31 Hari

31 Hari
Day 1


__ADS_3

...Dia adalah nenek sihir...


...Aku adalah jamur...


...Sungguh kami adalah pasangan tidak serasi....


...***********...


Pertamakali nya, Farel mengajak Nana untuk keluar bersama di hari libur. Biasanya Farel selalu sibuk menghabiskan waktu dengan teman kuliahnya.


Farel melajukan mobil keluar dari garasi, mereka mengitari jalan gang padat perumahan. Sekilas dari kaca mobil, dia melihat Agus sedang berbincang dengan warga sekitar.


"Bukannya kamu kemarin malam ngobrol ya sama orang itu," tanya Nana yang menyadari kehadiran Agus.


"Dia itu polisi, rencana mau tinggal di komplek sini," balas Farel cuek.


"Mmmm.. jadi polisi itu bakal jadi tetangga kita dong?" tanya Nana mulai tertarik.


"Masa kamu gak tau sih Na, Agus itu anaknya bu Surti. Bu Surti minta anaknya buat tinggal sama dia, tau sendiri lingkungan kita lagi banyak teror," jawab Farel.


"Bagus dong," ujar Nana senyum.


"Iya sih lumayan, satpam gratis," celetuk Farel cuek.


"Gak boleh gitu dong Rel, polisi bukan satpam, ya kadang warna seragamnya hampir sama sih."


"Benerkan? Sebelas dua belas lah," ujar Farel terus mengejek sosok Agus.


"Kalau buat aku sih bakal tambah seru," ucap Nana dengan mata berbinar.


"Mau ngapain seru seruan sama Agus?"


"Seru saja, mungkin nanti kita bakal main 'catch me if you can' " celoteh Nana sambil tertawa lebar.


"Jadi kamu anggap dia Tom Hanks?" tanya Farel dengan senyum geli.


"No, Tom & Jerry, Hahahahahahaha...." ucap Nana sambil tertawa terbahak bahak.


Saat itu Farel hanya tersenyum ketir mendengar lelucon garing. Dia masih menganggap jika Nana selalu berbicara ngawur dan tidak jelas.


****


Mereka sudah sampai di sebuah toko buku terbesar dan terkenal di kota Bekasi. Farel dan Nana selalu jalan terpisah, mereka tetap berada pada urusan masing masing.


Farel tidak suka berdekatan dengan istrinya, selain risih juga karena tidak biasa. Namun kali ini dia cukup kesulitan, dia tidak menemukan rak yang menjual buku diary.


Akhirnya dia menanyakan kepada petugas toko buku. Farel terus diarahkan oleh petugas, sampai dia berhenti di sebuah rak yang menjual banyak jenis buku diary.


Namun dia melihat ada Nana di area itu, kedua matanya sangat sibuk memilih buku diary. Farel sudah tidak bisa mengelak lagi, dia tetap harus bersama dengan istrinya sendiri.


Nana bergeser mendekati posisi Farel. Dia tersenyum puas kearah suaminya. Ada sebuah isyarat meledek jelas di raut wajahnya.


"Sudah Rel, ngapain sih jauh jauh dari aku terus," ucap Nana sambil menggoda Farel yang sedang kesal.


"Banyak bicara kamu Na.. sudah cepat kamu bayar bukunya," gumam Farel gusar.


"Bukunya bagus semua deh.. bingung harus mau pilih yang mana, pilihin ya buat Nana, Please..." rengek Nana dengan manja.

__ADS_1


Kemudian Nana memperlihatkan tiga pilihan buku diary yang terpasang di rak. Ada warna pink dengan gambar Rapunzel, warna biru dengan gambar Elsa Frozen dan warna kuning dengan gambar princess Jasmine.


Melihat pilihan dan selera Nana yang sangat norak dan kekanak kanakan. Farel sangat tidak berselera memilihkan untuk Nana. Semual hal yang berbau feminim sangat tidak cocok untuk istrinya.


Dengan sembarang, tangan Farel mencari cari buku lain. Dia terus melirik banyak koleksi buku diary yang masih di pajang. Pada akhirnya dia mengambil satu buku diary warna hitam dengan sedikit corak putih.


