31 Hari

31 Hari
Penahanan Part 2


__ADS_3

"Ibu mu, yang selama ini kamu selalu perlakukan seperti musuh, bukan mati karena tak sengaja memakan sup ikan buntal. Dia mati karena sengaja dicekik oleh tuan Ivan," jelas Nana tertawa sinis.


"Apa? jangan bohong, jaga ucapan mu itu!!" jawab Tania tidak percaya.


"Tania, Tania.... sudahlah, jangan pura-pura menanggung beban ayahku sendiri. Lepaskan...


Aku tahu, bukan kamu yang meracuni semua pelayan itu. Ayahku, dia adalah dalang dari semua tragedi kematian 12 pelayan itu.


Oh tidak, tidak.. aku harus ralat. Kematian 11 pelayan dan 1 istrinya sendiri. Kamu juga tahu kan, kuburan no.12 itu bukan hanya sekedar kuburan kosong. Ada jasad ibuku di dalam tanah itu."


Tania gemetaran begitu hebat, dia mengepalkan kedua tangan sangat kuat. Semua keringat dingin mulai membasahi kepalanya, air liur sudah pahit untuk ditelan menuju kerongkongan.


"Omong kosong! Ibuku tidak mati seperti itu, semua orang tahu jika itu ulah mu. Berhenti memanipulasi semua orang!!"


"Kamu itu memang dasarnya polos atau bodoh sih. Dengar ya, saat malam kejadian tersebut aku ada dan melihat semua-nya dengan jelas. Aku menyaksikan sendiri, bagaimana ibu mu bersujud dan memohon pada ayahku sendiri untuk tidak menyakiti anak perempuan kesayangan-nya," jelas Nana begitu santai.


"Tidak mungkin, jangan berbohong Nana!"


"Jadi sudah jelaskan, ibumu itu mati karena harus melindungi anak yang selama ini pembangkang. Ibumu mati karena kamu, Tania."


Tania sudah tidak bisa menahan semua perasaan sesak di dalam dadanya. Dia kemudian jatuh dari kursi dan menangis diam-diam. Kepercayaannya terhadap tuan Ivan benar-benar runtuh dalam seketika, hatinya bahkan hancur lebur tak bersisa.


Nana kemudian membantu Tania untuk bangkit, dia harus membuat wanita itu duduk dengan normal. Dia tidak ingin tangisannya terdengar oleh semua orang. Mereka harus bersikap biasa saja layaknya pengacara dan klien.


"Ibu pengacara, apa aku harus lanjutkan lagi semua kebohongan ayahku yang selama ini dia sembunyikan darimu?"


Tania tidak merespon sama sekali. Dia sudah letih dan lemah untuk mendengar semua perkataan Nana yang menyakiti hidupnya. Namun Nana tidak berhenti berbicara panjang lebar, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat mereka kecil dahulu.


Semua tragedi menyeramkan ini berawal dari kematian ayah Tania dan menghilangnya sang kaka pria. Karena harus menanggung beban yang begitu berat, Tania menjadi sangat kecewa dengan hidupnya yang selalu dalam garis kemiskinan.


Padahal awalnya dia optimis jika sang ayah masih hidup, akan ada harapan besar untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin dan merubah nasib keluarga. Sayangnya, semua harapan itu pupus. Ayahnya meninggal dan menyisakan sang ibu seorang diri yang tidak mempunyai pengalaman dalam mencari nafkah.

__ADS_1


Saat itulah dia selalu membenci ibunya, karena dianggap tidak bertanggung jawab atas masa depannya. Dia selalu menjadi anak pembangkang dan susah diatur. Hingga harapan baru muncul, ketika dia bertemu dengan keluarga Handono. Saat Nana dan Nyonya besar menetap di rumah besar itu.


Tuan Ivan, tentu menyadari jika Tania bukan anak 14 tahun biasa. Dia terkenal cerdas, penyendiri, senang membaca, banyak sekali ambisi dan lebih dewasa dari kebanyakan anak seumuran. Tuan Ivan melihat ada celah menguntungkan jika bisa mengajak Tania bekerjasama, dengan pemikiran diatas rata-rata yang tentu hanya dimiliki Tania.


