
Setelah di tetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penangkapan yang sah. Karena telah memenuhi dua syarat bukti yang kuat, maka penyidik mengeluarkan surat penahanan (sementara) pada Nana.
Selain bukti DNA dan sidik jari pada sarung tangan milik korban terkahir. Agus mendapatkan bukti kedua yaitu rekaman action cam pada helm kurir pengantar paket. Malam sebelumnya, Agus tak sengaja melihat ada kurir paket yang selalu beroperasi di daerah dekat TKP.
Untungnya pada pukul 02.30 sore, kurir paket masih beroperasi di sekitar TKP. Dengan action cam helm-nya, Berhasil menangkap mobil taxi dengan plat nomor yang dikendarai oleh Sugeng, sedang berhenti di tepi jalan raya dekat gang depan.
Gang tersebut bernama Pusaka Raya, yang menghubungkan arah jalan menuju kontrakan Jono, tempat p3mbunuhan 2 korban sekaligus terjadi. Namun kedua bukti kuat tersebut, tidak membuat Nana mengakui tuduhan tersebut.
Dia dengan prinsip hukum yang kuat, menolak untuk mengakui perbuatan dan kejahatan sebagai pelaku pembunuhan berantai. Nana menjelaskan kepada penyidik jika semua itu hanya jebakan dari pelaku asli.
Karena bagi Nana, dua bukti tersebut sangat mudah untuk dimanipulasi. Saat pemeriksaan berlangsung, wanita itu selalu bersikukuh jika dirinya sedang dijebak oleh pelaku asli. Tentu itu bertujuan untuk mengacaukan investigasi yang telah berjalan.
Maka dari itu dengan sangat cepat, surat perintah penahanan telah dikeluarkan. Pertama, bertujuan mencari bukti tambahan kuat untuk kepentingan pemeriksaan di pengadilan. Kedua, menghindari kekhawatiran pada tersangka akan menghilangkan barang bukti atau melakukan kejahatan lainnya.
Selama tiga hari dalam penahanan sementara, Nana tidak bisa ditemui secara langsung kecuali oleh kuasa hukumnya. Itulah sebabnya, Nana selalu menitipkan diary setiap malam pada Stevan. Walau sedang berada dalam ancaman pidana berat, Nana masih sempat mengurusi perceraian dengan Farel.
Pukul 04.00 sore hari, Nana kembali diperiksa oleh Alex dan Bima. Mereka kini sedang berada di ruang khusus untuk melakukan pemeriksaan sebagai tersangka. Selama tiga hari penahanan, pihak penyidik sudah melakukan penggeledahan di kediaman Nana di Bantar Gebang.
Namun nampaknya polisi masih belum bisa menemukan alat/senjata p3mbunuhan. Karena jika alat p3mbunuhan itu ditemukan, sudah pasti terdapat DNA maupun darah dari kesepuluh korban. Tentu itu akan menambah tuduhan lain yang lebih berat, karena Nana terbukti m3mbunuh kesepuluh korban.
"Dimana kamu menyembunyikan alat p3mbunuhan itu?" tanya Alex tajam.
"Kenapa bertanya padaku? seharusnya kalian bertanya pada pelaku asli yang masih berkeliaran bebas di luar sana!" balas Nana memberontak.
"Jangan main-main dengan kami!! Saya bahkan tidak peduli jika kamu adalah anak konglomerat sekalipun. Tidak ada yang bisa menghalangi sebuah kebenaran."
__ADS_1
"Kebenaran? benarkah yang selama ini kalian cari adalah kebenaran? Hahahahahahaaha....
Jika kebenaran itu memang ada, sudah sepantasnya kejahatan seperti pembunuhan berantai ini tak akan terjadi," balas Nana sambil tertawa puas.
Alex dan Bima semakin heran dan bingung dengan sikap Nana yang berubah lebih agresif. Namun ada satu hal yang membuat Alex merasa tidak nyaman, dari awal penangkapan sampai penahanan wanita itu tidak menunjukan ketakutan sama sekali.
Bahkan Alex takut jika ternyata Nana telah memprediksi semua ini. Paling parah, Alex lebih takut jika ternyata wanita itu sudah merencanakan sesuatu yang lebih besar dan berbahaya. Tapi sialnya, dia tidak tahu apa itu.
"Apa aku harus membuka kembali kasus kematian 11 pelayan 8 tahun yang lalu, agar bisa membungkam ocehan mu yang penuh kepalsuan itu," ancam Alex tidak main-main.