"Nih, ini baru cocok buat kamu," ucap Farel dengan senyum licik. Dia sangat senang memperolok istrinya sendiri.


Nana seraya melihat gambar dari buku diary pilihan Farel. Buku diary itu keseluruhan berwarna hitam, terdapat karakter nenek penyihir sedang berada di atas sapu terbang. Di atas nenek sihir ada bulan sabit dan kabut asap putih.


"Ko nenek sihir sih?" tanya Nana heran.


"Kamu mirip kaya nenek sihir ini, cerewet, jelek, buruk rupa dan menyeramkan," ujar Farel dengan sangat santai.


Nana tersenyum ketika dirinya telah dihina oleh Farel. Bahkan dia tampak sangat senang dengan julukan nenek sihir.


"Keren banget, aku suka banget Rel," jawab Nana terus memandangi gambar penyihir di cover depan buku diary.


Sudah bisa ditebak oleh Farel, jika rekasi Nana akan seperti itu. Sampai kapanpun Nana tidak akan marah walau dia sudah berkata jahat dan tak pantas.


Tiba tiba saja tangan Nana mulai meraih buku diary lain di atas rak. Dia kemudian memberikan buku itu untuk Farel.


"Sekarang giliranku, buku diary itu cocok banget buat kamu," ujar Nana dengan kedua mata membulat.


Tentu Farel meraih buku pilihan Nana, dia cukup penasaran. Dipandanginya dengan seksama, cover kuning dengan gambar jamur merah totol putih.


"Coba jelaskan, ada apa dengan jamur jamur ini?" tanya Farel sedikit bingung.


Nana kemudian menunjuk kepala Farel. Dia menatap penuh misteri dengan apa yang tumbuh di atas kepala suaminya.


"Rambut kamu bentuknya kaya jamur, jelek dan gak jelas," balas Nana dengan wajah datar.


"Aahhhh.. apa tidak ada yang memberitahumu sedikitpun tentang rambut jamur aneh itu Rel?"


Farel sudah tidak tahan lagi, dia segera mencari cermin yang menempel di dinding. Segera dia melihat pantulan bayangan di depan cermin besar, dia terus menilik gaya rambut berbentuk jamur itu.


Dia geram karena semua orang selalu memuji gaya rambut itu. Bahkan dia mencukur rambut langsung dari hair stylish ternama Indonesia. Ini adalah gaya rambut maskulin dan seksi. Tapi kenapa baru kali ini Nana mengomentari gaya rambutnya.


****


Dalam perjalanan pulang dari toko buku, kini mobil mereka sedang berhenti tepat di depan plang kereta api. Mereka sedang menunggu kereta api melintas.


Tatapan Farel sedang fokus melihat pemandangan dekat rel kereta. Dia melihat ada segerombolan anak punk jalanan yang sedang nongkrong di sisi rel besi.


Mereka tengah merokok, ada yang menghirup lem dan menggeliat di antara wanita punk yang cukup seksi.


Kulit mereka terbakar oleh sinar matahari. Bahkan di siang bolong seperti ini, mereka terlihat sangat nyaman dengan banyak debu bertebaran.


"Lihat apa kamu Rel?" tanya Nana memecah keheningan.


"Anak jalanan dengan pakaian aneh, tindik bertebaran dan tentu mereka bau," komentar Farel dengan wajah jijik.


"Kamu tahu Rel apa yang aku suka dari orang orang seperti itu?" tanya Nana.


"Kamu suka sama mereka? Oh.. why?" tanya Farel balik sambil bergidik senyum.


"Mereka hidup dengan bebas, jauh dari keluarga, tidak ada yang peduli dengan mereka.

__ADS_1


Paling penting adalah jika mereka menghilang pun tidak ada yang pernah mencarinya," jelas Nana dengan santai.


"Itu menyedihkan Na! Bukan sesuatu hal yang harus kau sukai," sanggah Farel dengan geram, dia jelas tidak suka jika Nana terus saja memperhatikan manusia kotor seperti mereka.


