31 Hari

31 Hari
Suami Bodoh Part 2


__ADS_3

...Aku benci diriku sendiri...


...**********...


Selepas matahari terbenam, Farel memutuskan untuk menunggu Nana di pekarangan belakang rumah. Dia berdiri dengan tampilan terbaiknya, memakai kaos hitam polos dan jeans navy. Bahkan kali ini dia memakai gel rambut agar terlihat klimis.


Seraya dia melihat bunga bunga yang selama ini Nana rawat dengan baik. Ada bunga anggrek, mawar, bunga matahari dan jenis tanaman dengan media air sekalipun.


Tentu kali ini Farel sedikit mengakui kehebatan Nana, dia memang sangat mendedikasikan hidupnya untuk rumah kecil ini. Dia senantiasa merawat seluruh bagian rumah walau keadaan rumah tangganya tidak pernah bahagia.


Farel tiba tiba menangkap sesuatu hal aneh, diantara semua bunga yang masih hidup dengan baik. Ada beberapa pot bunga mawar merah yang terlihat sudah di petik. Sejenak Farel berpikir kenapa Nana bisa memangkas habis bunga mawar merah itu? padahal dia sangat tahu jika Nana sangat menjaganya mereka dengan baik.


drrrtt.. drrttt...


Suara HP Farel berdering, ternyata Nana sedang melakukan panggilan untuk Farel. Segera dia menerima panggilan telepon itu dan mulai berbicara.


Nana menyuruh Farel untuk segera makan malam, dia ingin suaminya mendatangi meja makan. Namun kali ini Farel malah menyuruh Nana untuk menemuinya di belakang rumah. Dia berkata jika ada sesuatu hal penting untuk disampaikan.


Setelah percakapan telepon itu berkahir, tanpa harus menunggu lama lagi Nana datang menemui Farel. Wanita itu datang dengan memakai celemek dan spatula di tangan.


"Ada apa Rel?" tanya Nana dengan wajah sedikit khawatir, karena ini tidak biasanya dia menyuruh datang ke belakang rumah. Apalagi ada sesuatu hal penting yang ingin Farel katakan secara langsung.


Farel tercengang dengan penampilan Nana, dia tidak habis pikir jika dia mati-matian berdandan keren untuk misi kali ini. Sedangkan Nana begitu berantakan dengan celemek kotor dan berbau minyak.


Nana benar benar mempermainkan perasaan Farel kali ini. Itulah asumsi Farel saat itu juga. Namun dia tidak bisa serta merta menunda semua usahanya.


Tanpa pikir panjang lagi, Farel menarik tubuh Nana tepat di alas dinding. Dia menahan dan menguncinya dari segala arah. Sedangkan Nana hanya bisa melayangkan wajah bingung dan serba keheranan.


Kini mereka berdua saling berhadapan dengan jarak yang dekat dan lekat. Farel memandang wajah Nana secara tajam, dia ingin menyakinkan Nana jika dia adalah pria yang menawan hati.


"Apa apaan sih Rel? katanya mau ngomong sesuatu?" protes Nana dengan sedikit kesal.


"Mmmmm iya, iya... mmmmmm.... mmm..." jawab Farel malah semakin gugup, pikirannya mulai kacau dan blank.


"Ngomong aja sih Rel, gak usah pakai narik ke tembok segala," celoteh Nana tidak sabar.


"Kamu tahu ini hari apa?" tanya Farel mulai lantur dan tidak fokus.


" Minggu, terus?" balas Nana santai.


"Terus... mmmmm.... malam ini kamu masak apa?" tanya Farel semakin ngawur, dia sudah belok dari tujuan utama.

__ADS_1


"Aku masak ikan goreng, tumis kangkung sama sambal terasi," jawab Nana semakin heran melihat tingkah Farel.


"Oh iya," balas Farel semakin kecewa dengan dirinya sendiri. Dia kesal karena mulutnya tidak bisa di ajak kerja sama kali ini.


Nana mulai mendorong tubuh Farel dengan sekuat tenaga. Dia mencoba untuk lepas dari cengkraman Farel yang tidak berguna itu.


"Sudah ah, kamu buang buang waktu doang! Nana mau kembali ke dapur," celoteh Nana sambil berjalan lurus meninggalkan Farel seorang diri.


Namun Farel buru buru menyusul Nana secepat mungkin, dia kembali mendorong istirnya di alas tembok seperti tadi. Dia harus memaksa Nana dengan posisi seperti di adegan drama korea tadi.


Kali ini mereka kembali menatap satu sama lain. Bahkan hati Farel sedang berdetak tidak karuan, dia seakan akan tengah di seret ke sebuah dimensi lain. Mata Farel sedikit melirik bibir Nana yang kecil dan tipis, tidak ada warna lipstik hanya sebuah goresan warna alami.


"Ayo Farel, kamu bisa!! ingat ini cuman akting," gumam Farel dalan hati.


