
Peringatan : (21++++) Bijaklah dalam membaca, part ini mengandung adegan kekerasan yang tidak patut untuk dicontoh. Novel ini hanya fiksi, tidak ada sangkut paut dengan kehidupan real penulis.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Agus dan tim kejahatan serius sudah berkumpul di satu titik yang telah Imin tentukan. Sebuah mall cukup elite di kota Bekasi. Mereka berkumpul dan berdiskusi bersama di sebuah restoran lantai paling atas.
Sebelumnya Imin bercerita, bahwa dia telah mendapatkan pekerjaan baru sebagai cleaning Service di mall ini. Ketika hendak berjalan turun menuju eskalator, dia tak sengaja berpapasan dengan seorang wanita berbau mint yang sangat menyengat.
Bau khas itu tentu sangat dia ingat dan sulit untuk dilupakan. Dia dengan refleks mulai mengikuti kemana wanita itu pergi dan berkahir di sebuah restoran Jepang.
Melihat ada peluang untuk mengamati lebih jauh, Imin tanpa pikir panjang langsung menelepon polisi. Dia ingin sekali meminta bantuan polisi untuk menangkapnya, karena dia yakin bau khas mint itu milik si wanita bertudung hitam.
Alex langsung memerintahkan Radit dan Karina untuk berjaga-jaga di luar restoran. Sedangkan Bima bertugas untuk memberitahu pihak restoran jika mereka harus bekerja sama. Alex dan Agus yang akan masuk menuju meja wanita tersebut.
Setelah tugas diberikan, mereka segera bergegas dan berada di posisi masing-masing. Alex dan Agus masuk ke dalam restoran Jepang tersebut, mereka lalu mencari wanita dengan ciri-ciri yang telah dijelaskan.
Alex akhirnya melihat ada satu wanita yang sedang duduk di pojok meja. Dari belakang wanita itu berambut panjang lurus, menggunakan kemeja kuning polos. Tubuhnya terlihat ramping dan sehat, dia jauh dari kesan seorang pembunuh.
Mereka berdua sepakat untuk mendekati wanita itu secara diam-diam. Saat akan mencapai posisi wanita itu duduk, Agus dengan jeli melihat wanita itu mengeluarkan sebilah pisau dan palu dari dalam tas.
Langsung saja, Agus dengan cepat meraih tangan wanita itu dan mencengkeramnya dengan sangat erat. Betapa terkejutnya Agus saat melihat paras wanita itu, ternyata bukanlah Nana seperti yang dia bayangkan.
Wanita itu terkejut dengan kehadiran dua pria asing berwajah menyeramkan. Sedangkan dia sama sekali tidak bisa melawan. Dia hanya bisa bingung dan keheranan.
"Siapa kalian?"
"Maaf anda harus ikut kami ke kantor polisi, karena kepemilikan senjata tajam," balas Alex.
"What? polisi!!!" teriak wanita itu histeris.
************
Dua jam lamanya wanita itu di interogasi, ternyata semua kesaksian Imin dan usaha polisi sia-sia. Setelah melakukan rekap data dan informasi pribadi, wanita itu bernama Stevia, seorang seniman pemahat patung batu keturunan Indo - Jerman.
Tentu saja setiap kali ditanya tentang pisau dan palu, Stevia bersikeras bahwa kedua benda tersebut adalah alat yang digunakan untuk pekerjaannya memahat batu. Dia bahkan tidak tahu apa-apa tentang kejadian pembunuhan berantai di Bekasi.
Setelah mengecek data imigrasi, Stevia sudah berada satu tahun di Jerman. Baru tiga hari yang lalu balik ke Indonesia, karena harus mengadakan pameran di balai Seni Bekasi. Maka alibinya sangat kuat dan tak terbantahkan lagi.
Polisi tidak punya alasan lagi untuk menangkap Stevia. Selain memalukan, tindakan mereka yang terlalu memaksa Stevia masuk kantor polisi dianggap gegabah. Maka dari itu dengan segala hormat, Alex terus meminta maaf atas kesalahannya.
Namun Imin tidak pernah menyerah, dia ngotot menyatakan jika parfum mint yang Stevia pakai sangat mirip. Hal itulah yang membuat Agus penasaran dengan jenis parfum yang Stevia gunakan.
Dengan senang hati dia menjelaskan, jika parfum mint yang sedang ia gunakan merupakan hadiah dari salah satu klien. Parfum itu umum digunakan oleh orang-orang kaya. Karena rata-rata semua klien-nya berasal dari kalangan atas.
Jelas itu menguatkan asumsi jika wanita berkudung hitam berasal dari kalangan atas. Beruntungnya, Stevia membawa botol parfum itu di dalam tasnya. Dia menyerahkan kepada polisi untuk segera ditindak lanjuti.
