31 Hari

31 Hari
Day 12


__ADS_3

...Kali ini keberanian ku masih seperti remahan gula...


...**********...


Setelah mendapatkan panggilan dari kantor polisi. Farel segera datang untuk menemui Nana di kantor Polsek. Di sana dia sudah melihat Nana dan Ibu Surti sedang di interogasi oleh polisi. Di samping ada Dominic dan Maria duduk berdempetan dengan rambut acak kadut.


Farel segera menghampiri Nana, dia langsung menanyakan kronologi kejadian kepada polisi. Menurut pengakuan polisi mereka mendapat aduan dari pelapor yaitu Maria, karena telah mendapatkan kekerasan dan penganiayaan dari Nana.


"Apa itu benar Nana?" tanya Farel geram.


Nana seraya memalingkan wajahnya ke arah suami, dia dengan pasrah menganggukkan kepalanya. Nana mengakui perbuatanya dan tidak mengelak seperti pengecut.


Sedangkan Ibu Surti mulai menghadap Farel dengan penuh tangisan dan air mata. Ibu Surti mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa Nana hanya berusaha untuk menyelamatkan dia dari serangan brutal Maria di toilet.


Ibu Surti terus memohon untuk tidak menyalahkan semua ini kepada Nana. Dia merasa sangat bersalah atas kejadian ini. Mendengar semua penjelas itu, Farel hanya bisa menghela nafas.


"Ibu tua itu pantas dipukul. Berani beraninya dia mencuri tas mahal milikku!" bela Maria dengan kesal.


"Aku sudah bilang anak muda, tas ini pemberian Nana. Dia sangat baik hati, dia tidak pantas dihukum oleh polisi," jawab Ibu Surti semakin gelisah.


"Apa itu benar? Kamu membelikan Ibu Surti tas Chanel itu?"


Nana kemudian berdiri dengan tegak, kini dia sengaja berbicara dengan lantang di depan semua orang.


"Aku memang memukul dua wanita licik ini, tapi itu kulakukan untuk membalas perilaku kasarnya pada Ibu Surti.


Aku yang membelikan tas ini untuk beliau, dia tidak mencuri sama sekali. Jika kalian tidak percaya lihat saja CCTV dekat pintu toilet. Maka kalian akan tahu siapa yang berbohong dan pengecut!"


Tak terima dipermalukan seperti itu, Maria langsung berdiri dan mengadu pada Farel dengan gaya manjanya. Dia merasa jika Farel akan membelanya kali ini, dia tahu pria ini sangat membenci istrinya sendiri.


"Rel, kenapa sih kamu gak percaya sama aku. Tahu sendiri kan kalau istri kamu memang aneh dari dulu," bujuk Maria sambil merangkul lengan Farel.


"Lantas apa yang harus aku lakukan Maria?"


"Biarkan saja dia masuk penjara, permalukan wanita itu di depan semua orang. Ayolah, lakukan ini untukku saja. Kita sudah lama berteman kan?"


"Baiklah, jika itu yang kamu mau."


Maria langsung tersenyum lebar, dia sangat puas karena Farel tetap memihak padanya. Dia yakin kali ini Farel akan mempermalukan sang istri di depan semua orang. Dia sangat puas melihat Nana akan kalah darinya.


Farel kemudian menarik tangan Maria dan menyuruhnya untuk berdiri di depan mereka berdua. Pria itu menyuruh Nana untuk segera meminta maaf kepada Maria dan Dominic.


"Aku tidak salah! aku hanya berusaha melindungi Ibu Surti," protes Nana kesal.


"Melindungi apanya pak Farel, istri anda lebih mirip preman. Dia wanita menakutkan!" sahut Dominic.


Farel terus memaksa Nana untuk meminta maaf karena prilakunya yang tidak dapat dibenarkan. Bagi Farel, saat kejadian Nana lebih baik memisahkan pertengkaran atau meminta bantuan pada pihak security.


Akhirnya dengan segala pertimbangan, Nana meminta maaf pada kedua bestie dajal itu. Tentu saja Maria dan Dominic senang bukan main, mereka merasa sedang melayang di atas angin.


