
Persiapan untuk meninggalkan rumah sakit hampir selesai. Paska keributan kemarin, Mawar lebih memilih untuk diam dan menghindari percakapan dengan ayahnya. Penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta dijadwalkan pukul 15.00 WIB.
Mawar terus melihat jam dinding, waktu tersisa yang dia miliki mungkin sekitar 3 jam lagi. Perasaan cemas dan galau terus menghantui pikirannya. Dia masih meragukan untuk pergi ke Jerman, karena ada urusan yang belum dia tuntaskan.
Sugeng datang membawa kresek putih minimarket, pria itu baru saja membeli handuk kecil baru untuk di bawa ke Jerman. Setelah semua persiapan dan perlengkapan selesai, Sugeng meminta waktu sebentar untuk pergi ke bagian administrasi lantai bawah.
Ketika ayahnya pergi dan meninggalkan dompet tergeletak di meja begitu saja. Mawar tak ragu untuk membawa semua lembar uang ratusan ribu. Selain itu dia cepat mengganti baju rumah sakit, memakai topi milik ayahnya dan memotong ID pasien yang melingkar di pergelangan tangan.
Entah apa yang Mawar sedang rencanakan, dia memilih untuk kabur dari rumah sakit. Menyusuri tangga darurat agar tidak bertemu dengan ayahnya di lantai bawah. Setelah berhasil menemukan pintu keluar, Mawar langsung memanggil taxi untuk pergi sejauh mungkin.
Dia meminta pada supir taxi offline untuk mengantarkannya ke gedung Bareskrim. Tentu itu sangat jauh, mengingat lokasi dirinya kini berada di Bekasi. Namun Mawar tidak peduli, dia akan membayar ongkos taxi semahal apapun.
Sekitar satu jam lebih perjalanan, akhirnya dia sampai ke alamat tujuan tersebut. Ini pertama kalinya dia melihat bangunan kepolisan yang begitu besar. Rasa takut dan tidak percaya diri mulai merayapi hatinya.
Mawar berjalan kaki dari gerbang depan, menuju lobi utama. Dia bingung harus mencari Agus kemana, karena semua terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tidak ada yang mempedulikan kehadiran remaja seperti dirinya.
Mawar memberanikan diri untuk bertanya kepada polisi yang berjaga di sekitar. Karena dia tidak bisa masuk sembarangan, ada akses khusus yang hanya bisa dimiliki pegawai. Setelah bertanya kepada petugas, bagaimana dia bisa menemui salah satu polisi bernama Agus. Dia disuruh untuk menyebutkan dari divisi mana polisi itu bekerja.
Tentu Mawar tidak tahu apapun mengenai jabatan apalagi bagian divisi mana. Dia seperti mati kutu dan malu karena tidak mempersiapkan segalanya dengan baik. Namun untungnya, petugas bertanya pada salah satu polisi yang kebetulan lewat.
Petugas itu adalah Karina, dia tentu mengenal Agus yang mereka maksud. Agus yang direncanakan akan pindah tugas karena kasus yang dia tangani sudah selesai.
"Oh iya nak, kamu ada perlu apa sama Agus?" tanya Karina masih polos.
"Mmmmmm.... bilang saja pada polisi bernama Agus, jika aku mau bicara dengannya. Ada hal penting yang harus aku jelaskan," balas Mawar masih malu.
"Mengenai hal apa?"
"Bilang saja, aku tahu siapa pelaku pembunuh berantai sesungguhnya."
Karina yang sempat memegang botol minuman, refleks menjatuhkan botol itu ke atas lantai. Dia terkejut bukan kepayang, mana bisa seorang wanita muda berpenampilan lugu, bisa datang membawa sebuah kabar yang tidak biasa. Karina detik itu juga, langsung menyeret Mawar masuk kedalam dan ingin segera mempertemukan dia dengan Agus.
