
...Aku yakin, hanya Nana saja mahluk di muka bumi ini yang menyuruh suaminya untuk menulis diary sebagai syarat perceraian....
...**************...
Di depan Nana kini tergeletak surat persetujuan perceraian. Nyatanya Farel tidak main main dengan perkataanya saat itu. Dia sudah memantapkan niat dan tujuan untuk berpisah.
Mereka sedang duduk saling berhadapan di ruang santai. Dengan segelas ice coffee dan cookies kering sebagai kudapan. Tapi semua itu hanya pemanis saja, nyatanya nasib pernikahan mereka sedang menelan pil pahit.
Nana hanya bisa menghela nafas panjang. Dia sesekali melihat kertas itu lalu menaruhnya kembali. Dari tutur wajahnya, Nana nampak terlalu santai. Padahal dia sedang menghadapi hal sangat serius.
"Baiklah, jika itu yang selama ini kamu inginkan, mari kita bercerai," ucap Nana sambil terus melirik kertas itu.
Sontak saja mata Farel membesar, dia sungguh tidak menyangka jika Nana langsung setuju. Dia pikir proses ini akan sulit dan rumit. Tapi nyatanya Nana telah mempermudah segalanya.
Ada rasa senang dan lega, Farel akhirnya akan menuju dunia baru. Sebentar lagi Farel! dia akan menjadi pria yang bebas.
"Tapi dengan satu syarat." Nana ternyata menambahkan sebuah kalimat lain.
Kedua mata Farel menyempit, dagunya mengkerut. Dia cukup bingung dengan ucapan Nana yang mendadak.
"Syarat?"
Nana mengangguk. Dia kini menatap balik Farel dengan serius.
"Mmmm baik lah, aku dengar sih banyak orang di luar sana mengajukan syarat harta gona gini sebelum bercerai, begitu kan?" ujar Farel dengan lagak tidak peduli.
"Aku gak mau harta ataupun lainya."
"Ya terus, syarat apa sih Na."
"31 hari sebelum kita bercerai, aku mau kita rutin tiap hari nulis diary," ucap Nana dengan wajah datar.
"Apa?.. Apa?..." celetuk Farel kaget.
"Nulis diary, itu saja Rel syaratnya."
"Kamu gila apa! Emang aku anak SD nulis kaya gituan," tolak Farel dengan tegas.
"Ya sudah, kalau kamu gak mau. Berarti sampai kapan pun Nana gak mau tanda tangan surat perceraian ini," timbal Nana semakin serius.
"Ya ampun, mau minta cerai saja ribet banget, mending kamu rubah saja syaratnya, apa ke! Mau akusisi saham? atau mau aku berikan jabatan presdir sama kamu?" protes Farel makin gencar.
"I said no, apa sih harta mulu. Aku tuh cuman mau kamu nulis diary selama 31 hari saja. Gak sulit ko, nanti kita bisa tukar diary sebelum tidur," ujar Nana semakin ngotot mempertahankan keinginannya.
"What? Tukar diary!! Aku sama kamu tukar diary? Gak.. gak.. aku gak setuju! Pokoknya kamu tarik semua ide absurd itu. Ganti sama yang lebih masuk akal," jelas Farel dengan sangat marah.
Dia kemudian meninggalkan Nana sendirian saja. Dia sudah tidak tahan harus berdebat dengan masalah perceraian ini.
Apalagi dengan ruwetnya permintaan syarat Nana yang sangat aneh. Dia sama sekali tidak menyangka, di zaman Metaverse Nana masih saja ngeyel untuk meminta hal kuno.
*****
__ADS_1
Tempat pacuan kuda menjadi hal yang menyenangkan bagi Farel. Setiap seminggu sekali, dia menyempatkan berlatih kuda bersama teman teman kuliahnya.
Hari ini dia sedang berkumpul dengan teman baik, ada Dion, Nathan dan Maria. Ketiga temannya itu berasal dari keluarga kalangan atas. Dion dengan bisnis properti, Nathan dengan bisnis perbankan dan Maria si ratu bisnis kecantikan.
Keempat kuda mereka dengan kondisi fit terus berlari mengitari lintasan berkuda. Mereka terus memacu kuda lebih cepat agar bisa menjadi pemenang.
Farel dengan mahir menunggang dan mengendalikan gerakan kuda. Dia memang paling lihai dalam menjaga ketahanan fisik kuda. Sampai pada putaran pertama, Farel memenangkan lari maraton ini.
Setelah pertandingan selesai, mereka berempat kini sedang meluangkan waktu untuk bersantai. Seperti biasa, banyak sekali obrolan menarik untuk dibahas.
Masalah bisnis, kehidupan sosial dan rumah tangga. Ketiga pria itu sudah menikah, kecuali Maria. Dia betah melajang di usia yang sudah cukup dewasa.
"Ayolah, ajak sekali kali istrimu Rel. Diantara kami bertiga, cuma kamu saja yang selalu pergi sendiri," ucap Dion dengan sedikit menggoda Farel.
"Kalian tahu sendirikan, istriku Nana dia lebih suka diam di rumah," balas Farel santai.
"Nana memang aneh sejak dulu, aku pernah satu club science sama dia. Waktu itu praktek anatomi hewan mamalia, dia dengan sendirinya membelah perut kelinci dengan pisau besar. Betapa hebohnya Lab saat itu," jelas Nathan dengan senyum merinding.
