31 Hari

31 Hari
Day 27


__ADS_3

Jumat, 27 April 2022


Dear Diary...


Bagaimana kabar suamiku di rumah? Apa dia makan dengan baik, apa dia bisa mencuci baju sendiri, apa dia bisa membersihkan rumah. Semoga Farel baik-baik saja, karena nyatanya aku tidak baik-baik saja di dalam masa penahanan.


Tunggu aku pulang, pasti semuanya akan kembali normal seperti biasanya. Waktu kebersamaan kita tinggal 4 hari lagi, aku tidak sabar ingin menghabiskan waktu bersama.


Terimakasih sudah setia mempercayaiku sampai detik ini. Tugas-nya sebagai suami sudah lebih dari cukup. Jadi ketika perpisahan itu terjadi, aku harap Farel tidak akan menyalahkan dirinya sendiri kelak.


Aku bangga pada-nya


Aku pun begitu merindukan-nya 🖤


Farel tertunduk dengan lemas, kepalanya dibenturkan ke bawah meja belajar. Dia terus memiringkan pandangan menuju kasur Nana. Karena selama istrinya tidak ada, dia memilih banyak berdiam diri di kamar Nana.


Sejujurnya, dia sedang di timpa banyak kebingungan dan hilang arah tujuan. Dilema oleh pilihan hidup yang bukan pilihannya sendiri. Setelah penangkapan Nana, orang tuanya langsung memutuskan hubungan dengan keluarga Handono.


Bahkan dulu orang tuanya sangat melarang adanya perceraian. Kini mereka terus memaksa agar perceraian itu segera masuk persidangan. Semua orang kini membenci Nana, tapi tidak dengan Farel.


Perasaan ingin melindungi istrinya jauh tumbuh lebih besar. Perceraian yang dulu sangat ia dambakan hanya menjadi debu penyesalan. Dia tidak ingin berpisah dari Nana, perasaan cinta itu datang disaat yang tidak tepat.


Farel menangis karena begitu merindukan istrinya. Tapi disisi lain dia sangat takut menghadapi hari esok yang begitu cepat. Karena hanya menghitung hari saja, Nana akan segera menandatangi surat perceraian itu.


Tiba-tiba suara bel pintu terdengar berbunyi. Dengan langkah kaki yang tidak bersemangat, Farel menghampiri pintu utama depan. Saat pintu itu di buka, ternyata ada Agus. Tetangga yang dulu pernah sangat dekat, kini mendadak mendekat lagi.


Agus menyodorkan susunan rantang berisikan makanan dan potongan buah-buahan. Itu adalah tanda permintaan maaf Agus, karena dulu pernah membanting pemberian Farel. Dia tersenyum kepada Farel, tentu dengan mata kesedihan yang sama.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Agus.


"Kamu pikir aku bisa makan saat situasi seperti ini?"


"Kalau kamu ingin memperjuangan kebenaran atas nama istrimu, sebaiknya kamu tidak pergi dengan perut yang kosong," ucap Agus sambil menerobos paksa pintu masuk itu.


**********


Mereka akhirnya makan bersama, menikmati makanan tradisional Sunda yang menjadi tempat kelahiran Agus. Walau makanan ini sangat enak, tapi indera pengecap Farel menjadi kebas. Akibat Stres berat yang terus menerus berubah menjadi level akut.


Sejujurnya, semua orang tengah mengalami stres berkepanjangan. Apalagi Agus, dia harus menerima Ibu-nya mati t3rbunuh dan makan bersama dengan suami tersangka yang di duga sebagai pelaku. Pertemuan ini tidak mudah, tapi mereka berdua mencoba saling berdamai dan mencari jalan tengah.


"Aku sangat percaya jika Nana adalah seorang p3mbunuh berantai."


"Dan aku sangat percaya, istriku bukan pelaku kejahatan keji seperti itu."


Mereka termenung dan terdiam. Perdebatan itu sangat ingin mereka buang jauh-jauh. Sangat melelahkan terus membicarakan siapa pelaku sebenarnya. Entah itu Farel atau Agus mereka ingin sama sama mengakhiri semua ini.


