
Nana berjalan dari arah dapur sambil membawa nampan berisikan tiga cangkir teh hangat. Tentu dia harus menyambut tamu tak terduga sepulang dari perjalanannya ke Lombok. Di sana ada Alex dan Agus duduk berdempetan dengan wajah ramah tamah.
Tidak ada Farel yang menemani, dia beralasan harus banyak menyelesaikan tugas kantor di kamarnya sendiri. Padahal sebenarnya dia sedang dirundung kegelisahan dan ketakutan. Namun Nana begitu sangat santai menghadapi kedua polisi tersebut.
Setelah minuman teh itu disuguhkan dengan baik, barulah Agus membuka percakapan dari tujuan pertemuan ini. Agus menjelaskan jika dia hanya ingin menanyakan beberapa hal terkait untuk kasus yang sedang mereka tangani.
Pertama Agus menjelaskan jika dia ingin menanyakan seputar restoran yang pernah dia kelola sejak 8 tahun yang lalu. Dimana restoran tersebut pernah menjadi tempat bekerja salah satu karyawan yang sedang mereka selidiki.
Agus memberikan satu lembar kertas foto Firman yang sedang bekerja di restoran Bali Tropical. Agus hanya ingin menanyakan lebih lanjut apakah dia mengenal lebih jauh pria ini.
"Aku merintis Bali Tropical sejak tahun 2014, saat itu aku masih mengelola 2 cabang saja. Karena saat itu aku masih terjun ke restoran, tentu aku tahu semua karyawan yang bekerja di sana," jawab Nana sambil menyeruput teh.
"Oh begitu, tentu itu akan sangat membantu kami," balas Alex sedikit sungkan.
"Seingat ku pria ini adalah Firman, staf kebersihan restoran cabang kedua. Dia hanya lulusan SMP dan bekerja sangat rajin. Itu saja yang hanya aku tahu."
"Lalu apa kamu tahu kenapa dia hanya bekerja selama satu tahun?"
"Mmmmm... entahlah, aku tidak tahu untuk masalah itu. Sorry..."
Alex kembali menyerahkan kertas foto Firman dan Siska sedang merangkul satu sama lain. Agus tentu ingin menanyakan apa Nana tahu apa hubungan kedua orang ini. Karena ada yang mengatakan jika Siska sering datang ke restoran saat malam hari.
Nana mulai tersenyum melihat foto itu, sepertinya dia mulai mengingat sesuatu.
"Wanita ini adalah pacar Firman. Tentu aku sering bertemu dengannya saat restoran akan tutup. Dia baik hati dan sangat ramah pada semua orang.
Wah.. pertanyaan kalian membuatku mendadak mengingat masa lalu yang manis," balas Nana sambil tertawa tipis.
Alex dan Agus mengangguk paham, setidaknya mereka sudah mendapatkan satu informasi penting. Namun masih banyak sekali yang masih ingin mereka ketahui.
Selanjutnya Alex memberikan 7 kertas foto berisikan gambar korban lainnya. Ketujuh foto tersebut adalah korban setelah Firman tewas. Tentu mereka adalah korban pembunuhan berantai 7 tahun lalu di Jakarta.
Tiba-tiba saja Alex ingin melihat ekspresi Nana setelah melihat ketujuh foto tersebut. Dia ingin meninjau apakah ada koneksi dari pemilik restoran tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak tahu mereka siapa. Bahkan mereka bukan pelanggan restoran Bali Tropical," jawab Nana santai.
"Kenapa anda bisa tahu?" tanya Alex.
"Orang-orang miskin dengan hidup penuh penderitaan seperti mereka tidak mungkin bisa makan di tempat semahal ini."
Alex tertegun mendengar jawaban dari Nana, terdengar seperti jawaban umum namun terlihat klise untuk situasi seperti ini. Alex tiba-tiba melihat kalung kupu-kupu yang melilit di leher Nana. Dia mulai sadar, jika kupu-kupu terlihat sangat tidak asing baginya.
Alex akhirnya meminta izin untuk pergi ke toilet. Setelah masuk dan mengunci pintu dia lalu mengeluarkan HP dalam saku celananya. Dia kemudian melihat laporan investigasi dan membandingkan dengan tato kupu-kupu milik Siska.
Betapa terkejutnya Alex, tak kala berhasil mencocokan kedua gambar tersebut begitu sama persis. Namun masalahnya dia belum tahu kapan dan dimana Nana bisa membuat kalung seperti itu.
********
Setelah kembali dari rumah Nana, mereka berdua sudah berada di kantor. Alex nampaknya tengah melamun banyak hal, dari tadi dia hanya diam dan terus diam. Agus tentu menyadari perubahan tersebut, dia merasa jika bosnya itu sedang tidak beres.
Alex akhirnya mengumpulkan semua tim kejahatan serius secara mendadak. Dia ingin menyampaikan banyak hal, tentu itu harus dia sampaikan. Setelah semua berkumpul dan duduk secara melingkar barulah Alex mulai membuka rapat.
