
...Aku tidak pernah memikirkan Nana. Sekalinya aku memikirkan tentang dia, rasanya dunia ini berotasi lebih lambat....
...********...
Selasa, 3 April 2022
Dear Diary...
Aku harap suamiku akan menyukai gaya rambut terbarunya. Namun sepertinya madam Tasya berhasil membuat ia senang. Aku yakin dia akan lebih siap menghadapi perceraian nanti.
Dia pasti akan lebih senang di kantor, jadi aku tidak perlu khawatir apa apa lagi. Disini aku hanya sebisa mungkin menjalani peran sebagai istri seperti biasanya.
Aku sedikit bosan, terus memikirkan pengganti si kumis yang tak kunjung datang. Apa aku harus mencari sesuatu yang lebih menantang? Aku ingin bersenang senang lagi. Tapi entahlah, aku belum menemukan sesuatu yang lebih menggairahkan.
Sejenak mata Farel membeku, dia merasa jika istrinya sedang tidak baik baik saja. Apa dia merasa sedih karena sebentar lagi mereka akan berpisah?
Entahlah, mendadak Farel pun bisa lupa akan tujuan menulis diary ini. Hati Farel pun mulai tertegun, dia baru sadar jika selama ini Nana selalu memperhatikan hal hal kecil.
Dia kira Nana hanyalah wanita egois, nyatanya selama ini dialah yang tidak memperhatikan istrinya. Sejenak Farel tidak ingin terlalu memikirkan siapa sosok si kumis itu. Dia hanya berpikir jika Nana sedang kesepian.
Tiba tiba saja hati Farel terbesit sesuatu. Dia ingin membuat Nana lebih nyaman sebelum mereka bercerai. Farel tidak ingin Nana terlalu memikirkan sikap jahat Farel selama ini.
Farel harus melakukan sesuatu, setidaknya jika dia memberikan kejutan untuk Nana, si kumis tidak akan pernah Nana tulis lagi.
Kemudian dia membuka laman pencarian di komputer meja kerjanya. Dia mengetik sesuatu di kolom browser itu.
Boneka berkumis
Serentak keluarlah beberapa boneka yang mempunyai kumis. Dari mulai boneka pak Raden, boneka super Mario dan boneka ikan Lele.
Melihat jenis boneka yang tidak ada kesan lucu dan imut, membuat Farel membatalkan niatnya. Dia harus mengganti kata kunci lain.
Hewan berkumis
Kembali serentak layar komputer itu menampilkan banyak hewan berkumis. Mulai dari anjing laut, singa, hamster, babi dan kucing.
Bukanya mendapat jawaban, Farel dibuat semakin frustasi. Dia tidak yakin dengan semua jawaban dari internet. Dia sejujurnya tidak tahu apa yang di sukai Nana selama ini. Dia tidak tahu apa apa tentang Nana.
__ADS_1
Karena kesal tidak mendapat pencerahan. Farel akhirnya memutuskan untuk segera menukar buku diary kembali. Dia berusaha untuk bersikap tenang di depan Nana.
*****
Keesokan harinya, Farel seperti biasa siap siap untuk berangkat kerja. Dia kali ini berpakaian sangat rapih dan terlihat semakin tampan.
Dia berjalan mondar mandir di depan kamar Nana, berpura pura sedang merapihkan dasinya. Padahal dia sedang kepo dengan Nana, dia masih berharap jika Nana memberitahukan apa yang ia mau.
Saat Nana berjalan keluar kamar, Farel buru buru berlari menuju ruang tengah. Dia tidak ingin Nana tahu jika tadi dia menguntit istrinya sendiri.
"Rel, coba kamu periksa dulu ini," ucap Nana dari jauh.
"Apa sih Na, udah siang gini! Bentar lagi telat masuk kantor," balas Farel dengan ketus. Dia harus bersikap galak seperti biasanya.
Nana kemudian berdiri di hadapan Farel, dia memberikan sebuah kotak kado ke arahnya. Mata Farel mulai melotot, pikirannya masih belum sinkron.
"Siapa yang ulang tahun?" tanya Farel dengan dahi mengkerut.
"Maria, sahabat kamu," balas Nana dengan senyum tipisnya.
"Kemarin malam kamu kan tulis di diary, kalau hari ini kamu bakal telat pulang, ada acara penting," jawab Nana.