"Aku ingin kita memberikan satu fakta saja. Alasan terbesar kenapa kita saling menyerang seperti ini," ucap Farel kebingungan setengah mati.


"Baiklah, sebaiknya kamu harus mendengarkan pendapatku terlebih dahulu. Jadi, kenapa sampai detik ini aku sangat yakin jika Nana adalah pelaku utama.


Karena dua bukti itu sudah jelas menunjukan Nana adalah pelakunya. DNA, sidik jari, bahkan mobil taxi yang dia kendarai saat itu terekam ada di sekitar TKP.


Jadi sangat jelas, dia memberikan sebuah kebohongan pada alibinya saat ibuku t3rbunuh. Kesaksian Supir taxi yang selama ini kamu percaya? No, Farel.


Asal kamu tahu, istrimu dan supir taxi itu sebenarnya punya hubungan rahasia yang selama ini kamu tidak tahu."


"APA? Kamu bilang istriku punya hubungan rahasia dengan seorang supir taxi!!" Farel kaget, karena ini pertama kalinya dia mengetahui hal tersebut.


"Aku sangat yakin, jika ternyata selama ini istrimu tidak bekerja sendiri. Supir taxi itu adalah kaki tangan Nana selama ini. Walaupun aku belum tahu atas dasar apa mereka bisa saling berhubungan."

__ADS_1


"Dan kamu tahu Gus, apa yang menyebabkan ku begitu sangat percaya jika Tania adalah pelaku sebenarnya?


Karena dialah dalang dari tragedi keracunan masal di Majalengka. Tania, adalah kaki tangan mertuaku sendiri. Semua yang mereka lakukan demi harta dan kekayaan yang melimpah.


Satu lagi, Firman yang kamu tahu hanya sebagai korban pertama. Sebenarnya antara Tania dan Firman adalah saudara kandung. Tentu Tania-lah yang m3mbunuh kakaknya sendiri, karena dendam di masa lalu." Farel menjelaskan secara berapi-api.


"Apa? itu gak mungkin Rel. Itu mustahil, Tania yang aku kenal tidak seperti itu!!"


Ditengah panasnya perdebatan dua pria itu, tiba-tiba suara HP Agus berdering. Ternyata Alex melakukan panggilan telepon untuknya. Saat mereka mulai berbicara, barulah Agus bangkit dari kursi dan berdiri mematung.


Kedua matanya melotot dengan hebat. Wajahnya pucat pasi seperti mayat yang diawetkan. Tangannya gemetaran terus menerus karena telah mendapatkan kabar yang sangat mengejutkannya.


Agus mulai melirik Farel dengan tajam. Dia seperti sedang ingin memberitahukan sesuatu hal besar untuk tetangganya itu.


"Farel, mertua kamu... tidak.... tidaak... ini tidak mungkin..."


"Ada apa Gus!!"


"Tuan Ivan baru saja meninggal."


"APA?"


"Dan sekarang p3mbunuhnya sedang tertangkap basah di rumah sakit."


"P3mbunuhan? maksud kamu?"


"Tania, wanita itu.... teman lama-ku.... tidak mungkin!!!!" teriak Farel histeris.


**********


Dengan ugal-ugalan, mobil Farel langsung menyerbu masuk ke parkir depan rumah sakit. Rumah sakit tempat dimana tuan Ivan selama ini mendapatkan perawatan intensif. Namun baru saja dia mendapatkan kabar buruk, mertuanya telah t3rbunuh.


Sangat sulit untuk menembus rumah sakit, Agus tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Namun berkat akses VVIP yang dimiliki Farel, mereka berdua bisa masuk melalui jalur khusus.


Mereka berdua berlarian menuju kamar perawatan tuan Ivan, ternyata wilayah tersebut sedang di jaga ketat oleh polisi. Agus melihat ada tim kejahatan serius sedang menyisir TKP, dia lalu berteriak kepada mereka agar diizinkan masuk.


Setelah mereka diizinkan masuk, ternyata ruangan perawatan tuan Ivan berubah menjadi tempat j@gal penuh d@rah. Agus menangkap sosok seorang wanita yang sangat ia kenali. Sedang duduk terkulai lemas sambil memegang sebuah palu godam besar, tepat di samping ranjang tuan Ivan.


