31 Hari

31 Hari
Nana & Tania


__ADS_3

Farel baru saja selesai membaca laporan investigasi kasus pembunuhan di Bekasi. Setelah menelusuri lebih dalam, terlalu banyak lubang yang akhirnya semakin besar.


Dia menghembuskan nafas dengan berat, kepalanya tiba-tiba pening dan sakit. Dia sangat shock saat harus mengetahui jika ada pembunuhan lain 7 tahun lalu di Jakarta.


...Jadi ini belum berakhir?...


Farel lihai dalam merangkum semua kasus pertama sampai kesembilan. Cukup masuk akal jika kepolisan bisa mengkaitkan peristiwa pembunuhan di Jakarta dan Bekasi. Dari beberapa kesamaan memang ini adalah pembunuhan berantai.


Dia mulai teringat dengan diary Nana, sejak awal menulis istrinya selalu menyinggung masalah si kumis. Lalu apakah kumis yang dia maksud adalah bagian dari potongan tubuh korban yang hilang.


Terakhir dia menulis ingin bertemu dengan kupu-kupu, benarkah dia sudah menantikan perempuan itu sejak lama. Tapi mengapa bisa demikian, apakah itu hanya sebuah kebetulan atau kegilaan Nana.


Lalu kenapa dia harus membaca semua rentetan mengerikan di dalam diary. Apa tujuan Nana sebenarnya menyeret Farel, kenapa Nana terus memaksa agar diary itu selesai setelah 31 hari?


...Ada apa dengan hari itu?...


Farel kesal setengah mati, dia marah begitu sangat besar. Terlalu banyak pertanyaan yang sama sekali tidak bisa terjawab. Malah menimbulkan banyak dugaan api liar yang berbahaya.


Di depan Andrea, Farel malah membanting dokumen itu secara anarkis. Dia melempar semua barang di atas meja kerjanya. Kali ini Farel sudah tidak tahan, dia memilih untuk melampiaskan segala amarah dengan kekerasan.


Sedangkan Andrea hanya bisa diam saja, dia membiarkan bosnya itu bertingkah seperti preman pasar. Dia bahkan tidak berniat menghentikan segala upaya Farel menghancurkan kantornya sendiri.


Farel duduk kembali dengan wajah lemas, dia sadar jika dengan marah seperti itu tidak bisa keluar dari masalah. Sejujurnya dia bingung harus berbuat apa lagi, benarkah dia harus mencurigai Nana sejauh itu?


Farel geram, kecewa dan seperti diseret mimpi menyeramkan. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi saat mereka akan bercerai. Kenapa dia malah takut jika Nana adalah dalang dari semua pembunuhan ini.


Seharusnya dia senang saja, jika Nana wanita yang bermasalah. Seharunya dia senang jika Nana pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa. Itu akan mempermudah dia untuk bercerai di persidangan nanti. Tapi kenapa kali ini perasaan ingin melindungi Nana begitu besar?


Kenapa mulutnya bisa terkunci rapat ketika berhadapan dengan polisi? Kenapa dan kenapa?!!


...Sungguh dia telah menjadi budak...


"Apa kamu ingin mengatakan hal lain?" tanya Farel.


"Ada tuan."


Andrea kembali menceritakan temuannya, dia mengatakan bahwa sebenarnya ada maksud lain kenapa Nana bisa masuk RS Jiwa di Amerika. Dia punya keyakinan besar jika itu terkait harta warisan ibu Nana.


Dia mengatakan jika semua aset dan warisan tidak akan jatuh kepada sang suami, Ivan. Itu disebabkan karena ketidak harmonisan mereka sebagai suami istri.


Didalam surat wasiat yang di tulis oleh kuasa hukum yang sah, dinyatakan bahwa anak perempuan satu-satunya yang akan menerima semua warisan, Nana.


"Aku masih belum paham, kenapa harta warisan itu bisa membuat Nana harus pergi ke Amerika?"tanya Farel penasaran.

__ADS_1


Hanya saja surat wasiat itu punya satu kekurangan. Harta warisan itu bisa dibatalkan, jika penerima warisan dinilai tidak layak dan kredibel dalam mengelola aset dan semua harta di masa depan.


"Tidak layak dan kredibel itu tertulis seperti mempunyai riwayat kesehatan medis yang berat, menular, tidak bisa disembuhkan dan gangguan jiwa," ucap Andrea.


"Apa hanya itu saja?"


"Peninjauan kelayakan dan kredibilitas ahli waris akan dilihat setelah usia 17 tahun. Jika saat itu ahli waris dinyatakan layak makan dia akan menerima semua aset dan harta setelah usia mencapai 17 tahun.


Begitupun sebaliknya, jika ahli waris tidak layak maka semua aset dan harta ibu Nana akan jatuh ke tangan suami, Ivan."


"Jadi itu sebabnya Nana diizinkan balik ke Indonesia setelah usia 17 tahun?


"Betul, kuasa hukum telah menilai Nana tidak layak menjadi ahli waris, karena dianggap mempunyai riwayat gangguan jiwa. Maka semua harta warisan jatuh ke tangan Ivan," jelas Andrea yakin.


Farel tercengang bukan main, itu sebuah rahasia besar yang sangat terkubur rapat oleh keluarga Handono. Bagaimana bisa kehidupan Nana begitu pelik bahkan disaat dia masih kecil.


Dia mulai melamun dan memperbaiki pikirannya yang sudah berantakan. Dia harus menata semua kepingan puzzle yang telah hilang. Farel mulai yakin jika semua itu berkaitan dengan pembunuhan kedua belas pelayan, karena itu adalah puncak Nana bisa dijebloskan ke RS Jiwa.


