
...Semoga Nana tidak salah paham...
...Aku hanya menyuruhnya healing, bukan mengajaknya rujuk!...
...*********...
Pagi hari yang sangat cerah, udara di kota Bekasi masih terasa sejuk. Sudah kebiasaan Nana setiap pukul 6.00 pagi, dia selalu bersemai dengan tanaman kecil di belakang rumah.
Dia sangat suka menanam bunga bunga cantik dengan berbagai warna mencolok. Dia suka mengkoleksi tanaman Bonsai yang mahal.
Dia tidak pernah absen untuk merawat dan menyiram tanaman kesayangan. Hingga suatu ketika, Farel diam diam memperhatikan Nana dari celah belakang pintu.
Untuk pertama kali semenjak mereka menikah, Farel bangun pagi dan langsung menengok kegiatan Nana. Biasanya dia selalu bangun siang dan langsung berangkat kerja.
Farel hanya bisa tertegun melihat Nana dari belakang, baginya dia seperti wanita normal. Dia tidak seperti wanita aneh yang habis m*mbelah perut kucing dengan p*sau cutter.
Terbesit rasa bersalah di dalam hatinya. Farel hanya berpikir jika Nana sedang mengalami stress berat akibat rencana perceraian. Sehingga dia tidak bisa berpikir waras saat kemarin malam.
Saat itu Farel tidak banyak berpikir jauh dengan sikap sang istri. Dia hanya menilai jika Nana adalah wanita rapuh yang selalu berpura pura tangguh.
Farel sangat yakin yang Nana butuhkan sekarang hanyalah liburan. Dia butuh banyak istirahat dan menenangkan pikiran. Nana harus lepas dari pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya.
Langkah kaki Farel mulai mendekati punggung Nana, dia mulai melayangkan tangan kanan untuk meraih pundaknya. Setelah berhasil menyapa Nana dengan sebuah sentuhan, tiba tiba Nana berbalik dengan wajah yang terkejut.
Spontan selang air di tangannya langsung menyembur tepat ke arah wajah Farel. Farel ikut terkejut tak kala tubuhnya langsung basah oleh tekanan selang air.
"Nana....!!!!! stop stop!!!" teriak Farel dengan kencang, dia terus menghalangi wajahnya dengan kedua tangan.
Nana baru sadar jika dia telah menyemburkan banyak air ke arah wajah suaminya. Dia dengan buru buru langsung menutup keran agar air tidak terus menyembur.
Dengan wajah gelisah, Nana langsung menghampiri Farel. Dia lalu mengelap baju Farel yang sudah basah kuyup dengan kedua tangannya.
Karena sudah terlanjur kesal, Farel pun mengibaskan kedua tangan Nana dengan kasar. Seolah dia tidak ingin di sentuh oleh istrinya sendiri. Seolah, dia sangat fobia dengan kulit Nana.
Melihat dia sudah di perlakukan kasar, Nana hanya bisa senyum. Dia segera merapihkan selang air dan menjauhkan dari Farel.
"Maaf Rel, aku kaget banget tadi," ucap Nana dengan pelan.
"Dasar otak marmut, gitu aja kamu kaget. Lihat nih pagi pagi udah basah!" protes Farel dengan tatapan sinis.
Nana lalu menundukkan kepalanya, dia tentu tidak ingin melawan kemarahan Farel. Kebiasaan Nana ternyata masih belum berubah.
"Kan biasanya pagi kaya gini, Nana selalu sendiri di belakang rumah. Eh, ko tumben ada yang tepuk pundak, kirain maling hehehe..." ujar Nana sambil menaikan senyuman dari sudut ujung bibirnya.
Farel sedikit terkejut, karena memang dia tidak pernah menunjukan batang hidungnya sekalipun di pagi hari. Farel berusaha untuk bersikap cuek dan arogan, dia tidak ingin Nana tahu jika dia sudah lama memperhatikan sang istri.
"Aku gak sengaja bangun dan lihat kamu di belakang," ucap Farel dengan sedikit canggung dan kaku.
