
...Aku harap ini hanya sebuah kebetulan...
...*************...
Farel sedang berjalan mondar mandir di tengah ruangan kerjanya. Dia mencemaskan banyak hal, terutama dia tak bisa berhenti mengingat kejadian malam kemarin.
Ciuman kilat itu tak henti meneror konsentrasinya, dia tidak bisa fokus dalam bekerja ataupun berinteraksi dengan orang sekitar. Kini isi otaknya hanya sebatas sentuhan bibir yang menggairahkan.
"Dasar wanita mesum!" decak Farel geram.
"Seharusnya Nana menghentikan ku saat itu juga!"
"Du du du du gimana dong kalau Nana nanti salah paham. Gimana kalau dia pikir aku mulai suka sama dia? Idih amit... amit..jangan sampai!"
Dia terus berdebat dengan dirinya sendiri tanpa henti, namun sekeras apapun dia menyangkal c!uman itu perasaanya selalu saja terkendalikan. Dia bahkan sekali kali melihat cermin dan memandangi bibir tipisnya itu.
"Arrghhhhhhh sial.. sial... ini menjijikan!"
Farel terus menggosok bibirnya dengan tisu, seakan akan bibir itu sedang dikerumuni banyak virus mematikan. Dia bertingkah sangat konyol dan memalukan mengingat dirinya adalah seorang Presdir perusahaan besar.
Tiba tiba ada suara yang mengetuk pintu dari depan. Sepertinya Farel akan kedatangan seorang tamu.
Kemudian pintu utama terbuka, masuklah seorang pria muda tampan memakai jas cokelat muda. Pria itu menghadap Farel dengan sangat sopan dan penuh penghormatan.
Sontak Farel menjadi diam, dia pun ingat jika dia menyuruh sekretarisnya untuk memanggil Andrea. Seorang pemuda yang sangat ia percaya dan lihai melakukan pekerjaan gelap.
Segera Farel berbalik arah dan kembali duduk di atas kursi kerjanya. Dia menyuruh Andrea untuk menghadap dirinya lebih dekat, dia ingin pria itu berdiri di depannya.
"Aku ada tugas baru untukmu. Ini sebuah misi rahasia," ucap Farel dengan wajah serius.
"Siap," jawab Andrea sigap.
Farel kemudian memberikan sebuah foto pada Andrea, dia menyuruhnya untuk jeli melihat wajah wanita cantik itu. Andrea memungut foto itu dan melirik sekilas bagaimana wanita itu tersenyum indah.
"Namanya Tania, dia akhir akhir ini mendadak muncul di sekitarku. Aku ingin kamu cari tahu semua seluk beluk tentang wanita ini."
"Baik."
Andrea nyatanya masih menunggu instruksi lain dari bosnya itu. Dia yakin jika Farel masih ingin banyak berbicara pada dirinya.
"Tentu ini paling rahasia di atas rahasia, kamu selidiki Nana, istriku sendiri. Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi 13 tahun lalu di rumahnya, Majalengka.
__ADS_1
Selidiki ini diam diam, tidak ada satupun boleh mengetahuinya. Paham?" tanya Farel begitu tajam.
"Baik, saya akan lakukan sebaik mungkin."
Setelah dua instruksi itu selesai, Andrea kemudian pamit undur diri. Pria itu dengan langkah kaki yang tegap seperti prajurit segera keluar dari pintu.
Farel menghela nafasnya begitu berat, dia tidak menyangka bisa melakukan ini kepada istrinya sendiri. Jujur saja waktu malam itu, dia hampir mendengar semua percakapan Nana dan mertuanya.
Farel menguping pertengkaran itu layaknya seorang penguntit yang handal. Bukan tanpa sebab, dia merasa kali ini ada sesuatu yang tidak beres di antara keluarga itu. Apalagi dia jelas melihat p!sau besar itu berada di genggaman istrinya.
Pintu itu kembali diketuk oleh Dominic. Dia berjalan dengan santai menghampiri bosnya dan memberikan sebuah kotak perhiasan tepat di depan Farel.
"Apa ini?" tanya Farel penuh selidik.
"Masa pak Farel lupa sih, waktu itu tuan memesan sebuah kalung di salah satu galerinya Marcus di Italia."
"Oh Iya ya.. maaf aku lupa. Terimakasih Dominic."
Tangan Farel meraih kotak perhiasan dan langsung membukanya. Dia mengambil sebuah untaian kalung berlian yang secara khusus di desain membentuk kupu- kupu.
Mata Farel cukup lama menilik setiap detail dan kerlip berlian. Dia berharap jika Nana akan menyukai hadiah kecil ini, sudah saatnya dia mengakhiri semua teka teki kupu-kupu
Sejatinya ia masih belum tahu apa yang ada di benak Nana, bahkan masalah kupu-kupu saja dia seperti menghadapi seorang Filsuf. Farel hanya bisa berharap jika isi diary Nana hanya sekedar mencurahkan isi hati, tidak lebih.