Alex berjaga-jaga mengeluarkan sebuah kertas foto Nana, dia ingin Stevia melihat wajah Nana. Lantas Stevia tersenyum tak kala memandang foto itu, seperti tak asing lagi di matanya.
__ADS_1
"Apa polisi Indonesia seorang dukun?" tanya Stevia tertawa.
"Maaf, maksud anda apa?" tanya Alex bingung.
"Dari mana kalian tahu, kalau klien ini lah yang memberikanku parfum mint ini."
Sontak saja wajah Agus dan Alex melotot dengan lebar. Perkataan Stevia seperti sengatan ribuan lebah mematikan.
"Apa anda yakin?"
"Kalian tahu, sponsor terbesar pameran kali ini berasal dari nona Diana. Aku pernah bertemu dengannya saat di Amerika, dia sangat loyal dengan semua hasil karyaku."
"Diana?" tanya Agus heran.
"Masa kamu gak tahu Gus nama asli tetangga kamu sendiri. Nana itu hanya nama panggilan," timpal Alex.
Tiba-tiba HP Agus berbunyi, ternyata ibu Surti melakukan panggilan telepon. Namun karena dia terlalu sibuk dengan interogasi, dia malah menolak panggilan dari ibunya sendiri.
**********
Di jam yang sama, sekitar pukul 03.00 sore. Tiba tiba hujan turun dengan sangat lebat. Langit berubah menjadi mendung dan tidak bersahabat.
Ibu Surti sudah terlanjur sampai lingkungan kumuh, tempat dimana banyak sekali praktek judi sabung ayam. Dengan susah payah, Ibu Surti berjalan hati-hati sambil menutupi dirinya dengan sebuah payung.
Tempat ini biasanya ramai sekali dengan kumpulan manusia bar-bar. Dikarenakan hujan turun begitu lebat, mendadak sepi dan lengang. Bahkan Ibu Surti tidak melihat seekor kucing liar sekalipun.
Ibu Surti sedikit heran, karena ini tidak seperti biasanya Jono mengabaikan para ayam tersebut. Karena dia tahu ayam tersebut sangat berharga melebihi keluarganya sendiri. Tapi dia menghiraukan hal tersebut, langkahnya segera masuk melewati pagar kayu depan rumah.
Betapa terkejutnya dia saat melihat pintu terbuka begitu saja. Ditambah jejak sepatu berlumpur yang mengotori ubin depan rumah. Ibu Surti segera menutup payung dan masuk kedalam rumah kontrakan.
Suasana rumah masih terlihat rapih seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari sang pemilik rumah. Ibu Surti berjalan mengendap-ngendap masuk ke dapur dan kamar mandi. Hanya saja dia belum menemukan adiknya berada.
Dia langsung mengira jika Jono masih tidur di dalam kamar, dia berjalan ke arah kanan dan membuka tirai kain penutup pintu. Namun bukanya melihat sang adik terlelap, dia malah melihat ada orang asing berdiri di depan kasur Jono.
Ibu Surti melihat orang itu berpakaian serba hitam dengan sepatu boots karet. Kepalanya tertutup tudung hitam dengan perawakan tidak terlalu tinggi. Tangan kanannya sedang memegang sebuah palu godam besar dengan cipratan d*rah.
Dia melihat orang asing itu mengayunkan palu ke arah kepala Jono yang sudah bersimbah d*rah. Jono dengan posisi tengkurap, sudah tidak bergerak sama sekali. Betapa terkejutnya Ibu Surti melihat adiknya ma ti mengenaskan ditangan seorang p3mbunuh asing.
Untungnya Ibu Surti tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun. Jadi p3mbunuh masih belum menyadari keberadaan nenek tua itu. Langsung saja Ibu Surti berbalik arah dan buru-buru bersembunyi di dalam lemari kamar satunya lagi.
Dia dengan tangan gemetar lalu mengeluarkan HP di dalam tas kecilnya. Dia langsung teringat Agus dan melakukan panggilan telepon untuk anaknya itu. Sialnya, Agus tidak menjawab panggilan telepon tersebut.
Berulang kali dia mencoba menelepon anaknya, Agus sama sekali tidak bisa diandalkan dalam situasi gawat darurat seperti ini. Bukanya mencoba bersikap lebih tenang, Ibu Surti semakin panik tidak karuan. Sampai HP itu jatuh ke bawah dan mengeluarkan sebuah suara kencang.
P3mbunuh bertudung hitam mendengar suara benda jatuh dari arah luar. Dia lalu menghentikan tindakan brutal tersebut, kemudian p3mbunuh itu memilih berjalan keluar kamar dan mencari sumber suara.
Dia lalu membanting semua perabotan rumah dengan palu, tentu hal itu makin memperburuk suasana. Ibu Surti tambah takut dan sudah tidak bisa bertindak apapun lagi. Wanita tua itu hanya bisa diam dan menahan gertakan mulut karena saking takutnya.
