31 Hari

31 Hari
Day 2


__ADS_3

...Si Kumis yang semakin meresahkan....


...Kali ini, aku harus tahu dan mencari tahu....


...********...


Hari Senin memang tidak banyak disukai oleh semua orang. Sebuah awal yang selalu dipandang tidak baik. Dari mulai pelajar sekolah, karyawan kantor hingga para petugas polisi yang telah melaksanakan apel pagi.


Agus mulai membuka seragam resmi polisi. Karena dia bertugas di salah satu unit kriminal, pakaian kasual selalu menjadi andalan setiap hari. Setelah itu dia mulai berjalan dan menyapa para rekan kerja di kantor.


Agus hanya seorang polisi pangkat rendah dan sederhana. Ini adalah tahun pertamanya masuk sebagai penyidik di Polsek Bantar Gebang.


Sebelumnya dia telah bertugas selama tiga tahun di unit lalu lintas. Tugas yang sangat melelahkan dan menghadapi banyak emosi manusia di jalan raya.


Tapi kali ini, tantangan itu sedikit berbeda. Walau dia masih belum banyak pengalaman, Agus selalu fokus dan ulet dalam setiap kesempatan.


Dia duduk di meja kerja sambil menyeruput kopi saset yang sangat ia sukai. Kopi susu yang sangat gurih dan manis. Dia mulai menyalakan layar komputer dan bersiap untuk mengisi banyak laporan.


Tak lama setelah itu dia mulai melihat ada tiga orang berpakaian punk berjalan menghampiri ruangan. Mereka bertiga tampak malu malu dan gelisah. Apalagi melihat banyak petugas polisi yang memasang wajah tidak bersahabat.


Salah satu dari mereka akhirnya memberanikan diri untuk berdiri di depan meja kosong. Dia dengan mulut bergetar dan keringat bercucuran mulai menyapa seisi kantor.


"Jony, hilang pak!" teriak anak punk yang memakai celana merah.


Semua masih terdiam, belum merespon maksud dari ucapan anak tersebut. Namun dengan cepat Yanto, penyidik senior menghampiri mereka.


"Mau apa kalian pagi pagi kesini?" tanya Yanto dengan suara menyeramkan.


"Teman kami hilang pak. Tolong Jony!" jawab anak punk itu kembali.


Yanto mulai menilik kembali penampilan urakan dan kusam mereka. Dari raut wajah jelas sekali dia tidak menyukai kehadiran mereka.


"Sejak kapan?"


"Dari kemarin pak."


"Apa teman mu Jony sama seperti kalian? Anak punk yang selalu berkeliaran ke mana pun?"


"Dia teman kami pak," jawab anak punk itu tambah takut.


"Sebaiknya kalian pulang saja. Anak punk seperti kalian memang sudah biasa kan berpindah pindah tempat," jelas Yanto dengan begitu santai.


"Tapi pak, Jony itu ketua geng kami. Dia tidak mungkin pergi meninggalkan anak buahnya begitu saja," jelas anak Punk itu dengan sungguh sungguh.

__ADS_1


Yanto mulai melirik kapten Hasyim, ketua tim dari unit kriminal. Dia sedang menunggu instruksi dari atasannya itu. Kedua mata kapten Hasyim mulai melirik ke luar, tergambar jelas jika dia menginginkan mereka pergi.


Yanto mulai mendorong mereka secara paksa. Para geromobolan anak punk itu tidak bisa melawan, mereka akhirnya berhasil terseret keluar dari pintu masuk. Yanto lalu memandang mereka dengan tajam dan sinis.


"Kami sudah terlalu sering menghadapi bocah bandel seperti kalian. Aku peringatkan ya, jangan main main dengan polisi. Ingat itu!" teriak Yanto dengan sangat gusar.


Disisi lain, Agus merasa ini tidak adil. Bagaimana pun juga mereka adalah warga sipil. Mereka berhak mendapatkan bantuan hukum dan perlindungan dari petugas polisi.


Dia lalu bangkit dari kursi dan segera berlari menuju pintu keluar. Kedua matanya tak henti terus mencari tiga anak punk itu. Dia terus mengejar sampai akhirnya dia melihat mereka nongkrong di warung pojok.


Agus menghampiri mereka, dia tidak ingin menjaga jarak dengan siapapun. Agus bisa melihat dengan jelas bahwa mereka sedang membutuhkan bantuan.


"Apa kalian ingin menemukan Jony?" tanya Agus dengan ramah.


Lantas ketiga anak punk itu mulai melirik Agus dengan tatapan aneh. Mereka masih belum paham jika pria dewasa ini adalah seorang polisi.


"Aku Agus, petugas polisi disini. Aku dengar tadi kalian melaporkan kehilangan seorang teman, benarkah itu nak?"


