31 Hari

31 Hari
Garansi


__ADS_3

Agus mendobrak pintu kamar perawatan rumah sakit. Dia mencari sosok Sugeng yang menurutnya bisa menjadi senjata terakhir, untuk menyelamatkan Tania dari ancaman pidana. Namun dia malah menemukan seorang wanita remaja 18 tahun, sedang duduk di kursi menatap jendela luar.


Wanita itu adalah Mawar, anak kandung satu-satunya yang dimiliki oleh Sugeng. Tentu ini pertama kalinya Agus bertemu dengan Mawar. Mereka akhirnya saling bertatap muka, melemparkan pandangan yang sama-sama bingung. Tapi, Agus tidak menyangka jika Mawar memberikan senyuman manis untuk dirinya.


Seketika rasa marah dan frustasi dalam dada mulai menghilang. Niat awal ingin menghajar Sugeng sampai babak belur, kini hilang dalam sekejap. Mana mungkin dia tega melukai Sugeng yang menjadi harapan satu-satunya Mawar. Anak yang sudah menderita dari lahir.


Sugeng ternyata baru keluar dari kamar mandi, dia terkejut melihat Agus berada di ujung pintu. Dengan terburu-buru, Sugeng berusaha mengusir Agus sebisa mungkin. Karena dia takut jika Mawar tahu kalau ayahnya sedang dicari oleh polisi.


Namun, Agus tetap pada pendiriannya. Dia terus memohon pada pria tua itu untuk berbicara empat mata dengannya. Dia ingin sekali Sugeng berterus terang dan berkata jujur. Bahwasanya Nana adalah otak utama dari rangkaian kejahatan ini.


"Paman siapa?" tanya Mawar memecah ketegangan diantara dua pria itu.


"Agus dan paman seorang polisi."


"Polisi? kenapa polisi bisa mendatangi ayahku?"


"Ada banyak hal yang harus paman bicarakan dengan ayahmu, boleh kan?"


"Apa ayahku telah membuat kesalahan?" tanya Mawar sedikit takut.


"Oh.. enggak.. enggak... Mawar tenang saja. Kita hanya mau bicara santai saja, layaknya teman lama hehehehe...."


Sugeng pasrah, akhirnya Mawar sudah tahu siapa sebenarnya Agus. Padahal dia sudah berusaha keras menjauhkan Mawar dari siapapun, termasuk Agus. Karena tidak mau membuat keributan di depan anaknya, Sugeng mau diajak bicara empat mata.


Sugeng dan Agus akhirnya memilih untuk berbicara di luar rumah sakit. Mereka duduk berdampingan di kursi taman dekat dengan kantin. Agus sejujurnya bingung harus memulai ini dari mana, karena pasti sulit membujuk pria keras kepala.


Untuk mengawali percakapan ini, Agus tidak bisa berbasa-basi. Dia langsung pada intinya, jika dia butuh pengakuan Sugeng sejujurnya. Dia ingin sekali Sugeng menceritakan siapa sebenarnya dalang dibalik p3mbunuhan berantai.


Agus memaksa Sugeng untuk berterus terang, jika dia dan Nana sebenarnya adalah komplotan. Ditambah kejadian Tania kemarin, Agus meyakini jika semua itu dibawah ancaman Nana. Agus hanya ingin keadilan ditegakkan, kebenaran harus menjadi pemenang apapun yang terjadi.


"Jujur, saya masih belum menemukan alasan kalian bisa menjalin kerja sama. Kenapa seorang wanita muda konglomerat bisa mempunyai kaki tangan seorang supir taxi.


Sekeras apapun memikirkan semua itu, yang saya temui hanyalah jalan buntu. Tolong, bantu saya untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi," bujuk Agus tidak main-main.


"Jika memang itu benar, semua sudah terlambat. Tidak ada yang bisa kita rubah, takdir akan terus seperti itu selamanya.