********
Mawar kini sedang berada di ruangan khusus. Dia duduk dengan kaki gemetar, karena beberapa polisi kini sedang mengitarinya. Tentu ada Agus, polisi yang menjadi incarannya.
Mengingat Mawar mempunyai penyakit yang parah, Agus langsung memberikan jaket tebalnya dan segelas susu hangat. Dia ingin membuat Mawar lebih tenang dan relax. Sementara Alex malah khawatir, jika Sugeng akan mengetahui keberadaan Mawar, dia takut Mawar malah kembali menutup mulut.
"Kamu aman sekarang, kami akan sangat senang jika mau berbagi apa sebenarnya kamu ketahui," ucap Alex.
Untuk menghilangkan semua rasa gugup, Mawar terlebih dahulu meneguk susu hangat. Bahkan dia mencoba menarik nafas dan mengeluarkannya sangat pelan. Dia harus yakin dengan keberanian dan tindakannya kali ini.
"Apa yang aku lihat di TV kemarin adalah sebuah kesalahan. Pengacara itu bukan pembunuh, dia sama sekali tidak bersalah," jawab Mawar.
"Lalu menurut Mawar, siapa pembunuh sebenarnya?" tanya Agus pelan.
"Wanita kaya itu, ya... dia yang melakukan semua deretan pembunuhan berantai, entah saat 7 tahun yang lalu maupun sekarang."
"Siapa wanita kaya yang kamu maksud?"
"Jujur aku tidak tahu namanya, tapi aku tahu jika wanita kaya itu sangat dekat dengan ayah. Bahkan selama ini ayah selalu membantu wanita itu dalam menjalankan aksinya."
Semua terdiam dan tercengang, karena ini sebuah pengakuan yang sangat luar biasa. Akhirnya mulai terjawab, siapa dalang dari kasus ini. Untuk lebih memastikan siapa wanita kaya yang Mawar maksud, Agus langsung menyerahkan foto Nana di dalam galeri HP-nya.
Mawar melihat foto Nana, butuh satu detik saja wanita itu tidak sulit untuk mengenalinya. Bahkan dia langsung mengangguk, mengatakan bahwa wanita kaya itu adalah Nana.
__ADS_1
Setelah berhasil membongkar semua rahasia yang selama ini Mawar pendam. Tiba-tiba terdengar keributan dari luar ruangan. Alex langsung melihat kondisi yang sebenarnya terjadi, ternyata ada Sugeng memaksa untuk bertemu dengan anaknya.
Dia bahkan tak segan melawan semua aparat polisi, dia tentu ingin segera membawa anaknya pergi dari sini. Alex kini tidak akan gentar, dia menghampiri Sugeng dengan tatapan berani dan tajam. Tentu ini adalah balasan untuknya karena telah membohongi polisi.
"Dimana Mawar, apa kalian menculiknya!!" teriak Sugeng frustasi.
"Anakmu sendiri dengan suka rela datang ke tempat kami. Tentu dengan semua pengakuannya, tamat sudah riwayat mu!!" balas Alex geram.
Mawar ternyata sudah berdiri mematung melihat tingkah ayahnya. Dia menangis tersedu-sedu, karena ayahnya masih belum berubah sama sekali. Melihat anaknya menangis di pojok sana, Sugeng ambruk ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.
Anak yang sangat ia lindungi kini berubah melawan ayahnya sendiri. Bukan karena dia merasa benci, itu semua dia lakukan demi kebaikan sang ayah. Dia ingin ayahnya kembali seperti dahulu, penuh kasih sayang dan kebaikan.
Mawar berjalan menghampiri ayahnya yang terkulai lemas. Dia seraya memeluk tubuh Sugeng dengan erat dan penuh kekuatan. Mereka berdua kini menjadi pusat perhatian petugas polisi, melihat momen haru dan emosional.
"Ayah, menyerah lah. Jangan pernah takut, Mawar akan selalu buat ayah," ucap Mawar terus berurai air mata.