"Sekarang giliran kalian berdua meminta maaf, harusnya kalian malu pada diri sendiri. Kalian wanita terhormat dan berpendidikan, tapi kenapa bisa bisanya memukul seorang wanita tua dengan sebuah Tas??" bentak Farel tidak main- main.

__ADS_1


Matanya melototi kedua wanita itu dengan sangat tajam. Kali ini tidak ada Farel yang lembek dan tidak tahu apa arti sebuah keadilan.


Maria dan Dominic kaget setengah mati. Mereka tidak habis pikir jika Farel dengan cepat bisa menyuruh mereka meminta maaf pada wanita miskin itu. Ini bukan Farel, dia seperti orang lain yang berbeda.


"Aku gak sudi harus minta maaf sama wanita tua bangka itu!!! Farel sadar, kalian ini mau bercerai. Jangan sampai tindakan lemah mu itu membuat Nana salah paham.


Hai kamu dengar ya Na, suami mu itu sama sekali tidak mencintaimu. Jadi jangan mimpi deh kamu bisa mengambil hati Farel."


Semua mendadak hening dan terkejut. Sebuah kata perceraian baru saja dilontarkan oleh Maria dengan lugas. Itu sama dengan memberitahukan pada semua orang jika rumah tangga mereka sedang tidak baik baik saja.


Baik Dominic dan Ibu Surti hanya bisa diam saja. Mereka tidak bisa berkata kata setelah mengetahui pasangan muda itu akan bercerai. Apalagi Ibu Surti, dia selama ini menganggap rumah tangga mereka harmonis.


"Stop Maria," ujar Farel.


"Apa yang harus kamu sembunyikan lagi Farel. Ini saat yang tepat memberitahu semua orang jika kamu telah menggugat cerai Nana."


"Aku bilang berhenti!!!!!" teriak Farel sangat marah.


*********


Malam harinya, mereka berdua sudah berada di dalam rumah. Nana dan Farel tengah duduk berdua di atas sofa. Sepertinya keadaan hati mereka sedang tidak baik baik saja. Banyak sekali huru hara dan tragedi tak terduga hari ini.


Tentang pertikaian diantara keempat wanita itu sudah terselesaikan dengan cara damai. Semua sesuai saran dari Tania, selaku kuasa hukum Ibu Surti.


Ternyata Agus meminta pertolongan pada Tania yang berprofesi sebagai pengacara untuk membantu ibunya mendapatkan keadilan. Namun sayangnya, Ibu Surti tidak ingin memperpanjang masalah dan menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan.


Ibu Surti meminta pada Maria dan Dominic agar mencabut laporan penganiyaan pada Nana. Jika mereka bersedia melakukan itu maka Ibu Surti tidak akan melaporkan mereka balik.


"Kamu baik baik saja?" tanya Farel lembut.


"Iya, aku tahu."


"Rahasia perceraian kita telah terbongkar, lambat laun keluarga kita akan mengetahuinya juga. Bagaimana kita harus menghadapinya Rel?" tanya Nana gelisah.


"Nana gak usah mikirin itu sekarang. Itu tanggung jawab Farel sepenuhnya. Sekarang Nana istirahat dan bisa kembali menulis diary malam ini, ok?"


Nana hanya bisa mengangguk setuju. Setelah itu Farel mengantarkan Nana masuk ke dalam kamar. Dia pun balik untuk masuk ke kamarnya sendiri.


Walau perceraian ini sudah terbongkar, nyatanya Farel tetap melanjutkan menulis diary itu. Dia tidak boleh gentar sedikit saja, dia harus menyelesaikan tulisan diary ini sampai 31 hari.


*********


Kamis, 12 April 2022


Dear Diary.....


Aku minta maaf, sudah banyak membuat kegaduhan hari ini. Pasti Farel melelahkan harus menghadapi empat wanita sekaligus. Tentu aku berterimakasih karena dia telah mempercayai kami, dia bahkan menyuruh Maria untuk minta maaf.