"Menggabungkan kasus pembunuhan 7 tahun lalu dengan sekarang cukup sulit, kita harus tahu apa pola tersembunyi yang sebenarnya telah kita lewatkan selama ini.
Wajah Agus menohok, karena dengan kasus ini dia harus menyelidiki Nana. Dia harus menyampingkan segala urusan pribadi dengan tetangganya itu, apalagi Ibu Surti sangat menyukai Nana. Dia harus profesional dalam melakukan pekerjaannya.
"Tapi kenapa harus restoran tersebut? jika ditinjau kembali, restoran tersebut tidak memiliki banyak hubungan dengan 7 korban lainnya.
Mungkin saja ini hanya sebuah kebetulan belaka. Karena Firman pernah bekerja disana dan Siska pernah menjalin hubungan dengannya. Ini bukti yang sangat lemah," ucap Bima sambil mengayunkan pulpen.
"Betul, terlalu jauh kita harus mencurigai restoran bereputasi sebaik itu. Apalagi kita harus menyelidiki anak konglomerat," keluh Radit pesimis.
"Makanya kita harus selidiki restoran tersebut sampai benar benar keluar dari kecurigaan. Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi, seharusnya kita sudah menangkap penjahat itu sedini mungkin!!"
Pada akhirnya semua harus menuruti perintah Alex. Penyelidikan mulai dibagi tugaskan untuk setiap orang. Seperti Radit yang harus melakukan wawancara dengan pegawai restoran yang pernah bekerja sama dengan Firman.
Karina ditugaskan untuk mencari kegiatan operasional restoran selama 8 tahun terakhir dan Bima ikut andil menyelidiki latar belakang pendiri restoran Bali Tropical.
__ADS_1
Semua sudah mendapatkan tugas masing-masing kecuali Agus. Dia malah disuruh Alex untuk berbicara empat mata dengannya.
******
Seperti biasa, Alex dan Agus selalu menghabiskan waktu berdua di atap gedung untuk sekedar merokok. Entah apa tujuan Alex menyuruhnya untuk berbicara empat mata, tentu itu bukan sesuatu hal yang biasa.
Mereka terus memandangi langit Jakarta yang begitu tenang. Mereka hanya sibuk dengan urusan rokok masing-masing.
"Penyelidikan ini ternyata lebih sulit daripada yang kita duga, terutama kamu Gus."
"Aku tahu. Tidak mudah harus menyelidiki wanita yang sangat dekat dengan ibuku sendiri, bahkan kami bertetangga begitu dekat," balas Agus berwajah lesu.
"Aku punya kecurigaan khusus dengan Nana, wanita itu terlalu menarik perhatianku."
"Kenapa?"
"Kamu harus mendengar ini baik-baik. Pertama sebagai orang yang ditanyai banyak pertanyaan oleh polisi, diberikan banyak foto orang yang berbeda, dia sama sekali tidak menunjukan reaksi ingin tahu.
Menurut pengalamanku, hampir semua orang yang berada diposisi itu selalu ngotot menanyakan siapa mereka? apa hubungannya denganku? apa mereka mati? apa dia baik-baik saja? apa dia buronan polisi?
Tapi lihat reaksi Nana selama kita memberikan interview. Dia terlihat sangat tenang, seakan akan dia sudah tahu siapa mereka dan apa yang telah terjadi dengan mereka."
"Apakah hanya alasan itu saja kamu mencurigai tetanggaku sendiri?" tanya Agus ngotot.
Alex menghela nafas yang sangat panjang, tentu sangat sulit menjelaskan pada Agus. Dia sudah mengenal Nana cukup dekat, ada ikatan diantara mereka yang harus dinetralkan.
Dia kemudian menyerahkan sebuah gambar di galeri HP. Alex memperlihatkan tato kupu-kupu Siska yang berada di area punggung. Dia menjelaskan jika tato kupu-kupu ini adalah desain Siska sendiri.
Desain tato kupu-kupu itu sangat rahasia dan jarang orang ketahui kecuali para pelanggan hidung belang. Namun dia menemukan Nana memakai kalung berbentuk kupu-kupu sama persis dengan milik Siska.
"Bos tahu sendiri kan, berkat media masa semua orang tahu jika korban terkahir mempunyai tato yang khas. Itu sudah bukan hal private lagi," sanggah Agus.
"Ok, maka dari itu aku butuh kamu sekarang. Kamu selidiki kapan dan dimana kalung itu dibuat. Kita butuh data dan fakta agar bisa menyingkirkan berbagai kecurigaan!"
__ADS_1
Agus kesal bukan main, dia mengacak-ngacak semua helai rambutnya. Dia malah tidak ingin terlibat dalam penyelidikan ini, terlalu berat.
Namun mengingat banyak sekali korban yang berjatuhan dan dia adalah seorang polisi. Semua kebimbangan yang terusik dalam hatinya harus ia jauhkan. Ini demi kebaikan semua orang.