31 Hari

31 Hari
Day 16


__ADS_3

...Dan terjadi lagi.......


...***********...


Malam harinya, Agus dan Ibu Surti baru saja selesai membereskan rumah yang sempat berantakan. Walau rumah itu sempit, tapi banyak sekali perabotan kecil yang sulit dibereskan. Mereka memutuskan untuk bersantai di ruang tengah sambil menikmati wedang jahe hangat.


Ini momen langka bagi mereka, menghabiskan waktu hanya berdua saja. Sejak Agus masuk kepolisian, dia terlihat jarang menemani Ibu Surti walau di hari libur sekalipun. Maka dari itu dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu berharga ini.


Mereka tertawa karena banyak hal, membicarakan masa kecil dengan mendiang ayah adalah hal yang membahagiakan. Agus tiba-tiba merindukan sosok ayah yang tegas dan berwibawa.


Agus sejenak minta izin untuk menjawab panggilan telepon dari Tania. Dia lalu pergi ke belakang dan membicarakan banyak hal penting. Sedangkan Ibu Surti masih menunggu anaknya selesai. Sekitar 15 menit saja, Agus kembali kepada ibunya dengan wajah berseri-seri.


"Lagi kasmaran ya nak?" tanya Ibu Surti jahil.


"Ah, ibu tahu saja," jawab Agus senyum mesem- mesem.


"Siapa sih Gus, kayanya kamu cinta banget sama wanita itu."


"Masa ibu lupa sih, wanita cantik yang pernah pagi-pagi datang kesini. Namanya Tania, teman SMA Agus dulu."


Agus kemudian menunjukan foto Tania dari atas kepala sampai ujung kaki. Dia ingin mengenalkan lebih jauh sosok wanita yang sangat dia sukai. Dia pun ingin menyombongkan betapa cantiknya Tania.


Ibu Surti nampaknya tidak terlalu tertarik dengan sosok Tania. Dia malah menunjukan wajah masam dan bete. Kini selera menantunya tiba-tiba berubah 180 derajat.


"Cari istri itu kaya Nana, gak cuman cantik tapi baik hati luar dalam," gumam Ibu Surti.


"Lah ko Nana lagi sih bu, jauh dong Tania sama Nana! Dia dermawan, kepedulian sosialnya tinggi yang penting bu dia benar benar baik, bukan pura pura baik!" sanggah Agus geram.


"Tau dari mana kamu, kalau Tania itu wanita baik-baik."


"Ya ampun bu, Agus sudah kenal Tania sejak lama. Gak mungkin lah dia wanita gak benar. Yang ada ibu harus waspada sama Nana, baru jadi tetangga satu tahun saja kaya udah kenal dari lahir," cibir Agus manja.


"Yakin Gus?"


"Yakin dong bu, selama ini yang bantu ibu kalau ada masalah siapa? Tania loh. Kemarin dia suka rela jadi kuasa hukum ibu, saat kasus kekerasan di dalam toilet.


Sekarang? Dia siap melindungi keluarga kita kalau paman Jono terus melakukan pemerasan. Bahkan tadi dia meminta alamat rumah paman Jono di Cikiwul untuk jaga-jaga."


"Dasar anak bodoh! Ngapain kasih alamat paman kamu ke orang asing. Kalau Jono kenapa-napa, kamu tanggung jawab!"


"Aduh bu, ko jadi nyalahin Tania sih. Dia kan pengacara hebat, jangan khawatir."


Ibu Surti hanya bisa tertawa ringan mendengar penjelasan anaknya itu. Dia lalu mengelus kepala Agus dengan penuh kelembutan dan menyentuh telapak tangannya. Sang ibu menatap dalam dan penuh cinta kepada Agus.


"Baiklah, jika itu pilihan hati mu. Kejarlah wanita itu sampai dapat! Jangan jomblo terus yah."


"Beneran bu, Agus sama Tania cocokan?"


"Iya, ya... cocok.. banget," balas Ibu Surti sedikit mentertawakan Agus.


Agus tentu bahagia dengan kebijaksanaan ibunya sendiri. Dia memeluk Ibu Surti dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Dia bahkan begitu terharu dengan keputusan sang ibu yang selalu menghormatinya.


"Terimakasih ya bu, Agus sayang sama Ibu," ucap Agus lirih.

__ADS_1


*********


Senin, 16 April 2022


Dear Diary....