"Maafkan Mawar ayah, ayah salah..." balas Sugeng terus merapatkan pelukannya.
*********
Di hadapan semua polisi dan anaknya sendiri, Sugeng akan menceritakan bagaimana dia bisa mengenal Nana. Bagaimana pertemuan itu menjadi sebuah titik awal rencana balas dendam yang berkedok pembunuhan berantai.
Itu bermula saat awal September 2013 silam, malam itu hujan deras sampai menimbulkan banjir. Dia yang biasanya pulang tepat waktu ke rumah, tiba-tiba harus telat pulang dari pabrik.
Karena resah menunggu ayahnya belum pulang, Mawar yang saat itu berusia 10 tahun, berniat untuk menunggu ayahnya di depan gapura. Bermodalkan payung, Mawar berdiri sendirian menunggu motor ayahnya datang.
Namun naas, Firman yang berada di dalam kursi supir angkot. Tak sengaja melihat seorang anak perempuan yang cantik, berdiri sendiri tanpa ada orang tua di sampingnya. Niat jahat mendadak menguasai hatinya yang kotor. Bukanya menunggu penumpang naik dia malah tidak mempedulikan pekerjaannya.
Dia menculik anak itu dan mengurungnya di kontrakan bersama Siska. Awalnya Siska menolak kehadiran anak kecil itu, bagi dia sangat beresiko dan berbahaya. Namun karena sudah cinta buta kepada Firman, dia akhirnya menuruti semua permintaan pria bejat itu.
Anggota group Telegram itu hanya berjumlah 8 orang saja. Kedelapan anggota tersebut diketahui sebagai korban p3mbunuhan berantai setelah Firman. Mereka semua hanya kumpulan manusia sampah yang otaknya sudah rusak karena p*rnografi.
Dua hari disekap, akhirnya Mawar dibebaskan dari kontrakan Firman dan Siska. Anak malang itu mereka sengaja ditelantarkan di jalan raya. Tentu dengan kondisi jantung-nya yang sudah parah, dia jatuh koma berbulan-bulan lamanya.
Setelah bangun dari koma, karena akibat shock dan trauma berat Mawar memilih diam dan tidak mau bicara sama sekali. Bahkan polisi yang ingin meminta keterangan korban tidak bisa meminta informasi apapun.
Namun sebagai ayah yang sudah patah hatinya, memilih untuk tidak menyerah. Setiap hari dia selalu berdiri di depan gapura tempat terakhir Mawar diculik. Dia baru sadar, jika jalan raya itu sering menjadi tempat berhenti banyak angkot.
Sugeng pun mulai memeriksa satu persatu angkot yang berhenti. Hampir tiap hari dia menaiki semua angkot yang melintas jalan tersebut. Sampai pada akhirnya dia berhasil menemukan jepit rambut milik Mawar yang terselip di bawah bangku. Angkot yang sedang ia tumpangi tentu milik Firman, si sopir angkot.
Sejak saat itu Sugeng langsung melaporkan temuannya kepada pihak polisi. Saat polisi menggeledah bagian angkot dan rumah kontrakan, tak ditemukan sidik jari maupun DNA milik Mawar. Firman malah bersih dari segala tuduhan yang ada.
Ditambah saat itu, sekelas Firman yang hanya seorang supir angkot malah menggandeng pengacara hebat lulusan universitas Amerika. Karena kemampuan Tania lah yang mampu mengeluarkan Firman dari segala tuduhan.
Namun Sugeng tidak menyerah begitu saja, dia yakin jika pengacara kondang itu membantu Firman dan Siska membersihkan TKP. Karena saat mengawasi gerak gerik mereka, Tania tak sengaja memanggil Firman sebutan Kakak. Itulah sebabnya kenapa pengacara mahal mau menjadi klien seorang supir angkot, karena mereka adalah kakak adik.