Cukup, kita akhiri semua ini. Sudah jelaskan, jika Tania yang m3mbunuh tuan Ivan? bahkan dia tertangkap basah. Mau mengelak apa lagi?" balas Sugeng gemetar.


Dengan perasaan kesal, marah dan hati yang penuh berkecamuk, Sugeng memilih untuk meninggalkan Agus. Dia sudah membulatkan tekad ingin memulai hidup baru dan melupakan semua yang telah terjadi.


Sedangkan Agus, dia sudah di ujung tanduk. Jalan satu-satunya yang ia lewati hanyalah gerbang neraka. Dia gagal menyelamatkan Tania, dia gagal meyakinkan hati Sugeng yang keras seperti batu. Bahkan dia sudah jauh gagal karena tidak bisa melindungi ibunya saat itu.


*************


Saat Sugeng kembali masuk kamar perawatan anaknya, dia melihat Mawar sedang berdiri menunggunya. Wajah anak itu kini berubah, seperti menahan amarah yang selama ini terpendam.


Bagi seorang ayah yang selalu berjuang keras untuk kesembuhan putrinya, dia tidak kuat menatap balik tatapan itu. Karena sejatinya dia tahu apa yang sebenarnya anak itu pikirkan. Jadi dia hanya berpura-pura acuh dan tidak tahu apapun.


Sugeng memilih untuk duduk dan beristirahat, sambil meraih sebotol air mineral. Pria itu menyaksikan jika Mawar masih berdiri seperti patung Liberti. Sugeng tahu jika Mawar akan segera meledakan kemarahannya.


"Ayah, cukup sampai disini," ucap Mawar berbalik badan dan menatap ayahnya tajam.


"Sebaiknya kamu istirahat, besok kita harus melewati penerbangan yang panjang ke Jerman."

__ADS_1


"Kali ini Mawar udah capek, muak dan kecewa sama ayah. Aku sudah tahu semuanya yah, semua perbuatan ayah dan wanita kaya itu selama 8 tahun." Mawar akhirnya berani membentak Sugeng.


Sugeng memilih diam, tidak merespon dan pura-pura tidak tahu. Karena dia tidak sanggup menghadapi anaknya kali ini, Mawar sudah tumbuh dewasa, dia bukan anak kecil lagi. Keberaniannya sudah jauh di atas normal.


"Mending istirahat, kesehatanmu bisa memburuk jika marah-marah seperti itu. Sebentar lagi kamu bakal operasi tranplantasi jantung di Jerman. Persiapkan sebaik mungkin."


"Aku gak butuh operasi itu. Aku cuman ingin ayah menyerahkan diri ke polisi. Sudahi semua ini ayah, Mawar tahu ayah yang selama ini membantu wanita itu untuk melakukan p3mbunuhan berantai.


Mawar bahkan kemarin malam melihat jika ayah dan pengacara itu masuk ke dalam kamar VVIP. Mawar tahu, ayah yang m3mbunuh pria tua itu kan?


Aku lebih baik m@ti, daripada harus punya ayah seorang pembunuh. Ayah gak jauh beda sama Firman dan semua orang yang telah menyakiti Mawar!!"


Sontak Sugeng sudah hilang kesabaran dan kendali, dia beranjak dari kursi dan berdiri tegak di depan Mawar. Kedua matanya melotot, urat syarafnya menonjol dengan jelas dan semua ubun-ubun terasa panas.


"Apa kamu bilang? M@ti!"


"Iya, Mawar lebih baik m@ti daripada harus punya ayah pengecut dan p3mbunuh. Mawar kecewa banget sama perilaku ayah yang sangat tidak terpuji."


"Dasar anak tidak tahu di untung!! buat apa selama ini ayah merawat kamu mati-matian, banting tulang cari uang buat bayar semua pengobatan kamu yang mahal.


Mawar sama sekali tidak tahu, menderitanya ayah harus menyaksikan kamu setiap hari melawan trauma dan depresi akibat perilaku bejat mereka!!" Sugeng pecah dalam tangisan.