Sepertinya akhir-akhir ini kita sedang banyak melewati ketegangan, kecemasan yang tak wajar. Kenapa harus bersikap berlebih seperti itu? Padahal aku ingin menikmati sisa waktu sebelum bercerai dengan nyaman.


Semua merasa diteror oleh sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu. Pikiran yang kacau bisa membuat mereka tersandung dengan kerikil kecil sekalipun. Farel, kamu harus tetap berdiri kokoh pada jalan yang telah kita sepakati.


Bercerai adalah akhir dari tulisan diary ini.


Sepertinya kita semua sudah terlalu banyak mengalami mimpi buruk. Apa perlu kucari kan sekawanan ayam jantan untuk berkokok dengan kencang? Mengganti alarm HP yang sudah seperti gundukan rongsokan tak berguna.


Jangan cemas, aku adalah istri terbaikmu kali ini. Aku tahu apa yang kita butuhkan saat ini. Saatnya melakukan pembalasan, akibat kekacauan yang semesta telah lakukan.


Farel melongo seperti orang gila, bulir keringat mulai membasahi seluruh jidatnya. Dia membanting diary nenek sihir itu ke arah tembok. Dia sudah tidak tahan lagi harus membaca tulisan diary istrinya sendiri.


Sekarang, apa lagi? Kenapa semua ketakutan dan teror dalam jiwanya tak kunjung berhenti. Nana yang dulu dia kenal begitu polos, bisa berubah seperti rubah berekor sembilan. Tubuhnya tak henti gemetar karena menahan rasa frustasi akut.


...Nana cukup! berhenti sampai disini....


Farel tahu akan terjadi sesuatu yang lebih buruk. Tulisan Nana terlihat seperti peringatan dan hadiah yang tak terduga. Tapi benarkah Nana akan membunuh lagi? Apa Farel harus percaya semua praduga yang tak berdasar ini.


Dia lalu kembali memungut diary nenek sihir dan berjalan keluar menuju kamar Nana. Di sana dia melihat wanita itu sedang merapihkan beberapa pakaian dan dimasukan kedalam travel bag.


Dengan cepat Farel merampas baju ditangan Nana dan menjatuhkan semua isi dari dalam tas. Tentu wanita itu sangat terkejut dengan tindakan brutal sang suami. Dia masih keheranan kenapa Farel bisa bertindak seperti itu.


"Kamu mau kemana?" tanya Farel sengit.


"Ngapain pergi ke rumah ayah Ivan?"


"Barusan aku di telepon sama asisten ayah, kalau dia sakit."


"Bohong, aku tahu kamu gak akan pernah datang ke rumah ayah Ivan walau sekarat sekalipun. Sekarang kenapa tiba-tiba jadi peduli sama dia?"


"Masa bohong sih, kalau gak percaya telepon saja asisten di rumah. Pokoknya aku harus pergi malam ini juga."


"Enggak boleh, aku gak kasih izin. Pokoknya kamu tetap di rumah dan jangan harap bisa keluar," ancam Farel serius.


Farel langsung menutup pintu kamar Nana dan segera mengunci pintu kamar dari luar. Bahkan dia menutup semua jendela dengan gorden dan mengunci setiap pintu yang mengarah jalan keluar.


Dia berlari keluar dan mengunci gerbang halaman depan, bahkan dia menggunakan gembok ekstra. Farel menutup semua akses rumah kecil ini, dia tidak akan membiarkan Nana keluar. Dia tidak mau kecolongan dan bersikap lengah seperti biasa.


Sedangkan tanpa Farel sadari, Agus sedang memantau pergerakan rumah mereka. Dia jelas melihat bagaimana pria itu dengan rusuh menggembok gerbang depan.


Tentu itu diluar kebiasaan Farel, sehingga menimbulkan kecurigaan besar. Agus memang belum tahu apa tujuan Farel bersikap seperti itu, namun dia yakin itu berhubungan dengan Nana.


Sementara Nana terus mengetuk pintu kamar dari dalam. Wanita itu terus memohon pada Farel untuk membiarkannya keluar kamar. Dia juga terus memaksa Farel agar menjelaskan kenapa sikapnya bisa berubah.


"Rel, kali ini ayah sakit parah. Aku yakin itu karena berita perceraian kita sudah tersebar kemana-mana. Jadi please, kali ini saja biarkan aku keluar," ucap Nana dari balik pintu.