Apalagi setelah melihat Nana kecil, ternyata sangat menyukai kehadiran Tania di rumah besar itu. Nana yang notabennya anak periang, polos dan suka bermain selalu menempel dan mengikuti kemana Tania pergi. Dia bahkan suka ikut membaca di ruang buku, padahal anak itu dulunya tidak pernah tertarik dengan dunia literasi.


Hingga pada akhirnya, tuan Ivan dan Tania membuat sebuah perjanjian dan kesepakatan rahasia. Tuan Ivan memberikan tugas pada Tania, untuk mempengaruhi dan mengajarkan Nana bagaimana bersikap agresif dan membahayakan orang-orang sekitar.


Tuan Ivan ingin membuat anaknya seolah mempunyai penyimpangan perilaku dan gangguan mental sejak dini. Karena hanya dengan cara seperti itu, hak waris harta istrinya bisa jatuh kepada dirinya seorang.


Tentu, Tania akan mendapatkan imbalan yang setimpal jika dianggap berhasil melaksanakan tugasnya. Dia berjanji akan memberikan kehidupan yang sejahtera untuk Tania dan Ibunya. Bahkan tuan Ivan bersedia menunjang pendidikan Tania setinggi mungkin dan akan menjamin masa depanya kelak.


Hanya membutuhkan waktu selama satu tahun saja, Tania berhasil membuat Nana seolah menjadi anak yang menyeramkan, berprilaku agresif dan melakukan banyak penyimpangan. Ayah Ivan dan Tania sengaja menyebarkan gosip dan rumor jelek ke semua orang. Hingga pada titik Nana dijauhi dan dikucil kan setiap mata memandang.


Namun ternyata itu tak cukup membuat Nana bisa dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Atas ide gila tuan Ivan, dia m3mbunuh semua pelayan dengan sup ikan buntal yang sengaja dia olah. Tanpa sepengetahuan Tania yang saat itu sedang berada di pabrik teh.


Malam berdarah itu ternyata disaksikan oleh Nana kecil, dia tentu tak bisa menolong ibunya sendiri. Karena ayahnya terus mengancam dan melakukan kekerasan fisik. Ternyata kepala pelayan mengetahui rencana jahat tuan Ivan dan berencana untuk kabur agar bisa meminta pertolongan pada masyarakat sekitar.


Saat Tania pulang dari pabrik teh, tentu dia melihat banyak sekali mayat berserakan di lantai. Ivan yang takut karena telah menghabisi kepala pelayan, pasti akan membuat Tania marah besar. Dia takut Tania buka mulut dan membocorkan semua rahasianya.


Maka dari itu dia langsung membawa pergi Tania sejauh mungkin dan menitipkan ke panti asuhan. Saat itu tuan Ivan berbohong, jika kepala pelayan tidak sengaja menyantap sup ikan buntal. Dia pun terus meyakinkan Tania agar tidak menyia-nyiakan kematian ibunya. Tuan Ivan berjanji akan segera mencarikan orang kaya raya yang akan mengadopsinya.


"Jika saat itu kamu tidak menerima tawaran dari ayahku, mungkin sekarang kita berdua bisa hidup damai dengan ibu kita masing-masing. Tapi karena keserakahan mu, membuat hidupku sangat menderita.


Aku dipaksa masuk rumah sakit jiwa bertahun-tahun, berpura-pura tahu jika ibuku sedang menjalani pengobatan di Singapura. Padahal semua itu hanya tipu muslihat kalian, ibuku sudah mati sejak dulu."


Tania sudah cukup mendengar semua cerita panjang di masa lalu. Sudah tidak ingin mendengar bagaimana ibunya mati karena kebodohannya sebagai anak yang durhaka. Dia tidak tahan, isi batin-nya sudah terkoyak koyak begitu dahsyat.


Kini dia pergi dengan tatapan kosong dan hampa. Dia sudah ingin pergi dari hadapan Nana secepat mungkin. Namun, ada satu kartu hitam yang masih Nana gunakan. Itu malah membuatnya semakin tidak bisa berkutik sedikit pun.


