31 Hari

31 Hari
6 Jam Sebelum Pemanggilan Saksi


__ADS_3

...Flashback to TKP...


Sekitar jam 01.00 siang, Agus dengan buru buru mengendari motornya menuju hotel Mutiara yang tak jauh dari pusat kota Bekasi. Dia mendadak di telepon oleh si anjing gila dan menyuruhnya untuk segera menuju TKP.


Walau belum tahu jenis pembunuhan apa kali ini, tapi perasaanya jauh tidak enak. Dia selalu menduga jika kasus pembunuhan kali ini ada kaitannya dengan pembunuhan berantai.


Sesampainya di tempat parkir motor, dia langsung berlari berhamburan menuju lobi hotel dan menaiki tangga darurat. Hanya berjarak satu lantai saja dia sudah melihat banyak kerumunan polisi dan jurnalis. Firasatnya semakin buruk tak kala salah satu kamar telah di jaga ketat oleh polisi.


Agus kemudian dengan cepat menunjukan lencana polisi agar bisa melewati garis polisi yang telah di pasang. Sebelum itu dia menggunakan terlebih dahulu standar keamanan saat akan memasuki TKP.


Wajib memakai sarung pelindung sepatu dan sarung tangan. Tujuannya tak kala agar TKP masih dalam keadaan utuh dan bersih, tanpa ada campur tangan pihak lain yang dapat merusak keaslian TKP.


Dia berjalan pelan dan pandangannya segera melihat kondisi ruang utama. Di sana sudah ada tim forensik yang masih mengolah TKP. Tempat tidur masih rapih, tidak ada tanda tanda perkelahian atau penyerangan.


Setelah itu dia berjalan menuju kamar mandi, barulah di tempat itu dia melihat anjing gila dan dua orang bawahannya. Betapa terkejutnya Agus tak kala dia dengan jelas melihat ada seorang m*yat wanita yang sudah terbujur kaku di dalam bak mandi.


Cipratan d*rah banyak memenuhi dinding dekat bathtub. Air sudah berubah menjadi merah pekat dan kondisi m*yat sudah putih pucat. Hampir sebagian tubuh telanjangnya membengkak karena cukup lama terendam air.


Agus memperhatikan jika Alex sedang mencoba memindahkan kepala m*yat ke samping. Dia mulai menilik sesuatu hal aneh, ada sebuah tulisan merah yang bersembunyi di balik kepala m*yat.


Agus mencoba melihat lebih dekat tulisan merah itu. Sontak tubuhnya terperanjat saat dia mengetahui jika no 9 tertulis di dinding kamar mandi. Agus sedikit menjerit ketakutan, sehingga suaranya mulai didengar oleh Alex.


Alex menoleh kebelakang, dia mendapati jika Agus sudah sampai TKP. Segera dia berjalan dengan wajah marah dan meraih kerah baju Agus. Dia menarik kerah baju itu dengan kuat sehingga nafas Agus mulai berat.


"Katakan apa yang kau lakukan semalam?" tanya Alex dengan penuh ketegangan.


"Aku semalam berjaga di Polsek," balas Agus dengan susah payah.


"Apa ada saksi?" tanya Alex kembali.


"Tanyakan saja pada kapten Hasyim, dia bersama ku sepanjang malam," balas Agus dengan takut.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan terkahir, Alex kemudian melepaskan cengkraman itu. Sedangkan Agus tengah menarik nafas panjang karena hampir saja dia mati karena tercekik si anjing gila.


"Apa pak Alex menuduhku melakukan p*mbunuhan?" tanya Agus mulai berani, kini dia balik menatap Alex dengan tajam.


Sedangkan Alex hanya diam dan tatapannya kosong. Dia kembali memandang mayat itu dengan wajah suram. Seakan dunia ini berhenti begitu saja, perasaan Alex menjadi hancur lebur.


"Aku harus mencurigai siapapun, aku tak boleh lengah. Apalagi pembunuhan kali ini sangat persis seperti apa yang kau prediksi.


Hanya kau Agus, orang yang menyadari jika pembunuhan lain akan terjadi dengan nomor urut 9. Jadi sudah sewajarnya aku harus terus mengawasi mu," jelas Alex dengan tenang, kini dia menarik tangan Agus dengan kencang.


Alex ingin mengajaknya bergabung dengan tim kejahatan serius lainya dan anggota forensik. Alex ingin menyeret anak buah baru itu dan berdiskusi tentang perkiraan sementara penyebab kematian korban.


Di sana ada Alex sebagai ketua tim dan tiga anggotanya, Agus, Karina dan Radit. Beserta ketua forensik, Gunawan yang akan menjelaskan penemuan sementara di TKP.


