31 Hari

31 Hari
Hadiah


__ADS_3

...Saat itu Nana tertawa pada dua hal....


...Berita pembunuhan dan hadiah yang ku bawa....


...Jujur saja.....


...Aku tidak tahu, mana yang sebenarnya membuat dia senang....


...********...


Farel menghentikan mobil tak jauh dari rumahnya. Pikiran dan ketenangan jiwanya tiba tiba menjadi kalut. Dia belum berani untuk bertemu Nana, dia tidak ingin pulang dengan tangan kosong.


Dia keluar dari dalam mobil, lalu berjalan ke arah sebrang. Di sana dia memutuskan untuk berhenti sejenak di depan warung ibu Tini. Dia ingin membeli sebotol minuman dingin, di bukanya pintu showcase.


Tangannya meraih botol Coca Cola, dia lalu membayar sejumlah uang lembar ke pemilik warung. Bu Tini sangat terkejut, karena ini pertama kalinya dia melihat Farel jajan di warung kelontong miliknya.


"Nak Farel, tumben jajan di warung Ibu," ucap bu Tini dengan antusias.


"Cuaca malam ini tumben panas," balas Farel dengan sopan.


Dia lalu duduk di bangku depan warung, di teguk air soda itu langsung dari botol. Hanya dalam sekali tegukan, isi botol itu sudah habis.


Mata Farel hanya memandang dengan tatapan kosong. Dia bahkan dengan cepat melupakan acara ulang tahun Maria. Pikirannya hanya tertuju pada Nana.


Tiba tiba dari arah kanan, datanglah ibu Surti berjalan menghampiri warung kelontong. Dia pun menyapa Farel dengan ramah. Ibu Surti kemudian membeli sejumlah peralatan mandi baru.


"Buat apa sih bu, banyak amat beli sabun mandinya," tanya pemilik warung dengan kepo.


"Gini bu, Agus katanya mau lembur di polsek Bantar Gebang. Ada kasus baru, kata dia sih pembunuhan," jawab bu Surti dengan mimik muka yang resah.


"Aduh, ko bisa? Duh ko akhir akhir ini lingkungan kita jadi gak aman gini ya bu," komentar pemilik warung dengan heboh.


"Ya bu, makanya sekarang harus lebih hati hati. Rumah jangan lupa buat di kunci terus." Ibu Surti memberikan saran sambil memasukan beberapa barang belanjaan ke dalam kantong kresek.


Sementara itu di samping obrolan mereka, Farel hanya bisa mendengar selintas. Saat itu dia cukup menghiraukan apa yang telah ibu Surti ceritakan tentang kasus pembunuhan terbaru.


Tiba tiba di tengah situasi hiruk pikuk obrolan emak emak. Pak Adam teriak kencang dari dalam rumah. Dia membawa gagang sapu dan berlarian menuju warung.


"Aduh ayam goreng di gondol maling lagi!" ucap pak Adam dengan muka panik setengah kesal.


"Loh ko bisa... jangan jangan si kumis itu lagi yang gondol makanan kita lagi pak!" balas bu Tini dengan wajah geram.

__ADS_1


Bu Tini bergegas keluar warung dan merebut gagang sapu dari tangan suaminya. Dia kemudian segera berkeliling ke setiap sudut untuk mencari sosok yang telah mencuri potongan ayam goreng.


Farel baru sadar, jika bu Tini dan suami sedang menyinggung sesuatu yang mereka sebut si kumis. Sontak dia bangkit dari kursi kayu itu, semangatnya tiba tiba muncul.


Dia bergegas menghampiri bu Tini yang masih sibuk dengan gagang sapunya. Farel yakin jika sosok si kumis itu adalah jawaban dia selama ini.


"Bu, mau saya bantu carikan?" tanya Farel dengan penuh keyakinan.


"Nak, bantu ibu sekarang juga! Kamu masih muda, tenaga kamu masih kuat," jawab bu Tini dengan semangat berkobar.


Bu Tini langsung menyerahkan gagang sapu tersebut. Farel langsung memegangnya dengan sangat erat. Sebentar lagi dia akan menangkap si kumis yang sangat meresahkan.


"Fareelll... itu sana, di sana...." teriak pak Adam sambil jari telunjuk mengarah ke pohon mangga di ujung jalan.


Sekilas Farel bisa melihat sosok si kumis tersebut. Dia berbulu kasar dengan corak putih cokelat. Farel langsung mengejar langsung ke arah pojok sana.


Dia langsung mengayunkan gagang sapu dengan kuat. Dia melayangkan sapu itu ke udara dan bersiap menerkam si kumis hidup hidup.


Namun sayang, si kumis itu pergi dan kabur dengan sangat cepat. Farel melihat si kumis itu berlarian menuju atas genteng. Dia langsung menyusul dengan sekilat mungkin.


Diraihnya sapu itu keatas genteng, dia menyodok nyodok atas genteng dengan ujung sapu. Merasa ujung sapu itu menyentuh sesuatu, dia langsung mendorongnya dengan kuat.


Bruukkk!!!