Kali ini Farel cukup emosional dan sensitif, dia memang tidak seperti biasanya. Apa yang sedang suamiku pikirkan? apa dia terlalu lelah dengan pekerjaannya sebagai Presdir?


Ku harap dia baik baik saja. Dia harus kuat sampai kita melakukan semua ini sampai akhir. Bahkan aku sudah menyiapkan banyak jurus andalan menghadapi perceraian ini.

__ADS_1


Kita harus bisa melaju sampai akhir, tetap menulis sampai hari ke 31. Semoga saja kamu tidak mundur Farel.. semoga hari demi hari yang akan kita lewati tidak ada masalah.


Farel menutup buku diary itu sambil menundukkan kepalanya ke atas meja. Tiba-tiba dia merasakan sesak tak tertahankan dalam dada. Ada apa ini? kenapa Farel seperti terombang ambing tidak karuan.


Sejujurnya dia merasa marah pada dirinya sendiri. Dia baru saja mengetahui sedikit masa lalu Nana yang sulit. Disaat mereka akan bercerai, satu persatu kebenaran mulai terungkap.


Perasaan apa lagi ini? benarkah Farel merasa bersalah dan tidak ingin berpisah dari Nana. Tapi untuk apa dia mempertahankan rumah tangganya lagi. Bahkan untuk mencoba mencintai Nana terasa sangat sulit.


Apakah itu sebuah kesulitan atau ketidakberanian?


Farel benar benar terperangkap dalam dua kemungkinan itu.


Dia memutuskan untuk keluar menemui Nana, dia lalu mengambil kotak perhiasan yang ia simpan di laci. Setelah berjalan menuju kamar Nana, ruangan itu kosong.


Dia pergi menemui Nana di belakang rumah dan ternyata memang wanita itu ada di sana. Nana sedang sibuk menyirami semua tumbuhan itu satu persatu.


Farel menghampiri Nana dan menyapa istrinya dengan ramah.


"Gimana udah baca diary-nya belum?" tanya Nana.


"Sudah."


Farel kembali memperhatikan bunga bunga mawar itu, ternyata Nana sudah menggantinya dengan bibit yang baru.


"Aku lihat kemarin cuman bunga mawar merah itu yang terpangkas habis. Setahu aku, kamu sangat menjaga ketat bunga bunga itu."


"Aku petik bunga bunga itu untuk dijadikan sebuah buket yang indah."


"Untuk apa?" tanya Farel sedikit ngotot.


"Mmmmmm...... ku gunakan sebagai umpan untuk menangkap kupu-kupu."


"Terus, kamu berhasil menangkap kupu-kupu itu?"


"Kamu sudah lihat sendiri, di kamar aku pajang lukisan kupu-kupu itu. Cantik kan?" tanya Nana balik, sambil melayangkan sebuah senyuman lebar.


Deg!


Jantung Farel berdetak mulai kencang. Rasa cemas mulai menggerogoti semua pikirannya. Dia tiba-tiba melempar selang air itu ke tanah, dia sengaja menjauhkan selang air itu ditangan istrinya.


Kedua tangan Farel lalu memegang kedua pundak Nana dengan erat. Dia mendekatkan pandangan lurus tepat di kedua mata Nana.


"Buang lukisan kupu-kupu itu sekarang juga!!" sentak Farel.


"Lah, kenapa?"


"Pokoknya buang saja Nana! Aku gak suka lihat lukisan itu ada di rumah ini."


"Gak bisa dong Rel, itu sebuah maha karya indah!"


Farel lalu meraih kotak perhiasan itu di dalam saku. Dia mengeluarkan sebuah kalung kupu-kupu itu tepat di depan Nana.

__ADS_1


"Kamu lihat kan Na, kalung ini persis dengan kupu-kupu yang kamu lukis. Aku ingin kamu memakai ini sekarang juga.


Kamu ganti lukisan kupu-kupu itu dengan sesuatu yang lebih indah dan berharga. Paham?" ucap Farel dengan mata melotot.


__ADS_2