__ADS_1
Masalahnya, Ibu Surti sudah tua renta. Dia malah pipis dan mengeluarkan banyak cairan urin dari celananya tersebut. Air urin itu bahkan keluar dari celah lemari bawah yang sudah bolong.
P3mbunuh menyadari jika ada air rembes keluar dari salah satu lemari. Dia yakin jika ada orang lain yang bersembunyi di dalam lemari tersebut. Dia berjalan dengan pelan, sambil menyeret palu besar itu ke alas lantai.
Betapa terkejutnya ibu Surti melihat pintu lemari itu sudah terbuka. Dia dengan jelas melihat p3mbunuh itu sedang berdiri di depannya. Dia sudah berada di titik ketakutan yang luar biasa.
P3mbunuh itu tersenyum dengan ketir, melihat hanya seorang wanita tua pengganggu yang sudah mengacaukan segalanya. P3mbunuh itu lalu menurunkan tudung dari kepalanya dan sengaja ingin memperlihatkan wajah dia sesungguhnya.
Mendadak wajah Ibu Surti pucat pasi seperti zombie, mulutnya menganga dan kedua bola matanya melotot hampir keluar. Ibu Surti sudah melihat dengan jelas siapa wanita yang telah m3mbunuh Jono dengan kejam.
"Kenapa kamu tega m3mbunuh Jono Hah!!!" teriak Ibu Surti lantang.
"Karena manusia seperti dia harus dimusnahkan," jawab p3mbunuh itu datar.
"Dasar wanita berhati iblis. Tempatmu berada di neraka, sebaiknya kamu minta pengampunan tuhan dan serahkan diri ke polisi."
"Hahahahaahahahaha..." p3mbunuh itu malah tertawa terbahak-bahak.
Dia lalu menyeret Ibu Surti keluar dari dalam lemari, tubuhnya yang sudah lemah hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu. Kini dia duduk lunglai di lantai ruang tengah. Wanita tua itu tidak menangis, rasa takutnya tiba-tiba hilang.
P3mbunuh lalu menutup pintu dan menarik tirai jendela kesamping. Kini rumah kontrakan sudah tertutup dari pandangan orang luar. Yang ada hanya mereka berdua saja, saling menatap satu sama lain.
"Jangan berani sakiti anakku, jangan sentuh dia sedikit pun!!" ancam Ibu Surti.
"Memohon lah padaku, seperti kamu menyembah tuhanmu sendiri. Kamu bisa bersujud padaku sambil berkata tolong jangan bvnuh aku!"
"Aku tidak sudi, kamu bukanlah siapa-siapa. Mana mungkin manusia bisa memohon pada seorang monster menjijikan seperti itu!!" Ibu Surti tak gentar melawannya.
Pembunuh tersenyum tipis, dia merasa jika wanita tua ini menyebalkan dan banyak sekali mengomel. Padahal dia ingin memberinya kesempatan hidup, namun dia dengan bodoh malah menolak itu.
"Ini kesempatan terkahir, memohon dan sujud padaku, katakan bahwa kamu tidak ingin aku bvnuh. Sekarang akulah yang berkuasa disini, aku yang berhak menentukan apa wanita tua sepertimu m@ti atau tidak," ucapnya dengan tenang.
"Bvnuh saja aku!! Aku tidak takut m@ti hanya karena palu itu!!!" teriak Ibu Surti begitu lantang.
"Aaah... sayang sekali."
P3mbunuh itu langsung menyeret palu godam dan mengayunkannya langsung menuju atas kepala Ibu Surti. Hanya dalam satu pukulan saja, wanita itu terkapar dengan cipratan d*rah yang menyembur.
Bruuuuk!!!!
Tengkorak kepala yang sudah rapuh termakan usia, kini tinggal tulang belulang yang remuk. Tidak usah mengeluarkan banyak tenaga untuk menghabisi nyawa wanita usia 68 tahun tersebut.
Ibu Surti sudah kehilangan nyawa, dia lebih memilih untuk mati di tangan sang p3mbunuh berantai. Sedangkan p3mbunuh itu langsung mengeluarkan sebuah p!sau kecil, lalu m3nguliti kulit dahi Ibu Surti dengan ujung p!sau tersebut.
Kulit itu t3rkelupas dan mengeluarkan banyak d*rah. Pembunuh itu sengaja ingin memberikan tanda X di dahi korban. Entah apa tujuannya, namun membuat pembunuh itu sangat senang. Dia bahkan tertawa terpingkal-pingkal, sampai air mata keluar dari sudut matanya.
Ini adalah akhir hidup seorang wanita tua yang tragis. Ibu Surti m@ti ditangan wanita yang tentu ia kenal. Bahkan dia tidak sempat mendengar suara Agus untuk terakhir kalinya lewat panggilan telepon tadi.
__ADS_1
.