31 Hari

31 Hari
Day 6


__ADS_3

...Tragedi sebuah ikan...


...*********...


Farel berbaring tengkurap di atas ranjang besar, dia menutup kepalanya dengan selimut. Dengan bermodalkan senter HP, dia sedang menulis diary dengan jari gemetaran.


Jantungnya terus berdetak kencang, dia sangat ketakutan harus tidur terpisah dengan Nana di rumah sebesar ini. Keringat bercucuran deras, dia sudah tidak tahan dengan banyak suara suara aneh.


Tiba tiba dia mendengar suara kecil dari jendela. Suara ketukan kaca itu semakin membuat ia panik.


Tuk.. tuk.. tuk..


Lama kelamaan suara itu tambah mencekam. Tanpa ragu lagi Farel segera berlarian keluar kamar dengan selimut tergulung di badannya.


Bahkan tanpa Farel sadari jika suara ketukan kaca jendela itu berasal dari burung gereja. Burung itu sedang menepi di pinggir jendela, paruh kecilnya itulah yang membuat suara ketukan aneh.


Langkah Farel tertuju pada kamar Nana di lantai satu. Dia dengan tergesa- gesa naik melewati tangga yang melingkar seperti ular. Dengan cepat Farel mengetuk pintu kamar Nana yang tertutup.


Tok.. Tok..Tok..


"Nana, buka cepat!" seru Farel dengan gelisah.


Pintu itu terbuka dengan pelan, di sana Farel langsung melihat jika Nana berdiri menyambut dirinya.


Namun kali ini rasa takut mendadak hilang dalam sekejap. Rasa takut itu teralihkan dengan penampilan Nana yang terbilang langka.


Nana memakai gaun tidur berwarna pink pastel, rambutnya di gerai secara bebas, kulit putihnya mendadak seperti warna rembulan dan warna bibirnya mengkilap secara alami.


"Cantik," batin Farel.


Nana seraya melihat wajah suaminya membeku, matanya tidak berkedip sedikit pun. Dia lalu mengibaskan telapak tangan kiri di depan wajah Farel.


"Rel? ko malah bengong sih. Ada apa teriak teriak gitu?" tanya Nana dengan wajah bingung.


Sontak saja wajah Farel berubah, dia baru sadar dari semua lamunan. Dia menarik nafas dan mengaturnya secara perlahan.


Dia kembali melihat istrinya, tentu ini bukan mimpi atau halusinasi. Perempuan itu benar benar Nana, dia sangat cantik dan menawan. Farel bahkan sampai tidak mengenalinya sesaat.


"Kamu tuh ya, bikin aku kaget saja. Ngapain juga pakai baju kaya kuntilanak gini!" protes Farel pura pura. Padahal sebenarnya dia sedang menyembunyikan rasa terkejut luar biasa.


Sontak mendengar Farel berkomentar tentang baju yang sedang ia pakai, Nana tertawa cekikikan. Dia malah memutar badan dan membuat gaun malam itu mengembang seperti adonan roti.


"Cantikan? aku pakai baju punya ibu, ternyata masih disimpan rapih," balas Nana dengan sumringah.


"Gak cocok, tiap hari juga biasanya pakai daster kelelawar," protes Farel dengan salah tingkah.


Nana kemudian memberikan diary nenek sihir ke arah suaminya. Dia memberitahukan jika ini saatnya mereka menukar diary. Farel pun memberikan diary jamur ke tangan Nana.


"Ok, Good night ya Rel," ucap Nana sambil menutup pintu.


"Tunggu.. tunggu..." balas Farel panik dan menahan gagang pintu dari luar.


"Kenapa Rel?"

__ADS_1


"Lebih baik malam ini aku berjaga jaga di kamar mu. Tangan mu masih sakit kan? nanti kalau ada apa apa pasti repot," ujar Farel dengan wajah sok pahlawan.


"Enggak ko, tangan Nana dari tadi baik baik saja. Sebaiknya kita tidur saja. Besok saja diary ini kita tukar kembali. Bye Farel," ucap Nana kembali menarik pintu dan ingin segera menutupnya.