Untuk mengawasi Firman setiap saat, Sugeng rela keluar dari pabrik. Dia bahkan tahu dimana Firman bekerja dan menjadi penanggung jawab kegiatan amal. Namun hal yang membuat Sugeng sakit hati, Firman sama sekali tidak mengenali wajahnya hanya selang 4 bulan saja dari penculikan Mawar.
Dia sangat yakin jika pria itu memang bajingan gila. Wajahnya yang terlihat polos dan baik hati menyimpan topeng serigala yang menakutkan. Selama hampir satu tahun membututi Firman, dia tidak mendapatkan apa-apa. Yang ada Firman malah terlihat seperti pria normal seperti yang lain.
Namun suatu hari, saat kegiatan amal akan berakhir. Dia tidak sengaja memergoki Firman sedang berkumpul dengan 8 pria dari beragam usia. Mereka sedang tertawa terbahak-bahak membicarakan banyak hal.
Sugeng diam-diam menguping pembicaraan mereka, betapa terkejutnya ketika Firman menyinggung video p*lecehan s*x anak kecil. Dia berkata dengan lantang, bahwa selama ini dia tahu jika ayah dari anak tersebut selalu membuntutinya. Namun dia memilih untuk berpura-pura tidak mengenalinya sama sekali.
Firman bahkan mengolok-ngolok Sugeng sebagai ayah yang bodoh dan tidak berguna. Seharusnya dia melupakan kejadian di masa lalu dan tidak usah menganggu hidupnya terus. Mendengarnya membuat semua amarah yang selama ini dia pendam membludak.
__ADS_1
Secara membabi buta, Sugeng menghajar Firman sampai babak belur. Dia bahkan mengobrak-abrik semua logistik acara untuk memukul Firman sampai berdarah-darah. Ternyata perkelahian mereka disaksikan Nana diam-diam, dia seperti sudah menunggu momen ini sejak lama.
Setelah perkelahian itu, Nana mulai mendekati Sugeng. Dia berkata sudah mengetahui alasan kenapa Sugeng sampai bisa menghajar Firman habis-habisan. Dia bahkan sengaja membuat kegiatan amal tersebut, untuk memancing Sugeng dan kedelapan anggota group Telegram bertemu satu sama lain.
Kegiatan amal tersebut hanya sebuah kedok dan misi rahasia. Karena hanya dengan cara itu, Firman bisa mengumpulkan semua anggota telegram yang menerima video s*x secara berbayar. Karena semua anggota Telegram tersebut hanyalah beban negara dan lapisan masyarakat tak berguna.
Nana menjelaskan secara jujur, jika Firman adalah salah satu target yang sudah lama dia awasi. Maka tak heran jika Nana tahu, kalau Firman menang dalam tuduhan atas p3nculikan dan p*lecehan anak di bawah umur
Dia sengaja menerima Firman bekerja di restorannya agar bisa menarik Sugeng dalam misi rahasianya. Karena merasa mempunyai tujuan sama kepada Firman, Nana mengajak Sugeng untuk menjadi kaki tangannya.
Awalnya Sugeng menolak dengan keras ajakan tersebut. Dia berdalih ingin membalas semua perbuatan Firman dengan jalur hukum yang pantas. Namun setelah melihat video yang diperjual belikan di group Telegram, hidup Sugeng begitu hancur tak bersisa.
Nana terus meyakinkan Sugeng, jika Firman dan orang-orang yang membeli video p3lecehan s*x anaknya harus diganjar hukuman lebih setimpal. Bukan jalur hukum atau persidangan, melainkan p3mbunuhan keji yang menyakitkan.
Bagi Nana, orang bejat seperti mereka selalu mendapatkan keringanan hukum. Bayangkan saja hukuman pidana pelecehan seksual sekitar 5 - 15 tahun tahun saja. Itu tak sebanding dengan rasa trauma Mawar seumur hidup.