"Aku yang dip3rkosa, aku yang diculik. Semua adalah beban ku, tubuh ku. Tapi apa pernah aku minta ayah untuk m3mbunuh mereka? selama ini aku cuman butuh ayah untuk selalu di sampingku."


"Seharusnya Mawar bangga dengan ayah. Kalau bukan karena ayah, kamu akan terus diganggu oleh mereka semua. Seharusnya kamu senang, mereka m@ti secara mengenaskan.


Itu adalah pembalasan untuk mereka yang sangat pendosa. Ayah hanya meringankan pekerjaan tuhan. Ayah adalah utusan tuhan yang paling sempurna."


Sugeng yang panik melihat anaknya pingsan, langsung memboyong tubuh Mawar naik ke kasur. Dia dengan cepat langsung memanggil dokter dan perawat untuk segera menyelamatkan putri yang sangat dia cintai.


*********


Setelah kebebasan Nana, dia dan Farel langsung mengunjungi tempat pemakaman tuan Ivan. Saat menghadapi batu nisan sang ayah, Nana merasa hidupnya kembali hidup. Perasaan lega, tenang dan damai ini lah yang selama ini dia cari.


Dia tidak sedih atau menyesal, karena telah menyuruh Tania melakukan p3mbunuhan terhadap ayahnya sendiri. Karena hal itu memang pantas mereka berdua dapatkan. Setelah apa yang mereka lalukan pada dirinya dan sang ibu di masa lalu.


Bagaimana pahit dan sengsaranya dia harus terkurung di rumah sakit jiwa. Bagaimana dia terpaksa meminum obat-obatan penenang dan syaraf otak. Bagaimana dia harus tumbuh menjadi seorang wanita yang menyimpan dendam kesumat disetiap nafasnya.


Bagaimana ada manusia yang mengaku sebagai ayah tega melakukan ini terhadap putrinya sendiri. Bagaimana ada seorang suami, yang sangat kejam meracuni istrinya sendiri. Bagaimana bisa, tuhan menciptakan manusia melebihi kejamnya iblis sekalipun.


Sampai kapanpun, dia tidak akan pernah mengampuni perbuatan jahat ayahnya dan Tania. Tentu semua kesabaran itu membuahkan hasil, kini misi itu telah tercapai dengan sangat sempurna. K3matian sang ayah baginya belum lengkap, dia menginginkan k3matian Tania.


Kini dia adalah pewaris tunggal semua harta kekayaan tuan Ivan. Semua harus tunduk dan patuh padanya. Maka dari itu, dia bahkan mulai berani menggunakan kekuasaannya untuk mengendalikan oknum polisi. Agar bisa memuluskan rencana jahatnya.


Tanpa sepengetahuan Farel, Nana sepulang dari pemakaman sang ayah, memutuskan mengunjungi RUTAN Bareskrim. Dia ingin berbicara secara empat mata dengan Tania, untuk terkahir kalinya.


Setelah berhasil masuk kamar penahanan, Nana ikut duduk di tempat tidur. Di sana tergambar jelas, jika Tania sangat ketakutan saat melihat Nana masuk ruang tahanannya. Dia bahkan sampai meringkuk di sudut kasur.


"Aahhh.. ternyata kamar ini masih terlalu bagus untuk mu Tania."


"Tolong pergi, pergi sana!!" rengek Tania ketakutan.


"Aku cuman mau bilang terimakasih sudah menerima semua tugasku. Ya walaupun, aku sedikit kecewa karena pak Sugeng yang melakukan p3mbunuhan itu.

__ADS_1


Well, Gak papa... kali ini aku bakal sedikit bermurah hati pada mu. Selamat ya."


"Tolong jangan ganggu aku lagi. Aku sudah menerima semua hukuman itu, apa kamu masih tidak puas."


"Tapi aku masih belum punya garansi. Mana tau kamu berubah pikiran dan membocorkan semua kesepakatan rahasia kita berdua."


