
...Pergi untuk kembali...
...**************...
Setelah mendapatkan surat resmi pemanggilan kepolisian, Nana dan Farel berangkat pagi hari menuju kantor Bareskrim. Walau hanya sebatas pemanggilan saksi, Farel sangat gelisah dan terlalu takut. Dia takut jika istrinya tidak bisa beradaptasi di ruang interogasi yang penuh dengan tekanan.
Sesampainya di halaman parkir Bareskrim, Farel dan Nana terdiam sejenak. Mereka seperti belum siap untuk melangkahkan kaki keluar. Farel mendadak menggenggam telapak tangan istrinya dengan erat, menatap matanya begitu hangat.
"Apa kamu yakin harus masuk ke dalam sana?"
"Tenang saja Rel, aku harus melaksanakan kewajiban sebagai masyarakat yang taat hukum."
"Lagian kenapa sih mereka terus mengusik masa lalu kamu," protes Farel kesal.
"Aku tidak sendirian kali ini, ada pengacara yang akan mendampingiku. Jadi jangan terlalu khawatir."
Nana melepaskan genggaman itu, dia menarik senyuman indah untuk sang suami. Farel mulai merasa tenang, wajah istrinya bahkan tidak cemas sedikit pun. Dia harus mempercayai Nana apapun yang terjadi, dia akan tetap berpihak padanya bagaimanapun juga.
Nana keluar dari dalam mobil dengan penuh percaya diri. Setelah masuk ke dalam lobi utama, dia melihat pengacaranya sudah siap mendampingi dirinya. Pengacara itu bernama Stevan, sudah lama bekerja untuk keluarga besar Handono.
Mata Nana tak sengaja menangkap tubuh Sugeng dari belakang, ternyata dia sudah terlebih dulu masuk ke dalam ruang saksi. Sayangnya pria itu tidak didampingi pengacara, namun bagi Nana itu adalah keberanian yang sangat hebat.
Nana dan Stevan kembali berjalan bersama menuju ruang pemanggilan saksi. Di sana sudah ada dua polisi menunggu, Alex dan Karina. Mereka berdua lah yang akan turun tangan mengurus saksi yang tidak biasa ini.
Tepat pukul 09.00 pagi, kedua saksi telah masuk ruangan masing-masing. Mereka sengaja dimasukan ke ruangan yang terpisah untuk menghindari hal- hal yang tak terduga. Alex dan Karina yang akan mengurus Nana. Sedangkan Bima dan Radit yang akan mengurus Sugeng.
Situasi pertama akan menggambarkan bagaimana jawaban dari kesaksian Nana. Dia dan pengacara kini sudah dihadapkan oleh dua polisi, tentu itu tidak membuat Nana takut sedikit pun.
Alex langsung pada inti permasalahan dalam sesi pertemuan ini. Dia membeberkan data valid, jika ke sepeluh korban berantai pernah menjadi anggota acara amal. Tentu acara amal tersebut atas inisiatif Nana sebagai pemilik restoran Bali Tropical.
Alex menekankan lebih lanjut, jika Sugeng merupakan salah satu dari bagian kegiatan tersebut. Bahkan dia aktif selama satu tahun dan pernah melakukan perkelahian dengan Firman. Sejak saat itu Firman memutuskan untuk keluar kerja dan acara amal terpaksa dihentikan secara permanen.
Itulah yang membuat polisi ingin mendengar klarifikasi dari pemilik restoran secara langsung. Diantaranya motif Nana mengadakan acara amal dan kenapa ada 10 nama korban yang bisa menjadi anggota acara tersebut.
Berharap Nana yang akan secara langsung menjawab pertanyaan. Stevan-lah yang mengambil alih semua urusan klien-nya. Sebagai pengacara, dia berkata bahwa acara amal tersebut murni sebagai tindakan dan tanggung jawab sosial pemilik restoran. Tidak ada motif lain yang bisa merusak nila moral kegiatan amal tersebut.
Selanjutnya Stevan menjelaskan bahwa saat itu klien-nya menunjuk Firman sebagai penannggung jawab kegiatan, karena murni kemampuan Firman. Tidak ada yang lebih jago mencapai akses informasi dari kalangan bawah kecuali Firman sendiri. Petugas cleaning service tersebut sangat mampu merangkul semua orang underground di Jakarta.
