31 Hari

31 Hari
Day 5


__ADS_3

...Sebuah permintaan aneh lainnya...


...*********...


Sesuai instruksi dari Kapolsek, Agus sudah menggiring motornya masuk ke lahan parkir di gedung Bareskrim. Dia belum tahu jelas bagaimana dan apa yang akan terjadi di dalam sana.


Saat kakinya melangkah masuk ke lobi utama, dia cukup terkesima dengan suasana sibuk para petugas polisi. Apalagi ini pertama kalinya dia bisa masuk ke salah satu markas besar kepolisian.


Dia berjalan menyusuri lantai 2, dimana ruang divisi kriminal ada disana. Kini dia sudah berdiri di sebuah ruangan cukup besar, dimana ruangan itu bertuliskan Tim Kejahatan Serius.


Dia sangat gugup kali ini, karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan si anjing gila. Sebuah nama baru yang terus menghantui pikirannya. Dengan sebuah tekad, dia akhirnya mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.


Dia melihat ada lima anggota dari tim tersebut. Terdapat 4 pria dan satu wanita. Mereka sedang sibuk dengan setumpuk berkas kejahatan tentunya.


Sekilas dia melihat ruangan ini, sangat tidak rapih dan berantakan. Itu menandakan jika tingkat stress kerja mereka amatlah tinggi. Rasa kagum mulai menghinggapi hati Agus.


"Permisi, saya Agus Malik petugas dari Polsek Bantar Gebang," ucap Agus dengan suara grogi.


Sontak mereka semua kini memandang Agus dengan wajah datar. Mereka masih diam, seolah sedang bertemu dengan hantu tak kasat mata.


Pria muda menggunakan kaca mata tebal mulai berjalan menghampiri Agus. Dia dengan wajah sumringah dan tawa yang mengembang mulai menyambut tamu baru.


"Oh, kamu si pemuda kampung itu?" tanya pria berkacamata yang bernama Radit.


Agus cukup terkejut dengan perkataan Radit yang cukup nyeleneh. Dia tidak habis pikir jika julukan pemuda kampung begitu konyol. Jarak bekasi - Jakarta sangat dekat, tidak ada gunung, laut ataupun hutan yang harus dia lewati.


Namun Agus tetap menghargai, dia tidak bisa berbuat gegabah di tempat baru. Dia segera memberi hormat kepada semua orang di sana.


"Antar dia ke ruangan bos," ucap wanita berambut panjang kuda poni itu. Agus melirik wanita cantik tomboi yang bernama Karina.


"Bos! kalian pikir ini perusahaan?" celetuk Farel dalam hati.


Segera Radit menunjukan ruang kepala tim kejahatan serius. Jaraknya tentu sangat dekat, tinggal berbelok kiri dari pintu dan berjalan beberapa langkah saja. Radit mulai mengetuk pintu, dia meminta izin pada atasannya jika ada tamu untuk dirinya.


"Bos, Kali Ciliwung datang," ucap Radit dengan santai.


Agus mengkerut kan kening, dia melirik Radit dengan sangat aneh. Kenapa kali ini dia dipanggil Kali Ciliwung. Sepertinya ada yang tidak beres dengan tim ini.


"Masuk," balas si anjing gila dengan suara menyeramkan.


"Silahkan, Good luck ya!" ucap Radit dengan senyum tipis yang tidak bersahabat.


Agus kemudian masuk kedalam ruangan dan secara langsung melihat sosok pria berbadan tinggi besar, rambut cepak mengkilap dan kaos polo ketat yang tidak cocok dengan usia yang sudah tua.Si anjing tua sedang duduk santai sambil melihat layar komputer.


Alex kemudian menatap Agus secara langsung dan tepat sasaran. Dia tidak berekspresi, hanya sebuah pandangan dingin dan menakutkan.


Sontak tubuh Agus mendadak dingin, dia tidak suka dengan aura legenda detektif ini. Firasatnya menunjukan jika pria berparas kasar ini akan mempersulit hidupnya kelak.


"Duduk," ucap Alex sambil mengarahkan matanya ke depan bangku.