"Andrea kamu selidiki kembali pembunuhan kedua belas pelayan itu. Cari tahu apakah itu sebuah rekayasa atau murni keracunan masal.


Ingat satu lagi, kamu harus terus menyelidiki Tania. Apapun yang terjadi aku harus tau dari mana dia sesungguhnya berasal," ucap Farel.


"Baik tuan," balas Andrea mengangguk.


********


Pukul 10.00 pagi, Nana baru saja selesai berbelanja disalah satu super market. Dia berjalan sambil menenteng dua kresek besar. Karena merasa cuaca pagi terlalu panas, dia memutuskan untuk masuk ke sebuah cafe.


Dia menyimpan dua kresek besar itu di salah satu set meja dan kursi. Setelah itu dia pergi bergegas menuju bench depan untuk memesan kudapan manis dan minuman dingin.


Setelah selesai memesan makanan, dia balik ke meja untuk menikmati snack sambil sedikit bersantai. Namun tidak disangka, di sana ada Tania yang sedang duduk di samping dua kresek besar itu.


Nana sedikit gugup dan cemas, tapi dia tetap memberanikan diri berjalan menghampiri meja yang telah ia siapkan sebelumnya. Dia sekarang duduk berhadapan secara langsung dengan Tania.


Wanita itu tersenyum dengan lebar, dia memandang Nana dengan mimik muka ceria. Sedangkan Nana hanya bisa memandang lurus wanita itu, dia tidak berselera melihat Tania.


"Maaf ya, aku kira bangku ini kosong."


"Jangan pura-pura bego," balas Nana ketus sambil menyeruput Strawberry milk shake.


"Aku masih heran, kenapa kamu malah kabur saat pesta waktu itu. Seharusnya kamu menyapaku dengan sopan, terlebih ada ayahmu disampingku."


"Kenapa kamu bisa mengenal ayahku, teman? itu sangat mustahil. Ayahku seorang duda tua, dia tidak bisa berteman dengan wanita secantik dirimu."

__ADS_1


"Wah.. hebat. Sekarang kamu sudah ketularan akun gosip ya. Hahahahaha...." ujar Tania sambil tertawa terbahak-bahak.


"Aku tanya sekali lagi, kenapa kamu bisa mengenal ayahku?"


"Kan sudah ayahmu bilang, kita adalah teman. Orang tuaku sudah lama bekerja sama dengan perusahaan ayahmu."


"Apa kamu Tania? anak dari kepala pelayan itu?" tanya Nana sambil menatap Tania.


"Entahlah... tapi sepertinya kamu salah orang. Tania yang kamu maksud sudah hilang, kini hanya ada Tania seorang pengacara hebat dengan kebaikan hati."


Nana malah tersenyum sinis, dia tidak lagi merasa takut ataupun cemas. Dengan tenang dia mulai memasukan potongan kue pie kedalam mulutnya. Dia sudah berani berhadapan dengan Tania secara langsung.


Tania pun begitu, dia tambah senang duduk berlama-lama dengan Nana. Dia ingin melihat seberapa jauh Nana akan kuat berada dekat dengan dirinya. Sepertinya Tania sudah menantikan momen ini sejak lama.


"Apa kamu takut jika Tania yang kamu maksud ternyata masih hidup?"


"Kenapa harus takut. Sekarang dia bukanlah tandingan sepadan, aku sudah jauh tumbuh dewasa dan kuat. Percayalah," balas Nana dengan wajah menantang.


"Mmmmmm... jadi kamu sudah tahu target mana yang akan terbunuh? apa jangan- jangan kamu sudah memilih siapa yang akan menjadi mayat no.10."


"Hahaha.. itu bukan urusanku, seharusnya itu menjadi urusanmu Tania. Cari tahu saja sendiri!"


Tania tambah senang dengan berbagai keberanian Nana, wanita itu ternyata sudah berubah jauh pesat. Dia bukanlah anak kecil ingusan, dia benar tumbuh menjadi lebih kuat.


"Aku peringatkan sekali lagi dan ini yang terakhir. Jauhi ayahku sebelum terlambat, jangan pernah bergantung padanya lagi. Jangan mau diperbudak oleh iblis seperti dia.


Mungkin sekarang kamu masih menjadi peliharaan manis, tapi lihat saja nanti. Setelah tahu kamu adalah wanita tidak berguna. Dia tidak segan akan menendangmu, bahkan melenyapkan dengan sangat mudah!" ancam Nana dengan serius.


"Diam kamu bocah!" balas Tania, dia mulai terpancing dengan ucapan Nana barusan.


"Mungkin aku masih bisa bertahan hidup di penjara, tapi kamu akan mati mengenaskan walaupun masih mempunyai gudang emas.


Karena bukan itu yang takutkan selama ini, betulkan?"


"Tau apa kamu bocah ingusan!"


"Kamu takutkan jika organisasi bodoh mu itu bubar? apa terlalu menyenangkan berbaur dengan para mantan narapidana?" tanya Nana dengan senyuman penuh penghinaan.


Tania sudah tidak tahan lagi, dia merasa Nana sudah melewati batas. Dia dengan tidak segan melempar gelas itu ke arah Nana, sontak saja semua tumpahan air milkshake membasahi baju dan rambutnya.


"Sepertinya aku harus melapor ayahmu, jika penyakit jiwa mu itu sudah terlalu kumat untuk dibiarkan," ucap Tania dengan lantang.


Dia lalu pergi meninggalkan Nana sendiri dengan perasaan jengkel. Sedangkan Nana hanya berdiam diri, wajahnya mendadak suram dan kosong.

__ADS_1


__ADS_2