Plang pembatas kereta telah naik keatas, rupanya kereta sudah melintas. Segera Farel menancap gas mobil dan melintasi jalan rel kereta itu.


****


Sekitar jam 10 malam, suasana pinggir rel kereta api di Bantar gebang sangat sepi. Tidak ada orang yang menyebrang ataupun sekedar berjalan kaki.


Semua gelap dan dingin, suasana malam pun mampu membuat bulu kuduk merinding. Tidak ada tanda tanda kehidupan.


Namun terlihat ada satu orang memakai jas hujan hitam dengan penutup kepala. Orang itu hanya menundukkan kepalanya kebawah.


Terdengar juga suara hentakan sepatu boots nya yang terlihat besar. Orang itu seperti berusaha untuk menggerakkan kedua kakinya.


Dia terus saja berjalan lurus di samping rel. Entah kemana arah dan tujuan, namun terlihat sangat mencurigakan.


Tak jauh dari arah orang asing itu, terlihat ada satu pria berpenampilan anak punk. Dia sedang menikmati n*rkoba dengan wajah teler penuh kenikmatan.


Anal punk itu pun sayup sayup melihat sosok orang berbaju serba hitam. Dia mulai tersenyum dan berjalan terhuyung huyung mendekati orang itu.


"Hai, lu malaikat ya? Lihat wajahnya pucat, putih banget," lantur anak punk itu tepat di depan wajah si orang misterius.


Melihat orang itu tidak bereaksi ataupun merespon. Anak punk memilih untuk membalikan badan dan berjalan meninggalkan orang berbaju hitam itu.


Hanya baru beberapa langkah, dari arah belakang orang berbaju hitam mulai mengikutinya. Perlahan dari lubang lengan jas yang longgar, dia menurunkan sebuah pa lu cukup besar.


Dia menggenggam pa lu itu dengan kuat, kemudian dia sedang bersiap siap untuk menyerang anak punk.


Dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan ringan. Tangan kanan orang itu langsung mengayunkan pa lu besar ke arah belakang kepala anak punk.


Bruuuuk!!!!


Satu kali ayunan dan pukulan yang tepat sasaran, membuat anak punk itu ambruk jatuh ke atas tanah. Melihat sasarannya m*ti dalam sekejap saja, tak ayal orang itu masih belum puas. Dia berulang kali mem*kul kepala itu bertubi tubi sampai p*cah dan h*ncur.


Tubuh itu sudah tidak bergerak sama sekali. Tidak menunjukan sebuah perlawanan apapun. Tubuh itu sudah terbujur kaku dengan sangat mengenaskan.


Orang itu lalu menyeret tubuh anak punk jauh masuk kedalam semak belukar. Dia menyembunyikan m*yat di dalam ranting daun yang tajam.


****


Farel sudah menyelesaikan tulisan pertamanya dengan cukup baik. Ini adalah hal yang sangat konyol dan gila. Dia tak pernah mencurahkan isi hati di atas kertas warna warni.


Dia menutup buku diary itu dan segera mencari Nana di dalam kamar tidur. Dia harus segera menukar diary milik istrinya.


Saat masuk kedalam kamar Nana, dia tidak melihat sosok istrinya. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11 malam.


Ini cukup aneh, namun dia sama sekali tidak peduli. Dia segera mencari Nana secepat mungkin, dia ingin sekali mengakhiri malam ini dengan cepat.


Dia mencari kesetiap sudut ruangan namun tidak ada. Mungkin kali ini dia harus menemukan Nana di pekarangan rumah.


Farel melangkahkan kakinya ke belakang pintu rumah. Saat membuka pintu, dia melihat Nana sedang mengobrak abrik alat perkakas.


"Kamu ngapain Na?" tanya Farel heran.


"Aku lagi cari palu, itu loh yang gagangnya warna merah," balas Nana sambil menatap lurus Farel.

__ADS_1


"Buat apa sih Na? Ini udah larut malam, masih saja banyak ulah," ujar Farel dengan kesal.


"Buat usir tikus Rel, kan kalau pake palu praktis, tinggal di geprek aja," balas Nana sambil tersenyum tipis.


__ADS_2