Tania langsung bersujud di bawah kaki Nana, dia bahkan rela mencium sepatu kotor Nana dengan derai air mata. Melihat Tania begitu rapuh dan sangat tidak berdaya, hatinya merasa begitu melayang ke udara. Dia senang sekali melihat wanita licik itu hancur lebur.


"Aku janji, sampai m@ti sekalipun tidak akan pernah membuka rahasia diantara kita berdua. Tolong, percayalah padaku!!"


"Kalau begitu m@ti saja, kayanya seru kalau lihat pengacara hebat bisa m@ti di ruang kotor seperti ini."


"Aku bersalah Na, sungguh aku minta maaf atas semua kesalahanku padamu selama ini. Tolong, biarkan aku hidup." Tania memohon dengan penuh lara.


"Bagiku, k3matian mu adalah garansi. Jika kamu memang bijaksana, ayolah, berikan garansi itu untuk ku, Tania. Anggap saja sebagai kado untuk perceraian ku dengan Farel."


"Aku gak bisa Na, berikan aku kesempatan untuk menebus semua dosa dan kesalahan!!" bujuk Tania tidak menyerah.


"Kalau kamu masih tidak mau memberikan garansi itu. Rupanya, aku besok harus pergi ke Malaysia. Sudah lama aku tak melihat Chandra, apa dia semakin tampan ya," ledek Nana dengan puas.


Setelah percakapan dan penawaran gila itu berkahir. Nana memutuskan untuk pergi dari ruang tahanan Bareskrim. Dia bahkan melambaikan tangan untuk terkahir kalinya di hadapan Tania yang sudah hampir gila.


Sejak saat itu, Tania tentu tahu apa yang harus dia lakukan. Bagaimanapun, dia akan tetap melindungi Chandra bahkan sampai mengorbankan nyawa sekalipun. Karena baginya, tidak ada yang lebih berharga daripada keluarga.


*************


Tengah malam, Nana dan Farel masih belum beristirahat. Padahal, besok mereka akan melakukan perjalanan wisata ke Hokkaido, Jepang. Nana sendiri yang meminta Farel untuk membawanya pergi keluar negri, dia ingin menikmati hari ke 31 dengan damai.


Farel mencoba pasrah dan ikhlas, sekeras apapun memohon pada Nana untuk kembali membuka hidup baru. Nana selalu menolaknya dengan keras, karena bagi dia perceraian adalah perceraian. Nana hanya ingin mereka berdua bisa hidup lebih bahagia dan melupakan masa lalu.


Farel dan Nana duduk di pekarangan belakang rumah. Memandangi langit hitam yang penuh dengan butiran bintang dan bulan sabit. Membuat suasana mendadak hangat dan romantis. Mungkin suasana seperti ini tidak bisa mereka rasakan kembali.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah kita bercerai?" tanya Farel.


"Entahlah, mungkin aku akan banyak tidur dan bermimpi bisa bertemu dengan ibu ku," balas Nana sambil tersenyum lebar.


"Benarkah? Wah itu akan menjadi hari-hari yang membosankan."


"Kalau kamu Rel?"


"Mmmmmm..... mungkin aku bakal kembali mendekatimu, mengajakmu berkencan, kita bisa banyak menghabiskan waktu dan tentu aku akan kembali menikahimu lagi kelak."


Nana tersentuh, ini adalah perkataan paling tulus dari Farel yang pernah dia dengar. Namun sayangnya, dia tidak pantas bersanding dengan pria sebaik Farel. Nana sadar, dia hanyalah wanita pendendam yang berubah menjadi seorang p3mbunuh.


"Coba saja kalau bisa," tantang Nana.


"Tentu saja aku bisa. Bukan Farel kalau tidak bisa menaklukan hati wanita."


"Kali ini kamu tidak akan bisa."


"Kenapa?"


Nana memilih tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya tertawa kecil. Karena baginya semua jawaban itu akan segera Farel ketahui, saat hari ke 31 itu berakhir.

__ADS_1


__ADS_2