Langsung saja dia menghentikan aksinya itu. Farel begitu terkejut melihat seekor kucing liar yang sangat kurus dan tidak terawat. Kulitnya sebagian sudah terkelupas, banyak sekali jamur yang membuat kepalanya botak.


"Nana.... kamu ada ada aja sih!" ucap Farel kesal dalam hati.


*****


Farel kembali masuk dalam mobil, di samping jok ada kandang dengan kucing berbulu cokelat putih. Kucing itu sedang meringkuk diam dengan mata yang berair.


Hati Farel berkecamuk, dia masih tidak yakin jika si kucing kampung menjijikan ini adalah tambatan hati Nana. Paling gila, dia malah nekat akan membawa kucing penuh penyakit ini ke dalam rumah.


Untuk memantapkan keputusan kali ini, Farel berusaha untuk menghela nafas panjang. Mengeluarkannya secara perlahan dari dalam mulut. Menenangkan pikiran dan jiwanya secara bersama.


Setelah dirasa cukup dengan keyakinan yang telah ia miliki, Farel keluar dari garasi mobil. Dia berjalan sambil menenteng kandang kucing tersebut.


Dia membuka pintu depan dengan pelan, berniat untuk memberikan kejutan secara diam diam. Ketika kakinya menyentuh ubin ruang tengah, Farel dengan jelas mendengar Nana tertawa cekikikan.


Sejenak Farel berhenti dari derap langkah, dia ingin kembali mendengar istrinya terus tertawa dari ruang santai. Farel saat itu berpikir jika Nana sedang tertawa menyaksikan sinetron favoritnya.

__ADS_1


Dia kembali melanjutkan langkah hingga sampai ruang santai. Di sana dia melihat Nana sedang duduk nyaman di atas sofa, sambil tertawa cekikikan melihat layar TV.


Dari arah belakang dia menghampiri Nana, dia sengaja tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Belum sampai posisi Nana, dia tak sengaja melihat isi layar TV tersebut.


Nana ternyata tidak sedang menonton sinetron seperti yang ia duga. Nana malah sedang menyaksikan sebuah berita serius dari salah satu chanel berlogo merah tersebut.


Dengan sangat jelas Farel menyaksikan, di layar kaca sedang terjadi sebuah peliputan berita pembunuhan. Peristiwa geger itu terjadi di sekitar pintu plang kereta api Bantar Gebang.


Mata Farel kembali melirik Nana, dia masih tertawa dengan mata yang berbinar. Perasaan Farel mulai aneh, karena ini tidak normal. Bahkan dia pertama kali melihat Nana tertawa lepas hanya karena sebuah berita pembunuhan.


"Na," ucap Farel spontan.


Ketika suara itu terdengar, Nana langsung membalikan tubuhnya. Dia masih melayangkan sebuah mimik muka yang sedikit aneh. Tersenyum yang bukan Nana selalu berikan untuknya.


Farel merasa merinding, bulu kuduknya tak berhenti berdiri. Farel tahu jika Nana adalah istri yang langka dan aneh, namun mentertawakan kematian seseorang sangatlah tidak wajar.


"Ada yang lucu?" tanya Farel penuh selidik.


"Gak ada, emang kenapa sih Rel?" tanya Nana balik.


"Itu yang barusan kamu lihat kan berita pembunuhan, di Bantar Gebang lagi. Emangnya Nana gak takut apa?" tanya Farel dengan tubuh membeku.


"Enggak, kenapa harus takut," balas Nana santai saja.


"Terus kenapa kamu malah ketawa sih Na." Farel tidak puas dengan jawaban Nana.


"Tadi Nana lihat Agus di wawancara banyak reporter. Lucu aja lihat anak bu Surti masuk TV hahahahaha..." Nana kembali tertawa.


"Kamu bilang lucu? Ngaco kamu Na. Agus itu tetangga kita, harusnya kamu merasa kasihan lihat dia harus menangani kasus pembunuhan," protes Farel keras.


Nana kali ini tidak menjawab, dia hanya melempar senyum tipisnya. Dia memandangi Farel tanpa merasa bersalah atau menyesal.


Setelah mendengar jawaban dan alasan dari Nana, hati Farel masih belum bisa menerima. Bagaimanapun, dia tidak akan tertawa melihat berita seperti itu.


Namun Farel sudah terlalu lelah, dia tidak mau ambil pusing dengan tingkah abnormal istrinya. Dia ingin istirahat, kekuatannya hampir habis karena telah melawan ganasnya si kumis.


Farel akhirnya duduk di pinggir sofa. Dia kini menatap Nana dengan sangat lekat. Diberikannya kandang besi berisikan kucing kampung itu.


"Si kumis," ucap Farel dengan wajah datar.


Sontak Nana kembali tertawa terbahak bahak, kali ini dia sampai memegang perutnya yang sakit. Dia melirik wajah suaminya dengan penuh kegembiraan. Kedua matanya berbinar dan hangat.

__ADS_1


Perasaan Farel mulai luluh, lantas dia dengan cepat melupakan tingkah aneh Nana tadi. Walaupun dia tidak tahu apa makna tertawanya kali ini.


__ADS_2