"Oh gitu, terus mau tidur lagi? atau Nana sediakan sarapan?" tanya Nana dengan penuh kehangatan.
__ADS_1
"Gak usah, kamu hari ini jangan banyak tingkah di rumah. Apa sih sulitnya diam dan duduk manis? perasaan kamu kaya babu saja," celoteh Farel dengan wajah dingin seperti bongkahan gunung es.
"Ya terus kalau Nana diam, siapa yang urus semua keperluan kamu. Nyuci, setrika, masak, beresin rumah, siapin baju kantor kamu," balas Nana dengan wajah tidak suka.
"Sudah, sudah! pokoknya kamu diam dan santai saja. Jangan repot repot urusin apapun lagi," balas Farel sama ngototnya.
"Ya terus, Nana harus ngapain sih Rel?" jawab Nana lagi semakin bingung.
"Healing, aku mau kamu liburan!" bentak Farel dengan gusar, dia lalu meninggalkan Nana begitu saja.
Dengan penuh amarah, Farel lalu menutup pintu dengan sangat keras. Sampai suara hentakan pintu terdengar sangat jelas.
Sementara itu Nana masih melongo, dia belum bisa mencerna dengan perkataan terkahir Farel.
Healing?
Benarkah Farel meminta istrinya untuk berlibur?
Apa kali ini dia sedang memperhatikan Nana secara lebih?
*****
Ibu Surti adalah seorang janda yang paling tahan banting. Dia sudah sangat susah payah membesarkan Agus sendirian sejak masih bayi. Hingga saat Agus telah mencapai posisi sebagai pegawai negri sipil, Ibu Surti merasa sangat bangga pada anaknya.
Agus terkenal sangat nakal dan sulit di atur. Dia kerap kali di cap sebagai anak dengan masa depan suram. Namun nyatanya, karena keunggulannya di bidang pencak silat, dia dengan sangat mudah lolos seleksi polisi dari tingkat lulusan SMA.
Pagi ini Agus menyempatkan dirinya untuk sarapan. Bahkan dia sudah terang terangan akan sangat sibuk dan jarang pulang ke rumah. Agus menjelaskan jika pekerjaannya sebagai detektif tidaklah mudah.
Sambil menikmati segelas kopi susu, jari jarinya sedang menggeser layar HP. Sejenak dia sedang kepo dengan sosial media. Dia tengah menyaksikan begitu bahagianya orang orang di luar sana.
Semua teman teman seangkatannya banyak memenuhi wall instagram. Bahkan insta story mereka di penuhi oleh hal hal pamer.
Ada yang sedang bahagia dengan istri cantik barunya, ada yang menjadikan anak mereka sebagai model dadakan, ada yang senang memperlihatkan mobil baru dan rumah baru.
Tentu paling Agus resah kan adalah hampir semua status story mereka berbicara Healing. Mereka sedang menikmati liburan yang indah dan menyenangkan.
"Sial, seharunya aku gak jadi polisi!" gerutu Agus kesal.
"Ini gak adil, masa cuman aku doang yang gak pernah merasakan healing! apa apa healing! healing t*i anjing!" umpat Agus dengan kasar.
Dia lalu menutup dan membalikan HP ke atas meja dengan kasar. Sampai kopi dalam gelas sedikit tumpah akibat getaran hebat. Sementara itu dari jauh ibu Surti hanya senyum diam diam memperhatikan tingkah Agus.
"Nyesel ya nak sudah jadi polisi? telat ah," sindir Ibu Surti sambil berjalan menghampiri meja makan. Dia lalu menyuguhkan pisang goreng di atas meja.
Agus dengan mimik muka kesal langsung melahap dua buah pisang goreng sekaligus. Pipinya menjadi kembung karena berusaha mengunyah banyak pisang di dalam mulutnya.
"Tau gini Agus dari dulu dengerin Ibu, gak usah masuk jadi polisi," balas Agus dengan cemberut.