"Sejak saat itu, kami berdua sepakat untuk menyusun p3mbunuhan berantai. Aku hanya bertugas mengawasi kegiatan mereka saja, sedangkan untuk eksekusi adalah kendali Nana," ucap Sugeng pasrah.
"Pantas saja, di lokasi kejadian hanya terdapat sepasang jejak kaki tunggal. Kami bahkan tidak menyadari jika p3mbunuh mempunya kaki tangan," timpal Radit.
"Apa bapak tahu alasan Firman keluar dari pekerjaannya di restoran?" tanya Alex penasaran.
"Alasan Firman keluar dari pekerjaan tak lain karena dia terkena gejala HIV. Namun, Firman merahasiakan itu semua dan menganggap hanya pengangguran biasa.
Selama masa penyembuhan, dia selalu dijaga dan dirawat oleh Tania. Sampai dua bulan keadaanya membaik, itulah saat yang tepat p3mbunuhan Firman dimulai."
"Lalu kenapa p3mbunuhan terhenti pada korban ke-enam? Apa yang menyebabkan p3mbunuhan itu terulang 5 tahun kemudian?" tanya Agus.
"Setelah korban ke-enam berjatuhan, semua orang yang masih tersisa di group Telegram memilih untuk kabur. Saat itu aku belum tahu kemana mereka pergi.
Sampai pada waktu Nana akan menikah dengan Farel, barulah saya tahu mereka berpencar di Bantar Gebang. Itu sebabnya, Nana memilih untuk tinggal di lingkungan biasa karena untuk memantau mereka lagi."
"Apa bapak tahu apa motif Nana membunuh Firman dan yang lainnya?"
"Karena Firman dan lainnya masuk kedalam organisasi perlindungan yang didirikan oleh Tania. Sebuah organisasi untuk memperdayakan dan mengayomi mantan narapidana.
Nana sangat membenci organisasi itu. Karena menganggap organisasi sampah itu hanya kedok untuk melindungi orang bejat seperti Firman."
Sugeng menjelaskan kembali jika k3matian tuan Ivan adalah murni rencana Nana dan dirinya. Mereka sengaja menjebak Tania dan mengancam akan m3mbunuh keponakanya di Malaysia, jika tidak menuruti semua tugas yang diberikan Nana.
Namun menurut Sugeng, puncak balas dendam Nana adalah melenyapkan Tania dan tuan Ivan. Baginya, k3matian mereka berdua adalah berkah dan anugerah dari tuhan yang tak ternilai. Nana selama ini hidup dalam misi balas dendam yang tidak pernah padam.
"Tania memang wanita jahat dan serakah di masa lalu. Dia membantu tuan Ivan untuk menyingkirkan istrinya sendiri dan menjebloskan anaknya ke dalam rumah sakit jiwa. Semua itu hanya karena harta warisan, mereka berdua tega membuat harapan Nana hancur lebur.
Tapi Tania tidak mempunyai keberanian untuk m3mbunuh, bahkan saat malam p3mbunuhan tuan Ivan di rumah sakit, akulah yang menyelesaikan tugasnya. Wanita itu sebaiknya segera keluar dari tuduhan p3mbunuhan berantai," jelas Sugeng dengan mata sembab.
Tak lama setelah itu, telepon kantor berdering dengan nyaring. Radit buru-buru mengangkat panggilan telepon tersebut dan mendengar seksama apa yang sedang dibicarakan.
Radit lalu menutup telepon itu dengan wajah linglung dan bingung, bahkan cenderung seperti tersambar halilintar. Tentu semua orang bisa melihat dengan jelas bagaimana perubahan ekspresi Radit yang tidak biasa.
"Dari siapa?" tanya Alex penasaran.
"Kepala RUTAN bos."
"Ada kabar apa?"
__ADS_1
"Barusan... Tania... wanita itu... bv nuh diri..." ucap Radit gemetar.