Agus menghampiri Tania dengan penuh kemarahan dan kekecewaan, sekaligus dia tidak mempercayai apa yang barusan dia lihat. Pria itu lalu menarik paksa kerah baju Tania dan menatapnya dengan murka.


"Katakan Tania, jika semua ini adalah kebohongan!!"


Tania tidak menjawab, tatapannya kosong dan hampa. Bahkan dia seperti tidak bernyawa sama sekali. Berkali-kali Agus mencoba menyadarkan Tania, dengan cara menggoyangkan bahunya.


"Tania, kamu di jebak kan sama wanita iblis itu?"


"TANIA, TANIAAAAA!!! SADAR TANIA!!" Teriak Agus hilang kesabaran.


Tania menatap mata Agus dengan datar. Tidak ada kehangatan terpancar dari raut wajah wanita itu. Namun Agus tahu, jika wanita itu sedang menahan kesedihan yang mendalam.


"Aku adalah p3mbunuh berantai yang sesungguhnya."


"APA!!"


"Maaf Agus, ibu mu...." belum sempat menyelesaikan kalimat tersebut, polisi lain sudah membawa Tania untuk pergi dari TKP menuju kantor polisi.


Tania berjalan dengan tangan yang telah terborgol. Dia bahkan dapat melihat dengan jelas, bagaimana semua orang menatapnya dengan ketakutan. Saat keluar dari pintu utama rumah sakit, kehadiran Tania telah di tunggu banyak sekali reporter dan kerumunan masa.


Dia mendadak menjadi selebriti dengan prestasi kriminal yang buruk. Para reporter terus memburunya dengan mengajukan banyak pertanyaan. Seperti apa benar dia seorang pelaku p3mbunuhan berantai atau semacam menanyakan motif.

__ADS_1


Tania kini telah masuk ke dalam mobil polisi. Dia masih melihat banyak sinar kamera yang terus menyoroti pandangannya. Namun tidak ada yang sadar, jika wanita itu terus mengeluarkan banyak air mata.


***********


Karena tekanan dari masyarakat dan media mengenai kasus p3mbunuhan berantai semakin meningkat. Kinerja polisi kini sedang dikritik habis-habisan karena dianggap tidak kompeten dalam menjalankan tugasnya.


Maka untuk meredam kemarahan opini publik. Kepala Bareskrim langsung mengadakan konferensi pers dan membeberkan semua bukti kejahatan yang telah dilakukan Tania. Bahkan belum mencapai 24 jam, Tania sudah menjadi tahanan kepolisian di RUTAN Bareskrim.


Karena hal itu sudah terjadi begitu cepat, menyulut kemarahan Agus kepada Alex. Selaku ketua tim kejahatan serius yang bertanggung jawab atas kasus ini. Agus protes keras, karena Alex malah membiarkan kasus ini ditutup secara cepat tanpa adanya investigasi lebih lanjut.


Namun sebagai polisi yang teguh pada fakta investigasi, Alex tidak bisa berbuat banyak. Pertama, Tania langsung mengakui perbuatanya dan menunjukan semua barang bukti yang hanya dimiliki pembunuh asli. Seperti senjata p3mbunuhan, koleksi bagian tubuh para korban yang diawetkan, hingga jas hitam dan sepatu boots yang selalu digunakan pelaku saat beraksi.


Kedua, karena dia sudah mendapatkan tekanan dari atasan secara langsung. Bahkan mereka sendirilah yang menutup paksa kasus ini dan menjadikan Tania sebagai tahanan RUTAN Bareskrim. Selain itu, berkas investigasi kepolisian akan segera dilimpahkan ke kejaksaan.


Sementara itu, kebebasan Nana sudah di depan mata. Tania mengakui, jika rambut dan sidik jari yang terdapat di sarung tangan milik Ibu Surti adalah jebakan. Bahkan dia sengaja menyewa Taxi dengan plat nomor palsu, agar bisa mengacaukan investigasi.


