
...Ini hanya akting!...
...**********...
Setelah dari kamar mandi, Nana segera berjalan menuju dapur utama. Dia langsung mengambil sebuah p!sau daging dan berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Dengan tatapan penuh amarah dan kekacauan, dia kemudian menggedor pintu ruangan sang ayah dengan keras.
Nana terus menggedor pintu itu berulang kali tanpa henti, berharap ayahnya bisa mempersilahkan dirinya masuk ruangan itu. Namun pintu itu masih saja tertutup, Nana yakin jika ayahnya sedang berada di dalam sana.
Sedangkan Farel masih sibuk mencari kemana perginya Nana. Dari tadi dia merasa kesusahan harus mengatur istrinya yang selalu bersikap ceroboh. Saat dirinya masuk ke lantai dasar, dari balik jendela dia melihat Nana sedang berdiri di sebuah pintu kayu besar.
Niat Farel ingin memanggil sang istri dari jauh, namun terhenti ketika dia melihat Nana sedang memegang p!sau besar. Farel terkejut sekali, dia mendadak berhenti berjalan dan masih memantau istrinya dari jauh.
"Nana, kenapa kamu bawa p!sau?" tanya Farel sendiri dalam hati.
Farel melihat pintu itu terbuka dengan sendirinya, saat itulah Nana masuk dengan sebuah ekspresi wajah tidak biasa. Saat Farel berlarian dan ingin menyusul Nana, pintu itu sudah kembali tertutup rapat.
Kini Farel hanya bisa berdiri di ambang pintu. Perasaanya mulai tidak enak, firasat buruk mulai menghantui pikirannya. Karena dia tahu jika selama ini Nana kurang akur dengan ayahnya sendiri.
Di dalam sana, Nana sudah berdiri di depan sang ayah yang sedang duduk membaca sebuah buku. Hubungan ayah dan anak terjalin tidak harmonis, mereka seperti tidak merasakan ikatan sebuah hubungan darah.
"Ayah tahu kan siapa wanita itu?" tanya Nana dengan suara lantang.
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan tentang siapa yang mendekati ayah. Termasuk wanita itu," balas Ivan dengan cuek, dia bahkan tidak menatap anaknya sendiri.
"Apa itu Tania? anak dari kepala pelayan itu? betulkah ayah!!" sentak Nana dengan wajah takut dan cemas.
"Apa kamu sedang berhalusinasi? Tania yang kau bicarakan sudah mati 13 tahun lalu. Kenapa kamu terus saja membahas masa lalu," protes Ivan dengan nada menantang.
Nana sejenak diam, dia mengambil nafas panjang dan berusaha mengatur kewarasannya. Hanya saja p!sau besar itu tidak bisa lepas sedikitpun dari tangan Nana. Dia malah semakin erat dan kuat memegang ujung p!sau itu.
"Sepertinya kau takut jika memang anak itu bangkit dari kuburan?" celetuk Ivan sambil menutup buku dan seraya memandang anak perempuannya dengan wajah datar.
"Omong kosong apa ini ayah!" jawab Nana kembali meledakan emosi.
"Ayah dengar di sekitar tempat tinggal mu telah terjadi pembunuhan berantai. Apa semua kekacauan itu adalah perbuatan mu?" tanya Ivan dengan wajah sinis.
Mendengar ayahnya melontarkan sebuah pernyataan mengejutkan, membuat Nana tertawa terbahak bahak. Dia terus saja mempermainkan dan mengolok-olok pertanyaan itu.
"Ayah, kamu masih belum berubah ternyata, selalu bersikap naif dan egois. Ayah, kamu sudah tua dan aku sudah bertambah dewasa.
Ayah sudah lemah dan tidak berdaya, aku gak akan takut lagi dengan semua gertakan kucing seperti itu," balas Nana mulai santai, dia berusaha untuk terus mengendalikan dirinya sebisa mungkin.
__ADS_1
"Baguslah, jika kamu sadar dan merasa lebih kuat dari ayah. Hiduplah seperti itu Nana, ayah tidak banyak ingin dari hidupmu, cukup berikan saja aku cucu laki-laki.
Jika kamu berhasil melakukan itu, maka aku anggap semua hutang kita imbas. Seharusnya kamu selalu bersyukur jika selama ini ayah selalu merawat dan menjagamu dengan baik," ucap Ivan dengan tegas.