"Aku kira, setelah berhasil menjadi pengacara hebat dari lulusan universitas top dunia, kamu akan berubah Tania. Tapi ternyata kamu saja seperti dahulu.

__ADS_1


Saat kamu berkarir di Indonesia, akhirnya kamu bisa menemukan kakak kandung yang selama ini hilang. Namun sayangnya, Firman saat itu malah tertuduh melakukan p3nculikan anak di bawah umur dan melakukan k3kerasan s3ksual.


Bukannya, memberikan pelajaran untuk kakakmu yang brengsek itu, kamu malah membantunya lolos dari jeratan hukum karena kredibilitas mu sebagai pengacara handal. Sungguh, kalian berdua memang keluarga sampah!!" decak Nana kesal dan tersulut emosi.


Tania mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan ini. Dia kembali duduk di depan Nana dengan wajah frustasi dan tertekan. Ternyata selama ini, Nana sudah mengetahui semuanya secara benar.


"Jadi mau kamu apa Na!! Apa tidak cukup kamu menghancurkan keluarga ku sendiri Hah!!" gertak Tania sambil menahan tangis.


"Bvnuh ayahku dengan tangan mu sendiri. Aku memberikan waktu hanya 24 jam. Setelah itu kamu harus mengakui, jika kamu adalah pelaku p3mbunuhan berantai yang sesungguhnya.


Gak cuman itu, kamu harus jelaskan pada seluruh dunia bagaimana perilaku bejat Firman yang sesungguhnya. Beritahu mereka, kalau kalian adalah pasangan kakak adik psikopat yang senang membuat orang lain menderita."


"Gila kamu ya Na, mana mungkin aku bisa mengakui kejahatan yang sama sekali aku tidak lakukan. Seharusnya kamu yang membusuk di penjara dan mendapatkan hukuman mati."


Tania menolak semua usulan paksa dari Nana. Dia memang wanita yang bejat dan jahat, tapi untuk m3mbunuh satu nyawa pun dia tidak sanggup. Dia tidak segila Nana yang sudah buta akan balas dendam. Dia harus waras dan melaporkan semua ini kepada polisi segera.


Namun niatnya kembali gagal, kini Nana malah mengeluarkan satu kartu hitam terakhir yang membuat Tania tidak bisa menolaknya. Sebuah rahasia yang selama ini dia simpan erat, ternyata malah menjadi bumerang di saat seperti ini.


Nana mengetahui sesungguhnya, jika Tania masih mempunyai satu saudara sedarah yang selama ini dia sembunyikan. Tak lain adalah keponakanya sendiri, anak hasil hubungan Firman dan Siska saat itu.


Setelah Firman meninggal, ternyata Siska tengah mengandung anak Firman. Untuk menyelamatkan calon bayi itu dari serangan p3mbunuhan lain, dia mengirim Siska ke Malaysia untuk melahirkan calon keponakanya dengan aman.


Setelah anak itu lahir, dia tumbuh dengan sangat baik di Malaysia sampai sekarang. Namun sayang, Tania malah melarang Siska untuk merawat anaknya sendiri. Dia takut jika keponakanya itu malah dalam bahaya jika terus bersama ibunya.


"Sekarang keponakan yang sangat kamu sayangi, bercita-cita menjadi seorang pengacara sehebat bibinya. Apa kamu tega, membiarkan dia mati muda dan meninggalkan semua impiannya selama ini, Tania?" ucap Nana sambil menyilang kan kakinya.


"Nana, please.... kali ini jangan sakiti dia. Chandra, anak itu tidak bersalah. Biarkan dia hidup dengan damai. Aku mohon..." Tania terus memohon dengan lirih.


"Sungguh mulia sekali hati mu, mau berkorban untuk keluarga yang sangat berharga. Baiklah kalau begitu, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Jika kamu berhasil, maka Chandra akan aman dan hidup dengan damai di Malaysia."


Itulah percakapan mereka yang terkahir kalinya. Karena selanjutnya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Tania. Bisakah wanita itu melakukan perintah Nana? Membiarkan dirinya me3mbunuh tuan Ivan yang sudah berkhianat selama belasan tahun lamanya.

__ADS_1


__ADS_2