Anak punk berambut landak pun berdiri menatap Agus. Kali ini dia dengan berani berbicara pada Agus.


"Bapak serius mau bantu kita?"


Agus mengangguk dengan sebuah senyuman. Dia sedang berusaha untuk meyakinkan mereka.


"Jony dan kami selalu pergi ngamen setiap hari. Saat itu kami sedang istirahat di bawah kolong jembatan. Aku melihat Jony berjalan lurus meninggalkan kami sekitar pukul 9 malam. Disaat itu dia tidak pulang dan kami belum melihatnya lagi."


"Ok, kamu bisa jelaskan pakaian apa yang terakhir ia kenakan saat itu? Atau ciri ciri dari wajah dan tubuhnya?"


"Dia memakai baju punk seperti kami, hanya saja saat itu dia memakai rompi gambar Naga merah. Tubuhnya kurus, kulitnya hampir penuh dengan totol putih karena penyakit panu yang parah dan dia berkumis," jelas anak punk dengan cukup detail.


"Berkumis? Apa dia sudah dewasa?" tanya Agus dengan serius.


"Dia paling tua di antara kami bertiga, mungkin usianya sudah menginjak 30 tahunan," jawab anak punk berbadan bontot itu.


"Bagus, untuk sekarang kalian ikut paman. Kalian harus mengisi formulir pengaduan orang hilang terlebih dahulu," ajak Agus sambil memapah mereka kembali masuk ke dalam kantor polisi.


****


Senin, 2 April 2022


Dear Diary...


...Si kumis menghilang, setiap hari aku dengan resah menunggu. Seharusnya dia sudah di temukan setidaknya oleh orang yang tak sengaja melintas daerah itu....

__ADS_1


...Bagaimana kabar dia?...


...Pasti sangat sulit bertahan di alam bebas. Dengan udara dingin menusuk. Dengan terik matahari yang membakar setiap lapisan kulit....


...Aku sudah tak sabar melihat si kumis keluar dari persembunyian. Dia akan memberikan banyak kejutan untuk semua orang. Bahkan, suami ku yang terkenal cuek tidak akan berkutik melihat dia kembali....


Mata Farel semakin membulat tak kala sang istri masih membicarakan si kumis. Dia semakin tidak paham dengan semua diksi yang terlihat menyimpang itu.


Apa yang sebenarnya Nana inginkan dari si kumis? Kenapa itu seperti terlihat sebuah kejutan untuknya?


Keyakinan Nana telah berselingkuh mulai goyah. Curhatan Nana seperti tidak menunjukan bahwa dia sedang menaruh hati pada pria lain.


Si kumis lebih mirip sebagai sesuatu yang Nana inginkan. Mungkin sangat obsesi dengan hal itu. Tapi apa? Semua pikirannya buntu sekali.


Farel langsung bergegas keluar kamar dan menuju kamar Nana. Di sana dia melihat Nana sedang duduk di depan meja, tangan kanannya sedang menutup diary jamur itu.


Nana menoleh ke arah Farel dengan senyum berseri. Dia lalu berdiri sambil menyerahkan buku diary jamur ke arah Farel.


"Bagus, tulisan kamu udah agak mendingan. Disini kamu cerita kalau akhir akhir ini kamu tidak nyaman dengan rambut jamur itu, sampai kamu tidak selera makan di kantor," jelas Nana.


"Itu semua gara gara kamu Na! Setiap kali aku melihat cermin rasanya aku seperti badut saja," ucap Farel dengan wajah keluh kesah.


"Besok sebelum berangkat kerja, kita pergi ke tempat potong rambut langganan tetangga sini," ujar Nana dengan wajah tulus.


Kali ini Farel hanya diam saja, dia tidak menolak seperti biasanya. Tingkahnya yang angkuh dan pembangkang sejenak hilang.


Nana tersenyum melihat suaminya tidak merespon dengan amarah. Dia merasa jika Farel menyetujui ajakannya kali ini.


Pintu kamar Nana mulai bergerak untuk menutup. Nana ingin segera mengakhiri ritual penukaran diary di antara mereka berdua.


Namun tangan Farel malah menahan ujung pintu itu. Dia seperti ingin terus melihat Nana. Dalam raut wajah tergambar banyak sekali kebingungan dan pertanyaan.


"Na," ucap Farel canggung.


"Apa?"


"Mmmmmm....."


"Apa sih."


"Si kumis itu loh Na. Siapa dia?" tanya Farel dengan malu malu.


Mendengar pertanyaan dari mulut sang suami secara langsung, membuat kedua mata Nana berbinar. Bahkan dia mulai tersenyum dan ekspresinya berubah drastis.

__ADS_1


"Nanti juga kamu bakal tahu. Tunggu saja Farel," balas Nana sambil perlahan menutup kembali pintu kamar itu.


__ADS_2