Farel tidak peduli dengan masa lalu Nana. Dia hanya terus berpikir bagaimana caranya bisa bercerai dengan mudah. Mengingat permintaan untuk membuat tulisan diary, masih membuatnya jengkel setengah mati.
Nathan dan Dion sepakat untuk meninggalkan tempat istriahat. Mereka berdua pergi kembali ke kandang kuda untuk melihat kondisi kuda masing masing.
Kini hanya ada Maria dan Farel berdua. Mereka saling menuangkan wine dan bersulang dengan akrab.
"Aku lihat kamu murung terus, ada masalah dengan Nana ya," ucap Maria memecah keheningan.
"Kamu memang wanita paling peka," jawab Farel sambil terus menunduk lesu.
"Kenapa sih Rel? Cerita dong, kan kita udah lama temenan," rayu Maria dengan sangat meyakinkan.
"Apa? Cerai!" jawab Maria dengan kaget namun sedikit ada rasa senang.
"Dia setuju dengan perceraian itu, tapi dengan satu syarat aneh, aku sampai bingung kenapa dia ngotot sekali dengan syarat itu," gumam Farel dengan frustasi.
"Emang syarat apa?" tanya Maria dengan penasaran.
"Dia menyuruhku untuk menulis diary selama 31 hari."
"What? Diary? Oh my god, she is insane," celoteh Maria dengan senyum julid.
"Apa sih yang dipikirkan Nana? Sampai harus nulis diary segala."
"Mungkin dia ingin kenang kenangan sebelum perceraian. Sudahlah ikutin saja kemauan Nana, toh dia emang sudah aneh dari dulu. Kaya gak tau saja Nana kaya gimana," jelas Maria.
Sejenak, hati Farel mulai luluh. Apa yang dikatakan Maria ada benar juga. Jalan pikiran Nana memang sulit untuk ditebak, dia misterius dan aneh.
Seharusnya dia tidak terlalu ambil pusing dengan permintaan Nana. Mungkin Nana hanya ingin bersenang senang sebelum mereka berpisah.
Farel tidak bisa mencari jalan lagi, dia terpaksa harus menuruti permintaan Nana.
*****
__ADS_1
Tengah malam, Nana terlihat masih asik duduk di depan TV. Dia tertawa terbahak bahak melihat kontes menyanyi dangdut, dengan 5 host acara yang terlihat banyak drama.
Farel mendekati istrinya, dia ikut duduk di atas sofa. Dia sekejap melihat isi tontonan di layar TV. Namun dia segera memalingkan, Farel sangat tak tahan melihat acara penuh kerusuhan itu.
"Na, besok kamu ikut aku," ucap Farel tenang, tidak ada nada ketus seperti biasanya.
"Kemana?" balas Nana terus fokus melihat layar TV.
"Toko buku."
"Ngapain ke toko buku, aku sukanya pergi ke tanah abang," celoteh Nana cuek.
"Kita beli buku, diary book."
Lantas mendengar ajakan Farel untuk membeli buku diary, sontak Nana bangkit dari sofa itu. Dia berdiri menghadap Farel dengan wajah sumringah.
"Jadi kamu setuju dengan persyaratan itu Rel?" tanya Nana mulai histeris.
"Iya," balas Farel dengan malas.
"Ya ampun, akhirnya my dream comes true," teriak Nana sambil berjalan berputar putar mengitari sofa.
Melihat istrinya senang kegirangan karena buku diary, Farel hanya bisa pasrah. Dia tidak mengerti, dia tidak paham apa yang direncanakan Nana sebenarnya.
Tak sengaja mata Farel menangkap tawa Nana yang riang gembira. Dari jauh dia terlihat seperti anak kecil yang lucu.
Terkadang Nana bisa membuat Farel terhibur. Walau dia sering bertingkah konyol, diam diam Farel suka tersenyum sendiri.
Ting nong..
Ting nong...
Suara beli pintu berbunyi, sepertinya ada seseorang yang sedang menunggu di depan pintu. Farel kemudian bangkit dari sofa, dia berjalan menghampiri gagang pintu.
Setelah pintu itu terbuka, dia melihat seorang pria asing dengan kumis tipis di atas bibir. Badanya sedikit kurus dan bajunya berantakan.
"Maaf cari siapa?" tanya Farel dengan tatapan curiga.
"Saya hanya ingin numpang tanya sebentar," balas pria asing itu ramah.
Namun gelagat dan penampilannya membuat Farel sedikit khawatir. Dia harus waspada dengan segala kemungkinan terburuk.
"Maaf saya tidak berbicara dengan orang asing," balas Farel ketus, dia lalu segera menutup pintu itu kembali.
"Tunggu.. tunggu.. aku bukan orang jahat! janganlah kau lihat bajuku yang kumel. Aku bahkan seorang polisi," ucap pria asing itu sambil menahan pintu itu tertutup.
"Polisi?" tanya Farel semakin curiga.
Sadar jika pemilik rumah adalah orang yang sangat hati hati. Pria asing itu lalu menunjukan lencana resmi kepolisian.
Farel melirik identitas polisi itu, didapati jika pria aneh ini bernama Agus Malik. Barulah saat itu juga Farel tidak jadi menutup pintu.
__ADS_1
"Ada perlu apa polisi ke rumahku?"
"Aku hanya ingin menanyakan tentang pembunuhan yang telah terjadi di sekitar kecamatan ini," jelas Agus dengan sopan.