__ADS_1


Agus dengan cepat duduk di depan mejanya. Dia masih sangat gugup menghadapi pria aneh ini.


"Bagaimana rasanya melihat pemandangan kota?" ucapnya dengan sinis dan belagu.


"Sama saja sih kaya kota Bekasi," jawab Agus sedikit bingung.


"Bantar Gebang, bukan kota Bekasi," balas Alex kembali dengan wajah sedikit menantang.


"Apa? dasar polisi Rasis," gertak Agus dalam hati.


Agus tambah bingung, baginya ini sebuah percakapan tidak penting untuk kalangan detektif. Namun Agus terus memantau wajah Alex, terlihat jelas dia masih menunggu Agus untuk menjawab pertanyaan sampai tuntas.


"Bareskrim tentu lebih terjamin dan luas dibanding Polsek Bantar Gebang," jawab Agus mengalah, dia tidak mau memperumit perdebatan orang tua ini.


Alex tersenyum lebar mendengar itu semua, dia mengangguk-anggukkan kepala. Matanya seraya menilik penampilan Agus dari kepala hingga ujung kaki.


"Apa detektif sepertimu selalu membeli baju di pasar Senen? dengan penampilan seperti itu kamu lebih mirip seperti tukang panggul beras," celoteh Alex tanpa henti.


"Sial!! dasar polisi gendut," gerutu Agus dalam hati.


Agus mulai tidak tahan, dia datang kesini jelas karena sebuah tugas. Dia datang bukan untuk di olok-olok seperti ini. Namun Agus berusaha untuk tenang, dia tidak ingin berurusan dengan detektif gila.


"Sebaiknya anda tanyakan saja pada ibu ku, biasanya hanya wanita yang selalu mengurusi masalah pakaian," balas Agus sedikit mengejek Alex.


Alex kemudian tertawa terbahak bahak, dia bahkan banyak mengeluarkan air liur dari mulutnya. Wajahnya merah padam akibat terus tertawa tanpa henti. Sedangkan Agus hanya bisa bengong melihat detektif yang dikatakan legenda kepolisian.


"Apa yang legenda, dia benar benar detektif payah!" umpat Agus terus dalam hati.


Dia lalu mengambil 10 buntel berkas berwarna merah. Alex langsung menyerahkan tumpukan dokumen kasus ke depan Agus.


"Aku ingin kamu baca semua laporan proses investigasi selama 7 tahun. Jangan sampai sedikitpun kamu kehilangan banyak informasi penting.


Pahami dan gunakan otak mu yang lengket itu agar bisa mengingat setiap huruf dan kata," ujar Alex sambil mengambil batang rokok dan menghisapnya dengan pelan.


Agus pun mengambil salah satu bundel dokumen itu. Dia melihat sekilas bagaimana file itu diberi sebuah nama label kasus.


"Kasus pembunuhan Revolusi Iblis," kata Agus sambil matanya terus memandang cover merah dokumen itu.


Alex sedikit mendekatkan wajahnya pada Agus, kini wajah dan ekspresinya tampak sangat serius. Dia pun meleburkan seluruh asap rokok ke depan wajah Agus.


"Karena itulah kamu aku panggil ke tim ini," ucap Alex.


"Maaf pak, saya masih belum paham," balas Agus dengan jujur.


"Kamu pikir mayat yang kau temukan itu karena gigitan serigala? No, dia adalah korban dari kasus yang tak terpecahkan selama tujuh tahun ini.


Iblis itu akhirnya datang lagi, dia benar benar sangat berbahaya," jawab Alex dengan mata yang bergetar.


Mendadak detak jantung Agus menjadi tidak karuan. Dia begitu sangat terkejut dengan semua penjelasan Alex. Ini terdengar sangat tidak masuk akal dan seperti mengada-ngada.

__ADS_1


"Apa benar ini pembunuhan berantai? tanya Agus semakin ingin tahu, rasa penasarannya terus memuncak.


"Itulah sebabnya kami menamai kasus ini sebagai revolusi iblis. Tujuh tahun lalu dia memulai pembunuhan pertama sangat berantakan, dia seperti bocah tuyul.