"APA!!! Kamu bilang telah merawat ku dengan baik?? Kamu paksa aku masuk rumah sakit jiwa di Amerika, kamu jauhkan aku dengan ibu selama 5 tahun, bahkan kamu tidak mengizinkan aku berada di samping ibu disaat ajal menjemputnya. ITU YANG KAMU BILANG BERSYUKUR!!!!"
Nana sudah kehilangan semua kesabarannya, sekuat apapun dia menahan rasa sakit malah teramat begitu sakit. Dia lalu berjalan menuju kursi sang ayah dan langsung menempelkan p!sau besar itu di ujung leher Ivan.
"Katakan padaku ayah, kenapa semenjak kematian 12 pelayan itu kamu malah mengirim ku ke Amerika dan menjauhkan ku dari ibu sampai dia meninggal? tanya Nana dengan mata melotot.
Ivan mulai sedikit khawatir, dia belum bisa bergerak sama sekali. Cengkraman pisau di lehernya begitu sangat menakutkan. Ivan berpikir jika Nana memang tidak pernah bisa berubah, dia adalah Nana yang begitu kejam.
"Karena ini tugas seorang ayah. Apa kamu tidak tahu bagaimana sulitnya aku mengurus kedua belas jenazah itu Hah!!
Bagaimana menderitanya ayah harus menyembunyikan fakta kematian mereka sesungguhnya pada polisi. Karena perbuatan mu itu, kamu pantas aku jebloskan ke rumah sakit jiwa!! kamu monster yang tidak pantas berada di samping ibu mu sendiri," ucap Ivan dengan wajah gemetar, diam diam dia mulai meraba raba sebuah tombol darurat di bawah meja.
Nana kembali tertawa sinis, bahkan dia dengan berani mulai menjambak rambut sang ayah. Pisau itu semakin dia dekatkan pada leher Ivan.
Sedikit saja Ivan bergerak, makan p!sau itu tak segan akan mengg*rok lehernya hidup hidup. Nana sedang tidak bisa berpikir rasional saat ini.
"Ayah memang seorang pembual yang hebat," balas Nana dengan nada bicara pelan.
Ivan sudah bisa memencet tombol darurat, dimana itu adalah tombol yang menghubungkan dengan sistem keamanan. Saat tombol itu aktif maka ruangan kerja Ivan sudah di serbu oleh banyak penjaga.
Nana meronta-ronta, tentu dia tidak terima di perlakukan seperti ini. Para penjaga itu berhasil membuat Nana keluar dari ruang kerja Ivan. Bahkan mereka tega menendang Nana dengan kasar, sehingga Nana tersungkur jatuh di atas lantai.
Dari jauh Farel masih memperhatikan kondisi depan ruangan kerja mertua. Saat melihat istrinya sendiri di perlakukan kasar seperti itu, masih membuat Farel membeku. Dia bingung harus melakukan apa, dia malah berdiri terus di pojok sana. Farel sama sama bertingkah pengecut!
********
Pesta itu masih berlangsung meriah di luar sana. Nana memilih untuk diam dan menjauhkan diri dari semua orang. Dia hanya duduk termenung di pinggir kolam ikan.
Kedua matanya begitu kosong dan hampa. Semua perkataan ayahnya membuat sebuah luka lama menjadi lebih besar. Nana tidak ingin mengingat kejadian suram dengan kedua belas pelayan itu.
Bahkan dia tidak ingin melihat Tania, walaupun dia belum tahu siapa wanita misterius itu sebenarnya. Ternyata Farel dari tadi sedang berdiri di belakang tubuh Nana.
Dia lalu ikut bergabung dengan istrinya yang terus melamun itu. Dia tahu betul jika Nana sedang mengalami masalah sulit. Dia sedang tidak baik baik, dia sedang sedih.
Tapi Farel masih belum ada niat untuk menanyakan apapun. Mulut dan hatinya masih terkunci rapat hanya untuk sekedar menanyakan keadaan. Namun Farel tahu jika Nana adalah istri tertutup dan tidak bisa disentuh sembarangan.
Telapak tangan Farel kemudian dia lepaskan tepat kearah Nana. Dia menyuruhnya untuk segera menggenggamnya lagi. Tentu Nana terkejut, dia tidak habis pikir jika Farel masih bisa melanjutkan akting mereka.