Ternyata Agus sudah menceritakan semua yang terjadi, saat Nana dan ibunya pernah menetap di Majalengka 8 tahun yang lalu. Dugaan ini tentu memperkuat perilaku Nana yang selalu menyimpang dan dekat dengan kriminalitas.
"Oh, jadi sekarang kalian baru tertarik sama kasus lama itu. Ya sudah, silahkan saja kalian buka kembali. Aku malah semakin senang."
Alex dan Bima memilih untuk diam sejenak, meredakan semua emosi menghadapi Nana seperti ini. Mereka tidak boleh berkata gegabah lagi, Nana sedang dalam mode yang tidak biasa.
"Maksud kamu?" tanya Bima gerah.
"Ya ampun, masa gitu saja gak paham sih. Sadar lah, kalian selama ini menangkap orang yang salah. Jika ada pembunuhan lain selama aku ditahan, berarti semua itu adalah kesalahan kalian. Kalian sudah tak pantas lagi di sebut penegak keadilan," gertak Nana setengah mengejek.
"Jadi kamu berharap akan ada yang mati setelah ini? dasar wanita gila, jaga ucapan mu itu!!" sentak Alex marah, dia tidak terima jika ancaman Nana malah membuatnya semakin bingung dan hilang arah.
Alex dengan raut wajah kesal mulai keluar dari ruang interogasi, sambil membanting pintu dengan keras. Bima cepat menyusul bosnya itu dan menahan segala kemarahan yang sudah tidak bisa dikontrol.
Pria bertubuh besar itu melempar tong sampah, dia bahkan memecahkan pot bunga di sekitar koridor. Alex memang seorang tempramental yang buruk, benda disekitar selalu jadi korban terakhirnya.
__ADS_1
"Bagaimana selama ini jika kita salah menangkap pelaku. Jika itu benar, korban selanjutnya akan segera beraksi kembali. Apa kita harus diam dan terus menunggu BIMAAA!!!!" teriak Alex sangat murka.
"Bos tenang, tenang dulu. Justru dia sedang mempermainkan pikiran kita sebagai polisi. Jangan sampai dia mengacaukan usaha kita selama ini. Sadar bos!!"
"Tapi Bima, kali ini aku benar-benar sangat takut. Bagaimana jika ada orang yang tidak bersalah harus menjadi korban selanjutnya, karena kebodohan kita sebagai polisi."
Bima sebagai rekan kerja Alex terlama di kepolisian, tentu memahami sisi sensitif seorang anjing gila seperti Alex. Dia lalu mencoba menenangkan teman-nya itu, sambil menepuk-nepuk pundaknya secara lembut.
"Itu tidak akan terjadi, kita harus yakin jika semua akan baik-baik saja Lex," balas Bima begitu penuh kekuatan.
********
Malam harinya, mendadak Nana mendapati seorang tamu istimewa yang tak terduga. Wanita yang selama dia tunggu telah tiba, tentu dia adalah Tania. Ini terdengar sangat gila, tapi tersangka ternyata meminta satu pengacara lagi yang akan membantunya keluar dari kasus ini.
Entah apa tujuan Nana kali ini menunjuk Tania sebagai kuasa hukum keduanya. Entah kenapa juga Tania bisa menerima tawaran tersebut, padahal Agus sudah melarang keras Tania untuk ikut campur.
Mereka kini sudah duduk berhadapan, tanpa seorang pun yang menganggu pertemuan ini. Tidak ada yang curiga sama sekali, semua orang hanya menganggap pertemuan antara klien dan pengacara barunya.
Namun tentu tidak bagi Tania, kedatangannya menemui Nana hanya sebuah kedok. Ternyata ada sebuah obrolan menarik yang harus mereka bicarakan secara intens.
"Terimakasih ibu pengacara sudah menerima pekerjaan ini, aku sangat terharu," ucap Nana.
"Tidak usah berpura-pura, cepat jelaskan apa yang sebenarnya kamu tahu!!"
Alasan terbesar Tania bersedia untuk datang ke ruang tahanan polisi adalah karena tawaran Nana. Sebuah tawaran yang tidak biasa dan membuat Tania berguncang begitu hebat. Saat menelepon Tania, dia akan memberitahu alasan sebenarnya kenapa ibu Tania ( kepala pelayan) saat itu bisa ikut mati.
__ADS_1
Jika dia mau mendengar kebenaran yang selama ini tuan Ivan sembunyikan selama belasan tahun, tentu Tania harus bersedia untuk menjadi kuasa hukum keduanya. Tidak ada alasan lagi untuk menolaknya, bahkan dia merahasiakan perjanjian ini kepada Agus sekalipun.