Masalah mereka mayoritas adalah mantan narapidana dan sering melakukan kriminalitas. Itu bukan bagian dari tanggung jawab pemilik restoran sama sekali. Nana hanya sekedar ingin membagikan sembako gratis, tidak ada niat jahat apapun.
10 nama korban berantai yang kebetulan pernah aktif di kegiatan amal tersebut, sekali lagi itu diluar dari batasan pemilik restoran. Entah itu hanya sebuah kebetulan ataupun ketidaksengajaan, Nana menolak untuk dikaitkan sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian mereka.
Terakhir, masalah Sugeng si supir Taxi. Stevan mengkalim jika klien-nya sama sekali tidak pernah mengenal-nya. Walau Sugeng tak sengaja menjadi supir taxi saat mengantarnya ke rumah sakit, itu tidak direncanakan sama sekali. Semuanya hanya kebetulan yang dia tidak bisa hindari sebagi manusia.
Alex dan Karina tentu kecewa dengan semua jawaban dari pengacara saksi. Semua jawaban itu tentu sangat menguatkan dirinya, jika Nana tidak ada kaitan sama sekali dengan kasus pembunuhan berantai. Alex keluar dari ruangan, dia masuk ke ruangan lain dan duduk sambil menenangkan diri.
__ADS_1
Karina segera menyusul bosnya itu, dia ikut duduk di sampingnya. Dia bertanya pada bos, jika semua pertanyaan polisi sudah di jawab dengan baik dan tak bisa terbantahkan. Namun Alex tetap pada pendiriannya, dia ingin mengurung lebih lama wanita itu.
Dia akan bertanya banyak hal lagi, termasuk kepemilikan kalung kupu-kupu dan parfum mint yang khas. Dia sangat yakin jika hal itu hanya diketahui oleh pelaku saja.
Sementara itu.....
Situasi kedua, akan menggambarkan bagaimana jawaban dari kesaksian Sugeng. Pria dengan uban penuh di kepalanya, begitu sangat tenang menghadapi dua polisi yang masih muda dan segar. Bima dan Radit sudah ada di depan saksi dengan tumpukan dokumen di atas meja.
Tujuan dari menumpukan banyak dokumen, tak lain agar menganggu konsentrasi saksi dan pengalihan psikologis saat interview berlangsung. Namun itu tak memudarkan keteguhan hati Sugeng, bahkan dia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.
Pertanyaan Bima tentu berfokus pada keterlibatan Sugeng di kegiatan amal 8 tahun yang lalu. Dia ingin menanyakan apa motif dan tujuan Sugeng masuk komunitas tersebut. Kedua, apa hubungan Sugeng dan Firman sebenarnya, sampai mereka pernah melakukan perkelahian hebat.
Ketiga, Sugeng harus menjelaskan apa dia mengenal pemilik restoran lebih jauh. Bahkan saat itu bisa menjadi supir taxi yang mengantarkan Nana ke rumah sakit.
Sugeng menarik nafas panjang, tersenyum lebar dan mulai menjawab satu persatu pertanyaan polisi dengan sangat tenang. Tak ada ketakutan sedikit pun di raut wajahnya yang sudah berkeriput.
Dia menjelaskan bahwa saat itu dia terpaksa keluar kerja sebagai buruh pabrik, dikarenakan kesehatan anaknya semakin memburuk. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, dia mengandalkan tabungan dan mencari rongsokan untuk di jual ke bandar.
Mendengar ada acara bagi-bagi sembako gratis. Tentu saja Sugeng sangat tertarik karena melihat kondisi ekonominya yang sedang turun. Tidak ada tujuan apapun selain ingin berhemat dalam pengeluaran kebutuhan pokok, jelasnya.
Mengenai dia pernah berkelahi hebat dengan Firman, semua itu hanya masalah kesalahpahaman. Sugeng menuturkan jika perkelahian itu sudah berjalan damai dan saling melupakan. Dia bahkan tidak pernah menghubungi atau bertemu Firman lagi setelah kejadian tersebut.
Terakhir, mengenai hubungan dengan pemilik restoran. Sugeng malah tertawa sinis, mana mungkin pria miskin seperti dirinya bisa menjalin hubungan dengan seroang wanita muda kaya raya. Dia tidak mengenal siapa Nana dan tidak tahu apapun tentang pemilik restoran.