__ADS_1
"Ayo kita selesaikan malam ini dengan sempurna. Setidaknya kita harus bisa merasakan bagaimana menjadi sepasang suami istri yang layak," ucap Farel dengan wajah penuh kelembutan.
Nana meraih telapak tangan Farel dan menerima genggaman itu secara suka rela. Kali ini mereka lebih merasakan sentuhan hangat yang tak bisa di jelaskan oleh kata kata. Genggaman ini lebih dari sekedar bermain main.
Farel kemudian mengajak Nana untuk berdansa di tengah pesta. Alunan musik klasik yang indah membuat suasana semakin syahdu dan menenangkan. Mereka kini saling merapatkan posisi satu sama lain, tangan mereka saling bersanding.
Mereka mulai berbaur dengan orang orang yang sedang berdansa. Farel dan Nana mulai menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan dengan gemulai. Tatapan mereka beradu dengan sangat dekat dan lekat.
Farel bahkan lebih mendekatkan tubuh Nana dengan sempurna. Tangannya mulai menggeliat mencapai pinggul Nana. Sedangkan tangan Nana pun ikut naik keatas bahu Farel.
"Apa kau bahagia Nana?" batin Farel.
Tiba tiba sebuah perasaan sedih mulai menghinggapi hatinya. Dia merasa jika belum bisa membahagiakan Nana seutuhnya. Dia bahkan tak sempat membuat Nana selalu tersenyum. Bahkan saat istrinya merasa dalam kesedihan, Farel tak sanggup untuk singgah sedikit dalam hatinya.
Nana dengan sangat tiba tiba mulai memeluk Farel. Dia mendekap sang suami dengan perasaan rapuh dan hancur. Farel tidak bergeming sedikit pun, dia menerima pelukan sang istri begitu dalam.
Farel bisa merasakan jika Nana sedang mencoba bersandar pada pria brengsek seperti dirinya. Farel sadar jika istrinya adalah wanita yang lemah.
"Ini cuman akting, kamu harus menahannya," bisik Nana dari belakang kuping Farel.
"Sudah jangan banyak bacot!" balas Farel canggung.
Tiba tiba dari arah samping, kedua orang tua Farel kemudian datang memecah pelukan mereka. Ibu Farel membawa sebuah kue kecil dengan lilin angka 1 di atasnya. Nana dan Farel sedang diberikan sebuah kejutan istimewa dari orang orang sekitar.
"Happy Anniversary pertama untuk kalian anak anaku yang tercinta," ucap ibu Farel sambil mengeluarkan air mata yang tak terbendung.
Farel dan Nana tersenyum senyum malu di buatnya. Mereka tiba tiba gugup dan bingung harus bereaksi seperti apa. Kejutan anniversary dari keluarga besar sangat jauh dari dugaan mereka.
Akhirnya Nana menyuruh Farel untuk meniup lilin itu secara bersama. Setelah api lilin itu tertiup, semua orang bertepuk tangan dengan riuh. Farel dan Nana mulai berakting kembali, mereka kini berpura pura terharu dengan semua kejutan itu.
Tiba tiba, semua orang mulai meneriaki mereka berdua. Keluarga Teletubbies itu menyuruh mereka untuk berciuman secara publik. Mereka terus memaksa pasangan muda itu agar menunjukan cinta mereka di depan semua orang.
"C!uumm... c!uuuummm... c!uuummm..." semua orang terus meneriaki Nana dan Farel.
Sementara itu Farel tidak bisa mengelak ataupun menolak. Jika dia menolak saja permintaan gila itu, pasti kedua orang tua mereka akan mencurigai keadaan rumah tangga mereka sesungguhnya.
Farel belum siap, dia tidak mau di usik oleh banyak pertanyaan ini dan itu. Dia tidak mau memperkeruh suasana nantinya. Akhirnya Farel menghadap Nana, dia memandang wanita itu kembali dengan tajam.
Farel mulai berbisik pada Nana yang masih sama bingungnya. Nana bahkan tak mampu berkedip sedikit pun menghadapi situasi sulit ini.
"Ini hanya akting," bisik Farel sambil mendaratkan sebuah c!uman hangat tepat ke arah bibir Nana.
__ADS_1
Sontak saja semua orang di tamu pesta menjadi heboh tak terkendali. Mereka menjerit jerit girang seperti melihat adegan dalam film romantis.
Farel benar benar melakukan itu, dia bahkan masih belum melepaskan c!uman nyata untuk Nana!