31 Hari

31 Hari
Nisan Tak Bernama


__ADS_3

...Kedua belas batu nisan itu mempunyai cerita...


...**********...


"Serius nih aku harus ikut?" tanya Farel dengan wajah gelisah.


"Iya, kapan lagi bisa jalan jalan bareng. Bentar lagi juga mau cerai, anggap saja ini kebersamaan kita yang terakhir," balas Nana dengan senyum yang merekah, dia kemudian memasukan dua buah sekop besar ke dalam bagasi belakang mobil.


"Kamu ngapain bawa sekop? Sebenarnya kita mau kemana sih na," tanya Farel dengan wajah serba bingung.


"Kan udah jelas kemarin, aku mau pergi ke kuburan," balas Nana sambil menutup pintu bagasi mobil dengan otomatis.


Nana segera masuk ke depan mobil dengan cepat. Kini dia yang mengambil alih mobil. Tangannya lalu menarik seat belt agar sesuai dengan standar keamanan berkendara.


Farel kemudian duduk di samping istrinya. Dia terkejut karena Nana sedang bersiap dengan kemudi mobil. Tak pernah dia melihat berani mengendari mobil seperti ini.


"Aku saja yang nyetir, biar gak nyasar," ucap Nana sambil menginjak pedal gas dan meluncurkan mobil keluar dari garasi rumah.


"Jadi kamu gak bercanda kita mau healing ke kuburan?" tanya Farel tambah bingung.


"Aku serius, perjalanan kita cukup jauh," balas Nana dengan serius.


Farel menghela nafas, dia kali ini benar benar terperangkap dalam jebakan sang istri. Sebenarnya apa lagi yang Nana rencanakan. Setelah kejadian si kumis, kali ini dia terus menyeretnya dalam banyak teka teki.


Nana sungguh abnormal, dia bukan wanita biasa. Namun naasnya, Farel kali ini seperti terhipnotis oleh tulisan diary Nana.


Dulu dia selalu bersikap semena-mena, tidak mau di atur dan selalu ingin menang. Kali ini dia tidak berkutik, perceraian ini malah membawanya jauh mengikuti Nana.


Sungguh, semua ini di luar rencana.


******


Perjalanan dari Bekasi ke Majalengka memakan waktu relatif cukup lama. Hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam lamanya. Kini mobil mereka tengah memasuki kawasan kebun teh sekaligus tempat wisata.


Farel mulai senang, rasa khawatir yang terus menerpa ketenangannya hilang. Dia berpikir jika Nana hanya bercanda, nyatanya mereka kini sedang menikmati pemandangan hijau dan sejuknya udara.


Kaca mobil itu diturunkan, kepala Farel mulai mendongakkan sedikit keluar dari dalam kaca jendela. Dia mulai menghirup udara yang begitu sejuk dan terus memanjakan kedua matanya yang selalu lelah.


"Bilang dong dari tadi kalau kita mau wisata ke kebun teh, jangan sok misterius bilang ke kuburan," celoteh Farel dengan senang.


"Belum sampai juga," balas Nana dengan senyum tipis.


"Lah, terus mau kemana lagi sih Na. Sudah kita istirahat saja disini, enak banget tuh makan di restoran sana," ucap Farel sambil menunjuk sebuah restoran di atas sana.


"Yang mau healing aku atau kamu?" tanya Nana dengan serius.


"Kamu dong Na," jawab Farel santai.

__ADS_1


"Ya sudah, Farel diam saja. Liburan kali ini aku yang tentukan," protes Nana dengan sedikit cemberut.


"Ok, silahkan," balas Farel masih cuek.


Mobil itu terus melaju mengitari jalan setapak dan bebatuan. Lama kelamaan mereka mulai menjauh dari titik tempat wisata. Nana membawa mobil itu masuk ke sebuah hutan yang sangat sepi.


Farel kembali panik, kali ini dia melihat pemandangan cukup menyeramkan. Suara sunyi hutan dan ******* ranting pohon menganggu telinganya. Apalagi ini sudah memasuki sore hari.


Mobil itu berhenti di sebuah lahan kosong. Di depan mobil itu dia melihat ada sebuah pagar beton yang sudah usang. Farel menduga jika lahan tersebut adalah sebuah kepemilikan pribadi.


Nana dan Farel turun secara bersamaan. Wanita itu lalu mengambil dua sekop besar yang tersimpan di bagasi belakang mobil.


Satu sekop dia berikan pada Farel. Dengan penuh keanehan dan rasa takut luar biasa, Farel membuang sekop besar itu ke atas tanah.


"Na! Apa apaan sih, kenapa kamu bawa aku ke hutan? Terus buat apa kamu suruh aku buat megang sekop sialan ini?!!!" tanya Farel mulai gusar, seluruh kesabarannya mulai habis.


"Kamu gak lihat apa? di depan sana, sekitar 10 meter kita akan sampai pada titik tujuan. Banyak kuburan loh," ujar Nana begitu santai.


"Apa? Kamu gila yah. Ngapain sih harus ke kuburan segala. Ini tuh wisata horor jadinya!"protes Farel semakin marah.


"Ya sudah, kalau kamu gak mau ikut aku. Silahkan tunggu di mobil. Aku jalan ya," balas Nana langsung berjalan meninggalkan Farel sendirian.


Saat itu juga Nana berjalan lurus masuk melintasi pagar beton itu. Dia dengan tangguh membawa sebuah sekop besar di tangannya. Farel tambah panik, kini dia sendirian dan suasana makin mencekam.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Farel berlarian menyusul Nana dengan cepat. Dia pun langsung melihat jika Nana sudah berdiri di pinggir pohon beringin besar.


