
...Ada apa dengan Nana kali ini?...
...*********...
Farel sejauh ini sudah terbiasa menulis dan membaca diary. Ini adalah hari ke empat, seharusnya dia sudah mulai menikmati setiap alur yang Nana berikan.
Dia duduk di depan meja kerjanya dan perlahan membuka lembar selanjutnya.
Rabu, 4 April 2022
Dear Diary...
Terimakasih, suami ku membawa sebuah hadiah yang tak terduga. Aku tahu Farel selama ini selalu sibuk dengan urusan perusahaan. Nyatanya, dia sampai tidak tahu ada mahluk lucu yang selalu jadi buronan komplek ini.
Baiklah, kita sudahi saja. Kita rawat kucing kampung itu bersama sama. Biarkan dia menjadi saksi terakhir bagaimana kita menghabiskan sisa waktu sebelum bercerai.
Oh iya, sebaiknya rencana perceraian kami jangan dulu dibicarakan dengan orang tua. Aku tidak mau waktu menulis diary ini terganggu oleh mereka.
Aku hanya ingin menikmati momen ini saja. Semoga, Farel pun begitu.
Farel menghela nafas panjang, rasanya begitu sangat lega ketika Nana memang ingin merawat kucing kampung itu. Semoga saja si kumis yang selalu Nana tulis adalah hadiah yang tepat untuk Nana.
Sejujurnya, Farel masih belum yakin jika mereka dapat merawat kucing itu. Terlebih dia memang tidak suka memelihara hewan. Tapi ini sudah terlanjur, dia tidak ingin membuat Nana kecewa.
Dia segera menutup diary nenek sihir itu. Farel berjalan keluar dan menuju kamar Nana. Pintu kamarnya terbuka, dia dengan santai masuk kedalam.
Betapa terkejutnya Farel, dia malah melihat jika kamar Nana begitu banyak cipratan d*rah. Dia melihat Nana sedang memegang sebuah p*sau cutter, telapak tangan ikut b*rdarah.
Di bawah sana, kucing kampung itu tergeletak dengan mengenaskan. Perut bagian bawah terlihat berhamburan d*rah dengan sebuah sayatan. Kucing kampung itu sedang kesakitan.
Kucing itu sekarat dan di ujung kematian. Sedangkan Nana masih berdiri mematung dengan tangan berlumuran d*rah.
"Nana, kamu ngapain!" teriak Farel dengan sekencang mungkin. Dia segera meraih kucing itu dan menyelimutinya dengan sebuah selimut.
Farel segera keluar dari kamar Nana dan membawa kucing itu masuk ke dalam mobil. Nana lalu menyusul, wajahnya tampak tenang dan tidak terlihat panik.
"Kita harus selamatkan kucing ini terlebih dahulu, setelah itu kamu harus jelaskan kenapa bisa berbuat gila seperti ini, PAHAM!" sentak Farel dengan bola mata yang melotot.
*****
__ADS_1
Nana dan Farel sedang duduk bersama di bangku tunggu IGD. Farel segera membawa kucing itu ke rumah sakit hewan terdekat.
Mereka masih menunggu tindakan medis dari dokter, bahkan mereka tidak tahu apa kucing itu masih bisa di selamatkan. Mata Farel melirik Nana, dia mendapati istrinya masih bisa duduk dengan tenang.
"Aku hanya ingin kamu berbicara jujur, kenapa kamu bisa melukai si kumis?" tanya Farel dengan perasaan tidak menentu.
"Nana cuman ingin membantu kucing itu saja," jawab Nana dengan tatapan lurus.
"Hah? membantu apa maksud kamu? Jelas jelas aku lihat kamu habis m*ngiris perut kucing itu dengan p*sau cutter!" ujar Farel dengan amarah.
"Saat Nana mencoba untuk memberinya makan, aku lihat belakang an*snya mengeluarkan banyak cacing dan cairan.
Nana panik sekali, saat itu juga aku berusaha untuk mengeluarkan cacing itu dari dalam perutnya," jelas Nana mulai goyah, kali ini dia menunjukan wajah yang panik.
Mendengar semua alasan dan jawaban dari Nana secara langsung, tak kala membuat aliran darahnya seakan berhenti. kepalanya seperti di hantam oleh batu besar.
Kedua matanya melotot seperti akan keluar. Mulutnya sedikit menganga karena saking terkejutnya. Tiba tiba dari pintu ruang IGD, Farel di panggil oleh perawat untuk bertemu dengan dokter secara langsung.
Dia dan dokter hewan kini sedang berada di ruang konsultasi. Farel masih belum bisa menyadarkan pikiran sepenuhnya. Dia masih sangat terkejut, jantungnya berdebar luar biasa.
"Pak Farel untung saja cepat membawa kucing itu masuk IGD. Si kumis terselamatkan dan dia sekarang sedang dalam masa pemulihan," ucap dokter dengan wajah yang sangat ramah.
"Untung saja sayatan di perutnya masih belum terlalu dalam, hanya melukai bagian lapisan luar kulit. Mungkin sekitar 1 minggu, kucing itu bisa cepat pulih, sekalian kita obatin banyak penyakit di tubuhnya," ujar dokter.