"Apa kamu ingin melihat kupu kupu?" tanya Farel dengan suara dalam dan berat, layaknya pria sejati.


"Kupu kupu? dimana?" tanya Nana mulai penasaran.


"Sekarang di depanmu, aku adalah kupu kupu yang selama ini kamu harapkan," balas Farel semakin mendalami karakter.


Dia pun mencoba untuk menutup mata dan menggerakkan kepalanya turun perlahan mencapai bibir Nana. Bahkan secara refleks dia malah memonyongkan bibir itu secara berlebihan.


Mendadak saja Nana memukul bibir Farel dengan spatula. Dia ingin menghancurkan gaya norak Farel yang sangat menjijikan. Spontan Farel langsung membuka mata dan menyaksikan sendiri jika permukaan spatula itu sedang menempel di bibirnya secara lekat.


Langsung saja Farel menarik diri dan menjauhkan bibirnya dari Nana. Dia langsung menggosok gosok bibirnya sendiri karena penuh dengan minyak goreng.


"Kamu gila ya Na! ngapain pukul pakai benda itu!!" teriak Farel dengan terkejut.


"Kupu kupu apanya!! dasar pria menjijikan..." balas Nana sama berteriak dengan histeris.


Nana memutuskan untuk menabrak Farel dengan kasar dan dia langsung berlarian kecil. Saat itu juga Farel menyusul istrinya masuk ke dalam dapur.


Farel menarik tangan Nana dan menahan setiap gerakan istrinya. Dia ingin sekali membuat istrinya diam dan mendengar semua penjelasanya.


"Kamu ingin lihat kupu kupu kan? kamu pasti tergila gila sama drama korea yang tadi kamu tonton," ucap Farel dengan wajah frustasi karena baru saja dia merasakan penolakan.


"Maksud kamu?"


"Jujur saja Na, kamu mau kan kita ciuman?"


"Ampun dah, otak kamu udah ngaco Rel."

__ADS_1


"Jangan bohong deh Na, kamu lagi tergila gila kan sama drama korea kupu kupu itu? pasti kamu sering terbayang bayang dengan wajah aktor tampan itu kan?" ucap Farel semakin gusar.


Nana kemudian tertawa terbahak bahak. Dia kini meledek Farel secara brutal. Bahkan dia menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Ya ampun deh, aku jujur masih gak ngerti dengan semua ucapan kamu. Tapi tadi aku tuh lagi nonton dokumenter Korea utara. Jadi kamu pikir aku sedang tergila gila dengan Kim Jong Un? tanya Nana terus tertawa lepas.


"Apa? Kim Jong Un? tanya Farel dengan muka pasrah dengan harga diri yang sudah hancur lebur.


"Iya, emang kamu pikir siapa juga sih leader di negara sana," sahut Nana dengan senyuman geli, dia langsung kembali fokus untuk menyiapkan makam malam.


"Jadi bukan pria kupu kupu itu?"


"Bukan, lagian siapa dia juga aku gak kenal," balas Nana kembali santai.


Farel geram dan marah, kali ini dia malah jatuh sedalam dalamnya ke lubang api neraka. Semua ini karena Dominic, jika saja saat itu dia tidak mendengar saran darinya mungkin dia tidak akan malu seperti ini.


Farel memilih duduk di kursi dengan lemas, misteri kupu kupu itu belum terpecahkan. Apa sebaiknya Farel bertanya langsung saja? Dia sudah lelah terus bermain kucing kucingan seperti ini.


Tiba tiba HP nya berbunyi kembali, Farel segera meraih layar HP dan melihat Agus sedang melakukan panggilan untuknya.


"Tumben," ucap Farel pelan.


"Halo," sapa Farel sopan.


"Farel maaf menganggu waktu istirahatnya, tapi aku harap kamu segera bersiap siap untuk pergi ke Bareskrim," jelas Agus dengan suara panik.


"Apa? Kantor polisi?" balas Farel terkejut.


"Sebentar lagi akan ada polisi yang menjemput dan memberikan surat resmi pemanggilan saksi."


"Maksud kamu? Aku harus bersaksi atas dasar apa?"


"Mohon maaf tapi kali ini kami harus memeriksa kamu sebagai saksi atas kasus pembunuhan, kami hanya ingin meminta keterangan saja dari kamu Rel," ucap Agus.


Sontak saja Farel berdiri dari kursi, dia tentu sangat terkejut dengan berita kali ini. Kenapa dia harus terseret sebagai saksi kasus pembunuhan.


Tapi pembunuhan apa?


Farel segera menutup sambungan telepon, tiba tiba dari pintu terdengar suara bel berbunyi. Farel berjalan menuju pintu depan dan mendapati jika memang ada dua orang memakai seragam polisi tengah menanti dirinya.


Farel terkejut bukan main.

__ADS_1


__ADS_2