
...Menyerah saja Farel...
...***********...
Saking lelahnya menjaga Nana seharian penuh, Farel tidak sadar jika dirinya malah tertidur pulas di atas sofa. Dia dan Nana mengurung bersama di dalam rumah, sejak kemarin malam sampai sekarang.
Suara ceret teko terdengar nyaring dari arah dalam dapur, ternyata Farel sedang memasak air hingga terlalu lama mendidih. Air itu tumpah terus menerus sampai mengeringkan semua volume air teko. Farel sekejap terbangun dan langsung berlarian menuju dapur.
Setelah mematikan kompor gas, dia duduk dengan wajah lesu dan lelah. Karena ketiduran dia membuat teko itu hampir terbakar. Farel langsung teringat Nana, dia masih terkunci di dalam kamarnya.
Saat dia berjalan menuju kamar Nana, Farel mulai mengintip dari lubang pintu. Dari lubang itu dia melihat jika makan siang masih utuh. Padahal seingat dia, saat menyerahkan makan siang Nana masih ada di dalam.
Farel kaget bukan main, dia langsung membuka kunci pintu dari luar dan langsung berhamburan masuk ke dalam kamar. Ternyata Nana sudah tidak ada, di kamar yang kecil ini Farel mencoba mencari istrinya.
Sudah mencari dari berbagai sudut, dia tidak bisa menemukan Nana. Tak sengaja melihat jendela kamar bagian atas, ternyata kaca itu sudah pecah dan membuat sebuah lubang besar.
Tentu saja Nana kabur lewat jendela atas, dia sangat berani memanjat jendela tersebut dengan tubuh kurusnya. Karena hal itulah, Farel sempat hilang arah dan kendali. Jujur saat itu dia sempat bingung harus melakukan apa.
Farel melirik jam dinding menunjukan pukul 04.00 sore, itu berarti ada kemungkinan Nana kabur saat dia terlelap tidur. Farel tidur sekitar pukul 02.00 siang, artinya Nana sudah berhasil meninggalkan kamar ini dua jam lalu.
Itu adalah waktu yang sangat lama dan panjang dalam masa pelarian. Waktu yang sangat berbahaya jika digunakan oleh wanita seperti Nana. Farel lagi dan lagi lengah dalam mengawasi sang Istri.
Istrinya kabur seperti maling, wanita itu benar-benar menunjukan sifat liarnya yang menakutkan. Kesadaran Farel perlahan bangkit, dia segera mencari kunci mobil dan bergegas menuju garasi.
Tanpa banyak pikir panjang lagi, Farel cepat-cepat mengeluarkan mobilnya dan membuka kunci gembok gerbang depan. Dia langsung menancap gas dan meluncurkan mobil dengan kecepatan tinggi.
Setelah keluar dari garasi mobil, ternyata ada Agus yang sedang memarkirkan motor di depan gerbang rumahnya. Agus keheranan melihat mobil Farel meluncur dengan ugal-ugalan, bahkan gerbang rumahnya pun tidak di kunci kembali.
Dia tidak peduli, dia langsung saja membuka gerbang halaman dan berjalan masuk melewati pekarangan. Saat akan mencapai gagang pintu rumah utama, ternya pintu itu masih di kunci. Dia mulai mengetuk pintu berulang kali dan terus memanggil ibunya.
__ADS_1
Tidak ada jawaban sama sekali, dia langsung ingat saat itu juga, jika ibunya hari ini berencana akan mengunjungi rumah paman Jono. Dia langsung mengeluarkan HP dan melihat banyak sekali panggilan telepon tak terjawab dari ibunya.
Tentu dia lupa dengan janjinya kepada sang ibu, saat itu mengatakan akan menyusul ibunya pergi ke rumah paman Jono jika urusan kantor selesai. Dengan sangat panik dia lalu membuka pintu utama dengan kunci cadangan.
Dia berhamburan ke seluruh penjuru ruang, namun rumah itu kosong dan sepi. Tampaknya sang ibu belum pulang dari rumah paman Joni. Agus mencoba menelepon balik nomor ibu, namun panggilan malah tidak aktif.
Agus tambah khawatir, apalagi ini sudah menjelang sore. Tidak seperti biasanya ibu bepergian dalam waktu yang lama. Agus kembali menelepon ibu sambil berjalan keluar menuju rumah Nana.
Untungnya rumah itu tidak dikunci, jadi Agus bisa leluasa masuk ke dalam rumah tetangganya itu. Dia terus memanggil nama ibu sambil berkeliling mencari ke setiap sudut rumah.
Saat dirinya berhasil masuk ke dalam kamar Nana, betapa terkejutnya Agus melihat jendela kaca depan pecah. Bahkan dia masih melihat serpihan kaca berserakan di bawah lantai, itu menandakan jika kaca jendela ini rusak belum lama.
