
...Dengan hanya melihatnya saja...
...*Saat itu aku tahu jika wanita itu seorang Pel*cur*...
...**********...
Semenjak bertemu dengan si anjing gila, Agus dipaksa untuk berkonsentrasi pada semua berkas proses investigasi. Dia lebih senang menghabiskan waktu dan mengurung di kamar untuk membaca setiap detail pe*mbunuhan sejak tahun 2015 silam.
Agus membuat sebuah rangkuman hasil investigasi berupa sketsa di sebuah papan besar. Dia berusaha untuk lebih detail dan tidak sedikitpun kehilangan secuil informasi. Bahkan Agus terus mengumpulkan berita & artikel cetak maupun online terkait kasus ini.
Agus mengaitkan banyak pola p*mbunuhan yang sama dari kedelapan kasus yang pernah terjadi. Hal pertama yang paling menonjol dari kesembilan kasus itu adalah penggunaan s*njata p*mbunuhan yang sama. P*mbunuh menggunakan sejenis palu godam cukup besar berukuran 6 kg.
Hal kedua yang saling berkaitan adalah latar belakang korban yang sama. Kedelapan korban berasal dari perantauan luar daerah. Mereka ada yang menjadi tunawisma, tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak mempunyai pekerjaan tetap.
Hal ketiga mempunyai ciri yang sama namun cukup aneh. Keenam korban tersebut selain dib*nuh secara keji, salah satu anggota tubuh mereka hilang. Korban pertama kehilangan dua bola mata, korban selanjutnya ada yang kehilangan k*maluan ( p*nis), kehilangan telinga kiri, kehilangan dua gigi depan, kehilangan ibu jempol kaki kanan, dan terakhir kehilangan lima jari tangan kiri.
Semua jasad korban di temukan secara acak, lokasi keenam korban tersebar di seluruh Jakarta. Dengan waktu kematian di malam hari sekitar 10 - 12 malam. Terdapat dua saksi mata yang pernah melihat p*mbunuh secara tidak sengaja.
Mereka memberikan kesaksian sama dengan deskripsi pelaku. Mereka menyebutkan bahwa saat itu melihat ada orang asing memakai jas hujan hitam dan sepatu boots karet merah.
Tinggi badan sekitar 168 cm, berat badan sekitar 45-50 kg. Bahu yang sedikit menurun kebawah dan langkah kaki yang terlihat tidak nyaman dengan sepatu boots kebesaran. Ukuran sepatu boots adalah 42.
Sedangkan wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena sudah larut malam, namun mereka meyakinkan jika warna merah bibir orang itu sangat mencolok.
Walau ada dugaan pelaku memakai lipstik, namun penyidik belum memastikan apa itu di gunakan oleh seorang wanita. Karena bisa jadi pelaku adalah pria yang mencoba mengecoh penglihatan, lipstik menonjol bertujuan agar terlihat seperti wanita.
Sehingga masih belum bisa diidentifikasi secara pasti apa p*mbunuh itu dilakukan oleh wanita atau pria. Namun yang pasti hanya 3 ciri ciri itu yang masih polisi simpan
Agus tentu belum merasa puas, banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab kan. Salah satunya termasuk motif dan psikologi forensik dari pelaku p*mbunuhan.
Agus kembali melihat deretan foto foto saat TKP berlangsung. Dia terus membandingkan keenam foto secara bersamaan, dia ingin mencari kesamaan yang mungkin saja terlewati.
Tiba tiba mata Agus melihat sesuatu hal yang cukup ganjil namun menganggu pikirannya. Dia mendapati jika terdapat sebuah ketidaksengajaan atau memang direncanakan.
Dari jepretan kamera TKP yang berhasil tim forensik kumpulkan, para m*yat tergeletak di dekat sebuah nomor misteri. Sebuah nomor urut yang terlihat ditinggalkan oleh pelaku.
__ADS_1
*******
Siang harinya Agus sedang berada di Bareskrim. Dia menunggu detektif Alex di depan ruang kepala divisi kriminal. Cukup lama Agus berdiam diri, bahkan dia sempat ingin menguping obrolan para senior itu.
Namun niatnya batal tak kala Alex segera keluar dari arah pintu. Agus melihat jika dia berjalan mengabaikannya sambil membawa sebuah kertas di tangan.
"Pak Alex, kita harus bicara," ucap Agus setengah berteriak sambil menyusul langkah Alex.
Alex berhenti dan membalikan badannya. Kini dia melihat anak kurus itu berlari menghampirinya dengan wajah gelisah.
"Cepat juga kau kembali, apa kau sudah mendapatkan jawaban nak?" tanya Alex dengan santai.
"Semua analisis pak Alex memang betul, dua kasus di Bantar Gebang seperti berkaitan dengan p*mbunuhan 7 tahun lalu. Dari jenis senjata p*mbunuhan, latar belakang para korban dan kebiasaan unik pelaku memperlakukan tubuh korban," jelas Agus dengan hati hati.
"Hanya itu saja? tidak ada hal baru yang kau berikan untuk penyidikan?" tanya Alex dengan wajah penuh tekanan.
"Aku tidak yakin pak, hanya saja ini cukup menggangguku," jawab Agus dengan wajah tidak percaya diri.
"Apa itu?" tanya Alex dengan wajah jutek.
"Sepertinya laporan investigasi yang pak Alex berikan pada saya, melupakan sesuatu yang tertinggal di TKP," jelas Agus dengan wajah berani.
"Sesuatu?" tanya Alex kembali dengan dahi mengkerut.
Cepat Agus segera mengeluarkan HP dan menyerahkan tepat di depan Alex. Dengan cekatan Agus menjelaskan bahwa dia sudah merangkum enam foto TKP berbeda yang sempat terabaikan.