"Bos, izinkan aku untuk bicara secara langsung dengan Tania. Aku mohon, kali ini saja..." Agus memohon dengan sangat tulus.


"Baiklah, tapi ini kesempatan terkahir mu. Gunakan kesempatan ini dengan baik-baik. Jangan sampai ketahuan," balas Alex kasihan.


*********


Tania sudah memakai seragam orange, wajahnya pucat, mendadak kurus dan tidak bergairah. Agus seakan menghadapi seorang wanita setengah zombie. Tania terus saja menunduk malu, selalu menghindari tatapan Agus di depannya.


Bukannya marah atau melampiaskan semua emosi, Agus malah menggenggam erat kedua tangan Tania. Dia ikut menangis melihat nasib wanita yang sangat ia cintai, bahkan sampai detik ini.


Agus sudah mengenal Tania lebih jauh, dia tahu hanya dengan melihat wajah sedihnya, jika wanita itu sedang dalam tekanan berat. Dia sangat yakin jika semua ini adalah tindakan Nana, namun dia belum tahu kenapa Tania bisa masuk kedalam jebakan wanita bejat itu.


"Aku paham, kamu tidak akan menceritakan semua masalah yang telah kamu pendam selama ini. Tapi tolong, berikan aku kesempatan untuk membuktikan jika kamu memang tidak bersalah," ucap Agus penuh lara.


"Cukup Agus, ini semua sudah berkahir. Aku adalah p3mbunuh berantai itu. Jadi tolong jangan ikut campur apapun lagi."


"Jika kamu memang p3mbunuh itu, kamu tidak punya motif apapun untuk melakukan itu semua!!" protes Agus keras.


"Aku yakin kamu sudah tahu, jika Firman adalah kakak kandung yang selama ini aku rahasiakan. Aku sangat membencinya karena telah memisahkan ku dengan ayah. Dia pantas m@ti, aku tidak menyesal m3mbunuhnya!"


Tania memilih untuk berbohong, mana mungkin dia tega membunuh kakak kandungnya sendiri. Firman sangat dia sayangi, seperti dia menjaga ibu dan ayahnya dulu. Bagaimanpun latar belakang Firman, Tania tidak peduli.


"Bohong, berhenti membual Tania.!!"


"Sejak saat itu aku tidak bisa berhenti m3mbunuh, aku sengaja mengincar orang-orang sekitar Firman untuk dijadikan target selanjutnya. Mereka sampah yang pantas aku musnahkan."


Tania sangat frustasi dibuatnya. Dia bukan seorang p3mbunuh, dia tidak punya keberanian untuk m3mbunuh satu nyawa manusia pun. Bahkan, saat malam itu terjadi. Dia tidak bisa melakukan tugas yang Nana berikan. Yaitu m3mbunuh tuan Ivan dengan palu itu.


Tidak akan ada yang tahu, jika sebenarnya tuan Ivan d!bunuh oleh kaki tangan Nana. Dia-lah yang menghabisi nyawa tuan Ivan, menggantikan tugas yang sebenarnya tanggung jawab Tania.


Namun, karena ingin melindungi Chandra dari ancaman p3mbunuhan. Dia tetap menempati janjinya untuk mengakui semua kejahatan orang lain, agar Nana bisa keluar dari penahanan dan membuat namanya kembali bersih.


...Agus, asal kamu tahu.. aku bukan wanita baik, aku sungguh jahat dan biadab....


...Tapi aku bukan seorang p3mbunuh....


...Aku melakukan ini semua hanya untuk melindungi Chandra dan menebus kesalahan pada ibu di masa lalu...


...Maaf, teman baik. Jika akhirnya aku mengecewakanmu....


Itulah, deretan kalimat yang dilontarkan Tania dalam hatinya. Saat Agus terus memohon agar Tania mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia sudah memutuskan untuk tutup mulut dan merahasiakan kesepakatan dengan Nana.


Dia akan mengubur sedalam-dalamnya, bagaimana Nana sebenarnya adalah dalang dari semua ini. Bahkan sampai mati sekalipun, dia tidak akan membongkar motif Nana melakukan deretan p3mbunuhan keji ini.

__ADS_1


__ADS_2