"Ohhh.. mmmmm gitu, tapi kan aku gak sebut itu ulang tahun Maria, ko bisa tahu sih..." celoteh Farel semakin bingung.
"Kamu lupa ya, sejak awal kita menikah kamu selalu menghabiskan waktu dengan sahabat kuliah, bahkan aku tahu semua tanggal ulang tahun Dion, Nathan dan Maria," balas Nana dengan wajah sedikit sendu.
Seketika dada Farel mulai merasa sesak, dia tidak menyangka jika Nana bisa bersikap sejauh ini. Farel pun harus mengakui, jika selama ini dia selalu membanggakan ketiga sahabatnya itu di depan Nana.
"Aku pergi dulu Na," jawab Farel begitu saja, dia langsung memasukan kotak kado itu ke dalam tas kerjanya.
"Rel," ucap Nana sedikit berteriak.
Farel pun menoleh, dia melihat wajah istrinya secara langsung.
"Mulai sekarang, kamu bisa lebih dekat dengan Maria. Sebentar lagi kita akan bercerai, tidak ada yang salah mendekati wanita yang selama ini kamu idamkan, betulkan?" tanya Nana dengan wajah merah merona. Dia senyum begitu tulus, sungguh Nana yang aneh.
*****
__ADS_1
Mereka berempat sedang berkumpul di sebuah premium longue party. Maria dengan gaun putih tipisnya terlihat sangat cantik dengan polesan soft make up.
Disebuah meja dan kursi melingkar, Farel dan ketiga sahabatnya tengah sibuk dengan perayaan pesta ulang tahun. Maria kini adalah ratu di antara para ketiga sahabat prianya.
Namun di ulang tahun Maria yang ke 32 tahun, nampaknya Farel tidak begitu menunjukan rasa antusiasnya. Dia terlihat lebih banyak diam dan melamun.
Bahkan gelas wine di hadapannya masih penuh, Farel sama sekali tidak mencicipi air di dalamnya. Maria menyadari itu, dia merasa jika Farel sedang tidak seperti biasanya.
Maria lalu mendekati Farel, dia mengajak pria itu bersulang. Farel mulai sadar, dia akhirnya meminum wine itu dalam satu tegukan.
"Kamu kenapa sih Rel, ayo dong have fun! This is my birthday," ucap Maria setengah menggoda Farel.
"Aku kayanya harus pulang, I'm sorry Maria," balas Farel sedikit tidak fokus.
"Oh Why? Nana lagi sakit?" tanya Maria semakin menggebu.
"No, dia baik baik saja. Aku cuman ingin pulang lebih cepat saja," ucap Farel begitu saja, dia langsung bangkit dari kursinya.
Dia segera pergi dari pesta kecil itu, tanpa berpamitan pada sahabatnya yang lain. Maria kemudian buru buru menyusul Farel, dia seperti tidak ingin kehilangan pria satu ini.
Saat Farel akan masuk kedalam lift, Maria lalu mencegah Farel. Dia menarik paksa tangan Farel, dia harus menghentikan pria tampan itu sebisa mungkin.
"Ini adalah waktu yang tepat Farel. Kalian sebentar lagi akan bercerai. Apa yang harus kamu takutkan lagi?" ucap Maria dengan serius.
"Maksud kamu?" tanya Farel dengan ekspresi tidak suka.
"Aku mau kita pacaran, aku gak mau hanya sekedar bersahabat!" jawab Maria dengan nada bicara yang memaksa.
Mendengar pengakuan Maria yang begitu sangat tiba tiba, membuat pikiran Farel tambah pusing. Ternyata ucapan Nana seperti cenayang, dia tahu jika Maria akan mengajaknya berkencan malam ini.
Farel hanya membalas ajakan Maria dengan sebuah senyuman ketir. Dia lalu melepas cengkraman tangan Maria dengan paksa. Dia lalu masuk kedalam lift dan melambaikan tangan pada Maria.
Melihat dia diacuhkan dan dicampakan seperti itu, membuat perasaan Maria geram dan kesal. Dia tidak menyangka jika Farel akan bersikap kasar seperti itu.
Seharusnya, Nana lah yang pantas menerima itu. Farel tidak mencintai Nana sedikit pun, setidaknya itulah yang Maria tahu dari dahulu.
Tapi kenapa sikapnya berubah ketika mereka akan memutuskan bercerai? Sebenarnya apa yang telah memasuki pikiran pria kasar seperti Farel?
__ADS_1