Mawar kan sudah janji sama ayah buat bisa hidup mandiri. Pokonya Mawar bersyukur sekali bisa kenal kalian."
Farel dan Agus tersenyum kompak, tentu karena bagi mereka Mawar sudah menjadi bagian. Mereka tidak ingin membiarkan anak itu kesepian ataupun berjuang sendiri. Mereka akan terus menjaga Mawar sampai kapanpun.
"Oh iya bos, mau pesan apa?"
"Sup Miso, nasi putih hangat dan jus alpukat ya," balas Farel.
Mawar mengerutkan keningnya, dia menampakan ekspresi yang aneh. Tentu saja, setiap bos-nya datang mengunjungi cafe, dia selalu memesan ketiga menu itu secara sekaligus. Tidak ada makanan ataupun minuman lain yang dilirik Farel, hanya tiga sajian itu menjadi favoritnya.
"Maaf ya bos, tahu sendirikan ini cuman cafe biasa. Bukan restoran Jepang, kalau bos mau makanan itu, bisa ko Mawar pesankan online."
Agus memberikan kode kepada Mawar untuk tutup mulut. Dia bahkan melototi anak bawel itu dengan kesal. Dia menyuruh Mawar untuk diam saja dan tidak banyak protes.
"Dek, masa melayani bos kaya gitu. Sudah saja buatkan Sup Miso sesuai permintaan Farel. Gitu doang ko repot," sambung Agus melerai kebodohan Mawar.
"Bisa kan?" tanya Farel meyakinkan.
"Ya bisa dong bos, pokonya jangan kuatir. Bos mau pesan seribu kali pun akan Mawar buatkan khusus. Ok, Mawar tinggal dulu ya."
Mawar membalikan badan dan berjalan kembali menuju dapur. Namun pikirannya masih mengganjal, karena tingkah Farel yang tidak berubah sama sekali. Bagaimana tidak, sejak awal cafe ini berdiri, Farel selalu saja meminta sup Miso tanpa merasa bosan.
...TAMAT...
...Sabtu, 11 Juni 2022...
__ADS_1
...written by Rima.R...