Otak Agus mulai berpikir sangat keras, mungkinkah ini yang menyebabkan Farel mengendarai mobil ugal-ugalan seperti tadi. Apakah karena Nana berhasil kabur dari rumah. Jadi selama ini Farel sengaja mengurung istrinya sendiri di dalam kamar ini.
Dia langsung melakukan panggilan terhadap Radit, dia meminta pada rekan timnya untuk melacak keberadaan Nana atau Farel melalui alamat IP telepon. Tak hanya itu, dia meminta rekan lainnya untuk segera menyusulnya menuju rumah Jono di Bekasi.
Agus langsung berlarian keluar dan segera menaiki motornya. Dia menancap gas dengan brutal dan melajukan roda motornya dalam kecepatan maksimum.
Dia mencoba menelepon nomor Nana, namun selalu tidak aktif. Dia begitu marah dan kesal karena tak kunjung mendapatkan jawaban pasti. Sebenarnya kemana perginya Nana?
Dia mulai membaca lembar diary terkahir yang telah ditulis Nana. Untung saja kemarin malam dia sempat memfoto semua lembar demi lembar tulisan Nana. Dia membaca diary hari ke 16, berharap mendapatkan suatu petunjuk penting.
Sialnya, dia tidak mengerti sama sekali. Bahkan disaat situasi genting seperti ini, membaca deretan alphabet saja membuat dia mual. Otaknya mendadak blank dan tidak berfungsi, Farel hanya bisa membanting stir mobil dengan brutal.
"Sial, sial, dasar bodoh, bodoh!!!" hardik Farel tanpa henti.
...Kemana aku harus pergi?...
Tiba-tiba ada panggilan telepon masuk, sebuah nomor baru dan asing. Dia lalu mengangkat telepon tersebut dan mendapati ada suara wanita lembut yang menanyakan sedikit informasi pribadi.
__ADS_1
Suara itu ternyata berasal dari salah satu perawat ICU rumah sakit. Dia mengatakan jika kini istrinya sedang berada di ruang ICU untuk menjaga ayahnya yang sedang sekarat.
Perawat kembali menjelaskan, jika Nana meminta bantuan pihak rumah sakit untuk menelepon suaminya jika dia sedang berada di rumah sakit.
Farel bingung, shock berat, kaget dan merasa tidak percaya. Kenapa dengan ajaib istrinya bisa ada di rumah sakit dan menjaga ayah mertuanya? Bukankah dari tadi dia ketakutan setengah mati jika Nana akan pergi membunuh seseorang lagi.
Sudahlah, dia terlalu lelah dengan semua ini. Dia harus menyusul Nana ke rumah sakit. Farel teramat ingin melihat istrinya sendiri dengan kedua matanya. Kali ini waktunya menghempaskan semua keraguan dalam hatinya.
*********
Farel duduk dengan lunglai di salah satu deretan kursi tunggu ICU. Karena ini ruangan khusus, jadi dia tidak diperbolehkan masuk untuk melihat keadaan ayah mertuanya.
Dia hanya bisa menunggu Nana keluar dari ruangan tersebut. Menunggu sekitar 20 menit, akhirnya sosok yang selama ini dia khawatirkan keluar. Nana masih menggunakan baju pelindung khusus, mulai membuka masker, sarung tangan dan penutup kepala.
Kini Farel bisa melihat istrinya dengan sangat jelas dan lebih dekat. Dia bahkan terus menggesek kedua kelopak matanya, hanya ingin memastikan bahwa itu memang Nana.
Nana menatap lurus wajah Farel, dia menyadari jika suaminya ada duduk di ujung sana. Nana tersenyum lebar, wajahnya melukiskan sebuah kata maaf untuk Farel.
Sontak saja Farel berdiri tegak, dia membalas senyuman Nana dengan sebuah tangisan. Dia sangat lega karena Nana tidak berbohong sama sekali. Seluruh dadanya kini sesak karena penuh dengan penyesalan.
Farel berjalan maju menghampiri istrinya yang cantik itu. Dia lalu melebarkan kedua tangannya dan langsung memeluk Nana saat itu juga. Dia bahkan memeluk tubuh sang istri begitu erat dan lekat.
Farel tak henti menangis di atas pundak istri. Dia merasa tidak ingin melepas Nana lagi, dia menyesal telah mengurung Nana seperti tadi. Dia lelah dengan semua kecurigaan jahat yang selalu dia lempar pada istrinya sendiri.
"Maafkan aku Na," bisik Farel sambil menangis tersedu-sedu.
Tangan Nana lalu menyentuh pundak Farel, dia menepuk-nepuk pundak itu dengan lembut. Seakan dia ingin memberikan sebuah isyarat dan kekuatan besar.
"Terimakasih sudah ada di sampingku," balas Nana sendu.
__ADS_1
Mereka tak hentinya berpelukan, merasakan bagaimana hati mereka bergetar dengan hebat. Kini Farel akan mencoba untuk mempercayai sang istri dan selalu berada di pihaknya apapun yang terjadi.