Sedangkan Farel berdiri di depan pintu kamar Nana. Sejujurnya dia sangat sedih harus mengurung istrinya sendiri di dalam kamar. Dia tidak tega, tapi itu demi kebaikan.

__ADS_1


Dia tidak ingin mengeluarkan iblis yang terkurung di dalam diri istrinya. Dia tidak ingin ada yang terluka lagi karena kecerobohannya. Tujuannya tentu melindungi semua orang.


"Maafkan aku Na," balas Farel pelan.


"Rel, apa kamu tidak percaya istrimu sendiri. Aku sudah bilang tetaplah memihak padaku apapun yang terjadi," rayu Nana dengan lembut.


"Berhenti berbicara manis seperti itu Na!! kamu hanya perlu berdiam diri saja di kamar," bentak Farel.


**********


Siang harinya Agus dan Ibu Surti sudah berada di meja makan untuk menyantap sayur lodeh, ikan asin dan sambal terasi. Pria itu sangat menikmati setiap suapan di atas piring. Dia bersyukur karena masih bisa menikmati masakan ibunya.


"Tumben tetangga kita sepi. Dari subuh ibu gak lihat Nana belanja ke pasar," celoteh Ibu Surti.


"Sudahlah bu, itu bukan urusan kita. Lagian mereka bakal bercerai. Wajar saja kalau terjadi cek-cok rumah tangga."


"Tapi ko perasaan ibu gak enak ya. Gak biasanya mereka begini."


Agus mulai diam, mulutnya terus mengunyah namun fokusnya kemana-mana. Jujur saja dia terus kepikiran dengan tetangganya. Apalagi sejak kemarin malam Farel hanya terlihat mengunci gerbang depan.


Dia harus tahu apa yang terjadi, dia tidak boleh kehilangan informasi apapun dari mereka. Dia cepat-cepat menghabiskan makanan dan ingin segera mengintai rumah tetangga.


"Ibu hari ini mau ke rumah Jono," ucap Ibu Surti.


"Ngapain?"


"Mau ambil perhiasan. Ibu gak mau kamu sedih terus karena barang dari ayahmu satu-satunya hilang."


"Sudahlah bu, biarin saja. Lagian perhiasan itu sudah di jual murah."


"Kali ini temenin ibu ya, sudah lama juga kita gak jenguk paman Jono. Kamu katanya ambil cuti kan?"


"Iya sih, ya sudah Agus temenin," balas Agus.


Tiba-tiba nada dering HP Agus berbunyi, ternyata itu adalah telepon dari wakil ketua tim, Bima. Agus segera menjawab panggilan telepon itu dan mendengarkan perintah darurat dari atasannya.


Wajah Agus berubah total, dia mendadak panik dan gelisah. Dia buru buru berlarian menuju kamar dan segera mengganti pakaian. Sedangkan Ibu Surti malah bengong melihat keributan Agus.


"Kenapa nak?" tanya Ibu Surti penasaran.


"Ibu maaf, kayanya Agus gak bisa nemenin ibu pergi ke rumah paman Jono. Ada panggilan darurat dari kantor."


"Ya sudah gapapa, Ibu bisa sendiri."


"Pokoknya Agus janji, kalau urusan ini sudah selesai pasti Agus nyusul ibu ke rumah paman Jono. Ok, Agus pamit dulu ya," ucap Agus sambil menyalami tangan sang ibu yang sudah keriput.


Sementara dia sudah mengeluarkan motor dari garasi dan melewati rumah Farel. Agus sejenak menghentikan mesin motor, dia mulai memperhatikan gembok gerbang yang masih terkunci.


Dia melihat seluruh bangunan rumah Farel, namun terlihat tidak ada tanda-tanda kehidupan. Apa mereka belum keluar rumah sama sekali? Mendadak perasaan Agus menjadi tidak enak.


Apalagi setelah ia mengetahui jika panggilan darurat itu tentang laporan Imin. Bima mengatakan, Imin menelepon polisi karena tidak sengaja telah berpapasan dengan wanita berbau mint.


Imin sangat yakin jika bau parfum mint yang menyengat itu sangat mirip dengan wanita bertudung hitam. Karena hanya dialah satu-satunya saksi mata yang pernah bertemu dengan pelaku saat di hotel.

__ADS_1


Agus masih tidak paham, jika memang wanita berbau mint itu adalah pelaku. Lalu kenapa rumah Farel dan Nana mendadak sepi. Sebenarnya kemana mereka pergi?


__ADS_2