Namun Farel masih terus berjuang, dia tidak ingin di tinggal Nana begitu saja. Dia kembali menahan gagang pintu itu dengan kuat.


"Apa lagi sih Rel?" tanya Nana sedikit gusar.


"Tidur di bawah dingin banget, aku gak tahan Na. Kayanya kamar kamu lebih hangat deh, aku masuk ya.. ya..." jawab Farel langsung saja masuk menerobos pintu.


Nana terheran heran, ketika melihat suaminya masuk ke dalam kamar dengan buru buru. Nana kemudian menutup pintu kamar dan kini mereka hanya berdua saja.


"Tapi ranjangnya cuman satu Rel," ucap Nana.


"Gak masalah, Farel bisa tidur di sofa," balas Farel dengan senyum lebar.


Disaat itu juga Farel langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa dan kembali menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


Nana tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa merelakan jika Farel ikut bersama dalam satu ruangan. Tapi Nana tidak peduli, dia mengabaikan Farel dan kembali merebahkan di atas kasur utama.


Mereka berdua kini saling membaca buku diary dengan suasana malam yang tenang.


"Apa apaan sih Rel, ko nulis cuman satu kalimat doang," protes Nana sambil duduk di atas kasur.


Farel pun bangkit dari sofa dan tanganya masih membuka lembaran buku diary jamur.


"Siapa juga sih yang bisa konsentrasi nulis di rumah horor gini!" bela Farel dengan cuek.


"Dasar penakut, bilang saja kalau kamu takut tidur sendirian di lantai bawah. Masa pria takut hantu!" Nana mulai berkomentar dengan berani.


" Jumat, 6 April 2022


Dear diary...


Aku merasa sangat senang bisa kembali ke masa lalu. Di rumah ini, terdapat banyak kenangan manis dan pahit bertebaran. Entah itu dengan ibu atau kedua belas pelayan yang setia.


Bahkan ini pertama kalinya aku membawa Farel melihat 12 kuburan tak jauh dari sini. Jujur saja, perasaanku saat itu begitu kalut. Kuburan itu seperti mengajakku masuk ke lubang neraka.


Tapi saat itu, semua kesadaran ku kembali terselamatkan. Terimakasih Farel, kamu sudah memberikan sebuah pelukan. Walaupun itu pelukan yang sangat terpaksa. Aku sangat merasa tertolong." Farel seketika membeku tak kala tulisan diary itu berhenti.


Farel menutup diary jamur dengan pelan, dia termenung dengan semua tulisan itu. Dia lalu menatap kedua tanganya sendiri, dia menyadari jika tangan itu sudah menyentuh Nana secara lebih intim.


Dia lalu memandang lurus melihat Nana, ternyata perempuan itu sudah terlelap tidur. Ini adalah hal yang tak pernah terbayangkan, jika secara dekat dia bisa melihat Nana tidur.


Wajah istrinya seperti bayi mungil. Tubuhnya sangat kurus dan terlihat rapuh. Dia masih tidak menyangka jika pelukan tadi bisa membuat Nana merasa tenang.


******


Pagi hari telah datang, Farel merasa sangat lega telah melewati malam yang menakutkan. Semua jendela besar kini sudah terbuka, hangatnya sinar matahari menyerap ke setiap pori pori kulit.


Farel sedang berjalan mengitari rumah tua yang masih terawat baik. Nana berkata semalam jika sepertinya sang ayah mertua masih merawat rumah ini diam diam.


Air dan listrik masih berfungsi dengan sangat baik, bahkan Nana masih bisa menggunakan peralatan di dalam dapur.

__ADS_1


Sembari Nana sedang menyiapkan sarapan, Farel terus menilik setiap perabotan antik dan mahal. Porselen buatan Eropa, guci besar dari china dan karpet permadani mewah dari Maroko.


Kaki Farel kini masuk ke sebuah ruangan kecil. Di dalam ruangan itu terdapat banyak sekali rak rak buku. Buku buku itu masih terawat dengan baik, tidak ada satu rayap pun yang merusak setiap lembarnya.


Ternyata rumah ini memang indah dan memikat. Dia merasa jika dahulu rumah ini begitu sangat nyaman untuk di tinggali. Dia bisa merasakan magnet luar biasa di setiap sudut ruangan.