Mengenai dia pernah menjadi supir taxi saat mengantarkan Nana ke rumah sakit, Sugeng berpendapat jika dunia ini sudah semakin sempit. Maka pikiran manusia lah yang harus diperluas, sindirnya.
"Mana bapak tahu, apa yang terjadi dengan pria itu sebenarnya?" tanya Sugeng balik, wajahnya terus tersenyum tipis.
"Dia d!bunuh dengan sangat kejam, kepalanya h@ncur karena serangan benda tumpul. Dia adalah korban pertama dari pembunuhan berantai yang sekarang ini sedang viral."
"Apa? benar saja!!" Ahhh.... jadi kalian memanggilku ke sini hanya karena kematian pria itu," balas Sugeng pura-pura terkejut.
Radit kemudian menaruh 9 foto korban lainnya di hadapan Sugeng. Pria tua itu menatap semua wajah dalam foto dengan eskpresi datar.
"Siapa mereka? aku tidak mengenalnya."
"Mereka adalah korban selanjutnya, kesembilan foto ini masuk kedalam daftar penerima bantuan kegiatan amal 8 tahun yang lalu. Tolong ingat dengan baik-baik, pasti anda pernah melihat ataupun sekedar menyapa salah satu dari mereka juga kan?" sidak Bima terus menerus.
Sugeng hanya bisa menggelengkan kepala, dia berulangkali meyanyikan dua detektif tersebut jika dia tidak mengenal mereka. Apalagi saat itu peserta kegiatan amal sangat banyak dihadiri orang-orang. Mana mungkin dia bisa mengenal semua orang dengan mudah.
"Sudah jelaskan, kalau bapak gak tau apapun. Bapak cuman sibuk ngurusin anak yang sakit parah. Kalau bisa, izinkan bapak pulang saja, anaku sudah menunggu di rumah sakit," jelas Sugeng dengan wajah lelah.
Bima sudah tidak punya alasan lagi untuk bisa menahan Sugeng, apalagi dia hanya sebatas saksi saja, bukan tahanan polisi. Kali ini mereka malah tidak mendapatkan apapun, Sugeng dengan percaya diri menyangkal semua keterlibatan dengan kasus berantai.
***********
__ADS_1
Sekitar pukul 03.00 sore, keempat detektif itu kembali berunding dengan hasil interview bersama dengan para saksi. Baik Nana maupun Sugeng keduanya kompak menolak untuk dikaitkan dengan pembunuhan berantai.
Mereka juga mengatakan bahwa tidak mengenal satu sama lain. Tidak ada ikatan khusus diantara mereka berdua, semua hanya kebetulan yang tidak disengaja jika memang mereka di pertemukan di sebuah taxi.
Alex bahkan sudah di ujung tanduk, menyudutkan Nana dengan kalung kupu-kupu dan parfum mint saja sia-sia. Wanita itu beralasan, jika lukisan kupu-kupu yang pernah dibuatnya berasal dari gambar yang pernah dia lihat.
Namun saat ditanya dimana sumber gambar tesebut, menjawab dengan santai bahwa wanita itu lupa. Masalah parfum mint saja Nana berargumen, jika parfum tersebut banyak dibeli oleh orang kaya di Indonesia. Bukan sebuah parfum khusus ataupun di custom secara pribadi.
Sampai sejauh ini mereka berusaha, tetap saja banyak sekali celah yang masih bisa diperdebatkan. Seharunya mereka sudah menemukan bukti tak terbantahkan, yang membuat dua saksi itu tak berkutik.
Tiba-tiba Agus menelepon ke nomor Alex, dia menerima telepon itu dengan sedikit terkejut. Saat mereka mulai berbicara secara serius, barulah Alex menyadari jika mantan bawahannya itu sudah menemukan sesuatu yang besar.
Agus menyuruh bosnya itu menahan Nana sebisa mungkin di ruang saksi. Jika wanita itu dibebaskan, maka bisa saja Nana akan berbuat sesuatu hal yang lebih jahat.