Tahun berikutnya, dia mulai belajar dari kecerobohan dengan terus mengganti alat pembunuhan, dia sudah berubah menjadi genderowo.


Tahun berikutnya lagi dan lagi dia mulai memilih lokasi pembunuhan lebih strategis. Dia sudah berubah menjadi setan merah.


Tahun selanjutnya, dia sudah sangat pandai menghilangkan segala jejak pembunuhan. Dia memang sudah mantap menjadikanya sebagai malaikat maut.


Tentu, kasus terbaru ini yang kau sebut sebagai pembunuhan berantai adalah wujud dari penampakan iblis," jelas Alex dengan sebuah tatapan kemarahan yang tertahan.


Agus mulai menghela nafasnya yang terasa sangat berat. Tiba tiba kepalanya mulai pening dan terasa berputar. Semangatnya mulai lemas, karena ini semua tidak ada dalam skenarionya.


"Anda pasti salah, pembunuhan anak punk dan kakek pemulung tidak ada kaitannya sama sekali. Ini kasus yang berbeda," sangkal Agus.


"Maka dari itu, aku suruh kau buat baca semua laporan ini. Setelah mendapatkan jawabanmu sendiri, makan saat itu aku harus menilai apa kamu pantas bergabung dengan tim ini," jelas Alex terus melototi Agus dengan tajam.


Agus tidak bisa berkata apa apa lagi, dia segera membawa semua bundelan berkas laporan investigasi. Kini dengan susah payah dia menumpukan semua bundelan itu menjadi satu.


Dia lalu pamit pada Alex, dari wajahnya menjelaskan betapa tidak berdaya Agus kali ini


Dia berjalan tergontai sambil menundukkan kepalanya. Sementara itu semua anggota tim kejahatan serius hanya memandang Agus dengan hampa.


Disisi lain, Alex mulai diam dan merenung. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu hal yang rumit dan berat. Ujung rokok itu mulai ia tekan habis di atas asbak kaca. Selera untuk menghirup nikotin mulai sirna.


"Aku pasti akan menangkap mu kali ini!" gumam Alex berbicara pada dirinya sendiri.


******


Pada malam hari Farel mulai kembali membaca diary Nana. Dia merasa ide untuk healing tidak berjalan dengan baik, nyatanya dari pagi sampai sore dia tetap asyik mengurus rumah.


Nana terlalu keras kepala, kali ini dia mencoba untuk membangkang pada suami. Walau Farel sudah membujuknya untuk liburan di luar rumah, Nana tetap bersih keras agar dia tetap disini.


Dia tidak habis pikir, masih banyak perempuan di luar sana harus dua kali lipat menanggung beban keluarga. Saat di luar sana banyak wanita yang ingin dimanjakan dan dilimpahkan harta yang melimpah. Tapi dengan bodoh Nana malah terus memilih kehidupan rumah tangga yang kuno.


Dengan penuh kekesalan, Farel lalu membuka lembaran diary selanjutnya. Dia mencoba menarik nafas terlebih dahulu.


Kamis, 5 April 2022


Dear Diary...


Aku sudah kaya dari lahir, hidupku tak pernah sedikit pun mengenal sebuah kekurangan. Namun itu hal yang membosankan, kadang aku ingin merasakan bagaimana hidup di bawah kolong jembatan.


Inilah tempat terbaik selama ini. Rumah kecil yang sekarang kami tempati begitu sangat menyenangkan. Aku suka mengobrol dengan para tetangga, aku senang mengenal dunia baru ini.


Tapi jika Farel terus memintaku untuk pergi keluar berlibur, baiklah. Kurasa ini momentum yang tepat untuk pergi jalan jalan.


Ayolah Farel, besok dia harus bersiap untuk ikut denganku. Kami tidak akan jatuh miskin hanya karena dia absen beberapa hari dari kantor.

__ADS_1


Besok kami akan pergi ke sebuah tempat menyenangkan! Aku yakin beberapa kuburan di sana sudah pada menghilang, aku harap kuburan itu masih utuh. Semoga aku tidak lupa dengan batu nisan-nya.


__ADS_2