********
"Aku pulang," sambut Farel dengan letih.
Dia baru saja pulang dari kantor, tubuhnya sudah teramat lelah dengan banyak aktifitas. Tak ingin banyak membuang banyak tenaga lagi, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Sungguh dia merasa penuh kenikmatan, rebahan adalah momen yang sangat ia senangi. Matanya seraya melirik Nana yang sedang asik di dapur.
Dia melihat Nana sedang memegang pisau besar dan membelah beberapa bagian daging. Dia sangat mahir menggunakan pisau, tidak ada wajah takut ataupun ragu ragu saat membelah semua daging itu.
"Na, kamu masak apa?" teriak Farel dari ruang santai.
"Sup daging tulang, kamu suka kan?"
"Hati- Hati sama p!saunya! jangan sok jago."
Nana tidak bergeming sama sekali, dia malah terlihat tambah santai mengayunkan pisau besar itu. Suara gertakan tulang terbelah membuat dapur itu seperti tempat jagal.
__ADS_1
Tangan Farel lalu mengeluarkan kotak perhiasan dari saku jas. Dia berpikir sejenak apakah ini waktu yang pas memberikan kalung itu. Tapi dia ragu dan terus ragu, dia ternyata takut di tolak lagi seperti waktu itu.
"Suka gak ya Nana sama kalung ini?" batin Farel.
Farel belum siap, ini bukan waktu yang tepat. Dia kembali memasukan kotak perhiasan itu ke dalam saku jas. Untuk mengusir rasa bosannya, dia meraih remote dan menyalakan TV. Farel berulang kali mengganti saluran TV dengan cepat, dia belum menemukan tontonan yang layak sama sekali.
Namun tatapannya berhenti dengan cepat tak kala dia melihat satu saluran berita. Sebuah berita eklusif dan panas, berita pembunuhan berantai di Bekasi yang akhirnya naik ke media masa.
Kedua mata Farel terus melototi semua keributan para reporter untuk melawan penjagaan polisi. Dia sama sekali tidak menyangka, jika kasus wanita pembunuhan P S K saat itu bukan pembunuhan biasa.
Namun dia masih belum paham mengapa pembunuhan P S K bisa disebut serial killer? Berarti sebelumnya telah terjadi pembunuhan yang sama? Tapi siapa?
Inilah ciri khas media tanah air, selalu menyuguhkan berita yang tidak akurat dan terpercaya. Mereka hanya ingin membesar besarkan sebuah perkara tanpa riset lebih dalam. Berita ini masih simpang siur, Farel tidak akan percaya dengan mudah.
Hanya saja Farel ingin tahu lebih banyak. Dia lalu mengganti saluran dan mencari berita lain.
Satu demi satu semua saluran TV hampir menayangkan berita yang sama. Para media dengan sangat mudahnya membuat banyak judul berita yang membuat kepanikan tambah besar.
...Serial Killer Bekasi...
...Misteri pembunuhan berantai di Bekasi...
...Pembunuhan kejam P S K oleh psikopat gila...
...Terbunuhnya wanita bertato kupu-kupu di hotel...
Farel tambah terkejut bukan main karena tagline berita terkahir yang baru saja dia lihat di layar TV. Dia tidak tahu jika P S K itu mempunyai sebuah tato kupu-kupu di bagian belakang tubuhnya.
Entah darimana media bisa mendapatkan informasi itu. Mereka mendapatkan setidaknya satu foto yang menunjukan jika mayat itu memang mempunyai tato kupu-kupu di bagian punggung.
Dia mulai teringat sesuatu, tanganya kembali meraih kotak perhiasan itu dan membuka kalung berlian. Dia mulai membandingkan bagaimana detail bentuk dan warna tato kupu-kupu itu bisa sangat mirip dengan miliknya.
Farel lalu berjalan ke arah kamar Nana. Dia segera mencari cari sumber gambar yang sempat ia lihat saat lalu. Gambar kupu-kupu hasil lukisannya sendiri, Nana selalu tempel lukisan itu di sekitar meja belajar.
Akhirnya Farel menemukan lukisan itu, dia meliriknya dengan fokus. Oh tidak! betapa bergetar hati Farel saat itu juga. Lukisan itu begitu sangat mirip dengan tato kupu-kupu milik korban.
"Farel, ko disana?" tanya Nana dari ujung pintu.
Farel terkejut bukan main saat suara Nana memanggilnya. Bahkan dia tak sadar telah menjatuhkan kanvas itu ke bawah lantai.
"Oh Na.. aku gak sengaja masuk kamar kamu, aku mau pinjam gunting!" balas Farel sangat gugup.
__ADS_1