Ibu Surti kini tertawa melihat tingkah Agus yang semakin konyol. Terkadang wajah sangar Agus tidak seseram seperti orang kira. Isi hatinya sebenarnya lembut dan sensitif.
__ADS_1
"Gimana rasanya jadi detektif? sekeren di film film gak?" tanya Ibu Surti dengan jahil.
"Boro boro bu, yang ada nih yah tiap hari Agus selalu di omelin atasan, kerja lembur bagai kuda nil dan tidak pernah ada waktu untuk healing kaya orang lain.
Lah ini? malah ketemu mayat lagi!" celoteh Agus tanpa henti meratapi nasibnya yang terasa sangat malang.
Namun di tengah kepanikan hati Agus, di sanalah tugas seorang ibu untuk senantiasa menenangkan anaknya. Dia lalu menggenggam tangan Agus dengan erat, tatapan matanya begitu sangat dalam.
"Ibu sangat tahu jika sekarang beban pikiranmu sedang berat, bahkan kamu banyak memprotes profesi mu sendiri. Tapi ketahuilah nak, hati mu sangat tulus dengan pekerjaan kali ini.
Ibu tahu, tekad mu sekuat baja dan rela melakukan apa saja demi tujuan baik mu itu.
Ibu sangat tahu itu nak, terimakasih sudah bertahan, ibu bangga sama Agus," ucap Ibu Surti dengan penuh ketenangan.
Agus tertegun dengan semua ucapan ibunya sendiri. Hati Agus mulai goyah, dia sangat terkesima dengan semua karisma ibunya. Perlahan pikiran kacaunya mulai terobati, dia seakan mendapatkan sebuah extra doping yang luar biasa.
Tiba tiba HP berdering, ada panggilan masuk dengan nomor baru. Agus awalnya ragu untuk menjawab panggilan telepon, hanya saja dia merasa panggilan ini tidak bisa ia tolak.
"Halo," ucap Agus pelan.
"Kamu bocah tengik, saya tunggu satu jam lagi di Bareskrim. Semenit saja kamu telat, akan ku lempar seragam polisi mu itu ke kali Ciliwung!" ucap seorang pria misterius dengan nada suara tinggi dan serak.
Tuut... Tuuut... Tuut....
Belum sempat menjawab, percakapan telepon itu malah diputus begitu saja. Agus sangat terkejut dengan panggilan kilat tersebut, ini pertama kalinya dia mendengar jenis suara manusia seperti itu.
"Telepon dari siapa?" tanya Ibu Surti dengan penasaran.
"Gak tahu bu," jawab Agus dengan keheranan.
Tiba tiba HP itu berdering kembali, namun kali ini kapten Hasyim yang melakukan panggilan telepon. Agus dengan cepat menjawab telepon dari atasan.
"Halo pak," jawab Agus semakin hati hati.
"Gawat Gus! Kali ini kamu harus secepatnya pergi ke Bareskrim. Kamu baru saja di telepon oleh si anjing gila," ucap kapten Hasyim dengan sangat heboh.
"Hah! anjing gila, apa maksudnya?" jawab Agus makin gemetar.
"Apa? kamu gak tahu siapa anjing gila di kalangan detektif!! Dia adalah kepala tim kejahatan serius, divisi kriminal Bareskrim.
Namanya Alex, dia legenda kepolisan. Sekali saja kamu bertemu denganya, habis kamu Gus!" ujar Kapten Hasyim dengan gelisah.
"Lah ko Agus sih? emang salah Agus apa?" balas Agus semakin penasaran.
"Itu semua gara gara kamu Gus!! karena kamu bilang ada pembunuhan berantai di sini. Entah bagaimana dia tahu informasi ngawur yang telah kamu buat.
Si anjing gila itu langsung memerintahkan Kapolsek untuk menyuruh kamu menghadapnya ke Bareskrim," jelas Kapten Hasyim.
"Waduh? ko bisa.... gawat, mampus kali ini aku!" ucap Agus dengan pasrah.
__ADS_1