Kini perhatian Farel teralihkan pada satu meja dan kursi di kiri pojok. Sepertinya kursi kecil itu tempat Nana sering menghabiskan waktu untuk membaca.


Dia melihat di atas meja ada beberapa bingkai foto. Mata Farel lalu menilik satu persatu gambar dari setiap bingkai. Ada pose dia bersama dengan kedua orang tuanya, ada pose dia bersama dengan kedua belas pelayanan dan terakhir dia sedang berdiri di samping anak perempuan muda.


"Farel," ucap Nana dari arah belakang secara tiba tiba.


Sontak Farel sangat terkejut, dia kira suara itu berasal dari mahluk gaib tak kasat mata. Farel membalikan badan dan kini saling menatap dengan sang istri.


"Ayo kita makan, sarapan sudah siap," perintah Nana dengan lembut.


"Maaf aku masuk tanpa izin," ucap Farel.


"Gapapa santai saja. Lagian ini cuman perpustakaan biasa. Dulu aku sering banyak menghabiskan waktu membaca novel teenlit, novel fantasi atau komik Jepang," balas Nana sambil berjalan mendekati Farel.


Dia pun melihat jika bingkai foto lama itu masih tersimpan rapi di atas meja. Nana tersenyum tak kala tanganya meraih salah satu bingkai foto.


"Apa mereka adalah kedua belas pelayan yang mati itu?" tanya Farel dengan hati hati.


"Iya, mereka adalah pelayan yang setia. Lima pria dewasa, enam wanita dewasa dan satu anak perempuan seperti aku," balas Nana.


Farel lalu mengambil satu bingkai foto lagi, dia menunjukan kepada Nana.


"Apa anak perempuan ini juga mati?" tanya Farel semakin penasaran.


Nana langsung meraih satu foto bingkai itu. Nana dan anak perempuan itu sedang berdiri berdampingan memakai baju rok pendek dengan kualitas jauh berbeda.


"Namanya Tania, dia lebih tua dari ku sedikit. Tania adalah anak dari kepala pelayan rumah ini, tentu dia mati bersama dengan ibu-nya," jawab Nana santai.


*******


Setelah membicarakan banyak tentang kisah dari foto foto tersebut, kini mereka duduk di meja makan. Bersama mereka tengah menikmati sup ikan hangat yang sangat lezat.


Farel begitu lahap menikamati semua hidangan yang telah isrtinya masak. Tentu melihat itu semua perasaan Nana begitu sangat senang. Karena biasanya dia lebih sering sarapan di kantor.


Hanya saja, hati Farel selalu saja mengganjal. Dia selalu penasaran dengan kisah kelam di balik tembok megah ini berdiri.


"Kenapa sih kedua belas pelayan itu bisa mati masal?" tanya Farel dengan kepo.


"Kan aku sudah bilang mereka mati karena keracunan makanan," jawab Nana dengan wajah datar.


"kronologinya memang seperti apa?"


"Aku gak tau sih kronologi jelasnya seperti apa, dulu aku masih sangat kecil. Aku cuman lihat secara langsung kalau mereka tergeletak di lantai dengan mulut berbusa dan ada yang muntah muntah," jelas Nana.


"Ko bisa sih? Emang mereka habis makan apa?" tanya Farel semakin ngotot ingin mengupas tuntas semua rasa penasaran.


"Kalau kata ayah dulu mereka mati karena habis makan ikan buntal," jawab Nana sambil menatap lurus Farel.

__ADS_1


Sejenak Farel berhenti mengunyah makanannya. Dia dengan wajah penuh kegelisahan mulai melirik isi mangkuk di bawahnya. Sangat jelas jika dia sudah menghabiskan seluruh sup ikan itu dengan cepat.


Farel berdiri dengan tegang, kemudian dia berlarian menuju wastafel. Dimuntahkan secara brutal semua isi mulutnya itu. Beberapakali Farel mencoba memasukan jari kedalam mulutnya, dia berharap jika potongan ikan yang sudah masuk kedalam perut segera keluar.


__ADS_2