Agus menyuruh bos-nya untuk menyerahkan bukti terbaru pada kepala divisi kriminal Bareskrim, untuk dibuatkan surat penangkapan pada Nana. Karena dengan bukti dari lab forensik, sangat cukup membuktikan jika wanita itu adalah pembunuh berantai.
Setelah file pemeriksaan dari lab forensik telah dikirim melalu email. Alex langsung bergegas menuju ruang kepala divisi kriminal, yang menaungi semua unit kejahatan. Alex sangat percaya diri, dengan bukti baru yang sangat akurat akan menghantarkan saksi menjadi tersangka.
**********
Seharian menunggu dan berkutat dengan banyak pertanyaan polisi, membuat Nana ingin segera mengakhiri pertemuan ini. Nana memaksa pengacaranya untuk segera membawa dia keluar dari tempat ini. Karena dari tadi mereka hanya duduk tidak jelas selam berjam-jam.
Setelah Stevan banyak bernegosiasi dengan polisi, akhirnya mereka memilih untuk pergi dari ruangan itu. Nana dan Stevan berjalan menuju lobi utama dan segera mencari pintu keluar.
Namun Nana tak sengaja berpapasan dengan Sugeng yang baru saja keluar dari toilet pria. Mereka berpapasan seperti tidak mengenal satu sama lain, tidak ada kontak mata ataupun gerak yang mencurigakan.
Setelah berhasil melewati Sugeng, tiba-tiba dia dipanggil oleh banyak polisi dari belakang. Saat berbalik, ternyata tim kejahatan serius sudah berlarian menghampiri dirinya. Wajah mereka terlihat sangat lelah dan frustasi, namun secuil senyuman menghiasi sudut bibir mereka.
"Tunggu, jangan pergi sesuka hati kalian," ucap Alex dengan nafas yang tidak teratur.
"Ada apa lagi ini? jelaskan bahwa klien saya sudah menjawab semua pertanyaan polisi dengan sangat baik dan terbuka," protes Stevan geram.
Alex kemudian membuka selembar kertas perintah penangkapan resmi dari kepolisian. Dari dalam surat itu tertulis alasan Nana bisa dijadikan tersangka dan melakukan penangkapan.
Stevan membacanya dengan wajah terkejut bukan main. Pengacara itu tak menyangka jika ada DNA dan sidik jari Nana yang tertinggal di salah satu barang milik korban.
Nana tidak bergeming sama sekali, wanita itu tidak kelihatan takut ataupun melawan diri. Dia bahkan secara suka rela menjulurkan kedua lengannya untuk diborgol.
Alex tertawa sinis melihat sikap Nana yang gila, baru kali ini dia menghadapi seorang wanita yang sangat dingin dan tidak berperasaan apapun. Sedangkan Sugeng yang terpaksa melihat penangkapan tersebut, memilih diam dan tidak membela Nana sedikit pun.
Dengan kepercayaan diri dan tingkat kepuasan yang tinggi, Alex mengeluarkan sepasang borgol dari saku belakang celana. Dia lalu memasangkan borgol tersebut di kedua tangan Nana sambil mengucapkan hak Miranda.
" Saudari Diana Larasati Handono, anda ditangkap sebagai tersangka pembunuhan Ibu Surti dan terbukti melakukan kejahatan tersebut karena DNA dan sidik jari anda terdapat di sarung tangan milik korban.
Anda memiliki hak untuk diam. Apapun yang anda katakan dapat dan akan digunakan untuk melawanmu di pengadilan. Anda memiliki hak untuk bicara kepada penasehat hukum dan dihadiri penasehat hukum selama interogasi. Apabila anda tidak mampu menyewa penasehat hukum, maka akan disediakan satu untuk anda yang ditanggung oleh Pemerintah," ucap Alex secara panjang lebar.
__ADS_1
Setelah hak Miranda diucapkan dan tangan Nana telah terborgol. Semua polisi kembali menggiring Nana masuk ke dalam ruang interogasi dengan status baru sebagai tersangka. Saat mereka melewati Sugeng seorang diri, barulah kedua orang tersebut saling melempar pandang kecil.
Tak hanya sebuah pandangan kecil, Nana dan Sugeng ternyata kompak tersenyum tipis. Mereka sama sekali tidak terlihat terkejut ataupun panik, yang ada seperti wajah kepuasan yang selama ini mereka rencanakan.