Farel akhirnya bisa bernafas dengan sangat lega. Dia sangat takut jika si kumis akan kehilangan nyawa hanya karena ulah istrinya.
Dia kemudian keluar dari ruang konsultasi dokter. Segera menjemput Nana yang masih duduk di ruang tunggu IGD. Tangan Farel lalu menggenggam Nana untuk segera pergi dari rumah sakit.
Setelah bersiap di dalam mobil, Farel melihat jika tangan Nana masih berlumuran d*rah. Dia segera mengambil tisu basah dan menghapus cipratan d*rah di sekitar tangan istrinya.
"Bagaimana cacing di perutnya? Apa mereka memang bersarang di bawah perut kucing itu?" tanya Nana memecah keheningan.
Farel mengarahkan pandanganya lurus ke wajah Nana. Untuk kedua kalinya dia terus di kejutkan oleh ucapan istrinya.
"Cacing?" tanya Farel dengan wajah melongo.
Nana mengangguk dengan senyum tipis. Disaat itu juga Farel menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke arah jok mobil. Dia menyentuh kepalanya yang sangat pusing.
Farel sangat tidak menyangka, jika Nana hanya mempedulikan apakah ada cacing di dalam perut si kumis. Nana tidak merasa bersalah ataupun penasaran bagaimana keadaan kucing tersebut.
__ADS_1
****
"Sepertinya ini p*mbunuhan berantai, pak detektif Hasyim," ucap Agus di depan semua anggota unit kriminal.
Spontan semua tertawa di depan wajah Agus. Dia sedang di permalukan hanya karena sebuah pendapat. Sontak kapten Hasyim mendekati Agus yang sedang berdiri.
"Hanya karena kamu sudah menemukan m*yat, lantas kamu berpikir ini p*mbunuhan berantai?" celoteh kapten Hasyim dengan enteng.
"Aku hanya curiga kasus p*mbunuhan anak punk ada kaitannya dengan p*mbunuhan kakek tua di dalam gerobak sampah," jelas Agus kembali dengan lantang tanpa merasa takut.
"Jangan pernah mengacaukan investigasi, jika saja mulutmu berbicara sembarangan kepada media. Habis kita!
Apa jadinya jika semua warga Bekasi tahu jika ada p*mbunuhan berantai? Semua akan kacau balau dan masyarakat akan terus menekan kita!" jelas kapten Hasyim dengan wajah penuh ketegasan.
"Tapi anda tidak bisa mengabaikan potensi p*mbunuhan berantai pak." Agus kembali berdebat dengan atasannya.
"Kamu bisa memberikan fakta dan bukti secara langsung? apakah ada saksi mata? apa kamu bisa menjelaskan motif dan pola yang sama dari kedua kasus tersebut?" tanya kapten Hasyim dengan sangat serius.
"Mereka sama sama dib*nuh secara keji dengan latar belakang yang sama. Tubuh mereka dih*ncurkan oleh alat p*mbunuhan yang sama.
Paling penting, kedua tubuh korban tersebut m*ninggal secara aneh. Mereka sama sama kehilangan salah satu anggota tubuh. Korban pertama dia kehilangan lima kuku jari, korban terakhir dia kehilangan kumisnya," jelas Agus dengan sangat rinci.
Sontak semua tertawa geli mendengarnya kembali. Bagi mereka Agus hanya anak kemarin sore, dia masih belum banyak berpengalaman dalam dunia investigasi kasus p*mbunuhan.
Kapten Hasyim lalu menepuk pundak Agus dengan lembut. Dia tersenyum hangat kepada anak buahnya itu.
"Ingat satu hal nak, kamu kini seorang detektif. Pandanganmu harus berdasarkan fakta bukan persepsi pribadi.
Semua yang kamu jelaskan tidak mengarah pada sebuah fakta p*mbunuhan berantai. Sebaiknya kamu harus banyak mencari informasi lebih tentang korban.
Paling penting adalah mereka sampah masyarakat. Hidup mereka penuh dengan kejahatan dan musuh. Sangat sulit menemukan motif p*mbunuhan berantai pada mereka berdua," jelas kapten Hasyim dengan baik baik.
Agus hanya bisa menunduk malu dan pasrah. Walau apa yang dikatakan atasannya adalah sebuah kebenaran, namun hatinya masih tidak puas.
Instingnya selalu mengatakan bahwa ini bukan p*mbunuhan biasa. Dia sangat yakin jika kedua korban tersebut dib*nuh oleh orang yang sama.
Dia lalu berjalan keluar dengan langkah yang lemas. Dia sudah 3 hari begadang tanpa henti untuk mencari pelaku p*mbunuhan. Tapi sayangnya kasus ini sangat rapih dan bersih. Dia bahkan tidak menemukan jejak asing satupun dari TKP.
Tidak ada DNA pihak kedua, tidak ada sidik jari, tidak meninggalkan jejak sepatu, bahkan tidak ada saksi mata. Seakan akan dia m*mbunuh seperti hantu. Dia seperti pemangsa yang sangat liar.
__ADS_1
Agus akhirnya berencana untuk pulang. Dia harus bertemu dengan ibunya dan mengambil baju baru. Dia berjanji tidak akan bersantai sedikit pun sebelum mengungkap kebenaran.