Gunawan menjelaskan jika mayat perempuan itu bernama Siska Lestari, usia 28 tahun dan sesuai KTP dia berasal dari Gresik. Menurut catatan pesan aplikasi di HP, Siska bekerja sebagai P S K dan sering menggunakan media sosial untuk mempromosikan jasa s*xual.


Berdasarkan hasil temuan sementara, penyebab k*matiannya adalah karena pukulan keras oleh senjata tumpul. Terlihat dari bentuk trauma kepala belakang yang berbentuk bulat. Diperkirakan waktu k*matian sekitar jam 7 / 8 malam.


Agus menutup matanya, melihat fakta yang sangat menyeramkan dia hanya bisa menahan seluruh amarah. Kali ini p*mbunuh sudah semakin berani dan brutal, bahkan dia sudah menyerang seorang wanita.


"Lalu bagaimana pelaku bisa menjebak korban untuk masuk secara suka rela ke dalam kamar hotel?" tanya Radit dengan penasaran.


"Bisa jadi pelaku menyamar sebagai pelanggan dan mereka membuat janji di kamar hotel ini, untuk memastikannya kita harus memeriksa catatan panggilan telepon korban," jelas Alex kepada semua tim.


Agus kemudian melihat lagi sekitar TKP, dia terus mencermati semua sudut kamar hotel. Lalu dia mendapati jika ada buku kecil jatuh di sekitar bawah pintu depan.


"Sepertinya pintu itu di ganjal oleh buku kecil sehingga korban membuka pintu dengan sendirinya.


Kenapa bisa seperti itu? itu jelas terlihat merepotkan, harusnya pelaku bisa membuka pintu sendiri dari dalam," jelas Agus tambah penasaran.


Gunawan lalu berjalan menuju arah gorden samping dekat jendela. Dia menunjukan jika terdapat jejak sepatu di belakang gorden besar ini.

__ADS_1


Dia kembali menjelaskan jika p*mbunuh kemungkinan menunggu korban masuk kamar mandi. Dia bersembunyi di belakang gorden untuk membuat korban lengah.


Itu sebabnya p*mbunuh tidak membuka pintu dari dalam, dia mencoba mengganjal pintu dengan buku agar korban masuk dengan sendirinya.


"Tapi itu merepotkan dan tidak wajar. Apalagi target adalah seorang P S K. Pelanggan pekerja s*x adalah orang asing dan dia terbiasa tidur dengan orang tidak kenal, seharusnya p*mbunuh tidak usah bersembunyi di belakang gorden," ujar Agus.


"Bisa jadi, p*mbunuh adalah kenalan si korban. Jika dia membuka sendiri pintu itu kemungkinan wanita itu akan menolak masuk," sahut Karina dengan pendapat lainnya.


Semua kembali diam dan termenung, semua sedang kalut dengan pikirannya masing masing.


"Bisa jadi Karina, hanya saja kita harus menggali lebih banyak kemungkinan lain alasan pelaku harus bersembunyi di belakang gorden," timbal Alex dengan serius.


Kenapa harus seorang P S K?


Apa motif dan tujuannya kali ini?


Semua pertanyaan itu terus di ulang oleh Agus dalam isi kepalanya. Agus sangat merasa bersalah karena kali ini dia tidak bisa mencegah pembunuhan, dia masih kehilangan sosok iblis yang tengah bersembunyi.


"Oh iya satu hal lagi, kalian harus segera menyelidiki toko bunga yang menjual buket mawar merah yang ada di atas kasur. Aku yakin jika pelaku sempat membeli bunga tersebut tak jauh dari sini," ucap Gunawan untuk terakhir kalinya.


"Ok, kalian sudah paham kan? kali ini sudah jelas jika wanita ini di b*nuh oleh orang yang sama dengan kasus p*mbunuhan berantai sebelumnya.


Kita harus segera menangkap pelaku secepat mungkin, target kita adalah 24 jam dari sekarang. Karena hanya ada kalian bertiga untuk sekarang, aku tugaskan Karina untuk mencari saksi dan menanyai semua pegawai hotel. Cari tahu apa mereka melihat ada orang mencurigakan waktu p*mbunuhan terjadi.


Radit, aku tugaskan untuk mengumpulkan semua rekaman CCTV hotel dan sekitar hotel. Cari gerak gerik yang mencurigakan.


kau Agus, aku tugaskan untuk mencari ke rumah korban. Temukan apa saja di rumah itu, tanya semua rekan P S K. Cari informasi sedetail apapun itu. PAHAM!!!" teriak Alex dengan kencang.


"Siap, Paham!!!" jawab mereka dengan serempak dan kompak.


Tanpa harus menunggu aba aba lagi, Agus, Radit dan Karina segera berpencar untuk mencari bukti bukti yang dapat membantu proses investigasi.

__ADS_1


__ADS_2