"Setiap korban mendapatkan sebuah tulisan sesuai nomor urut pembunuhan. Tulisan kecil itu terdapat di setiap benda terdekat dengan korban di temukan.
Sama halnya dengan p*mbunuhan di Bantar Gebang, nomor 7 ditemukan di salah satu ujung gerobak sampah. Untuk korban anak punk, nomor 8 ditemukan tertulis di belakang jaket yang sedang ia kenakan," jelas Agus kembali.
Sesaat Alex memperhatikan seluruh detail gambar itu. Namun nampaknya dia tidak setuju dengan penemuan terbaru Agus. Wajahnya kembali mengkerut dengan kesal.
"Jadi kamu pikir akan ada korban nomor 9 nantinya? kamu berharap p*mbunuh itu meninggalkan jejak konyol itu hah!" sentak Alex dengan geram.
"Tapi itu faktanya pak, aku yakin ini bukan kebetulan. Pelaku sengaja memberikan nomor secara berurutan," sanggah Agus tidak mau kalah.
"Kamu pikir sedang menulis sebuah novel apa!! kau lihat kertas ini? kejaksaan telah melimpahkan kasus Bantar Gebang ke tim kejahatan serius Bareskrim.
Sekarang kamu tidak berhak lagi menginvestigasi dan kamu tentu tidak layak masuk tim ini, paham?" gertak Alex tidak main main.
Setelah perdebatan kecil itu usai, Alex memilih untuk mengabaikan kehadiran Agus. Dia terus melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Agus begitu saja.
Sedangkan pikiran Agus tambah runyam dan kusut. Dia tidak habis pikir jika temuan terbarunya malah membuat Alex marah besar. Padahal dia masih berharap jika si anjing gila itu bisa sedikit mendengarnya.
********
__ADS_1
Sore hari mereka sudah kembali menuju kota Bekasi. Kali ini Farel memutuskan untuk mengendarai mobil dari Majalengka. Sedangkan di sampingnya, Nana malah tidur dengan suara ngorok.
Karena terlalu lelah dalam perjalanan, Farel memutuskan untuk memarkirkan mobil ke depan salah satu mini market. Dia membangunkan Nana dan bertanya apa dia mau sesuatu.
"Belikan aku susu pisang," pinta Nana sambil menguap lebar.
"Emangnya ada?" tanya Farel tidak yakin.
"Ado ko, cari saja Rel," jawab Nana dengan wajah malas.
Barulah Farel keluar dari mobil sedangkan Nana memilih untuk diam saja di dalam mobil. Saat Farel baru saja membuka pintu minimarket, dia tiba tiba di tubruk oleh pria berbadan jangkung dari belakang.
Farel tentu kesal dengan ulah tidak sopan itu, dia kemudian mencari sosok pria jangkung itu di dalam minimarket. Ternyata setelah di telusuri pria itu sedang berdiri di samping rak mie instan. Namun ada yang aneh, ternyata dia sedang mengintip dan memperhatikan seorang wanita di depan kasir.
Ternyata wanita itu sedang memilih beberapa bungkus kond*m di depannya. Saat dia akan membayar dua buah bungkus kond*m ke petugas kasir, mendadak pria jangkung menahan tangan wanita itu.
"Sekarang kamu berani selingkuh?"ucap pria jangkung itu dengan wajah gusar.
Wanita berbadan ramping itu pun menipis tangan pria jangkung dengan kasar. Dia menatap tajam dan jijik pria yang ada di hadapannya sekarang.
"Berhentilah mengikuti ku, dasar pria sampah!" umpat wanita ramping itu dengan berani.
Sontak saja pria jangkung itu kini di sulut api kemarahan. Tangan kanannya dengan leluasa langsung menampar wajah mulus wanita itu.
Plaaak!!!
Wanita itu langsung menyentuh pipi kirinya dengan perasaan sakit, dia sudah terlihat mengeluarkan bulir air mata. Bukanya takut atau merasa bersalah, pria itu malah bersiap untuk kembali menamparnya.
Namun dengan sigap Farel datang menahan pria gila itu. Dengan sebuah tatapan dingin dan marah, Farel memutarkan pergelangan tangan pria itu sampai terdengar suara gertakan tulang remuk.
"Duuu.. duuu... duuu .. apa apaan ini!" teriak pria jangkung itu dengan cengeng.
"Dasar pria mesum!! beraninya kamu melawan wanita," ujar Farel dengan senyum ketir.
Melihat situasi menjadi kacau balau, wanita ramping itu pun memilih pergi dari depan kasir. Dia keluar dari mini market tanpa sempat membeli kond*m tersebut.
Sementara itu Nana bisa melihat situasi depan kasir dari kaca mobil. Dia hanya tersenyum kecil tak kala melihat Farel dengan berani melawan pria jangkung. Nana tentu menyaksikan wanita itu keluar dari pintu minimarket, bahkan dia sempat menolehkan kepala ke belakang. Nana ingin melihat kemana wanita asing itu pergi.
Wanita itu berjalan kaki dengan uring uringan, dia sangat kesal dan malu tak kala pria yang sangat ia benci selalu saja membuatnya dalam masalah. Bunyi dering dari HPnya terdengar, wanita itu berhenti sejenak dan meraih HP di dalam tas.
"Iya, ini aku bentar lagi sampai hotel," ucap wanita itu mendadak sangat lembut dan menggoda.
"Sebaiknya kamu bawa kond*m sendiri, aku gak sempat beli tadi," ucapnya sedikit kesal.
"Sabar dong, aku pasti datang ke kamar hotel no.9 kan?"tanya wanita itu dengan semangat.
__ADS_1
"Ok, bye...iya iya.. kamar no.9, gak bakal lupa ko," ujar wanita ramping itu sambil menutup telepon dengan buru buru.