Dengan nafas yang tersengal sengal, Farel ikut berdiri di samping Nana. Betapa kagetnya Farel tak kala dia melihat banyak sekali kuburan berjejer tidak rapih.


Tanpa sebuah perkataan apapun, Nana berjalan menghampiri semua kuburan itu. Dia menyeret sekop besar dan mengayunkan ke atas kepala dengan tangan kecilnya.


Nana lalu memukul batu nisan itu dengan sekop yang ia pegang. Dia dengan mata kosong terus membanting sekop ke semua nomor batu nisan.


Sekejap darah Farel seakan membeku, bulu kuduknya terus berdiri. Kedua kakinya lemas dan bergetar hebat. Buru buru Farel mendekati sang istri, dia menarik tangan kanan Nana dengan paksa.


"Nana!!! Stop!" teriak Farel frustasi.


Nana tidak berhenti, dia semakin menggila dengan sekop besar itu. Kali ini dia benar benar menghiraukan Farel. Dia terus fokus untuk membanting setiap batu nisan.


Saking besarnya tenaga Nana, beberapa semen nisan itu mulai roboh. Bahkan sebagian sudah ada yang terbelah.


Farel tidak menyerah, dia terus memaksa Nana untuk berhenti dari aksi super gila ini. Saat itu Farel sempat berpikir jika Nana sedang kerasukan kuntilanak.


Tak ada cara lain, Farel memutuskan untuk memeluk Nana dari belakang. Dia mengunci kedua tangan Nana dengan sangat erat. Usaha Farel membuahkan hasil, kini Nana berhenti total.


Sekop yang Nana pegang ia lepaskan. Nana masih berdiam diri dan tak melawan pelukan Farel. Nafasnya terdengar sangat berat, jelas kali ini dia sudah mengerahkan banyak tenaga.


"Are you okay?" tanya Farel dengan sangat khawatir.

__ADS_1


"Now, I am okay," balas Nana pelan.


Farel tidak melepaskan Nana begitu saja. Dia terus memeluk Nana seperti itu. Tiba tiba saja dia merasakan detak jantung Nana secara langsung, sebuah irama yang tidak beraturan.


Apakah Nana sedang takut?


******


Setelah kejadian di kuburan tadi, mereka berdua sedang duduk termenung di dalam mobil. Kedua telapak tangan Nana lecet dan berdarah, sebab dia terlalu bersemangat dengan sekop besar itu.


Farel belum menanyakan apapun tentang insiden gila tadi. Dia hanya ingin mengobati terlebih dahulu luka di telapak tangan Nana.


Dengan cekatan Farel membersihkan luka itu dengan alkohol. Kemudian menutupnya dengan beberapa plester besar. Baru setelah itu dia sudah tidak tahan untuk mengintrogasi istrinya tersebut.


"Bagaimana perasaan kamu setelah memukul banyak batu nisan?" tanya Farel dengan nada suara lembut.


"Seperti apa kata mu Rel, itu adalah healing terbaik yang pernah aku lakukan," balas Nana dengan tatapan kosong.


"Ok, Ok... Sampai saat ini aku masih belum mengerti mengapa kamu mengajakku ke sebuah hutan yang di penuhi 12 batu nisan?" tanya Farel semakin penasaran.


Jari telunjuk Nana lalu mengarah lurus kedepan, ternyata dia sedang mengalihkan pandangan Farel. Nana mencoba memberitahu Farel jika di ujung sana ada sebuah rumah besar yang sudah lama terbengkalai.


Farel baru menyadari ada sosok rumah besar yang lebih mirip seperti kastil tua. Sebuah rumah angker dengan nenek sihir di dalamnya.


"Saat usia ku 12 tahun, aku pernah tinggal dengan ibuku yang sakit sakitan disana. Kami mempunyai 12 pelayan yang setiap hari mengurus rumah dan keperluan ibu," jelas Nana dengan wajah serius.


"Jadi tulisan angka 1 - 12 di batu nisan itu adalah milik para pelayan rumah itu Na?" tebak Farel dengan merinding.


"Iya, mereka mati secara masal. Saat itu mereka mati keracunan makanan. Hanya aku dan ibu yang selamat," balas Nana dengan santai.


"APA? Serius Na, kamu gak bohong kan?" tanya Farel ngotot.


"Tidak, itu benar terjadi."


"Terus kenapa kamu memukul batu nisan mereka?"


"Dulu, jika aku sedang merasa frustasi karena merasa di buang oleh ayah. Aku selalu memukul ke dua belas pelayan itu secara serentak.


Saat itu aku merasa amarah di dalam dada mulai membaik dan terasa lebih ringan. Karena mereka kini sudah meninggal, aku hanya bisa memukul batu nisan mereka saja.


Tapi rasanya masih terasa sama seperti dahulu, menenangkan dan sangat ringan, seperti itulah rasanya healing," balas Nana sambil memalingkan pandangan ke arah Farel.


Kali ini dia tersenyum lebar, menatap Farel dengan berbinar. Nana yang Farel kenal telah kembali. Tidak ada wajah takut dan amarah di dalam wajahnya.


Farel semakin terkejut, karena ini pertama kalinya dia menceritakan masa lalu pada dirinya secara langsung. Selama mereka menikah, dia sangat tertutup dan seperti tidak menyimpan masalah.


"Tapi itu salah Na, kamu melakukan kekerasan. Healing bukan seperti itu," balas Farel dengan tegas.

__ADS_1


Nana kini tidak membalas pertanyaan itu. Dia hanya tersenyum dengan cantik.


"Malam ini kita tidur di rumah tua. Untung saja aku masih menyimpan kunci rumah itu," ucap Nana sambil mengarahkan mobil masuk menuju rumah besar di ujung sana.


__ADS_2